60 thoughts on “Kontrak Perkuliahan

  1. JASA PERBANKAN SYARIAH
    (Artikel Zakariya Ahmad)

    PENDAHULUAN

    Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perabankan yang dikembangkan berdasarkan syariah Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut atau meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan untuk melakukan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram ( missal usaha perjudian) dimana hal ini tidak dapat dijamin dalam sistem perbankan konvensional.

    Adapun Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan operasinya dengan sistem hukum islam (syariah). Fungsinya sama dengan bank konvensional yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan jasa keuangan lainnya, tetapi yang membedakan adalah cara operasi, produk, kesepakatan, dan sistemnya.
    Berkembangnya bank-bank syariah di Indonesia dimulai sejak awal tahun 1990-an. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalah Indonesia. Berdiri tahun 1992, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukunagan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
    Meskipun bank syariah telah berdiri sejak awal tahun 1990-an, namun keberadaanya masih kurang diminati masyarakat pada umumnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan dari bank-bank syariah tersebut dan atau kurangnya sosialisasi dari produk dan jasa tersebut.Padahal dalam kaitanya dengan produk dan jasa, ada perbedaan yang menyolok antara prinsip-prinsip pada produk dan jasa bank syariah dengan prinsip dalam produk dan jasa bank konvensional. Makalah ini akan mencoba membahas mengenai produk dan jasa bank syariah.
    PRINSIP DASAR PERBANKAN SYARIAH
    Ada prinsip-prinsip dalam bank syariah yang membedakanya dengan bank konvensional, antara lain :
    1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-wadi’ah)
    Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya. Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal dengan produk giro. Sebagai konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain. Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif atau bonus dapat diberikan dan hal ini menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Hal ini dilakukan dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung dan sekaligus sebagai indikator kesehatan bank.
    2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)
    Pada dasarnya prinsip ini terbagi atas :
    a) Al-Mudharabah
    Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak,di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Pola transaksi mudharabah, biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, al-mudharabah diterapkan pada: tabungan dan deposito. Sedangkan pada sisi pembiayaan, al-mudharabah, diterapkan untuk: pembiayaan modal kerja.
    b) Al-Musyarakah
    Dalam sistem ini terjadi kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi modal. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dalam sistem ini, terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana pembiayaan. Secara konkret, bila Anda memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal, Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, bank syariah dan Anda secara bersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk menjalankan usaha. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaan dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Dalam bank konvensional, pembiayaan seperti ini mirip dengan kredit modal kerja.

    3. Prinsip Al-Murabahah
    Dalam skim ini, terjadi jual beli suatu barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak. Penjual dalam hal ini harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. Misalkan Anda membutuhkan kredit untuk pembelian mobil. Dalam bank konvensional Anda akan dikenakan bunga dan Anda diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu. Di sektor perbankan, suku bunga yang berlaku mungkin saja berubah. Dalam sistem bank syariah, tentu saja produk seperti ini juga tersedia. Namun bentuknya bukan kredit, melainkan menggunakan prinsip jual-beli, yang diistilahkan dengan Murabahah. Dalam hal ini, bank syariah akan membeli mobil yang Anda inginkan terlebih dahulu, kemudian menjualnya lagi kepada Anda. Tapi, karena bank syariah menalanginya dulu, maka pada saat menjual kepada Anda, harganya sedikit lebih mahal, sebagai bentuk keuntungan buat bank syariah. Karena bentuk keuntungan bank syariah sudah disepakati di depan, maka nilai cicilan yang harus Anda bayarkan relative lebih tetap.
    PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARIAH
    Secara garis besar produk perbankan syariah terbagi atas produk penyaluran dana, penghimpunan dana dan produk jasa. Adapun penjelasan lebih rinci adalah sebagai berikut :
    1. Penghimpun Dana
    Penghimpun dana atau yang sering disebut dengan sumber dana pada bank syariah terdiri dari beberapa sumber antara lain, yaitu wadiah (modal), titipan, investasi dan investasi khusus.
    a. Wadiah, yaitu sejumlah titipan murni dari satu pihak kepada bank dan bank harus menjaganya akan penitip berhak mengambilnya kapanpun ia mau. Konsep wadiah yang dipakai dalam perbankan syariah adalah wadiah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Dalam konsep ini bank dapat mempergunakan dana yang dititipkan, akan tetapi bank bertanggungjawab penuh atas keutuhan dari dana yang dititipkan.
    b. Investasi, yang dimaksud disini adalah mudharabah mutlaqoh. Yaitu mudharabah yang tidak disertai pembatasan penggunaan dana dari shokhibul mal.
    c. Investasi khusus terbagi atas mudaharabah muqoyyadah on balance sheet dan mudharabah muqoyyadah of balance sheet.
    – Mudharabah muqoyyadah on balace sheet adalah aqad mudharabah yang disertai dengan pembatasan penggunaan dana dari shakhibul mal untuk investasi-investamdharabah si tertentu.
    – Mudharabah muqoyyadah of balance sheet adalah bank bertindak sebagai perantara (arranger) yan mempertemukan nasabah pemilik modal dengan nasabah yang akan menjadi mudharib.
    d. Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.

    2. Penyaluran Dana
    Penyaluran dana pada bank syariah dilakukan dengan berbagai cara yang masing-masing memiliki prinsip akad yang berbeda pula, antara lain :
    a. Ba’I (Jual Beli)
    Ada tiga jenis jual beli yang dijadikan dasar modal kerja dan investasi dalam perbankan syariah, Yaitu :
    – Ba’I Murabahah, yaitu transaksi jual beli dimana bank mendapat sejumlah keuntungan,sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

    – Ba’I Salam, yaitu transaksi jual beli, dimana barangnya belum ada sehingga barang yang menjadi objek diserahkan secara tangguh.dalam hal ini bank menjadi pembeli dan nasabah menjadi penjual.
    – Ba’I Istisna, yaitu sama dengan salam hanya saja dalam pembayaranya bank membayar dengan beberapa kali pembyaran

    b. Ijarah (Sewa)
    Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).
    c. Syirkah
    Syirkah adalah produk pembiayaan bank syariah yang didasarkan pada prinsip bagi hasil. Syirkah ini terdiri atas :
    – Al-Musyarokah, merupakan bentuk umum dari usaha bagi hasil. Dalam kera sama ini para pihak secara bersama-sama memadukan sumber daya baik yang berwujud ataupun tidak berwujud untuk menjadi modal proyek kerja sama untuk dikelola bersama-sama pula.
    – Al-Mudharabah, merupakan bentuk spesifik dari musyarokah. Dalam mudharabah salah satu pihak berfungsi sebagai shokhibul mal (pemilik modal) dan pihak lain berpera sebagai mudharib (pengelola).

    d. Akad Pelengkap
    Untuk memudahkan pelaksanaan pembiayaan diperlukan akad pelengkap. Akad pelengkap ini ditujukan untuk mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Akad pelengkap terdiri atas :
    – Hiwalah, adalah transaksi pengalihan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan usahanya, sedangkan bank mendapatkan ganti biaya atas jasa.
    – Rahn, biasa dikenal dengan gadai. Tujuan dari akad ini adalah memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.
    – Qardh, adalah pinjaman uang. Piak bank memberikan sejumlah pinjaman uang kepada nasabah dengan pelunasan yang ditentukan.
    – Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.
    – Kafalah, adalah bank yang ditujukan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bankdapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank dapat juga menerima uang tersebut dengan prinsip wadiah, bank mendapatkan biaya pengganti atas jasa yang diberikan.
    3. Jasa Perbankan
    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :
    – Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.
    – Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).
    – Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring. Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri
    – Penggunaan ATM bersama dengan bank lain Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.
    – Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut
    PERBEDAAN PRODUK BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL

    Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.
    Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah, karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.
    Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar. Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.

    Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah.
    KESIMPULAN

    Salah satu kendala yang dihadapi dunia perbankan syariah adalah kurang dikenalnya produk-produk perbankan syariah oleh masyarakat. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang produk mapun jasa perbankan syariah sehinga masyarakat enggan untuk memanfaatkanya.

    Pada dasarnya prinsip dasar pada produk-produk perbankan syariah adalah terbagi kedalam prinsip simpanan yang biasa disebut dengan prinsip wadiah, prinsip bagi hasil (profit sharing) yang terbagi atas prinsip mudharabah dan murabahah. Dan prinsip murabahah.

    Produk perbankan syariah secara garis besar terdiri atas produk penghimpun dana, produk penyaluran dana dan jasa perbankan.
    Setidaknya ada tiga karakteristik produk perbankan syariah yang membedakanya dengan produk bank konvensional. Petama, adalah akadnya. Semua transaksi dalam perbankan syariah harus dilandasi dengan akad. Kedua, adalah pada imbalan yang diberiakan. Pada perbankan syariah menggunakan prinsip bagi hasil bukan bunga. Karakeristik ketiga adalah pada sasara kredit atau pembiayaan. Pada perbankan syariah pembiayaan harus pada kegiatan yang sesuai dengan syariat islam.
    DAFTAR PUSTAKA
    Heri Sudarsono, 2005, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Deskriptip dan Ilustratip), Yogyakarta, Penerbit Ekonisia
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan_syariah
    http://suherilbs.files.wordpress.com/2007/12/dampak-pengembangan-sukuk-terhadap-perkembangan-perbankan-syariah-di-indonesia.doc

    http://Blogdetik.com/produk-syariah/sannicommunity/March 28, 2008
    http://hukumonline.com//Perbankan&keuangan-bank-syariah, oleh mahawisnu alam/ 22 april 2008

    http://sinarharapan.com//prinsip-dasar-perbankan-syariah

  2. Kiriman artikel Ririe Widyasanti sudah sampai, untuk produk penghimpunan dan penyaluran tidak perlu diuraikan sedangkan untuk jasa perbankan mohon diuraikan sampai kepada sistem operasional atau uraian secara lebih rinci. salam Gita

  3. Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan

    Kerangka pengembangan perbankan syariah tersebut tentunya tidak terlepas dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang sedang dalam penyusunan. Hal ini meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman bagi para stakeholder perbankan syariah.. Inisiatif-inisiatif yang diambil pada umumnya menekankan pada aspek peningkatan kepatuhan pada prinsip syariah, peningkatan kualitas ketentuan kehati-hatian, peningkatan efisiensi operasi dan daya saing, serta peningkatan kestabilan sistem perbankan.

    Untuk mewujudkan perbankan syariah sesuai semangat API, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode krisis ekonomi, perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat. Berkaitan dengan itu perbankan syariah diharapkan dapat berperan lebih besar dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia yang masih terus berlangsung. Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih berada dalam tahap awal pengembangan.
    Beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    1. Kerangka dan perangkat pengaturan perbankan syariah belum lengkap;
    2. Cakupan pasar masih terbatas;
    3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan
    syariah;
    4. Institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif;
    5. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal;
    6. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah masih perlu ditingkatkan;

    Adapun tantangan yang harus diselesaikan setidaknya adalah:

    a. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional.
    Guna mendukung kegiatan operasional yang sehat, perbankan syariah membutuhkan kerangka dan perangkat pengaturan yang sesuai dengan karakteristik operasionalnya.

    Di awal perkembangannya, kegiatan pengaturan dan pengawasan lembaga perbankan syariah masih menggunakan kerangka pengaturan dan pengawasan sistem perbankan konvensional, walaupun beberapa instrumen pengaturan telah mulai dikembangkan seperti perizinan bagi pendirian bank dan pembukaan kantor; instrumen pasar keuangan antar bank; perangkat penghubung dengan otoritas moneter (sertifikat wadiah Bank Indonesia dan giro wajib minimum); dan sistem pembayaran (UUS wajib memiliki rekening di Bank Indonesia). Kurang lengkapnya instrumen pengaturan dan pengawasan tersebut akan mengakibatkan perbankan syariah tidak dapat beroperasi secara optimal dan tidak sepenuhnya sesuai dengan karakteristiknya.
    Bank Indonesia selaku otoritas perbankan akan melakukan kajian, menyusun dan menyempurnakan instrumen pengaturan yang mencakup beberapa area utama, antara lain:
    1. Penciptaan instrumen-instrumen keuangan serta aturan yang diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi operasional;
    2. Penyusunan sistem peringatan dini (termasuk didalamnya CAMELs rating system) yang dapat menggambarkan risiko operasional untuk menjamin kesinambungan perbankan syariah yang berhati-hati serta konsep pelaporan yang transparan;
    3. Penyusunan rules of conduct bagi pelaku perbankan syariah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas corporate governance.

    Konsep pengaturan yang akan dikembangkan harus berorientasi pada upaya menjaga kestabilan sistem dan menjamin kepatuhan perbankan syariah terhadap prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu kajian-kajian konseptual tentang pengaturan perlu dilakukan pada tahap awal pengembangan.

    b. Cakupan pasar masih terbatas

    Pada saat ini, sistem perbankan syariah masih memiliki jaringan pelayanan yang masih terbatas. Sampai akhir tahun 2001, pelayanan perbankan syariah hanya tersedia di 51 cabang bank umum syariah dan unit usaha syariah serta 81 kantor BPRS, yang mewakili kurang dari 2% jumlah seluruh kantor bank yang ada di Indonesia. Keterbatasan cakupan operasional pada gilirannya akan menjadi kendala yang cukup signifikan bagi para pengguna jasa perbankan syariah dan mengurangi nilai kenyamanan penggunaan jasa perbankan.
    Beberapa tantangan yang telah teridentifikasi guna meningkatkan jaringan kantor dan pelayanan bank syariah adalah sebagai berikut:
    1. Mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk masuknya para pemain baru, terutama bank-bank konvensional yang sudah memiliki jaringan operasional yang luas atau mendorong aliansi strategis antara bank syariah dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya guna mencapai skala ekonomis operasional;
    2. Penyederhanaan proses administrasi bagi masuknya para pemain baru dapat dilakukan dengan tidak mengurangi prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional perbankan;
    3. Tersedianya informasi pasar/permintaan jasa perbankan syariah;
    4. Tersedianya sumber daya insani yang kompeten dan profesional dalam jumlah yang mencukupi oleh industri perbankan syariah.

    c. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan syariah

    Survei persepsi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa universitas di enam propinsi Indonesia (pada tahun 2000 – 2001), menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan akan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah dengan pengetahuan mengenai jenis-jenis produk serta operasional sistem perbankan syariah yang benar. Kesenjangan ini mengakibatkan rendahnya laju perpindahan permintaan dari yang bersifat potensial menjadi permintaan riil yang pada akhirnya akan menyebabkan kurang berhasilnya usaha untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat yang potensial sebagai dana investasi. Kesenjangan ini pada gilirannya juga akan mempersulit usaha pemasaran dan penjualan produk dan jasa bank syariah.

    Beberapa tantangan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para nasabah potensial adalah:

    1. Jumlah penduduk yang besar dan tersebar luas secara geografis dengan latar belakang yang beragam;
    2. Upaya untuk mendidik masyarakat membutuhkan dana dan sumber daya lainnya yang cukup besar;
    3. Dana promosi yang terbatas dari para stakeholder dalam industri perbankan syariah karena masih kecilnya skala operasional industri tersebut.

    Salah satu cara pemecahan untuk menjawab tantangan tersebut adalah melalui upaya edukasi kepada publik secara terencana dan terkoordinasi. Dalam upaya edukasi kepada masyarakat, Bank Indonesia dapat mempelajari faktor-faktor penentu keberhasilan beberapa kegiatan nasional seperti ‘Gerakan Tabungan Nasional’ dan ‘Keluarga Berencana’.

    d. Institusi Pendukung yang belum lengkap dan efektif

    Institusi pendukung yang lengkap, efektif, dan efisien berperan penting untuk memastikan stabilitas pengembangan perbankan syariah secara keseluruhan. Pada saat ini telah berdiri sejumlah lembaga yang berperan sebagai institusi pendukung perbankan syariah di Indonesia. Diperlukan upaya agar institusi pendukung tersebut lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan perbankan syariah.
    Ada beberapa institusi dan fungsi yang perlu dikembangkan untuk melengkapi institusi pendukung yang ada, seperti:
    1. Auditor Syariah, yang memastikan pemenuhan pelaksanaan prinsip syariah oleh bank;
    2. Pasar Keuangan Syariah Internasional, yang merupakan sarana perdagangan instrumen- instrumen keuangan syariah dalam valuta asing yang bermanfaat untuk mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan;
    3. Forum Komunikasi Pengembangan Perbankan Syariah (FKPPS) yang mengkoordinasikan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perbankan syariah;
    4. Lembaga Penjamin Pembiayaan Syariah, yang memberikan jaminan kepada bank syariah yang mengalami kerugian akibat kelalaian atau kecurangan nasabah yang direkomendasikan oleh lembaga tersebut;
    5. Pusat Informasi Keuangan Syariah, yang berfungsi menghubungkan sektor riil dan sektor pembiayaan syariah dengan menyediakan informasi tentang pola pembiayaan yang tersedia dan perusahaan-perusahaan yang mungkin dibiayai;
    6. Special Purpose Company, yang melakukan sekuritisasi aset bagi bank syariah yang ingin meningkatkan likuiditasnya. Lembaga ini juga menyediakan kesempatan berinvestasi secara syariah kepada bank-bank lainnya dan kepada investor domestic maupun internasional.

    e. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal

    Meskipun secara sistem, perbankan syariah telah menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik, sistem perbankan syariah sementara ini masih memberikan tingkat return yang lebih rendah kepada nasabah dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh perbankan konvensional. Peningkatan efisiensi operasional yang berdampak pada perbaikan tingkat return kepada nasabah tentunya akan memacu para investor untuk bermitra dengan bank syariah yang mana selain mengharapkan jasa keuangan yang sesuai dengan syariah, juga tentunya mengharapkan tingkat return yang lebih baik.

    Hal ini tentunya perlu dicermati terutama dalam menghadapi era persaingan global dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan jasa sejenis.

    Keterbatasan banker syariah yang handal, yang menguasai operasional perbankan syariah serta teguh menjalankan prinsip syariah juga merupakan masalah yang mendasar dalam perbaikan kinerja bank syariah. Usaha peningkatan kualitas sumber daya insani akan juga mencakup peningkatan kemampuan manajerial dan operasional bank syariah.

    Selain melakukan efisiensi internal, pengembangan sistem perbankan syariah dapat pula menerapkan strategi ekspansi ‘economies of scale’ dan atau ‘economies of scope’. Penerapan strategi ‘economies of scale’ dilakukan secara horisontal dengan meningkatkan cakupan pasar melalui aliansi strategis dengan mitra usaha domestik maupun internasional. Penerapan strategi economies of scope dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan instrumen transaksi syariah (termasuk dengan memanfaatkan kemajuan dalam bidang teknologi informasi) sehingga lebih dapat meningkatkan fleksibilitas penerapan jasa keuangan syariah bagi masyarakat.

    f. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah perlu ditingkatkan

    Salah satu manfaat yang dapat dirasakan oleh sistem perekonomian dalam skala yang lebih luas adalah hadirnya konsep bagi hasil dalam transaksi ekonomi. Namun demikian, sampai saat ini porsi pembiayaan bagi hasil masih sangat rendah.
    Adapun penyebab rendahnya proporsi pembiayaan bagi hasil adalah:
    1. Risiko investasi relatif tinggi karena sulitnya memonitor kegiatan investasi;
    2. Masalah principal-agent, dimana agen (mudharib) tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (pemilik modal);
    3. Kompetensi SDI (Sumber Daya Insani) perbankan syariah yang masih rendah untuk melakukan investasi pola bagi hasil;
    4. Ketidaktersediaan informasi kinerja bisnis yang mendalam untuk setiap sector industri yang menjadi target investasi.

    Beberapa alternatif yang dapat dilakukan guna meningkatkan porsi skim pembiayaan bagi hasil antara lain:
    1. Identifikasi sumber-sumber dana yang tidak memiliki klaim seperti dana zakat, infaq dan sadaqah agar dapat disalurkan melalui lembaga keuangan yang berkompeten;
    2. Mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ‘agency problem’ dalam transaksi seperti tersedianya standardisasi kontrak, analisis atas indeksasi kinerja industri;
    3. Peningkatan kompetensi SDI untuk melakukan investasi dengan pola bagi hasil.

    g. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional

    Industri perbankan/keuangan syariah secara global telah mencapai volume operasi yang cukup signifikan. Tercatat lebih dari 170 lembaga keuangan telah didirikan dilebih 30 negara dengan total aset sebesar US$ 140 miliar pada tahun 1997. Pencapaian volume usaha secara global tersebut merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan melalui proses aliansi strategis dengan lembaga keuangan yang bertaraf internasional.

    Untuk mencapai hal tersebut, perbankan syariah nasional harus mampu beroperasi sesuai dengan norma/standar keuangan syariah internasional. Dengan pemenuhan pada standar keuangan syariah internasional, sistem perbankan syariah nasional juga mendapatkan peluang untuk berpartisipasi dalam Pasar Keuangan Syariah Internasional (IIFM) yang akan beroperasi pada tahun 2003. Selain itu perbankan syariah Indonesia juga dipersiapkan untuk dapat mengadopsi standar internasional operasi perbankan syariah

    ESENSI PROGRAM
    Untuk kepentingan pelayanan dan keamanan, bank harus mempunyai sisdur sistim operasi untuk menghasilkan produk dan jasa layanan tertentu. Sistim operasi antara lain meliputi formulir yang dipakai, urutan langkah transaksi yang harus dilalui, pejabat yang berwenang, unit organisasi terkait, pengamanan transaksi dan lain-lainnya. Sistem operasi ini dipengaruhi oleh teknologi, preferensi manajemen, peraturan atau undang-undang yang berlaku, efisiensi, dan lain-lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, faktor-faktor yang mempengaruhi sistim operasi dimaksud mengalami perubahan sehingga sistim operasi perbankan yang ada harus dirancang ulang agar sesuai dengan tuntutan zaman. Jasa konsultasi ini pada dasarnya membantu bank dalam merancang ulang sistim operasi jasa bank tertentu agar memenuhi standar atau tuntutan tertentu dan menuliskannya dalam buku pedoman perusahaan (manual). Penyusunan sisdur operasi perbankan juga bisa dilakukan untuk produk atau layanan baru yang belum ada Buku Pedomannya.

    MANFAAT
    Dengan penyegaran kembali/update buku pedoman operasi perbankan atau penyusunan sistim operasi perbankan yang baru (semula belum ada), diharapkan banknya mampu melayani nasabah sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman sehingga banknya mampu untuk terus bersaing. Sistim operasi perbankan yang tidak pernah disempurnakan atau direvisi mempunyai risiko menjadi lambat dan tidak aman dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.
    METODE
    Penyusunan atau revisi sisdur operasi perbankan pada dasarnya dilakukan dengan metode bertahap yaitu mengkaji sisdur operasi perbankan yang ada, membandingkan dengan best practice atau tuntutan perubahan dan akhirnya merevisi atau membuat sisdur operasi perbankan yang baru. Revisi buku pedoman biasanya diikuti dengan sosialisasi agar bisa dipahami isinya oleh segenap pejabat terkait.
    TIM KONSULTAN
    Terdiri dari in house consultant, principal consultant sesuai keahliannya dan para praktisi industri perbankan sesuai kebutuhan jenis sistem operasi perbankan yang diperlukan.
    DURASI
    Jasa konsultasi ini biasanya memerlukan waktu 3-5 bulan dan tergantung dari jenis produk sisdur operasi perbankan.
    Manfaat Teknologi Sistem Informasi Bagi Perbankan

    Dewasa ini teknologi semakin barkembang mengikuti zaman , dimana perkembanganya itu ditandai dengan sistem informatika yang digunakan oleh berbagai kalangan dalam melakukan usaha. Sistem informatika sangat berperan penting dalam melakukan suatu kegiatan yang ada kaitanya dengan teknologi, tanpa adanya sistem informatika kegiatan tersebut tidak akan cepat terlaksana atau terselesaikan sesuai dengan harapan, minsalnya: perbankan mempunyai kaitan yang erat dengan sistem informatika, dimana sistem informatika mempunyai peranan yang penting dalam dunia perbankan.

    Suatu perbankan tidak akan mampu melaksanakan kegiatan perbankan tanpa menggunakan sistem informatika dalam melakukan kegiatan oprasionalnya.
    Sistem informatika merupakan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan oprasional bank, perbankan dalam melakukan kegiatanya tidak akan jauh dari dunia teknologi dan mempunyai kaitan yang sangat erat, minsalnya: dalam membuat laporan keuangan, menghitung bagi hasil dsb.

    Dalam konteks perbankan, saat ini telah banyak nasabah, khususnya di kota-kota
    besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam transaksi pembayarannya, tetapi
    telah memanfaatkan layanan perbankan modern. Untuk menunjang keberhasilan
    operasional bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat
    diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada
    teknologi informasi online.

    Institusi perbankan dan keuangan telah dipengaruhi dengan kuat oleh pengembangan produk dalam teknologi informasi, bahkan mereka tidak dapat beroperasi lagi tanpa adanya teknologi informasi tersebut. Sektor ini memerlukan pengembangan produk dalam teknologi informasi untuk memberikan jasa-jasa mereka kepada pelanggan mereka. Nasabah kini menginginkan agar dapat dengan mudah membayar berbagai pembayaran tagihan rutin maupun melakukan berbagai transaksi dari belahan dunia manapun, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

    Sebagai contoh dahulu, untuk kliring atau tukar-menukar warkat di perbankan masih sangat manual. Mulai tahun 1990, otomatisasi menggunakan warkat sudah dilakukan dengan mesin. Kemudian masuk tahun 1996-1997, berubah menjadi kliring elektronik hingga kemudian Bank Indonesia (BI) berubah menerapkan RTGS (Real Time Gross Settlement). Selain itu, internet juga telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang berpotensi hampir tanpa batas untuk perbankan.

    Meski di Indonesia mengalami hambatan dengan rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan jumlah nasabah yang mengakses Internet. Tetapi, Internet Banking, seperti juga electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah. Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa. Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan.
    M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi. Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan. Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya, pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan. Fasilitas yang perlu disediakan; seperti call center, phone banking, SMS banking dan Internet banking. Dengan beragamnya fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa layanan bank sesuai selera masing-masing.

    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank.

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan maanfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    b.Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

  4. Sistem Operasional Bank Syariah
    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: 22

    1. Sistem Penghimpunan Dana
    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.
    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:
    a. Modal
    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.
    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23
    b. Titipan (Wadi’ah)
    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.
    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
    c. Investasi (Mudharabah)
    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.
    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)
    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:
    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.
    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).
    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.
    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

    MANAJEMEN KREDIT SYARIAH BANK MUAMALAT
    Abstraksi
    Persaingan usaha antar bank yang semakin tajam dewasa ini telah mendorong munculnya berbagai jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan kompetitif. Dalam situasi seperti ini Bank Umum (konvensional) akan menghadapi persaingan baru dengan kehadiran lembaga keuangan ataupun bank non-konvensional. Fenomena ini ditandai dengan pertumbuhan lembaga keuangan dan bank muamalat dengan sistem syariah. Suatu hal yang sangat menarik, yang membedakan antara manajemen bank muamalat dengan bank umum adalah terletak pada pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh bank maupun para investor. Jika dilihat kenyataan di masyarakat, masih banyak terjadi kesimpang siuran mengenai pemahaman tentang pengertian Lembaga Keuangan dengan Bank Muamalat, walaupun sesungguhnya banyak persamaan diantara kedua jenis lembaga tersebut. Hal ini diperkuat dengan Peratutan Pemerintah No. 70 Tahun 1992, tentang perubahan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) menjadi Bank Umum. Bank Umum yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional, menurut UU No. 7 Tahun 1992, dapat juga melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Di Indonesia, keberadaan Bank Muamalat sudah ada sejak pertengahan tahun 1992, tepatnya setelah disyahkannya UU No. 7 Tahun 1992 sebagai dasar hukum, yang kemudian dirubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998. Pada dasarnya Lembaga Keuangan Syariah atau Bank Muamalat merupakan badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan, untuk memobilisasi dana masyarakat dan memberikan pelayanan jasa perbankan lainnya berdasarkan prinsip-prinsip syariah islam yang bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist. Suatu hal yang membedakan antara Bank Islam dengan Bank Konvensional adalah penerapan sistem bagi hasil yang menggantikan sistem bunga. Sistem ini merupakan terobosan terbaru dalam dunia perbankan, bagi mereka yang tidak menginginkan adanya unsur riba pada bunga. Disisi lain, kombinasi antara manajemen Bank Umum dengan Sistem Keuangan Syariah, dapat diterapkan sebagai sarana untuk menyeimbangkan antara dua kepentingan (lenders dan borrowers).
    I. Pendahuluan
    Perkembangan dunia perbankan telah terlihat kompleks, dengan berbagai macam jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan kompetitif. Kekomplekan ini telah menciptakan suatu sistem dan pesaing baru dalam dunia perbankan, bukan hanya persaingan antar bank tetapi juga antara bank dengan lembaga keuangan. Sebuah fenomena nyata yang telah menuntut manajer keuangan bank untuk lebih antisipatif terhadap perubahan yang terjadi dalam dunia perbankan.
    Beberapa tahun yang lalu, pertumbuhan lembaga keuangan dan bank muamalat dengan sistem syariah mulai bermunculan. Lembaga keuangan ini sudah sejak lama berkembang di negara Arab Saudi, Kuwait, Turki, Iran dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Perkembangan selanjutnya merebak ke wilayah negara Eropa, seperti Swiss dan London, serta wilayah Asia, seperti Malaysia dan Indonesia. Dunia perbankan ternyata bukan berasal hanya dari dunia Barat sebagaimana selama ini kita kenal dan pelajari, akan tetapi dunia perbankan juga berasal dari dunia Timur. Suatu perkembangan yang boleh dikatakan sangat mengembirakan, khususnya bagi umat Islam yang selama ini menginginkan investasi dan pendanaan tanpa unsur riba.
    Satu hal yang sangat menarik, yang membedakan antara manajemen bank muamalat dengan bank umum (konvensional) adalah terletak pada pembiayaan dan pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh bank maupun investor. Jika dilihat pada bank umum, pembiayaan disebut loan, sementara di Bank Syariah disebut financing. Sedangkan balas jasa yang diberikan atau diterima pada bank umum berupa bunga (interest loan atau deposit) dalam prosentase pasti. Sementara pada bank muamalat dengan sistem syariah, hanya memberi dan menerima balas jasa berdasarkan perjanjian (akad) bagi hasil. Selanjutnya dalam perbankan syariah dikenal istilah mudharabah, murabahah dan musyarakah untuk program pembiayaan. Bank syari’ah akan memperoleh keuntungan berupa bagi hasil, dari proyek yang dibiayai oleh bank tersebut. Apabila proyeknya mandek, maka akan dicarikan solusi penyelesaian. Misalnya, dengan menjual aset proyek. Uang penjualan aset proyek yang dibiayai Bank Syariah, akan dibagi kepada bank dan nasabah sesuai penyertaan masing-masing pada usaha tersebut. Lalu bagaimanakah dengan mekanisme manajemen kredit yang dapat diberlakukan dalam bank muamalat, dimana dalam mekanisme ini terjadi tarik-menarik kepentingan antara peminjam, bank dan investor. Bagi peminjam dana (borrowers), hal ini merupakan kesempatan emas dimana peminjam tidak terlalu terbebani atas bunga pinjaman tersebut. Tetapi bagi kalangan investor (deposan atau penanam modal lainnya), sistem perbankan ini kurang menjanjikan. Para investor (lenders) menginginkan dana yang diinvestasikannya, memiliki pengembalian minimal sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya, bank sebagai media perantara (intermediasi) bisa mengalami kesulitan untuk menggalang dana masyarakat. Kegiatan operasional bank dalam bentuk penyaluran kredit, dapat terhambat jika mobilisasi dana tidak sesuai dengan jumlah permintaan pendanaan.
    Berdasarkan fenomena diatas, ingin diungkapkan disini bahwa ada beberapa hal yang terkait antara mekanisme manajemen kredit bank muamalat dan bank umum.
    II. Bank Muamalat dan Lembaga Keuangan
    Bank muamalat atau bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Kenyataan di masyarakat, mungkin terdapat kesimpangsiuran mengenai pemahaman tentang pengertian lembaga keuangan dengan bank muamalat. Lembaga keuangan dapat dikatakan sebagai badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk asset keuangan atau tagihan (claim) serta asset non finansial atau asset riil dan memberikan pelayanan jasa dalam bentuk skim tabungan (depositori), proteksi asuransi, program pensiun, dan penyediaan sistem pembayaran melalui mekanisme transfer dana (Siamat:1999).
    Jika dilihat dari dua pengertian diatas, antara lembaga keuangan dengan bank muamalat memiliki persamaan yaitu sebagai badan usaha yang bergerak dalam bidang pengelolaan keuangan dan pendanaan maupun investasi. Pernyataan ini diperkuat oleh Peraturan Pemerintah No. 70 tahun 1992, tentang perubahan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) menjadi bank umum. Bank umum menurut UU No. 7 Tahun 1992, disamping melakukan kegiatan usaha secara konvensional dapat juga melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Pendiri lebih menyukai bentuk lembaga keuangan, mungkin karena lapangan maupun orientasi usahanya masih dalam lingkup yang kecil. Sedangkan pendirian sebuah bank, memerlukan capital adequacy ratio (CAR) 8% berdasarkan rasio kecukupan modal perbankan. Pada dasarnya lembaga keuangan, bank konvensional, maupun bank Islam (bank Muamalat) merupakan bagian dari manajemen keuangan modern.
    Lembaga keuangan syariah maupun bank Muamalat, sebagai lembaga keuangan Islam dan alternatif pengganti bank-bank konvensional memiliki ciri-ciri keistimewaan sebagai berikut :
    1. Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat antara pemegang saham, pengelola bank dan nasabahnya.
    2. Diterapkannya sistem bagi hasil sebagai pengganti bunga, sehingga akan berdampak positif dalam menekan cost push inflation dan persaingan antar bank.
    3. Tersedianya fasilitas kredit kebaikan (Al-Qardhul Hasan) yang diberikan secara Cuma-Cuma
    4. Konsep (build in concept) dengan berorientasi pada kebersamaan :
    a. Mendorong kegiatan investasi dan menghambat simpanan yang tidak produktif melalui sistem operasi profit and loss sharing.
    b. Memerangi kemiskinan dengan membina golongan ekonomi lemah dan tertindas, melalui bantuan hibah yang dilakukan bank secara produktif.
    c. Mengembangkan produksi, menggalakkan perdagangan dan memperluas kesempatan kerja melalui kredit pemilikan barang atau peralatan modal dengan pembayaran tangguh dan pembayaran cicilan.
    d. Meratakan pendapatan melalui sistem bagi hasil dan kerugian, baik yang diberikan kepada bank itu sendiri maupun kepada peminjam.
    5. Penerapan sistem bagi hasil yang tidak membebani biaya diluar kemampuan nasabah dan akan terjamin adanya “keterbukaan”.
    6. Menciptakan alternatif kehidupan ekonomi yang berkeadilan dalam kehidupan modern.
    III. Fungsi dan Usaha Bank Muamalat
    Di Indonesia, keberadaan bank muamalat sudah ada sejak pertengahan tahun 1992, tepatnya setelah disahkannya UU No. 7 Tahun 1992 sebagai dasar hukum, yang kemudian dirubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998. kebijakan perundangan ini diperkuat oleh Keputusan Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia No. 53/BH/KDK 13.32/1.2/XII/1998, pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi No. 165/PAD/KDK 13.32/1.2/V/1999,serta izin usaha dari Menteri Keuangan untuk beroperasi dengan prinsip bagi hasil seperti bank perkreditan rakyat (BPR) Syariah. Berdasarkan beberapa dasar hukum ini, bank muamalat memiliki kesamaan fungsi demngan bank umum. Fungsi-fungsi bank umum sebagaimana yang dimaksud antara lain (Siamat:1999) :
    1. Menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi. Bank wajib menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien kepada nasabahnya, seperti penyediaan fasilitas kartu kredit, ATM, serta mekanisme jasa kliring dan inkaso.
    2. Menciptakan uang. Menciptakan uang yang dimaksud bukanlah seperti fungsi pada bank Indonesia. Menciptakan uang dalam hal ini adalah bagaimana bank muamalat dalam kegiatan operasionalnya seperti bank konvensional, dapat memberikan perolehan hasil secara maksimal. Perolehan hasil ini merupakan balas jasa (keuntungan) yang diterima dalam bentuk uang, yang dapat digunakan kembali untuk memperlancar kegiatan operasional bank atau disimpan sebagai cadangan modal.
    3. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat. Kegiatan menghimpun dana dapat dilakukan dengan cara menawarkan jasa dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, giro maupun penerimaan dana sesuai dengan syariah Islam. Penyaluran kembali dana ke masyarakat dapat dalam bentuk pemberian kredit dan bentuk-bentuk pendanaan lainnya. Dalam penyaluran kembali dana masyarakat, bank memperoleh balas jasa dalam bentuk bagi hasil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Tujuan dari perputaran dana ini adalah sebagai perolehan hasil (profit) dan mobilisasi dana dapat terus berjalan.
    4. Menawarkan jasa-jasa keuangan lainnya. Jasa-jasa keuangan lainnya yang dapat ditawarkan oleh bank muamalat, antara lain :
    a. Transfer antar bank dalam kota atau luar negeri.
    b. Kliring (clearing)
    c. Inkaso
    d. Safe deposit box
    e. Bank card
    f. Bank notes
    g. Travelers cheque
    h. Letter of credit (L/C)
    i. Bank garansi
    j. Jasa-jasa dipasar modal
    k. Menerima setoran-setoran lain

    Menurut Siamat (1999), kegiatan usaha bank yang dapat dilakukan berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, antara lain :
    1. Menghimpun dana dari masyarakat. Penghimpunan atau mobilisasi dana dapat melalui sarana tabungan, deposito berjangka dan giro.
    2. Memberikan kredit. Kredit yang diberikan dapat dalam bentuk pendanaan kegiatan ekonomi masyarakat mapun barang kebutuhan konsumen.
    3. Menerbitkan surat pengakuan utang.
    4. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:
    a. Surat-surat wesel termasuk wesel yang disekap oleh bank.
    b. Surat pengakuan utang.
    c. Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah.
    d. Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
    e. Obligasi.
    f. Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun.
    g. Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun.
    5. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah.
    6. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana komunikasi mapun dengan wesel.
    7. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antara pihak ketiga.
    8. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.
    9. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak (custodian).
    10. Melakukan penempatan dana dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek.
    11. Membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya.
    12. Melakukan kegiatan anjak piutang (factoring) kartu kredit dan kegiatan wali amanat (trustee).
    13. menyediakan pembiayaan dengan prinsip bagi hasil.
    14. Melakukan kegiatan lain, misalnya kegiatan transaksi dalam valuta asing, melakukan penyertaan modal atau usaha lain di bidang keuangan seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, dan asuransi, serta melakukan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit.
    15. Kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang.
    IV. Manajemen Kredit Syariah
    Menurut UU No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, disebutkan bahwa “kredit adalah penyediaan uang tagihan atau yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan”. Menurut Siamat (1999), kredit ini dapat digolongkan kedalam enam bentuk yaitu :
    1. Penggolongan kredit berdasarkan jangka waktu (maturity), antara lain :
    a. Kredit jangka pendek (short-term loan).
    b. Kredit jangka menengah (medium-term loan)
    c. Kredit jangka panjang (long-term loan).
    2. Penggolongan kredit berdasarkan barang jaminan (collateral), antara lain :
    a. Kredit dengan jaminan (secured loan).
    b. Kredit dengan jaminan (unsecured loan).
    3. Kredit berdasarkan segmen usaha, seperti otomotif, pharmasi, tekstil, makanan, konstruksi dan sebagainya.
    4. Penggolongan kredit berdasarkan tujuannya, antara lain :
    a. kredit komersil (commercial loan), yaitu kredit yang diberikan untuk memperlancar kegiatan usaha nasabah di bidang perdagangan.
    b. Kredit konsumtif (consumer loan), yaitu kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan debitur yang bersifat konsumtif.
    c. Kredit produktif (productive loan), yaitu kredit yang diberikan dalam rangka membiayai kebutuhan modal kerja debitur sehingga dapat memperlancar produksi.
    5. Penggolongan kredit menurut penggunaannya, antara lain :
    a. Kredit modal kerja (working capital credit), yaitu kredit yang diberikan oleh bank untuk menambah modal kerja debitur.
    b. Kredit investasi (Invesment credit), yaitu kredit yang diberikan oleh bank kepada perusahaan untuk digunakan melakukan investasi dengan membeli barang-barang modal.
    6. Kredit non kas (non cash loan), yaitu kredit yang diberikan kepada nasabah yang hanya boleh ditarik apabila suatu transaksi yang telah diperjanjikan telah direalisasikan atau efektif.
    Dalam pendanaan kepada nasabah dalam bentuk pemberian kredit, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan penilaian kredit, oleh karena layak tidaknya kredit yang diberikan akan sangat mempengaruhi stabilitas keuangan bank. Menurut Rahardja (1997), penilaian kredit harus memenuhi criteria sebagai berikut :
    1. Keamanan kredit (safety). Harus benar-benar diyakini bahwa kredit tersebut dapat dilunasi kembali.
    2. Terarahnya tujuan penggunaan kredit (suitability). Kredit akan digunakan untuk tujuan yang sejalan dengan kepentingan masyarakat atau setidaknya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
    3. Menguntungkan (profitable). Kredit yang diberikan menguntungkan bagi bank maupun bagi nasabah.
    Menurut Sinungan (1993), metode lain yang dapat digunakan untuk menentukan nilai kredit adalah dengan menggunakan formula 4P, yaitu : (1) Personality ; (2) Purpose ; (3) Prospect; (4) Payment.
    Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi resiko penilaian kredit (Rahardja:1997), antara lain : (1) Character ; (2) Capacity ; (3) Capital ; (4) Conditional ; (5) Collateral.
    Risiko Bank Syariah sebetulnya lebih kecil dibanding bank konvensional. Bank Syariah tidak akan mengalami negative spread, karena dari dana yang dikucurkan untuk pembiayaan akan diperoleh pendapatan, bukan bunga seperti di bank biasa. Sementara untuk deposan, Bank Syariah tidak memberikan bunga melainkan sistem bagi hasil atau mudharabah.
    Jika pendapatan dari kredit atau dalam Bank Syariah disebut murabahah ditetapkan 10 persen, maka pada mudharabah (sistem bagi hasil) akan ditetapkan angka lebih rendah. Selisihnya merupakan pendapatan bank sebagai biaya jasa. Risiko Bank Syariah terhadap transaksi foreign exchange juga rendah karena, pada Bank Syariah transaksi valas hanya diizinkan dalam bentuk transaksi spot. Sementara forward dan swap tidak diizinkan karena bersifat gambling. (Karim, 2003).
    Aspek-aspek lainnya yang perlu diperhatikan dalam penilaian kredit, yang menyangkut kegiatan usaha calon debitur (Siamat:1999), antara lain :
    1. Aspek pemasaran. Menyangkut kemampuan daya beli masyarakat, keadaan kompetisi, pangsa pasar, kualitas produksi dan lain sebagainya.
    2. Aspek teknis. Meliputi kelancaran produksi, kapasitas produksi, mesin dan peralatan, ketersediaan dan kontinuitas bahan baku.
    3. Aspek manajemen. Meliputi struktur dan susunan organisasi, termasuk pengalaman anggota dan pola kepemimpinan manajemen.
    4. Aspek yuridis. Meliputi status hukum badan usaha, kelengkapan izin usaha dan legalitas barang jaminan.
    5. Aspek sosial ekonomi. Meliputi keadaan keuangan perusahaan debitur yang dibiayai.
    Manajemen kredit bank syari’ah secara umum diterapkan dengan berpegang teguh kepada syariah Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadist). Diharapkan lembaga keuangan maupun bank dengan sistem syariah dapat menjaga kestabilan keuangan mereka (income stability). Selain itu, bank syariah diharapkan dapat lebih memaksimalkan pelayanan mobilisasi dana masyarakat dan memberikan jaminan keuangan dengan pasti. Di sisi lain, penyaluran kembali dana masyarakat dalam bentuk pembiayaan, akan berjalan normal sesuai dengan harapan dan tujuan bersama.
    Permasalahan yang biasanya dialami oleh lembaga keuangan syariah atau bank muamalat dalam kegiatan operasionalnya, antara lain :
    1. Modal (capital).
    2. Human resource activity (kegiatan operasional).
    3. Operational management system (sistem manajemen keuangan).
    4. Financial management system (sistem manajemen keuangan).
    5. Loyality of credit (loyalitas kredit).
    Karim (2003), mengemukakan bahwa pada sisi kredit, dalam aturan syariah bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli murabahah). Mekanisme seperti itu, akan mencegah kemungkinan dana kredit digunakan untuk transaksi spekulasi, atau untuk jual beli valas. Jika terjadi default, bank mudah mendapatkan dananya kembali karena ada aset yang nilainya jelas berupa sejumlah kredit yang dikucurkan. Dalam Bank Syariah, karakter nasabah (personal guarantee) lebih dinomorsatukan, ketimbang cover guarantee berupa aset. Debitor yang dinilai tidak cacat hukum dan kegiatan usahanya baik akan mendapat prioritas.
    V. Hubungan Antara Kredit dengan Piutang
    Piutang merupakan cadangan penerimaan yang mungkin diterima oleh suatu badan usaha, dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang. Piutang lahir akibat adanya pendanaan dalam bentuk pemberian kredit dan pemberian jasa lainnya, dimana pembayaran dari penggunaan jasa tersebut dilakukan pada waktu tertentu, misal harian, mingguan, bulanan atau periode waktu lainnya. Besarnya piutang yang akan diterima badan usaha (bank atau lembaga keuangan), ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pihak pemberi jasa (bank atau lembaga keuangan) dan pihak pengguna jasa. Semakin besarnya kredit yang diberikan, akan menambah besarnya resiko yang akan ditanggung badan usaha.
    Resiko kredit karena adanya piutang, dapat melalui prosentase perbandingan antara jumlah kredit bermasalah dengan jumlah harta keseluruhan (Sutojo:1997). Resiko lain yang dapat ditimbulkan oleh piutang adalah pada penerimaan bersih (earning after taxes). Semakin besar jumlah piutang dan jumlah piutang tak tertagih (bad debt) yang dimiliki badan usaha, akan menyebabkan semakin kecil penerimaan bersih yang mampu diperoleh badan usaha, baik lembaga keuangan maupun bank. Mengingat bahwa piutang sangat berpengaruh terhadap kestabilan usaha, maka piutang perlu dikelola dengan baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen piutang, antara lain :
    1. Credit policy. Kebijakan kredit ini menyangkut bagaimana jangka waktu penetapan piutang, besarnya piutang dan penetapan cara-cara pembayaran oleh debitur.
    2. Credit scoring. Hal ini berkaitan dengan penilaian kredit dan pemberian ranking (pengelompok piutang).
    3. Credit standard. Standar atau patokan terhadap pemberian ranking dalam penilaian kredit bank.
    VI. Menuju Bank Syari’ah 2011
    Tak bisa dipungkiri perkembangan bank syari’ah memang cukup pesat. Namun, perkembangan bank sistem bagi hasil ini harus dibarengi dengan konsolidasi internal dan eksternal bank agar semakin tangguh dan dipercaya masyarakat. Bank Indonesia sendiri sebagai pengawas perbankan telah menentukan sasaran realistis untuk mewujudkan visi perbankan syari’ah yang kompetitif, efisien dan memenuhi prinsip kehati-hatian. Berikut ini sasaran pengembangan bank syari’ah hingga 2011:
    1. Terpenuhinya prinsip syari’ah dalam opersional perbankan yang ditandai dengan:
     Tersusunnya norma-norma keuangan syari’ah yang seragam (standarisasi).
     Terwujudnya mekanisme kerja yang efisien bagi pengawasan prinsip syari’ah dalam operasional perbankan (baik instrumen maupun badan terkait).
     Rendahnya tingkat keluhan masyarakat dalam hal penerapan prinsip syari’ah dalam setiap transaksi.
    2. Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan syari’ah:
     Terwujudnya kerangka pengaturan dan pengawasan berbasis resiko yang sesuai dengan karakteristiknya dan didukung oleh sumber daya manusia yang handal.
     Diterapkannya konsep good corporate governance dalam operasi perbankan syari’ah.
     Diterapkannya kebijakan exit dan entre yang efisien.
     Terwujudnya realtime supervision.
     Terwujudnya self regulatory system.
    3. Terciptanya sistem perbankan syari’ah yang kompetitif dan efisien, yang ditandai dengan:
     Terciptnya pemain-pemain yang mampu bersaing secara global.
     Terwujudnya aliansi strategis yang efektif.
     Terwujudnya mekanisme kerja sama dengan lembaga-lembaga pendukung.
    4. Terwujudnya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi masyarakat luas, yang ditandai dengan:
     Terwujudnya safety net yang menyatu dengan konsep operasional perbankan yang berhati-hati.
     Terpenuhinya kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan bank syari’ah di seluruh Indonesia dengan terget pangsa sebesar 5% dari total aset perbankan nasional.
     Terwujudnya fungsi perbankan syari’ah yang kaafah dan dapat melayani seluruh segmen masyarakat.
     Meningkatnya proporsi pola pembiayaan secara bagi hasil.
    VII. Kesimpulan dan Saran
    1. Lembaga keuangan syariah atau bank muamalat merupakan badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan, untuk memobilisasi dana masyarakat dan memberikan pelayanan jasa perbankan lainnya berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
    2. Satu hal yang membedakan antara bank Islam dengan bank konvensional adalah penerapan sistem bagi hasil yang menggantikan sistem bunga. Sistem ini merupakan terobosan terbaru dalam dunia perbankan, bagi mereka yang tidak menginginkan adanya unsur riba pada bunga.
    3. Pendanaan dalam bentuk pemberian kredit pada pola bank Islam maupun lembaga keuangan syariah, perlu mendapat perhatian yang serius. Kredit macet dapat menyebabkan likuiditas, keamanan dan penerimaan bank menjadi rendah dan bahkan dapat mendatangkan kerugian yang cukup.
    4. Kombinasi antara manajemen bank umum dengan sistem keuangan syariah, dapat diterapkan sebagai sarana untuk menyeimbangkan antara dua kepentingan (lenders borrowers).
    5. Perlu dipersiapkan panduan pengelolaan risiko atau benchmarking bagi bank-bank syari’ah di Indonesia dengan melakukan studi banding ke negara-negara yang menjalankan sistem perbankan Islam. Hal ini sangat diperlukan mengingat struktur aset dan kredit bank syari’ah berbeda dengan bank biasa. Sementara Based Accord II yang digunakan sebagai acuan bank konvensional tidak bisa digunakan begitu saja oleh bank syari’ah.

    Penguatan Sistem Bagi Hasil Bank Syariah

    Pesatnya pertumbuhan bank syariah di Indonesia, belum dibarengi oleh pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang sistem operasional perbankan syariah. Meski bank syariah terus berkembang setiap tahunnya, namun dikalangan masyarakat Indonesia masih belum mengenal apa dan bagaimana bank syariah menjalankan kegiatan bisnisnya. Umumnya masyarakat masih beranggapan bahwa bank syariah tak ubahnya seperti bank konvensional yang hanya diberi label syariah saja.

    Produk-produk yang ditawarkan oleh bank syariah, menurut mereka, hanyalah produk-produk bank konvensional yang dipoles dengan penerapan akad-akad yang berkaitan dengan syariah. Sehingga hal ini justru memunculkan anggapan masyarakat bahwa kata syariah hanya sekedar lipstik dalam perbankan syariah.

    Hal inipun dipertanyakan oleh mereka, karakteristik dasar yang melandasi sistem operasional perbankan syariah, yaitu sistem bagi hasil. Karena sistem bagi hasil dalam prakteknya masih menyerupai sistem bunga bagi bank konvensional. Begitu pula penyaluran dana bank syariah yang lebih besar bertumpu pada pembiayaan murabahah, yang mengambil keuntungan berdasarkan margin, dianggap oleh masyarakat hanyalah sekedar polesan dari cara pengambilan bunga pada bank konvensional.

    Secara praktek pengambilan margin yang dilakukan oleh perbankan syariah seperti pengambilan bunga yang dilakukan perbankan konvensional. Hal inipun disebabkan pula oleh sistem pembayarannya yang dilakukan secara kredit. Cara seperti ini yang menyebabkan melekatnya anggapan masyarakat bahwa bank syariah seperti bank konvensional pada umumnya.

    Opini bahwa bank syariah sama dengan bank konvensional, tidak hanya pada masyarakat awam saja, tetapi juga pada mereka kaum intelektual. Menurut mereka masih sangat sulit untuk membedakan antara bagi hasil, margin dan bunga bank konvensional. Kalaupun bisa hanyalah pada tataran teorinya saja, sedang prakteknya masih terlihat rancu untuk membedakan bagi hasil, margin dan bunga.

    Meski secara teoritis sistem bagi hasil dengan akad mudharabah dan musyarakah sangat baik, namun yang terjadi pembiayaan perbankan syariah dengan pola tersebut belum menjadi barometer bank syariah, sehingga perbandingannya cukup kecil jika dibandingkan dengan pembiayaan dengan pendapatan tetap. Hal tersebut lebih disebabkan pada tuntutan yang harus dipenuhi oleh bank syariah yang mengikuti struktur bank komersial. Untuk bank komersial dituntut untuk membagikan pendapatan atau return secara tetap bagi dana pihak ketiga di setiap bulannya. Sehingga pembiayaan dengan basis pendapatan tetap cenderung menjadi pilihan bagi bank syariah.

    Menyikapi dari kondisi yang terjadi pada masyarakat dan juga pada bank syariah, dibutuhkan dari semua unsur, baik lembaga ataupun perorangan yang berkepentingan dengan berkembangnya ekonomi dan keuangan syariah, untuk lebih jauh memperkenalkan pada semua lapisan masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan. Disamping, dari pihak praktisi keuangan dan bisnis syariah untuk mempersiapkan sistem, jaringan dan manajemen bank syariah yang mengacu pada profesionalisme.

    Agar bagaimana sistem bagi hasil menjadi karakteristik operasional bank syariah, tentunya banyak hal yang harus dibenahi dan dipersiapkan, disamping perbaikan pada sistem, jaringan dan manajemen, mempersiapkan sumber daya manusia yang paham dan mengerti ekonomi dan keuangan syariah, baik teori dan praktek, merupakan kondisi mendasar bagi bank syariah untuk dipersiapkan.

    Menurut Hanawijaya, untuk mendukung target market share 5% pada akhir 2008, dibutuhkan jaringan kantor bank syariah sebanyak 2.289 kantor. Keberadaan kantor bank syariah pada akhir 2006 sebanyak 630 kantor, jadi bank syariah harus meningkatkan jumlah kantor sebanyak 1.659 kantor. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa rata-rata aset perkantor bank syariah yang mencapai Rp. 40 milyar. Implikasinya adalah dibutuhkan tambahan 41.475 sumber daya manusia dalam jangka waktu 2 tahun, dengan asumsi 1 kantor cabang membutuhkan 25 personil.

    Jika rata-rata aset per kantor bank syariah dapat ditingkatkan hingga 50% dari rata-rata aset per kantor bank konvensional, atau senilai Rp. 95 milyar, maka jumlah kantor yang dibutuhkan untuk mendukung pencapaian target market share 5% adalah 964 kantor, atau mengalami peningkatan sebanyak 334 kantor. Implikasinya adalah jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah sebanyak 8.350 personil, yang harus dipenuhi dalam waktu 2 tahun.

    Kebutuhan akan sumber daya manusia untuk mendukung perkembangan perbankan syariah, tidak hanya pada mereka yang bekerja dan menjalankan operasional bank syariah. Namun, sumber daya yang perlu dipersiapkan juga adalah mereka yang secara langsung atau tidak langsung berinteraksi dengan bank syariah. Menurut Didin Hafidhuddin, ada lima komponen sumber daya manusia yang perlu diperhatikan, yaitu pemilik modal, pelaku usaha, bankir, penyuluh dan pengambil kebijakan. Mereka akan saling berkaitan antara satu sama lain demi terciptanya kemajuan perbankan syariah.

    Disamping kebutuhan sumber daya manusia yang cukup mendesak, perlu kiranya di setiap bank syariah dibentuk sebuah lembaga consumer protection, yang dijadikan bank syariah sebagai, pertama fasilitator yaitu memfasilitasi bank dan nasabah untuk memberikan penjelasan tentang produk-produk bank syariah, serta . Kedua mediator, hal ini diperlukan jika terjadi kesalahan atau ketidakpuasan antara masing-masing pihak, lembaga consumer protection dapat memediasi antara keduanya, sehingga tidak terjadi perselisihan yang akan merugikan bagi kedua belah pihak. Ketiga eksekutor, pada fungsi ini lembaga consumer protection diberi wewenang penuh untuk menyelesaikan seluruh permasalahan yang berkaitan dengan nasabah dan bank syariah. Intinya lembaga ini merupakan bentuk pendampingan yang perlu diberikan oleh manajemen bank syariah untuk karyawan dan nasabahnya.

  5. Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan
    BNI Syariah terus berupaya meningkatkan pembiayaan produktif mereka guna membidik pasar pembiayaan ritel pada tahun 2011. Untuk sektor pembiayaan produktif tersebut, BNI Syariah mengandalkan dua produk unggulan, yaitu Wirausaha Hasanah dan Hasanah Card.
    Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah, Imam Teguh Saptono, mengatakan Wirausaha Hasanah adalah fasilitas pembiayaan produktif yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan usaha-usaha produktif (modal kerja dan investasi), yang tidak bertentangan dengan syariah dan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
    Keunggulan dari produk yang menggunakan akad murabahah, musyarakah dan mudharabah ini adalah prosesnya lebih cepat, dengan persyaratan yang mudah dan sesuai dengan prinsip syariah. “Kemudahan pembiayaan Wirausaha Hasanah adalah jangka waktunya yang mencapai tujuh tahun dengan plafon berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar,” kata Imam.
    Adapun Hasanah Card, lanjut Imam, adalah fasilitas pembiayaan produktif BNI Syariah dalam bentuk kartu kredit. Dengan akad kafalah, ijarah, dan qard, Hasanah Card lebih nyaman untuk digunakan oleh mereka yang mengedepankan prinsip syariah dalam layanan perbankan.
    Imam melanjutkan, dengan fitur Business Oportunity (BO), Hasanah Card memberi kesempatan bagi para pemegang kartunya untuk memulai usaha pembelian waralaba (franchise) dengan harga terjangkau dan margin nol persen untuk masa cicilan satu bulan sampai 12 bulan.
    Dikatakan, BNI Syariah menargetkan pembiayaan ritel pada 2011 mencapai 20 persen dari kondisi tahun ini. Sejak spin off pada Juni lalu, aset BNI Syariah mencapai Rp 6,02 triliun dengan pengumpulan DPK mencapai Rp 4,7 triliun. Dari DPK tersebut, pembiayaan yang sudah dilakukan BNI Syariah mencapai Rp 3,3 triliun. “Tahun depan targetnya bisa tumbuh 20 persen sampai 30 persen atau di atas Rp 4 triliun,” tandas Imam.
    Pada 2011, BNI Syariah akan menambah fitur baru pada kartu pembiayaan syariah Hasanah Card. Yaitu, fitur baru berupa paket edukasi untuk membiayai kursus singkat.
    Direktur Kepatuhan BNI Syariah, Imam T Saptono, mengatakan bahwa BNI Syariah kini sedang menjajaki kerjasama dengan provider edukasi baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut Imam, pasar kartu pembiayaan syariah masih cukup luas sehingga BNI Syariah optimistis dapat menggaet pemegang kartu lebih banyak lagi tahun ini.
    “Pasar kartu pembiayaan syariah relatif masih luas karena baru beberapa bank syariah yang memiliki produk itu,’’ kata Imam.
    BNI Syariah membidik pertumbuhan kartu pembiayaan syariah Hasanah Card sebesar 100 persen pada 2011. Hingga 2010 pemegang kartu Hasanah Card sebanyak 26 ribu dengan jumlah pembiayaan Rp 90 miliar.
    Tercatat dari jumlah pembiayaan Rp 90 miliar, pembiayaan bermasalah Hasanah Card sebanyak Rp 1,6 miliar. Per November 2010 aset BNI Syariah sebesar Rp 6,1 triliun, pembiayaan Rp 3,4 triliun dan dana pihak ketiga Rp 4,9 triliun.
    Kafalah, Wakalah, Sharf, dan contoh produk jasa layanan Bank Syariah
    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya

    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)

  6. kiriman saudara sudah dapat kami pamahi, tetapi identitas saudara belum jelas apakah ini kiriman sri rahmawati? sukses selalu dan segera mengembangkan blog pribadi anda!

  7. kiriman tugas Tenggar sudah kami pahami silakan kembangkan melalui blog pribadi saudara. selamat dan sukses selalu

  8. kiriman susana sudah dapat kami baca, tetapi pembahasan tentang jasa layanan belum mendalam bahkan lebih banyak membahas yang bersifat umum. Silakan dicoba untuk memperbaikinya. salam sukses selalu. Gita

  9. Nama: Aslim sulaiman Putra hasibuan
    NIM : 20090730079
    Ekonomi Perbankan Islam

    Produk dan Layanan iB Perbankan Syariah

    Bank syariah semakin mendapat tempat dihati masyarakat banyak. Jumlah dana pihak ketiga yang terus meningkat, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap perbankan syariah. Tak terasa sudah 19 tahun kehadirannya di Indonesia. Jaringan bank syariah sudah tersebar di seluruh pelosok daerah. Sampai dengan akhir jaringan operasional bank syariah meliputi 3321 kantor dari 11 BUS, 23 UUS dan 151 BPRS serta 1277 layanan syariah yang siap melayani yang dilayani oleh +20.000 SDM perbankan syariah yang siap melayani nasabah dan calon nasabah bank syariah.
    Dengan hanya mengenali adanya logo iB (baca: ai-Bi) perbankan syariah di jaringan kantor bank, baik bank syariah maupun jaringan bank konvensional yang membuka unit layanan syariah, masyarakat dengan mudah mendapatkan pelayanan produk dan jasa bank syariah.
    Fasilitas layanan (Service) yang disediakan bank syariah sekarang tidak kalah canggih dengan layanan bank konvensional dalam memberikan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE. Ya…betul…sekarang dengan iB perbankan Syariah kita dapat bergaya dan memenuhi kebutuhan serta menyelesaikan berbagai masalah keuangan yang dihadapi dan tentu saja tetap sesuai dengan prinsip syariah.
    Berikut beberapa layanan service excellence perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan nasabah di bank syariah:
    1. ATM (Anjungan Tunai Mandiri)
    iB (ai-Bi) Perbankan Syariah didukung oleh lebih dari 6000 jaringan ATM Bersama dan 7000 jaringan ATM BCA. Melalui jaringan ATM di seluruh Indonesia, nasabah dapat melakukan pembayaran tagihan rutin bulanan seperti membayar tagihan telpon, listrik, internet, pesan tiket pesawat dan masih banyak lagi.
    2. Setoran dan Tarikan Tunai:
    Dahulu setoran tunai hanya bisa dilakukan dengan mendatangi cabang bank syariah tempat membuka rekening. Tetapi sekarang iB (ai-Bi) Perbankan Syariah memberikan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE dengan fasilitas penyetoran melalui kantor pos yang telah bekerjasama dengan bank syariah. Setoran tunai juga dapat dilakukan melalui layanan setoran tunai antar bank melalui kantor layanan bank konvensional yang membuka layanan syariah.
    3. Transfer baik melalui jaringan kantor maupun menggunakan fasilitas ATM
    iB (ai-Bi) Perbankan Syariah memberikan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE dengan fasilitas transfer antar bank saat ini tidak sulit lagi dilakukan. Bank syariah telah mempunyai hubungan kerjasama yang baik dengan jaringan bank syariah dan beberapa bank konvensional, sehingga saat ini sangat dimungkinkan untuk transfer dari dan ke bank syariah di seluruh Indonesia. Bahkan juga dapat melakukan transfer untuk saudara dan kerabat yang sedang berada di luar negeri. Beberapa bank syariah juga bekerjasama dengan saat ini telah tergabung dengan jaringan layanan money transfer internasional seperti Western Union, sehingga proses transfer juga dapat dilaksanakan untuk nasabah yang tidak mempunyai rekening bank.
    4. Mobile Banking:
    iB (ai-Bi) Perbankan Syariah dengan fasilitas Mobile Bankingnya memberikan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE, yaitu solusi yang memberikan kemudahan untuk mengecek saldo tabungan, transfer uang antar bank, membayar pengeluaran rutin bulanan sampai mengisi pulsa….dimanapun dan kapanpun anda membutuhkan. iB (ai-Bi) Mobile Banking menjadikan hidup anda semakin mudah.
    5. Internet Banking:
    iB (ai-Bi) Perbankan Syariah menawarkan gaya hidup modern SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE melalui kemudahan akses jasa perbankan lewat Internet. Dengan e-Banking, nasabah bisa melakukan berbagai transaksi kapanpun dan
    6. Phone Banking:
    iB (ai-Bi) Phone Banking menghadirkan banyak kemudahan ke tangan anda sebagai SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE. Anda bisa mengakses rekening anda melalui Telephone dan Handphone, melalui SMS untuk melakukan berbagai transaksi perbankan yang anda butuhkan: informasi saldo, ganti PIN, transfer antar rekening, pembayaran tagihan rutin bulanan.
    7. Debit Card
    Trend gaya hidup masyarakat modern “Less Cash Society” sebagai SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE yang disediakan oleh bank syariah. Kartu Debit card bank syariah sekarang sudah dapat digunakan untuk berbelanja di supermarket, mall, restoran dan tempat-tempat wisata yang mempunyai hubungan kerjasama dengan bank syariah.
    8. Credit Card Syariah
    Kartu Kredit iB, seperti kartu kredit pada umumnya, dapat digunakan sebagai SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE untuk berbelanja di berbagai merchants, menarik uang tunai melalui ATM, membayar berbagai tagihan (listrik, air, telepon, tv kabel, membayar biaya kuliah), untuk membeli tiket pesawat terbang maupun mengisi ulang pulsa handphone. Pemegang Kartu Kredit iB menikmati layanan dan fasilitas yang sama mudahnya dengan pemegang kartu kredit pada umunya. Hal ini karena Kartu Kredit iB didukung juga oleh Master Card International, sehingga dapat digunakan di hampir 30 juta merchant dan mesin ATM berlogo Master Card atau Cirrus di seluruh dunia.
    9. Layanan iB Prioritas
    Layanan iB Prioritas merupakan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE yang menyediakan layanan personal dengan fasilitas yang mengutamakan kenyamanan dalam keseimbangan baik dalam layanan finansial maupun layanan non financial seperti layanan wealth management yang akan membantu nasabah perbankan syariah melakukan konsulytasi perencanaan keuangan, termasuk konsultasi zakat, waqaf hingga pembagian harta waris

    Sistem Operasional Bank Syariah
    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:
    1. Sistem Penghimpunan Dana
    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.
    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:
    a. Modal
    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.
    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23
    b. Titipan (Wadi’ah)
    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
    c. Investasi (Mudharabah)
    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.
    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)
    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.
    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.
    .
    Sumber:
    http://id.shvoong.com/business-management/investing/2047567-sistem-operasional-bank-syariah/#ixzz1NAuJ2Zwy
    http://ib.eramuslim.com/2011/05/05/produk-dan-layanan-ib-perbankan-syariah/

  10. Nama : Angrum Pratiwi
    NIM : 20100730047
    Mata Kuliah : Sistem Operasional Bank Syariah
    Materi Tugas : “Kirimkan melalui blog “gita.staff.umy.ac.id” artikel yang membahas berbagi produk dan sistem operasional dari jasa layanan perbankan syariah ( jangan salah produk penghimpunan dan produk penyaluran).”

    Produk-Produk Bank Syariah
    Selasa, 16 Juni 2009 , Posted by Hasan Ismail at 02:30
    Produk-Produk Bank Syariah
    Diantara keluhan terhadap perbankan syariah adalah karena sedikitnya produk yang dapat mengakomodasikan kebutuhan masyarakat, berbeda dengan perbankan konvensional yang terlihat aktif dengan merekayasa produknya. Ini disebabkan oleh beberapa kendala, seperti masalah regulasi, perlakuan yang cenderung menyamaratakan semua bank, sumber daya, dan sebagainya.
    Padahal jika perbankan syariah dibebaskan untuk mengembangkan produknya sendiri menurut teiri perbankan islam, maka produknya akan sangat variatif mengikuti produk-produk hukum syariah. Disamping itu, sifat produk perbankan syariah yang tidak mengambil bunga sebagai ukuran, berdampak pada stabilisasi nilai mata uang, karena perbankan syariah tidak bisa dipisahkan dari transaksi riil. Dengan demikian, produk perbankan syariah tidak mengakibatkan bulat economics.

    Jika pra syarat tersebut diatas terpenuhi, maka tinggal usaha perbankan syariah untuk mengolah produk tersebua agar bisa kompetitif dengan produk lainnya didunia perbankan, serta diadaptasikan dengan teknologi yang sedang dan akan berkembang.

    Pada dasarnya, produk yang ditawarkan perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu :
    1. Produk Penyaluran Dana
    2. Produk Penghimpunan Dana
    3. Produk Jasa

    1. Produk Penyaluran Dana
    Dalam menyalurkan dana kepada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan syariah terbagi kedalam tiga kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaan yaitu :
    a) Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang yang dilakukan dengan prinsip jual beli.
    b) Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa.
    c) Transaksi pembiyaan untuk usaha kerja sama yang dituju guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
    Pada kategori pertama dan kedua, tingkat keuntungan bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang atau jasa yang dijual. Produk yang termasuk dalam kelompok ini adalah produk yang menggunakan prinsip jual beli seperti murabahah, salam dan istishna serta produk yang menggunakan prinsip sewa atau ijarah. Sedangkan kategori ketiga, tingkat keuntungan bank ditentukan dari besarnya usaha sesuai dengan prinsip bagi hasil. Pada produk bagi hasil keuntungan ditentukan oleh nisbah bagi hasil yang disepakati dimuka. Produk perbankan yang termasuk kedalam kelompok ini adalah musyarakah dan mudhrabah.

    1.1. Prinsip jual beli (Ba’i)
    Prinsip jual beli diadakan sehubung diadanya perpindahan kepemilikan barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barang seperti :

    a) Pembiayaan Murabahah
    Murabahah adalah transaksi jual beli, dimana bank mendapat sejumlah keuntungan. Dalam hal ini, bank menjadi penjual dan nasabah menjadi pembeli. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad.
    b) Salam
    Salam adalah transaksi jual beli, dimana barangnya belum ada, sehingga
    barang yang menjadi objek transaksi tersebut diserahkan secara tangguh.
    Dalam transaksi ini, bank menjadi pembeli dan nasabah menjadi penjual.
    c) Istishna
    Alur trankasksi Istishna mirip dengan Salam, hanya saja dalam Istishna, Bank dapat membayar harga pembelian dalam beberapa kali termin pembayaran. Skim istishna dalam bank syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
    1.2. Prinsip Sewa (Ijarah).
    Secara prinsip, Ijarah sama dengan transaksi jual beli. Hanya saja yang menjadi objek dalam transaksi ini adalah dalam bentuk manfaat. Pada akhir masa sewa dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya selama masa sewa akan dijual belikan antra Bank dan nasabah yang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan)

    1.3. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)
    Produk pembiayaan syariah yang didasarkan dengan prinsip bagi hasil adalah :
    a) Musyarakah
    Musyarakah adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil. Dalam kerjasama ini para pihak secara bersama-sama memadukan sumber daya baik yang berwujud ataupun tidak berwujud untuk menjadi modal proyek kerjasama, dan secara bersama-sama pula mengelola proyek kerjasama tersebut.
    b) Mudarabah
    Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai pemilik modal, dan bank sebagai mudharib (pengelola). Dana tersebut digunakan Bank untuk melakukan pembiayaan murabahah atau ijarah seperti yang dijelaskan terdahulu. Dapat pula dana tersebut digunakan oleh bank untuk melakukan pembiayaan mudharabah. Hasil usaha ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati.
    1.4. Akad Pelengkap
    Untuk memudahkan pelaksanan pembiyaan, biasanya diperlukan juga akad pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiyaan. Meskipu tidak ditujukan mencari keuntungan, dalam akad pelengkap ini dibolehkan untuk meminta pengganti biaya biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besarnya biaya pengganti ini sekedar untuk menutupi biaya yang benar benar timbul.

    a) Hiwalah (Alih Utang Piutang)
    Hiwalah adalah transaksi pengalihan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya, sedangkan bank mendapat ganti biaya atas jasa.
    b) Rahn
    Rahn, dalam bahasa umum lebih dikenal dengan Gadai. Tujuan akad Rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.

    c) Qardh
    Qardh adalah pinjaman uang. Misalnya dalam hal seorang calon haji membutuhkan dana pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji. Bank memberikan pinjaman kepada nasabah calon haji tersebut dan si nasabah melunasinya sebelum keberangkatan Hajinya
    d) Wakalah
    Wakalah dalam praktek Perbankan syariah terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang.
    e) Kafalah
    Kafalah dalam bahasa umum lebih dikenal dengan istilah Bank Garansi, yang ditujukan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bank dapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai Rahn. Bank dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadi’ah. Bank mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang diberikan

    2. Produk Penghimpunan Dana
    Produk penghimpunan dana dibank syariah dapat berupa giro, tabungan, dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah wadi’ah dan mudharabah.
    a. Wadi’ah
    Prinsip Wadi’ah yang diterapkan dalam Perbankan syariah adalah Wadiah Yad Dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Dalam konsep Wadi’ah Yad Dhamanah, Bank dapat mempergunakan dana yang dititipkan, akan tetapi bank bertanggung jawab penuh atas keutuhan dari dana yang dititipkan.
    b. Mudharabah
    I. Mudarabah Mutlaqah
    Mudarabah Mutlaqah adalah Mudarabah yang tidak disertai dengan pembatasan penggunaan dana dari Sahibul Mal.
    II. Mudarabah Muqayadah on Balance Sheet
    Mudarabah Muqayadah on Balance Sheet adalah Aqad Mudarabah yang disertai dengan pembatasan penggunaan dana dari Sahibul Mal untuk investsi-investasi tertentu.
    III. Mudarabah of Balance Sheet
    Dalam Mudarabah of Balance Sheet, Bank bertindak sebagai arranger, yang mempertemukan nasabah pemilih modal dan nasabah yang akan menjadi mudharib.

    c. Wakalah
    Wakalah dalam praktek perbankan syariah dilakukan apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu, seperti inkaso dan transfer uang.
    3. Jasa Perbankan
    Bank syariah dapat melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut antara lain berupa :
    a. Sharf (jual beli valuta asing)
    Pada prinsipnya jual beli valuta asing sejalan dengan prinsip Sharf, sepanjang dilakukan pada waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.
    b. Ijarah (Sewa)
    Jenis kegiatan Ijarah antara lain penyewaan kotak simpanan (safe deposit box) dan jasa tata-laksana administrasi dokumen (custodian). Bank mendapat imbalan sewa dari jasa tersebut.

    Produk Perbankan Syariah di Bidang
    Penghimpunan Dana
    ( Ditulis oleh : Mahasiswa Semester V, Ekonomi Perbankan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Posted on Oktober 22nd, 2009)
    Bank syariah merupakan bank yang lebih menekankan pada prinsip bagi hasil yang merupakan landasan utama dalam operasinya, baik dalam pengerahan dananya maupun dalam penyaluran dananya (dalam perbankan syariah penyaluran dana biasa disebut dengan pembiayaan). Oleh karena itu jenis-jenis penghimmpunana dana menggunakan prinsip bagi hasil.
    Dalam penghimpunan dana, bank syariah melakukan mobilisasi dan investasi tabungan dengan cara yang adil dijamin bagi semua pihak. Tujuan mobilisasi dana merupakan hal penting karena Islam secara tegas mengutuk penimbunan tabungan dan menuntut penggunaan sumber dana secara produktif dalam rangka mencapai tujuan social ekonomi Islam.
    Berkaitan dengan hal diatas, maka prinsip yang dianut bank syariah dalam penghimpunan dana diantaranya: giro, tabungan dan deposito.
    Produk Perbankan Syariah di Bidang Penghimpunan Dana
    A. Giro
    Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan. Adapun yang dimaksud dengan giro syariah adalah giro yang dijalankan dengan prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa giro yang dibenarkan secara syariah adalah giro yang dijalankan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.
    Akad:
    • Wadiah Transaksi penitipan dana atau barang dari pemilik kepada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban bagi pihak yang menyimpan untuk mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu. Wadiah terdiri dari dua jenis, yaitu : wadiah yad al amanah dan Wadiah yad al Dhamanah.
    • Mudharabah Transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.
    Landasan Syariah :
    1. Firman Allah QS Annnisa (4):29
    Hai orang yang beriman ! janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu ..”
    2. Firman Allah QS Annnisa (4):29
    Hai orang yang beriman ! janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu ..
    3. Kaidah fiqh “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”
    4. Ijma. Diriwayatkan, sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang, mudharid) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorangpun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily, AlFiqh Alislami wa Adilatuhu, 1989, 4/838).

    a. GIRO WADIAH
    Yang dimaksud giro wadiah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Dalam kaitannya dengan produk giro, Bank Syariah menerapkan prinsip wadiah yad dhamanah, yakni nasabah bertindak sebagai penitip yang menberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola dana titipan dengan tanpa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan pengelolaan dana tersebut. Namun demikian, Bank Syariah diperkenankan memberikan insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya. Ketentuan umum giro berdasarkan wadiah yaitu :
    1. Bersifat titipan
    2. Titipan bisa diambil kapan saja (on call)
    3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.
    Mekanisme Giro atas dasar akad wadiaa
    • Bank bertindak sebagai penerima dana titipan dan nasabah bertindak sebagai penitip dana;
    • Bank tidak diperkenankan menjanjikan pemberian imbalan atau bonus kepada nasabah;
    • Bank dapat membebankan kepada nasabah biaya administrasi berupa biaya-biaya yang terkait langsung dengan biaya pengelolaan rekening antara lain biaya cek/bilyet giro, biaya meterai, cetak laporan transaksi dan saldo rekening, pembukaan dan penutupan rekening;
    • Bank menjamin pengembalian dana titipan nasabah; dan
    • Dana titipan dapat diambil setiap saat oleh nasabah.

    b. GIRO MUDHARABAH
    Yang dimaksud dengan giro mudharabah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayadah, yang perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelolah hartanya, baik dari sisi tempat, waktu, maupun objek investasinya. Dalam hal ini, Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelolah dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembankannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain.
    Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Disamping itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, PPH bagi hasil giro mudharabah dibebankan langsung ke rekening giro mudharabah pada saat perhitungan bagi hasil.
    Mekanisme Giro atas dasar akad mudharabah
    a. Bank bertindak sebagai pengelola dana (mudharib) dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana (shahibul maal);
    b. Pembagian keuntungan dinyatakan dalam bentuk nisbah yang disepakati;
    c. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain;
    d. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang;
    e. Bank dapat membebankan kepada nasabah biaya administrasi berupa biaya-biaya yang terkait langsung dengan biaya pengelolaan rekening antara lain biaya cek/bilyet giro, biaya meterai, cetak laporan transaksi dan saldo rekening, pembukaan dan penutupan rekening; dan
    f. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah.
    Tujuan/ Manfaat Bagi Bank:
    – Sumber pendanaan bank baik dalam Rupiah maupun valuta asing.
    – Salah satu sumber pendapatan dalam bentuk jasa (fee based income) dari aktivitas lanjutan pemanfaatan rekening giro oleh nasabah.
    Tujuan/ Manfaat Bagi Nasabah:
    – Memperlancar aktivitas pembayaran dan/atau penerimaan dana.
    – Dapat memperoleh bonus atau bagi hasil.
    B. TABUNGAN SYARIAH
    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetepi tidak dapat ditarik dengan cek, biylet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
    Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.
    A. TABUNGAN WADIAH
    Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, Bank Syariah menggunakan akad wadiah yad adh-dhamanah. Dalam hal ini, nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau menanfaatkan dana atau barang tersebut. Sebagai konsekuensinya, bank bertanggung jawab terhadap keutuhan harta titipan tersebut serta mengembalikannya kapan saja pemiliknya menghendaki. Di sisi lain, bank juga berhak sepenuhnya atas keuntungan dari hasil penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang tersebut.
    Mengingat wadiah yad dhamanah ini mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk membagihasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian, bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik harta titipan selama tidak disyaratkan di muka. Dengan kata lain, pemberian bonus merupakan kebijakan Bank Syariah semata yang bersifat sukarela.
    Dari pembahasan diatas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan wadiah sebagai berikut:
    1. Tabungan wadiah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat (on call) sesuai dengan kehendak pemilik harta.
    2. Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi milik atau tanggungan bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian.
    3. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening.
    Dalam hal bank berkeinginan untuk memberikan bonus wadiah, beberapa metode yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
    1. Bonus wadiah atas dasar saldo rendah.
    2. Bonus wadiah atas dasar saldo rata-rata harian.
    3. Bonus wadiah atas dasar saldo harian.
    B. TABUNGAN MUDHARABAH
    Yang dimaksud dengan tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Mudharabah mempunyai dua bentuk, yakni mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah, yang perbedaan utama di antara keduanya terletak pada ada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya. Dalam hal ini, Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pegelola). Bank Syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Namun, di sisi lain, Bank Syariah juga memiliki sifat sebagai seorang wali amanah, yang berarti bank harus berhati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya.
    Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh keleleiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mismanagement (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.
    Dalam mengelola harta mudharabah, bank menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Di samping itu, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah penabung tanpa persetujuan yang bersangkutan.
    Dari pembahasan di atas, dapat disarikan beberapa ketentuan umum tabungan mudharabah sebagai berikut:
    1. Dalam transaksi ini, nsasbah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
    2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
    3. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan buku piutang.
    4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam bentuk akad pembukaan rekening.
    5. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
    6. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.
    Tujuan/ Manfaat
    1. bagi bank:
    – sumber pendanaan bank baik dalam rupiah maupun valuta asing.
    – salah satu sumber pendapatan dalam bentuk jasa (feebased income) dari aktivitas lanjutan pemanfaatan rekening tabungan oleh nasabah.
    2. bagi nasabah:
    – Kemudahan dalam pengelolaan likuiditas baik dalam hal penyetoran, penarikan, transfer, dan pembayaran transaksi yang fleksibel.
    – Dapat memperoleh bonus atau bagi hasil.
    C. Deposito
    Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.
    Deposito syariah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito berdasarkan prinsip mudharabah.
    Dalam mengaplikansikan prinsip mudharabah, penyimpan atau deposan bertindak sebagai shahibul maal pemilik modal dan bank bertindak sebagai mudharib (pengelola).Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak penyimpan dana, prinsip mudharabah terbagi dua yaitu :
    a. Mudharabah mutlaqah
    Dalam deposito Mudharabah mutlaqah, pemilik dana tidak memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada Bank syariah dalam mengelola investasinya. Dengan kata lain, bank syariah mempunyai hak kebebasan dalam menginvestasikan dana mudharabah mutlaqah ini keberbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.
    Deposito mudharabah hanya dapat dicairkan sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati. Deposito yang diperpanjang, setelah jatuh tempo akan diperlakukan sama seperti deposito baru, tetapi bila pada akad sudah dicantumkan perpanjangan otomatis maka tidak perlu dibuat akad baru.
    b. Mudharabah muqayyadah
    Berbeda halnya dengan deposito Mudharabah Mutlaqah, dalam deposito Mudharabah Muqayyadah, pemilik dana memberika batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara, maupun objekinvestasinya. Dengan kata lain bank syariah tidak mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana ini keberbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan. Untuk deposito, bank wajib memberiakn sertifikat atau tanda penyimpanan (bilyet) deposito kepada deposan.
    Landasan Hukum
    Dalam fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 01 April 2000 tentang deposito memberikan landasan syariah dan ketentua tentang deposito syariah sebagai berikut :

    Landasan Syariah
    1. Firman Allah QS Annisa (4):29
    “hai orang-orang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali perniagaan yang berlaku denagn sukarela diantaramu”
    2. Ijma
    3. Diriwayatkan oleh sejumlah sahabat menyerahkan kepada orang (mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan taka ada seorangpun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu dipandang sebagai ijma (Zuhaily, Al Fiqh Al Islami wa Adilatuhu, 1989, 4/838)
    4. Kaidah Fiqh
    “pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
    Ketentuan tentang deposito Syariah :
    – Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola.
    – Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakuka berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.
    – Modala harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
    – Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangakan dalam akad pembukaan rekening.
    – Bank sebagai mudharib mentutup biaya operesional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
    – Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan.
    Deposito ini dijalankan dengan prinsip mudharabah mutlaqah karena pengelolaan dana deposito sepenuhnya menjadi tanggung jawab mudharib atau bank. Semua permintaan pembukuan deposito mudharabah harus dilengkapi dengan suatu akad/kontrak/perjanjian berisi antara lain, nama dan alamat shahibul maal, jumlah deposito, jangka waktu, nisbah pembagian keuntungan, cara pembayaran bagi hasil dan pokok pada saat jatuh tempo.
    Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai nisbah dan tata cara pemberian keuntungan dan atau perhitungan distribusi keuntungan serta resiko yang dapat timbul akibat deposito tersebut.
    Setiap tanggal jatuh tempo deposito, pemilik dana akan mendapatkan hasil sesuai dengan nisbah dari hasil investasi yang telah dilakukan bank. Bagi hasil akan diterima oleh pemilik dana sesuai dengan perjanjian akad awal pada saat penempatan depostio tersebut.
    Periode penyimpanan dana ditentikan berdasarkan periode bulanan. Bank dapat memberikan sertifikat atau tanda penyimpanan (bilyet) deposito kepada pemilik dana. Deposito ini hanya dapat ditarik sesuai dengan jatuh waktu yang disepakati. Atas bagi hasil yang diterima dikenakan pajak penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku.
    Tujuan/ Manfaat Bagi Bank:
    Sebagai sumber pendanaan bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dengan jangka waktu tertentu yang lebih lama dan fluktuasi dana yang relative rendah.
    Tujuan/ Manfaat Bagi Nasabah:
    Alternative investasi yang memberikan keuntungan dalam bentuk bagi hasil.
    Sosialisasi Produk Bank Syariah
    Kalau di Malaysia peran bank syariah bisa menyaingi bank konvensional, kenapa Indonesia tidak demikian sementara 95 persen penduduk Indonesia adalah kaum muslim? Selain sosialisasi produk yang belum merata, juga karena sumber daya manusia (SDM) yang belum menguasai produk knowledge syariah, serta yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan masyarakat (selaku kreditur maupun debitur) untuk menyimpan dananya dalam bentuk syariah yang belum signifikan.
    Sosialisasi produk bank syariah yang dimaksud adalah ketika masyarakat ingin melakukan transaksi perbankan tentunya, mereka akan mengacu kepada produk-produk bank konvensional, misalnya ketika mereka ingin menabung, baik dalam bentuk tabungan, giro atau deposito, maka bank syariah harus mampu memperlihatkan kepada nasabahnya tentang produk syariah yang sama dengan bank konvensional, dan bagaimana perlakuan, apa ada imbalan atau bagi hasil yang diterapkan.
    Pemahaman-pemahaman seperti ini perlu disosialisasikan secara maksimal dan merata, jika bank syariah ingin meningkatkan sharenya (pangsa pasar). Sebagai contoh, kalau di bank konvensional untuk sumber dana (DPK) ada produk yang dinamakan tabungan, giro, deposito, dengan imbalan yang diperoleh berupa bunga tabungan dan deposito serta jasa giro maka di bank syariah produk sumber dana (DPK) berbentuk dana titipan (wadi’ah) berupa rekening giro wadi’ah dan rekening tabungan wadi’ah. Pemilik untuk kedua jenis rekening ini tidak bisa mengharapkan atau meminta imbalan atas rekening wadi’ah, karena setiap imbalan atau keuntungan yang dijanjikan dapat dianggap riba. Namun atas kehendak bank sendiri, dapat memberikan imbalan berupa bonus (hibah) kepada pemilik dana (pemegang rekening wadi’ah).
    Melihat problematika yang ada dalam pengembangan perbankan, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
    1. Pengembangan produk dalam bank syariah seringkali terjebak diantara kedua aturan yang saling tarik menarik, yaitu syariah dan hukum positif. Perlu ada upaya bersama untuk mencari jalan keluar, misalnya menyusun undang-undang bank syariah tersendiri. Hal ini amat penting agar bank syariah dapat menunjukkan cirri khas produknya dari yang dimiliki bank konvensional.
    2. Pengembangan produk dalam perbankan syariah dapat mengikuti arah perbankan konvensional, tetapi asas-asas produk syariah tidak boleh ditinggalkan. Semua produk syariah dapat diterapkan untuk semua jenis kategori, tetapi harus mengikuti konsekwensinya.
    3. Perlu adanya usaha terus menerus mengembangkan teknis keuangan untuk memberikan alternative bagi perbankan syariah terhadap produk keuangan di dunia konvensional.
    4. Pengembangan produk bukan saja melibatkan sumber daya yang ada dalam penelitian dan pengembangan, tetapi juga sumber daya yang mengerti dan mendalami syariah, karena sumber daya manusia yang ada di bank syariah sekarang ini belum memiliki pengetahuan di kedua bidang itu secara simultan. Untuk itu Perlu dikembangkan sejak dini penggabungan pendidikan ilmu duniawi dan ilmu agama sejak dini sekali dan ini harus dilanjutkan ke tingkat berikutnya bahkan samnpai tingkat perguruan tinggi, sehingga dikotomi pengetahuan agama dan pengetahuan dunia lama-kelamaan akan menipis. Ini bukan tugas perbankan syariah semata, tapi tugas ummat Islam secara nasional.

    KESIMPULAN
    Selama ini, kegiatan yang dijalankan oleh industry perbankan syariah, sesungguhnya sama dengan kegiatan perusahaan lain yang ingin menjual produknya. Bedanya, produk yang dijual oleh industry perbankan syariah berupa produk jasa. Sedangkan perusahaan lain, bisa jadi produk yang dijualnya berbentuk barang non jasa. Dari sisi ilmu marketing, produk jasa ini mempunyai karakteristik tersendiri. Karena, produk jasa termasuk satu model produk yang tidak dapat terlihat wujudnya (untangible). Walaupun begitu, produk jasa termasuk produk yang hanya dapat dirasakan manfaatnya.
    Dalam hal ini, industry perbankan syariah diharapkan dapat membuat satu produk yang berorientasi pasar. Maksudnya, produk yang akan ditawarkan oleh bank syariah, hendaknya termasuk produk yang betul-betul diinginkan oleh pasar. Jangan sampai, sebuah industry perbankan syariah membuat satu produk yang tidak diminati oleh pasar. Berkaitan dengan produk tabungan yang dimiliki oleh bank syariah, hendaknya bank syariah membuat satu produk tabungan yang betul-betul memberikan manfaat yang besar bagi nasabah. Nasabah dapat memperoleh keuntungan manfaat dari produk tabungan tersebut. Manfaat dimaksud mempunyai dua dimensi yaitu manfaat di dunia berupa bagi hasil yang adil dari hasil usaha bank sesuai keadaan yang sebenarnya dan manfaat diakhirat berupa pahala bermuamalat sesuai syariat Islam dikaitkan dengan adanya fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI).
    Fatwa DSN-MUI adadah Nomor 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro, Nomor 02/DSN-MUI/IV/ 2000 tentang Tabungan, dan Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito, yang menetapkan bahwa Giro, Tabungan, dan Deposito tidak dibenarkan secara syariah apabila berdasarkan perhitungan bunga. Sedangkan Giro, Tabungan, dan Deposito yang dibenarkan secara syariah ialah yang didasarkan prinsip mudharabah dan/atau wadiah. Jika hal ini terealisasi, maka produk tabungan ini menjadi salah satu kekuatan daya tarik bagi nasabah atau calon nasabah untuk mengambil produk tabungan tersebut.

    Produk Perbankan Syariah di Bidang Penyaluran Dana Kepada Masyarakat (Financing)” ( JURUSAN PERBANKAN SYARIAH 2009, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Posted on November 3rd, 2009 )
    Dalam perbankan syariah kita telah mengenal bahwa didalamnya tidak memakai prinsip bunga melainkan prinsip bagi hasil, yang mana prinsip bagi hasil dalam perbankan syariah ini dapat dilakukan dalam empat akad, yaitu; al-musyarakah, al-mudharabah, al-muzara’ah dan al-musaqah. Didalam makalah ini akan dijelaskan tentang akad mudharabah saja.
    Bank syariah juga mengadakan pembiayaan dalam bentuk jual beli, berbeda dengan bank konvensional yang tidak ada transaksi jual beli, didalam bank syariah ada 3 macam, yaitu bai’ al-murabahah, bai’ al-istisna dan bai’ as-salam. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang bai’ al-murabahah saja. Selain itu dalam makalah ini akan dijelaskan tentang al-qardh dan ijarah yang masuk dalam pembiyaan di bank syariah.
    Mudharabah
    Mudharabah berasal dari kata dharb, yang berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha . Mudharabah adalah bantuk kerja sama antara pemilik modal dengan seseorang yang pakar dalam dalam berdagang atau akad kerja sama antara dua pihak, dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal 100%, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola . Secara termonologi, para ulama fiqih mendefiniskan mudharabah dengan “pemilik modal menyerahkkan modalnya kepada pekerja atau pedagang untuk diperdagangkan, sedangkan keuntungan dagang itu menjadi mililk bersamadan dibagi menurut kesepakatan bersama.
    Apabila terjadi kerugian dalam perdagangan itu, kerugian ditanggung ssepenuhnya oleh pemilik modal. Hukum mudharabah dan dasar hukumnya Akad mudharabah dibolehkan dalam islam karena bertujuan untuk saling membantu antara pemilik modal dengan seorang pakar dalam memutar uang. Alasan yang dikemukakan ulama fiqh tentang kebolehan bentuk kerja sama ini adalah firman Allah dalam surat Al-muzammil ayat 20 yang berbunyi :
    Artinya :“……dan sebagian mereka berjalan dibumi mencari karunia Allah…..”(QS. Al-muzammil :20)
    Dari ayat diatas secara umum mengandung kebolehan akad mudharabah, yang secara bekerja sama mencari rezeki yang ditebarkan allah diatas bumi. Kemudian dalam sabda rasulullah dijumpai sebuah riwayat dalam kasus mudharabah yang dilakukan oleh abbas bin abdul muthalib yang artinya : “Tuan kami abbas bin abdul muthalib jika menyerahkan hartanya(kepada seseorang yang oakar dalam pedalaman ) melalui akad mudharabah, dia mengemukakan syarat bahwa harta itu jangan diperdagangkan melalui lautan, juga jangan menempuh lembah-lembah dan tidak boleh dibelikan hewan ternak yang sakit, tidak dapat bergerak/berjalan.
    Jika ketiga hal itu dilakukan, maka pengelola modal dikenai ganti rugi. Kemudian syarat yang dikemukakan abbas bin abdul muthalib ini sampai kepada rasulullah saw. Dan rasul mebolehkannya”(HR. Ath – thabrani).
    Rukun dan syarat mudharabah
    Terdapat perbedaan pendapat ulama hanafiyyah dengan jumhur ulama dalam menetapkan rukun akad mudharabah. Ulama hanafiyyah menyatakan bahwa yang menjadi rukun dalam akad mudharabah hanyalah ijab dan qobul. Jika pemilik modal dengan pengelola modal telah melafalkan ijab dan qobul maka akd itu telah memenuhi rukunnya dan sah.
    Sedangkan jumhur ulama menyatakan bahwa rukun mudharabah terdiri dari atas orang yang berakal, mempunyai modal, mendapatkan keuntungan, dapat bekerja, dan akad; tidak hanya terbatas pada rukun sebagaimana yang telah dikemukakan ulama hanafiyyah akan tetapi, ulama memasukan rukun-rukun yang disebutkan jumhur ulama
    itu, selain ijab dan qobul, sebagai syarat akad mudharabah.
    Adapun syarat-syarat mudharabah, sesuai dengan rukun yang dikemukakan oleh ulama adalah :
    1. Yang terkait dengan orang yang melakukan transaksi haruslah orang cakap bertindak hukum, cakap diangkat sebagai wakil, karena pada sisi posisi orang yang akan mengelola modal adalah wakil dari pemilik modal. Itulah sebabnya,
    syarat-syarat seorang wakil juga berlaku bagi pengelola modal dalam akad mudharabah.
    2. Yang terkait dengan modal, disyaratkan:
    a. Berbentuk uang
    b. Jelas jumlahnya
    c. Tunai
    d. Diserahkan sepenuhnya kepada pedagang kepada pengelola modal.
    3. Yang terkait dengan keuntungan, disyaratkan bahwa pembagian keuntungan harus jelas dan bagian masing-masing diambilkan dari keuntungan dagang tersebut seperti, setengah, sepertiga atau seperempat. Berakhirnya akad mudharabah :
    1. Masing-masing pihak menyatakan akad batal, atau pekerja dilarang untuk bertindak hokum terhadap modal yang diberikan, atau pemilik modal menariknya kembali.
    2. Salah seorang yang berakad meninggal.
    3. Salah seorang yang berakad kehilangan akal.
    4. Jika pemilik modal murtad (keluar dari agama islam)
    5. Modal habis ditangan pemiliknya sebelum diminta oleh pekerja. Pembiayaan mudharabah.
    a. Mudharabah adalah suatu pengaturan ketika seseorang berpartisipasi dalam menyediakan sumber pendanaan dari pihak lainnya menyediakan tenaganya, dan dengan mengikutsertakan bank, unit trust, reksadana atau institusi dan orang lainnya.
    b. Seorang mudharib yang menjalankan bisnis dapat diartikan sebagai orang pribadi, sekumpulan orang, atau suatu badan hokum dan badan usaha.
    c. Rabbul mal harus menyediakan investasinya dalam bentuk uang atau yang sejenisnya, selain dari pada piutang, dengan nilai valuasi yang disepakati bersama yang dilimpahkan pengelolaan sepenuhnya pada mudharib.
    d. Pengelolaan usaha mudharabah harus dilakukan secara khusus oleh mudharib dengan kerangka mandate yang ditetapkan dalam kontrak mudharabah.
    e. Keuntungan harus dibagi dalam suatu proporsi yang disepakati dalam awal kontrak dan tidak boleh ada pihak yang berhak untuk memperoleh nilai imbalan atau renumerasi yang ditetapkan dimuka.
    f. Kerugian financial dari kegiatan usaha mudharabah harus ditanggung oleh rabbul mal kecuali mudharib melakukan kecurangan, kelalaian atau kesalahan dalam mengelola secara sengaja atau bertindak tidak sesuai dengan mandat yang telah ditetapkan dalam peerjanjian mudharabah.
    g. Kewajiban rabbul mal terbatas sebesar nilai investasinya kecuali dinyatalkan lain dalam kontrak mudharabah.
    h. Mudharabh dapat bervariasi tipenya yang da[pat dengan satu atau banyak tujuan, bergulir atau periode tertentu.
    i. Mudharib dapat menginvestasikan dananya dalam bisnis mudharabah dengan persetujuan rabbul mal.
    Penerapan mudharabah dalam perbankan syariah
    Skema mudharabah adalah skema yang berlaku antara dua pihak saja secara langsung, yakni shahib al-mal berhubungan langsung dengan mudharib. Skema ini adalah skema standar yang dapat dijumpai dalam kitab-kitab klasik dalam fiqih islam.
    Dan inilah sesungguhnya praktik mudharabah yang dilakukan nabi dan para sahabat dan umatnya dan para umatnya. Dalam proses ini, yang terjadi aldah investasi langsung(direx financing) antara shahib amal(sebagai surplus dengan mudharib (senagai defisinit unit)dalam dirrct financing seperti ini peran bank sebagai lembaga perantara (intermediari) tidak ada.
    Murabahah
    Salah satu skim fikih yang paling popular digunakan oleh perbankan syari’ah adalah skim jual beli murabahah. Transaksi murabahah ini lazim dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Secara sederhana , murabahah berarti suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati . Misalnya, seorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tertentu atau dalam bentuk persentase dari harga pembelinya, misalnya 10% atau 20%.
    Jadi singkatnya, murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate of profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh).
    Landasan Syariah
    a. al-qur’an
    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”

    b. Hadist
    “dari suhaib ar-rumi r.a. bahwa Rasullah SAW. Bersabda,”tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual”(H.R. Ibnu Majjah)
    Keempat mazhab membolehkan pembiayaan langsung yang harus dibayarkan kepada pihak ke-tiga. Keempat mazhab sepakat tidak membolehkan pembebanan biaya langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang memang semestinya dilakukan penjual maupun biaya langsung yang berkaitan dengan hal-hal yang berguna.
    Keempat mazhab juga membolehkan pembebanan biaya tidak langsung yang dibayarkan kepada pihak ketiga dan pekerjaan itu harus dilakukan oleh pihak ketiga bila pekerjaan itu harus dilakukan oleh si penjual, mazhab maliki tidak membolehkan pembebanannya, sedangkan ketiga mazhab lainnya membolehkannya.
    Mazhab yang empat sepakat tidak membolehkan pembebanan biaya tidak langsung bila tidak menambah nilai barang atau tidak berkaitan dengan hal-hal yang berguna.
    Murabahah dengan pesanan
    Murabbahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Dalam murabbahah berdasarkan pesanan yaitu dapat dilakukan untuk pembelian secara pemesanan dan biasa disebut sebagai murabahah kepada pemesan pembelian (KPP).dalam kitab al-umm, imam syafi’i menamai transaksi sejenis ini dengan istilah al- aamir bisy-syira.
    Bank melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari nasabah, dan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat nasabah untuk membeli barang yang dipesannya(bank dapat meminta uang muka pembelian kepada nasabah).
    Dalam kasus jual beli biasa, misalnya seorang ingin membeli barang tertentu dengan spesifikasi tertentu, sedangkan barang tersebut belum ada pada saat pemesannan, maka si penjual akan mencari dan membeli barang yang sesuai dengan spesifikasinya, kemudian menjualnya kepada si pemesan.
    Contoh mudahnya, si fulan ingin membeli mobil dengan perlengkapan tertentu yang harus dicari, dibeli, dan dipasang pada obil pesananya oleh dealer mobil. Transaksi murabahah melalui pesanan ini adalah sah dalam fiqih islam, antara lain dikatakan oleh Imam Muhammad Ibnul-Hasan Al-Saybani, Imam Syafi’i, dan Imam Ja’far Al-Shiddiq.
    Dalam murabahah melalui pesanan ini, si penjual boleh meminta pembayaran hamish ghadiyah, yakni uang tanda jadi ketika ijab kobul. Dalam murabahah berdasarkan pesanan yang bersifat mengikat, pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya.
    Tunai atau cicilan
    Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan. Dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda.
    Murabahah muajjal dicirikan dengan adanya penyerahan barang diawal akad dan pembayaran kemudian (setelah awal akad), baik dalam bentuk angsuran maupun dalam bentuk lump sum(sekaligus). Berdasarkan sumber dana yang digunakan, pembiayaan murabahah secara garis besar dapat sibedakan menjadi tiga kelompok.
    1. Pembiayaan murabahah yang didanai dengan URIA (Unrestricted Investment Account = investasi terikat).
    2. Pembiayaan murabahah yang didanai dengan RIA (Restricted Investment Account = investasi terikat).
    3. Pembiayaan murabahah yang didanai oleh modal bank.
    Dalam setiap pendesainan sebuah pembiayaan, factor-faktor yang perlu diperhatikan adalah:
    1. Kebutuhan nasabah.
    2. Kemampuan financial nasabah.

    Aplikasi dalam perbankan
    Murabahah umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestic maupun luar negeri. Seperti melalui letter of credit. Skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing, bagi yang sudah bertransaksi dengan dunia perbankan pada umumnya.
    Kalangan perbankan syariah di Indonesia banyak menggunakan al-murabahah secara berkelanjutan (roll over/evergreen) seperti untuk modal kerja, padahal sebenarnya al-murabahah adalah kontrak jangka pendek dengan sekali akad (one short deal).
    Al-murabahah tidak tepat diterapkan untuk skema modal kerja. Manfaat ba’I al-murabahah yaitu adanya keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepaada nasabah. Sistemnyapun sangat sederhana.
    Diantara kemungkinan risiko yang harus diantisipasi antara lain sebagai berikut:
    a. Default atau kelalaian; nasabah sengaja tidak membayar angsuran
    b. Fluktuasi harga komperatif.
    c. Penolakan nasabah
    d. Barang dijual, maka barang menjadi milik nasabah. Jika terjadi demikian, risiko untuk default akan besar
    Ijarah
    Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri .
    Akad Ijarah dalam pengertian ‘sewa-menyewa’ digunakan untuk objek transaksi berupa barang yang tidak habis dipakai atau barang yang apabila telah habis masa sewanya dapat dikembalikan kepada pemiliknya seperti rumah, gedung, kantor, ruko, kendaraan. Sedangkan akad Ijarah dalam pengertian ‘upah-mengupah’ digunakan untuk objek pekerjaan/jasa yaitu akad untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan pembayaran upah seperti upah pekerjaan menyemir sepatu, upah menjadi pembantu rumah tangga, upah tukang kebun, upah karyawan yang bekerja pada perusahaan.
    Al-Qur’an
    Artinya: “Dan, jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233). Yang menjadi dalil dari ayat diatas adalah ungkapan “apabila kamu memberikan pembayaran yang patut”. Ungkapan tersebut menunjukkan adanya jasa yang diberikan berkat kewajiban membayar upah (fee) secara patut, termasuk didalamnya jasa penyewaan atau leasing..
    Al-Hadits
    احتجم واعط الحجام اخره (حد يث رواة بخاري ومسلم ). “Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu.” (H.R Bukhari & Muslim).
    RUKUN DAN SYARAT-SYARAT
    Menurut ulama Hanafiyah, rukunn ijarah itu terdirri dari ijab dan qabul. Akan tetapi Jumhur ulama mengatakan bahwa rukun ijarah ada empat, yaitu :
    • Orang yang berakad
    • Sewa/imbalan
    • Manfaat,
    • Shighat (ijab/qabul)
    Sedangkan syarat-syarat ijarah yaitu :
    • Bagi kedua orang yang sedang berakad disyaratkan telah baligh dan berakal.
    • Kedua belah pihak yang sedang berakad menyatakan kerelaannya untuk melakukan akad ijarah.
    • Manfaat yang menjadi objek ijarah harus diketahui secara sempurna, sehingga muncul perselisihan dikemudian hari.
    • Objek ijarah itu boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat.
    • Objek ijarah itu sesuatu yang dihalalkan oleh syara’.
    • Yang disewakan itu bukan suatu kewajiban bagi penyewa.
    • Objek ijarah itu merupakan sesuatu yang bisa disewakan, seperti rumah, mobil dan hewan tunggangan.
    • Upah atau sewa dalam akad ijarah harus jelas, tertentu dan sesuatu yang bernilai harta.
    Pada dasarnya, ijaroh didefinisikan sebagai hak untuk memanfaatkan barang jasa dengan membayar imbalan tertentu. Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional, ijaroh adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Dengan dmikian, dalam akad ijaroh tidak ada perubahan kepemilikan, tetapi hanya perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa.
    – Hak dan kewajiban kedua belah pihak
    Yang menyewakan wajib menyediakan barang yang disewakan untuk digunakan secara optimal oleh penyewa., sedangkan penyewa wajib menggunakan barang yang disewakan menurut syarat-syarat akad atau menurut kelaziman penggunannya. Penyewa juga wajib menjaga barang yang disewakan agar tetap utuh.
    – Kesepakatan mengenai harga sewa
    Pada prinsipnya, upah harus diketahui terlebih dahulu, sesuai hadist rasulullah saw ”siapa yang mempekerjakan seorang pekerja harus memberitahukan upanya”
    Qardh
    Qardh merupakan pinjaman kebajikan/lunak tanpa imbalan , biasanya untuk pembelian barang-barang fungible yaitu barang-barang yang dapat diperkirakan dan diganti sesuai dengan berat, ukuran, dan jumlahnya. Dalam literatur fiqih klasik, qardh dikategorikan dalam aqd tathawwui atau akad saling membantu dan bukan transaksi komersial.
    Objek dari pinjaman qardh, biasanya adalah uang atau alat tukar lainnya yang merupakan transaksi pinjaman murni tanpa bunga ketika peminjam mendapatkan uang tunai dari pemilik dana dalam hal ini bank dan hanya wajib mengembalikan pokok utang pada waktu tertentu di masa yang akan dating. Peminjaman atas prakarsa sendiri dapat mengembalikan lebih besar sebagai ucapan terimakasih.
    Akad ini terutama digunakan oleh IDB. Ketika memberikan pinjaman lunak kepada pemerintah. Biaya jasa ini pada umumnya tidak lebih dari 2,5 %, dan selama ini berkisar antara 1-2%. Dalam aplikasi di perbankan syariah ini, qardh biasanya dipergunakan untuk menyediakan dana talangan kepada nasabah prima dan untuk menyumbang sector usaha kecil/mikro atau membantu sector social. Dalam hal yang terakhir skema pinjaman disebut qardhul hasan.
    Landasan syariah
    Al-qur’an
    Dalam firman allah swt surat Al-Hadid: 11. Artinya: “siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak”
    Al-hadist
    Artinya: “ibnu mas’ud meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw, berkata “ bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) sedekah”(HR. Ibnu Majjah)
    Rukun dari akad qardh/qardhul hasan yang harus dipenuhi dalam transaksi:
    1. Pelaku akad yaitu muqtaridh (pihak yang membutuhkan dana), dan muqridh (pihak yang memiliki dana)
    2. Objek akad yaitu qardh
    3. Tujuan, yaitu ‘iwadh atau countervalue berupa pinjaman tanpa imbalan
    4. Shigat yaitu ijab dan qabul
    Sedangkan syarat dari akad qardh/qardhul hasan yang harus dipenuhi adalah:
    1. Kerelaan kedua belah pihak
    2. Dana digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat
    Pinjaman qardh biasanya diberikan oleh bank kepada nasabahnya sebagai fasilitas pinjaman talangan pada saat nasabah mengalami overdraft. Fasilitas ini dapat merupakan bagian dari satu paket pembiayaan lain, untuk memudahkan nasabah bertransaksi. Aplikasi qardh dalam perbankan ada empat hal:
    a. Sebagai pinjaman talangan haji
    b. Sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah
    c. Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil
    d. Sebagai pinjaman kepada pengurus bank
    Sumber dana
    Sifat qardh tidak memberikan keuntungan financial. Karena itu, pendanaan qardh dapat diambil menurut kategori berikut:
    a. Al-qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan social, dapat bersumber dari dana zakat, infaq, dan sedekah.
    b. Al-qardh yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka panjang. Talangan dana di atas dapat diambilakan dari modal bank.

    Manfaat al-qardh
    Ø Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapat talangan jangka pendek. Al-qardh al-hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda antara bankØ syariah dan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi social, disamping misi komersial.
    Ø Adanya misi kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat kepada bank syariah.
    Ø Risiko al-qardh terhitung tinggi karena ia di anggap pembiayaan yang tidak ditutup dengan jaminan

    A. Contoh Produk-Produk Pada Bank Muamalat Indonesia :

    1. Pembiayaan Hunian Syariah
    Pembiayaan Hunian Syariah adalah produk pembiayaan yang akan membantu Anda untuk memiliki rumah (ready stock/bekas), apartemen, ruko, rukan, kios maupun pengalihan take-over KPR dari bank lain.
    Pembiayaan Rumah Indent, Pembangunan dan Renovasi.
    Peruntukkan :
    Perorangan (WNI) cakap hukum yang berusia minimal 21 tahun atau maksimal 55 tahun untuk karyawan dan 60 tahun untuk wiraswasta atau profesional pada saat jatuh tempo pembiayaan
    Fitur Unggulan :
    1. Pembiayaan hingga jangka waktu 15 tahun
    2. Uang muka ringan minimal 10%*
    3. Adanya pilihan angsuran tetap hingga lunas atau kesempatan angsuran yang lebih ringan
    4. Plafond hingga Rp 25 miliar
    5. Pelunasan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan denda
    6. Dapat digunakan untuk:
    1. pembelian rumah/ruko/rukan/kios/apartemen baru maupun bekas,
    2. take over kpr/pembiayaan sejenis dari bank lain
    7. Nilai pembiayaan yang tinggi hingga 90% dari nilai rumah*
    *dari harga perolehan yang diakui Bank.
    Fitur Umum :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan dua pilihan yaitu akad murabahah (jual-beli) atau musyarakah mutanaqishah (kerjasama sewa)
    2. Dapat diajukan oleh pasangan suami istri dengan sumber penghasilan untuk angsuran diakui secara bersama (joint income)
    3. Dapat diajukan dengan sumber pendapatan gabungan dari gaji karyawan dan penghasilan sebagai wiraswasta dan/atau profesional
    4. Untuk akad murabahah dimungkinkan uang muka 0% dengan syarat calon nasabah bersedia menyerahkan agunan tambahan yang diterima oleh Bank
    5. Dilindungi oleh asuransi jiwa sehingga pembiayaan akan dilunasi oleh perusahaan asuransi apabila Anda meninggal dunia
    6. Fasilitas angsuran secara autodebet dari Tabungan Muamalat
    Persyaratan Calon Nasabah :
    Perorangan (WNI) dengan semua jenis pekerjaan :
    karyawan tetap, karyawan kontrak, wiraswasta, guru, dokter dan profesional lainnya
    Persyaratan Administratif untuk Pengajuan :
    1. Formulir permohonan pembiayaan untuk individu
    2. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga
    3. Fotocopy NPWP untuk plafond pembiayaan di atas Rp 100 juta
    4. Fotocopy Surat Nikah (bila sudah menikah)
    5. Asli slip gaji & surat keterangan kerja (untuk pegawai/karyawan)
    6. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 3 bulan terakhir
    7. Fotocopy rekening telepon dan listrik 3 bulan terakhir
    8. Laporan keuangan atau laporan usaha (untuk wiraswasta dan profesional)
    9. Fotocopy dokumen bangunan yang akan dibeli: SHM/SHGB, IMB dan denah bangunan
    2. Automuamalat
    Automuamalat adalah produk pembiayaan yang akan membantu Anda untuk memiliki kendaraan bermotor. Produk ini adalah kerjasama Bank Muamalat dengan Al-Ijarah Indonesia Finance (ALIF).
    Peruntukkan :
    1. Perorangan (WNI) cakap hukum yang berusia minimal 21 tahun atau maksimal 55 tahun pada saat jatuh tempo pembiayaan
    2. Badan usaha yang memiliki legalitas di Indonesia, baik nasional maupun multinasional
    Fitur Unggulan :
    1. Pembiayaan hingga jangka waktu 5 tahun
    2. Kemudahan dalam persyaratan dan uang muka
    3. Proses persetujuan pembiayaan yang cepat “One Day Approval”
    4. Margin pembiayaan yang bersaing berdasarkan jangka waktu
    5. Angsuran tetap hingga lunas
    6. Kemudahan dalam pembayaran angsuran
    7. Plafond dapat meningkat sesuai kecukupan rasio angsuran terhadap pendapatan
    8. Pelunasan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan denda
    9. Dapat digunakan untuk membeli kendaraan baru maupun bekas (second)
    10. Nilai pembiayaan sebesar harga kendaraan hingga siap pakai (on the road/OTR)
    Fitur Umum :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad murabahah (jual-beli)
    2. Dapat diajukan oleh pasangan suami istri dengan sumber penghasilan untuk angsuran diakui secara bersama (joint income)
    3. Dilindungi oleh asuransi jiwa sehingga pembiayaan akan dilunasi oleh perusahaan asuransi apabila Anda meninggal dunia
    4. Fasilitas angsuran secara autodebet dari Tabungan Muamalat
    Persyaratan Calon Nasabah :
    Perorangan (WNI) dengan semua jenis pekerjaan :
    karyawan tetap, karyawan kontrak, wiraswasta, guru, dokter dan profesional lainnya
    Persyaratan Administratif untuk Pengajuan :
    Individu
    1. Formulir permohonan pembiayaan untuk individu
    2. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga
    3. Fotocopy NPWP
    4. Fotocopy Surat Nikah (bila sudah menikah)
    5. Asli slip gaji & surat keterangan kerja (untuk pegawai/karyawan)
    6. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 3 bulan terakhir
    7. Bukti asli pembayaran rekening telepon dan listrik 3 bulan terakhir
    8. Fotocopy surat izin praktik (untuk profesional)
    9. Fotocopy pembayaran PBB
    Institusi/Perusahaan
    1. Surat permohonan pembiayaan dari manajemen/pengurus
    2. NPWP institusi yang masih berlaku
    3. Legalitas pendirian dan perubahannya (jika ada) dan pengesahannya
    4. Izin-izin usaha : SIUP, TDP, SKD, SITU, dan lainnya (jika dibutuhkan) yang masih berlaku*
    5. Fotocopy pengurus/manajemen
    *SIUP dan TDP bersifat kondisional bagi Yayasan
    3. Deposito Mudharobah
    Deposito syariah dalam mata uang Rupiah dan US Dollar yang fleksibel dan memberikan hasil investasi yang optimal bagi Anda.
    Peruntukkan :
    Perorangan usia 18 tahun ke atas dan Institusi yang memiliki legalitas badan
    Fitur :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad mudharabah muthlaqah (bagi hasil)
    2. Bagi hasil yang optimal
    3. Pilihan jangka waktu fleksibel 1, 3, 6 dan 12 bulan
    4. Tersedia dalam pilihan mata uang Rupiah dan US Dollar
    5. Gratis biaya administrasi
    6. Bagi hasil dapat dikapitalisir (menambah saldo Deposito)
    7. Jangka waktu dapat diperpanjang otomatis (automatic roll over)
    8. Biaya administrasi pencairan sebelum jatuh tempo : Rp 30.000
    Manfaat :
    1. Fasilitas transaksi PhoneBanking 24 Jam
    2. Online di seluruh outlet Bank Muamalat
    3. Pilihan pembayaran zakat, infaq dan shodaqoh otomatis dari bagi hasil
    4. Aman dan terjamin
    Syarat :
    1. Biaya materai Rp 6.000 (untuk formulir pembukaan)
    2. Minimum pembukaan Rp 1.000.000/ US$ 1.000
    1. Untuk perorangan
    1. WNI : KTP/SIM/Paspor yang masih berlaku
    2. WNA : Paspor/KIMS/KITAS
    2. Untuk institusi
    1. NPWP institusi yang masih berlaku
    2. Legalitas pendirian dan perubahannya (jika ada)
    3. Izin-izin usaha : SIUP, TDP, SKD, SITU, dan lainnya (jika dibutuhkan) yang masih berlaku
    4. Data-data pengurus perusahaan
    B. Contoh Produk-Produk Pada Bank Syariah Mandiri

    a. Pembiayaan Kendaraan Bermotor
    BSM Pembiayaan Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dengan sistem murabahah.
    Pembiayaan yang dapat dikategorikan sebagai PKB adalah:
    1. Jenis kendaraan: Mobil dan motor
    2. Kondisi kendaraan: Baru dan bekas..
    Untuk kendaraan baru, jangka waktu pembiayaan hingga 5 tahun sedangkan kendaraan bekas hingga 10 tahun (dihitung termasuk usia kendaraan dan jangka waktu pembiayaan).
    Syarat & Ketentuan:
    1. Pemohon harus mempunyai pekerjaan dan/atau pendapatan yang tetap.
    2. Usia pemohon pada saat pengajuan PKB minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun pada saat jatuh tempo fasilitas PKB.
    3. Pengajuan PKB dapat dilakukan sendiri-sendiri atau koordinir secara kolektif oleh instansi dimana pemohon bekerja.
    Dokumen yang Diperlukan:
    1. Fotocopy kartu identitas: KTP/SIM
    2. Fotocopy kartu keluarga
    3. Surat keterangan yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dari instansi/perusahan tempat pemohon bekerja yang menyatakan pemohon adalah pegawai dari instansi/perusahaan yang dimaksud.
    4. Slip gaji yang dishkan oleh instansi/perusahaan tempat pemohon bekerja.
    5. Keterangan mengenai kendaraan bermotor yang akan dibeli meliputi jenis kendaraan, tahun pembuatan, fotocopy BPKB, nama pembeli sebelumnya dan harga kendaraan.
    6. Fotocopy surat nikah (bagi pemohon yang telah beristri/bersuami)
    7. Surat persetujuan dari istri/suami (bagi pemohon telah beristri/bersuami).

    b. Pembiayaan Griya BSM DP 0%
    Pembiayaan Griya BSM DP 0% adalah pembiayaan untuk pembelian rumah tinggal (konsumer), baik baru maupun bekas di lingkungan developer maupun non developer tanpa dipersyaratkan adanya uang muka bagi nasabah (nilai pembiayaan 100% dari nilai taksasi).
    Akad yang digunakan adalah akad murabahah. Akad murabahah adalah akad jual beli antara bank dan nasabah, dimana bank membeli barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan margin yang disepakati.
    Manfaat:
    • Memberikan keringanan bagi nasabah berupa pemberian fasilitas pembiayaan sebesar 100% dari nilai traksasi rumah yang dibiayai (tanpa uang muka)
    • Nasabah dapat mengangsur pembayarannya dengan jumlah angsuran yang tidak akan berubah selama masa perjanjian.
    Fitur:
    • Angsuran tetap hingga jatuh tempo pembiayaan
    • Proses permohonan yang mudah dan cepat
    • Fleksibel untuk membeli rumah baru atau second
    • Maksimum plafon pembiayaan sampai dengan Rp5 milyar
    • Jangka waktu pembiayaan yang panjang
    • Fasilitas autodebet BSM atas gaji yang disalurkan melalui Tabungan BSM.
    Persyaratan:
    • Berstatus karyawan dengan penghasilan tetap
    • WNI cakap hukum
    • Usia minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun pada saat jatuh tempo pembiayaan
    • Maksimal pembiayaan 100% dari harga taksasi rumah yang dibiayai
    • Memiliki fasilitas payroll (pembayaran gaji) melalui BSM
    • Nasabah di-cover oleh asuransi jiwa pembiayaan plus PHK.
    Dokumen yang Diperlukan:
    • Fotokopi KTP pemohon
    • Fotokopi Kartu Keluarga
    • Fotokopi Surat Nikah (bila sudah menikah)
    • Asli slip Gaji & Surat Keterangan Kerja
    • Fotokopi Tabungan/Rekening Koran 3 bulan terakhir
    • Fotokopi NPWP untuk pembiayaan di atas Rp50 juta
    • Fotokopi rekening telepon dan listrik
    • Fotokopi SHM/SHGB
    • Fotokopi IMB dan Denah Bangunan
    Asli surat persetujuan dan kuasa Nasabah untuk pemotongan gaji
    c. Pembiayaan Dana Berputar
    Pembiayaan Dana Berputar adalah fasilitas pembiayaan modal kerja dengan prinsip musyarakah yang penarikan dananya dapat dilakukan sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan riil nasabah.
    Akad Pembiayaan:
    • Akad yang digunakan adalah akad musyarakah
    • Akad musyarakah adalah akad kerja sama usaha patungan dua pihak atau lebih pemiliki modal (syarik/shahibul maal) untuk membiayai suatu jenis usaha (masyru) yang halal dan produktif.
    Manfaat:
    • Membantu menanggulangi kesulitan likuiditas nasabah terutama kebutuhan dana jangka pendek
    • Nasabah dapat memanfaatkan pembiayaan bank secara optimal sesuai dengan kebutuhan riil dengan cara melakukan penarikan sesuai dengan kebutuhan.
    Fitur:
    • Jenis pembiayaan adalah pembiayaan modal kerja
    • Peruntukan pembiayaan adalah perorangan dan perusahaan
    • Jangka waktu pembiayaan 1 tahun dan dapat diperpanjang
    • Menggunakan 2 (dua) rekening, yaitu rekening giro dan rekening pembiayaan
    • Penarikan dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan menggunakan cek/BG. Transfer dengan menyertakan cek/BG.
    Persyaratan:
    1. Merupakan nasabah komersial kecil, menengah, besar dan korporasi
    2. Nasabah harus membuat laporan penggunaan dana selama 1 (satu) bulan
    3. Fasilitas diberikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sementara dan bukan untuk Permanent Working Capital, dimana bersifat self liquidating
    4. seiring dengan menurunnya aktifitas bisnis pada masa bersangkutan
    5. Setiap periode penggunaan fasilitas Pembiayaan Dana Berputar harus digunakan untuk pencapaian realisasi sales sehingga bagi hasil dapat
    Memiliki aktifitas rekening koran yang aktif berkaitan dengan kegiatan bisnisnya.

     Contoh Produk dan Layanan iB ( Islamic Banking )
    Produk dan Layanan iB Perbankan Syariah
    05 May 2011.
    Bank syariah semakin mendapat tempat dihati masyarakat banyak. Jumlah dana pihak ketiga yang terus meningkat, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap perbankan syariah. Tak terasa sudah 19 tahun kehadirannya di Indonesia. Jaringan bank syariah sudah tersebar di seluruh pelosok daerah. Sampai dengan akhir jaringan operasional bank syariah meliputi 3321 kantor dari 11 BUS, 23 UUS dan 151 BPRS serta 1277 layanan syariah yang siap melayani yang dilayani oleh +20.000 SDM perbankan syariah yang siap melayani nasabah dan calon nasabah bank syariah.
    Dengan hanya mengenali adanya logo iB (baca: ai-Bi) perbankan syariah di jaringan kantor bank, baik bank syariah maupun jaringan bank konvensional yang membuka unit layanan syariah, masyarakat dengan mudah mendapatkan pelayanan produk dan jasa bank syariah.
    Fasilitas layanan (Service) yang disediakan bank syariah sekarang tidak kalah canggih dengan layanan bank konvensional dalam memberikan SOLUSI KEUANGAN iB LIFESTYLE. Ya…betul…sekarang dengan iB perbankan Syariah kita dapat bergaya dan memenuhi kebutuhan serta menyelesaikan berbagai masalah keuangan yang dihadapi dan tentu saja tetap sesuai dengan prinsip syariah.
    Berikut beberapa layanan service excellence perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan nasabah di bank syariah:
    1. ATM (Anjungan Tunai Mandiri)
    iB (ai-Bi) Perbankan Syariah didukung oleh lebih dari 6000 jaringan ATM Bersama dan 7000 jaringan ATM BCA. Melalui jaringan ATM di seluruh Indonesia, nasabah dapat melakukan pembayaran tagihan rutin bulanan seperti membayar tagihan telpon, listrik, internet, pesan tiket pesawat dan masih banyak lagi.
    2. Setoran dan Tarikan Tunai:
    Dahulu setoran tunai hanya bisa dilakukan dengan mendatangi cabang bank syariah

  11. Nama : Lastri Krismiyati
    NIm : 20090730036
    Mata kuliah : Sistem Operasional Perbankan Syariah
    “Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan”

    Produk Perbankan Syariah
    1.Prinsip Jual beli
    Prinsip jual beli, berhubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang atau benda. Tingkat keuntungan Bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Transaksi jual beli dibedakan atas bentuk pembayaran dan penyerahan barang sebagai berikut:
    a. Pembiayaan Murabahah
    Bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli Bank dari pemasok ditambah keuntungan. Kedua pihak harus sepakat atas harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli, dan tak berubah selama berlakunya akad. Dalam transaksi ini barang diserahkan setelah akad, sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh.
    b. Salam
    Transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada. Oleh karena itu barang diserahkan secara tangguh, sedang pembayaran secara tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, nasabah sebagai penjual. Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon, namun dalam salam, kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang ditentukan secara pasti. Dalam praktek, barang yang telah diserahkan kepada Bank, maka Bank dapat menjual kembali barang tersebut secara tunai atau cicilan. Harga jual yang ditetapkan adalah harga beli ditambah keuntungan.
    Umumnya transaksi ini diterapkan dalam pembiayaan barang yang belum ada, seperti pembelian komoditi pertanian oleh bank, untuk kemudian dijual kembali secara tunai atau cicilan.
    Ketentuan umum salam:
    • Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas: jenis, macam/bentuk, ukuran, mutu dan jumlahnya.
    • Bila hasil produksi yang diterima tidak sesuai, maka nasabah harus bertanggung jawab, antara lain mengembalikan dana yang telah diterima atau mengganti barang sesuai pesanan.
    • Karena Bank tak menjadikan barang yang dibeli/dipesan sebagai persediaan (inventory), maka Bank dimungkinkan untuk melakukan akad salam pada pihak ketiga. Mekanisme seperti ini disebut dengan paralel salam.
    c. Istishna
    Menyerupai salam, namun pembayaran dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa termin pembayaran. Skim istishna dalam Bank Syariah, umum dilakukan untuk pembiayaan manufaktur dan konstruksi. Spesifikasi barang pesanan harus jelas, seperti: jenis, ukuran, mutu dan jumlah. Harga jual dicantumkan dalam akad istishna dan tak boleh berubah selama berlakunya akad.
    2. Prinsip sewa (Ijarah)
    Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Bila pada jual beli obyek transaksi adalah barang, maka pada ijarah obyeknya jasa. Pada akhir masa sewa, bank dapat menjual barang yang disewakannya kepada nasabah. Harga jual dan harga sewa disepakati pada awal perjanjian.
    3.Prinsip Bagi Hasil
    Prinsip bagi hasil dibagi dua, yaitu:
    a. Musyarakah
    Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama.
    Ketentuan umum: Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek.
    b. Mudharabah
    Adalah bentuk kerja sama antara 2 (dua) atau lebih pihak dimana pemilik modal mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.
    Ketentuan umum:
    • Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal, harus secara tunai, dapat berupa uang tunai atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Jika modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama
    • Hasil pengelolaan diperhitungkan dengan 2 (dua) cara: 1) revenue sharing, yang berasal dari pendapatan proyek, dan 2) profit sharing, dari keuntungan proyek.
    • Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan, namun tak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah.
    4. Akad Pelengkap
    Untuk mempermudah pelaku pembiayaan, diperlukan akad pelengkap. Meski tak ditujukan mencari keuntungan, dalam akad pelengkap dibolehkan untuk meminta pengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Besar pengganti biaya sekedar untuk menutupi biaya yang benar-benar timbul.
    a. Hiwalah (alih piutang)
    Fasilitas ini lazim untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksi. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang.
    b. Rahn (gadai)
    Untuk memberi jaminan pembayaran kembali kepada Bank dalam memberikan pembiayaan. Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria:a) Milik nasabah sendiri, b)Jelas ukuran, sifat dan nilainya, ditentukan berdasar nilai riil pasar, c) Dapat dikuasai, tapi tak boleh dimanfaatkan oleh bank.
    c. Qard
    Adalah pinjaman uang.
    Aplikasi Qard dalam perbankan, antara lain:
    • Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji diberi pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji. Pinjaman dilunasi sebelum berangkat haji.
    • Sebagai pinjaman tunai (cash advance) dari produk kartu kredit syariah.
    d. Wakalah (perwakilan)
    Terjadi bila nasabah memberi kuasa kepada Bank untuk mewakili dirinya melaksanakan pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C (Letter of Credit), inkaso dan transfer uang.
    e. Kafalah (Bank Garnsi)
    Diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bank dapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn (gadai), serta Bank dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadiah. Bank diperkenankan mendapat ganti biaya atas jasa yang diberikan.

  12. Nama : Wawan Ridwan
    NPM : 20090730077
    Mata Kuliah : SOBS

    Produk dan Sistem Operasional dari Jasa Layanan Perbankan Syariah
    1. Produk Menghimpun Dana
    a. Tabungan Umat
    Merupakan Investasi tabungan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat diseluruh cabang ATM Bank syariah sesuai dengan ketentuan yang berlaku segmen yang dituju adalah semua kalangan tanpa dibatasi usia. Dengan kartu ATM , nasabah juga dapat melakukan penarikannya diseluruh mesin ATM Bank , ATM BCA dan ATM bersama serta kemudahan bertransaksi merchant-merchant debit BCA. Nasabah memperoleh bagi hasil yang berasal dari pendapatan Bank atas dana Arafah.
    b. Tabungan Arafah
    Merupakan tabungan yang dimaksudkan untuk mewujudkan niat nasabah untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan kemampuan keuangan dan waktu pelaksanaan yang diinginkan. Dengan fasilitas asuransi jiwa, insya Allah pelaksanaan ibadah haji tetap terjamin. Tabungan arafah juga menjamin nasabah untuk mendapatkan kepastian keberangkatan dengan jumlah dana 20 juta kerena Bank Muamalat On line dengan siskokat. Tabungan haji Arafah memberikan lahir keamanan, lahir batin karena dan yang disimpan akan dikelolah secarah syariah.
    2. Produk Penyaluran Dana
    a. Murabahah
    Merupakan akad jual beli barang antara nasabah dan Bank dengan menyatakan harga perolehan / harga beli dan keuntungan (margin) yang disepakati kedua belah pihak. Bank membiayai (membelikan) kebutuhan nasabah, yang kemudian dijual kepada nasabah dengan harga pokok ditambah keuntungan yang diketahui dan disepakti bersama, nasabah melakukan pembayaran dengan mengansur selama jangka waktu tertentu.
    b. Mudharabah
    Akad kerjasama antara bank sebagai pemilik dana dengan nasabah sebagai pelaksana usaha untuk mengelolah usaha yang produktif dan halal, dengan hasil keuntungan yang dibagi berdasarkan nisbah yang disepakati diawal akad.
    c. Mudharabah Muqayyadah
    Perjanjian kerjasama antara nasabah dengan bank, dimana nasabah hanya boleh menggunakan modal yang diberikan untuk melaksanakan proyek yang telah ditentukan. Pembagian hasil keuntungan dari proyek dilakukan sesuai nisbah yang disepakati bersama.
    d. Musyarakah
    Kerjasama antara bank dengan nasabah, dimana masing-masing pihak menyertakan modal dalam jumlah tertentu sesuai kesepakatan. Proyek ini boleh dikelolah oleh salah satu pemberi dana atau pihak lainnya, pemilik boleh melakukan investasi dalam manajemen proyek pembagian keuntungan dilakukan sesuai kesepakatan bersama, sedangkan kerugian ditanggung berdasarkan besarnya modal yang diberikan.
    e. Istishna
    Akad jual beli berdasarkan pesanan antara nasabah dan Bank, dengan spesifikasi tertentu seperti jenis, tipe/model, kwalitas dan jumlah yang disyaratkan nasabah. Bank memesan kepada produsen setelah barang jadi, Bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. 3. Jasa Layanan
    a. ATM
    b. Phone Banking dan Call Center
    c. Kafalah (Bank garansi syariah)
    d. Wakalah
    e. Pembayaran Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS)
    f. Layanan Pajak Online
    3. Beberapa produk untuk layanan jasa perbankan syariah
    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)
    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)

  13. Yurtika nury pertiwi
    20090730003
    ekonomi dan perbankan islam

    ARTIKEL JASA PERBANKAN SYARIAH

    PENDAHULUAN
    Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perabankan yang dikembangkan berdasarkan syariah Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut atau meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan untuk melakukan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram ( missal usaha perjudian) dimana hal ini tidak dapat dijamin dalam sistem perbankan konvensional.
    Adapun Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan operasinya dengan sistem hukum islam (syariah). Fungsinya sama dengan bank konvensional yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan jasa keuangan lainnya, tetapi yang membedakan adalah cara operasi, produk, kesepakatan, dan sistemnya.
    Berkembangnya bank-bank syariah di Indonesia dimulai sejak awal tahun 1990-an. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalah Indonesia. Berdiri tahun 1992, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukunagan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
    Meskipun bank syariah telah berdiri sejak awal tahun 1990-an, namun keberadaanya masih kurang diminati masyarakat pada umumnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan dari bank-bank syariah tersebut dan atau kurangnya sosialisasi dari produk dan jasa tersebut.Padahal dalam kaitanya dengan produk dan jasa, ada perbedaan yang menyolok antara prinsip-prinsip pada produk dan jasa bank syariah dengan prinsip dalam produk dan jasa bank konvensional. Makalah ini akan mencoba membahas mengenai produk dan jasa bank syariah.

    PRINSIP DASAR PERBANKAN SYARIAH

    Ada prinsip-prinsip dalam bank syariah yang membedakanya dengan bank konvensional, antara lain :
    1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-wadi’ah)
    Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya. Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal dengan produk giro. Sebagai konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain. Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif atau bonus dapat diberikan dan hal ini menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Hal ini dilakukan dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung dan sekaligus sebagai indikator kesehatan bank.
    2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)
    Pada dasarnya prinsip ini terbagi atas :
    a) Al-Mudharabah
    Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak,di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Pola transaksi mudharabah, biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, al-mudharabah diterapkan pada: tabungan dan deposito. Sedangkan pada sisi pembiayaan, al-mudharabah, diterapkan untuk: pembiayaan modal kerja.
    b) Al-Musyarakah
    Dalam sistem ini terjadi kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi modal. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dalam sistem ini, terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana pembiayaan. Secara konkret, bila Anda memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal, Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, bank syariah dan Anda secara bersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk menjalankan usaha. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaan dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Dalam bank konvensional, pembiayaan seperti ini mirip dengan kredit modal kerja.
    1. Prinsip Al-Murabahah
    Dalam skim ini, terjadi jual beli suatu barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak. Penjual dalam hal ini harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. Misalkan Anda membutuhkan kredit untuk pembelian mobil. Dalam bank konvensional Anda akan dikenakan bunga dan Anda diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu. Di sektor perbankan, suku bunga yang berlaku mungkin saja berubah. Dalam sistem bank syariah, tentu saja produk seperti ini juga tersedia. Namun bentuknya bukan kredit, melainkan menggunakan prinsip jual-beli, yang diistilahkan dengan Murabahah. Dalam hal ini, bank syariah akan membeli mobil yang Anda inginkan terlebih dahulu, kemudian menjualnya lagi kepada Anda. Tapi, karena bank syariah menalanginya dulu, maka pada saat menjual kepada Anda, harganya sedikit lebih mahal, sebagai bentuk keuntungan buat bank syariah. Karena bentuk keuntungan bank syariah sudah disepakati di depan, maka nilai cicilan yang harus Anda bayarkan relative lebih tetap.

    PRODUK-PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH

    Jasa Perbankan
    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :
    – Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.
    – Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).
    – Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring. Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri
    – Penggunaan ATM bersama dengan bank lain Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.
    – Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut

    PERBEDAAN PRODUK BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL
    Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.
    Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah, karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.
    Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar. Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.
    Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah.

    KESIMPULAN
    Salah satu kendala yang dihadapi dunia perbankan syariah adalah kurang dikenalnya produk-produk perbankan syariah oleh masyarakat. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang produk mapun jasa perbankan syariah sehinga masyarakat enggan untuk memanfaatkanya.
    Pada dasarnya prinsip dasar pada produk-produk perbankan syariah adalah terbagi kedalam prinsip simpanan yang biasa disebut dengan prinsip wadiah, prinsip bagi hasil (profit sharing) yang terbagi atas prinsip mudharabah dan murabahah. Dan prinsip murabahah.
    Produk perbankan syariah secara garis besar terdiri atas produk penghimpun dana, produk penyaluran dana dan jasa perbankan.
    Setidaknya ada tiga karakteristik produk perbankan syariah yang membedakanya dengan produk bank konvensional. Petama, adalah akadnya. Semua transaksi dalam perbankan syariah harus dilandasi dengan akad. Kedua, adalah pada imbalan yang diberiakan. Pada perbankan syariah menggunakan prinsip bagi hasil bukan bunga. Karakeristik ketiga adalah pada sasara kredit atau pembiayaan. Pada perbankan syariah pembiayaan harus pada kegiatan yang sesuai dengan syariat islam.

    Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan
    Kerangka pengembangan perbankan syariah tersebut tentunya tidak terlepas dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang sedang dalam penyusunan. Hal ini meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman bagi para stakeholder perbankan syariah.. Inisiatif-inisiatif yang diambil pada umumnya menekankan pada aspek peningkatan kepatuhan pada prinsip syariah, peningkatan kualitas ketentuan kehati-hatian, peningkatan efisiensi operasi dan daya saing, serta peningkatan kestabilan sistem perbankan.
    Untuk mewujudkan perbankan syariah sesuai semangat API, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode krisis ekonomi, perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat. Berkaitan dengan itu perbankan syariah diharapkan dapat berperan lebih besar dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia yang masih terus berlangsung. Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih berada dalam tahap awal pengembangan.
    Beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    1. Kerangka dan perangkat pengaturan perbankan syariah belum lengkap;
    2. Cakupan pasar masih terbatas;
    3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan
    syariah;
    4. Institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif;
    5. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal;
    6. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah masih perlu ditingkatkan;
    Adapun tantangan yang harus diselesaikan setidaknya adalah:
    a. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional.
    Guna mendukung kegiatan operasional yang sehat, perbankan syariah membutuhkan kerangka dan perangkat pengaturan yang sesuai dengan karakteristik operasionalnya.
    Di awal perkembangannya, kegiatan pengaturan dan pengawasan lembaga perbankan syariah masih menggunakan kerangka pengaturan dan pengawasan sistem perbankan konvensional, walaupun beberapa instrumen pengaturan telah mulai dikembangkan seperti perizinan bagi pendirian bank dan pembukaan kantor; instrumen pasar keuangan antar bank; perangkat penghubung dengan otoritas moneter (sertifikat wadiah Bank Indonesia dan giro wajib minimum); dan sistem pembayaran (UUS wajib memiliki rekening di Bank Indonesia). Kurang lengkapnya instrumen pengaturan dan pengawasan tersebut akan mengakibatkan perbankan syariah tidak dapat beroperasi secara optimal dan tidak sepenuhnya sesuai dengan karakteristiknya.
    Bank Indonesia selaku otoritas perbankan akan melakukan kajian, menyusun dan menyempurnakan instrumen pengaturan yang mencakup beberapa area utama, antara lain:
    1. Penciptaan instrumen-instrumen keuangan serta aturan yang diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi operasional;
    2. Penyusunan sistem peringatan dini (termasuk didalamnya CAMELs rating system) yang dapat menggambarkan risiko operasional untuk menjamin kesinambungan perbankan syariah yang berhati-hati serta konsep pelaporan yang transparan;
    3. Penyusunan rules of conduct bagi pelaku perbankan syariah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas corporate governance.
    Konsep pengaturan yang akan dikembangkan harus berorientasi pada upaya menjaga kestabilan sistem dan menjamin kepatuhan perbankan syariah terhadap prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu kajian-kajian konseptual tentang pengaturan perlu dilakukan pada tahap awal pengembangan.
    b. Cakupan pasar masih terbatas
    Pada saat ini, sistem perbankan syariah masih memiliki jaringan pelayanan yang masih terbatas. Sampai akhir tahun 2001, pelayanan perbankan syariah hanya tersedia di 51 cabang bank umum syariah dan unit usaha syariah serta 81 kantor BPRS, yang mewakili kurang dari 2% jumlah seluruh kantor bank yang ada di Indonesia. Keterbatasan cakupan operasional pada gilirannya akan menjadi kendala yang cukup signifikan bagi para pengguna jasa perbankan syariah dan mengurangi nilai kenyamanan penggunaan jasa perbankan.
    Beberapa tantangan yang telah teridentifikasi guna meningkatkan jaringan kantor dan pelayanan bank syariah adalah sebagai berikut:
    1. Mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk masuknya para pemain baru, terutama bank-bank konvensional yang sudah memiliki jaringan operasional yang luas atau mendorong aliansi strategis antara bank syariah dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya guna mencapai skala ekonomis operasional;
    2. Penyederhanaan proses administrasi bagi masuknya para pemain baru dapat dilakukan dengan tidak mengurangi prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional perbankan;
    3. Tersedianya informasi pasar/permintaan jasa perbankan syariah;
    4. Tersedianya sumber daya insani yang kompeten dan profesional dalam jumlah yang mencukupi oleh industri perbankan syariah.
    c. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan syariah
    Survei persepsi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa universitas di enam propinsi Indonesia (pada tahun 2000 – 2001), menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan akan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah dengan pengetahuan mengenai jenis-jenis produk serta operasional sistem perbankan syariah yang benar. Kesenjangan ini mengakibatkan rendahnya laju perpindahan permintaan dari yang bersifat potensial menjadi permintaan riil yang pada akhirnya akan menyebabkan kurang berhasilnya usaha untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat yang potensial sebagai dana investasi. Kesenjangan ini pada gilirannya juga akan mempersulit usaha pemasaran dan penjualan produk dan jasa bank syariah.
    Beberapa tantangan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para nasabah potensial adalah:
    1. Jumlah penduduk yang besar dan tersebar luas secara geografis dengan latar belakang yang beragam;
    2. Upaya untuk mendidik masyarakat membutuhkan dana dan sumber daya lainnya yang cukup besar;
    3. Dana promosi yang terbatas dari para stakeholder dalam industri perbankan syariah karena masih kecilnya skala operasional industri tersebut.
    Salah satu cara pemecahan untuk menjawab tantangan tersebut adalah melalui upaya edukasi kepada publik secara terencana dan terkoordinasi. Dalam upaya edukasi kepada masyarakat, Bank Indonesia dapat mempelajari faktor-faktor penentu keberhasilan beberapa kegiatan nasional seperti ‘Gerakan Tabungan Nasional’ dan ‘Keluarga Berencana’.
    d. Institusi Pendukung yang belum lengkap dan efektif
    Institusi pendukung yang lengkap, efektif, dan efisien berperan penting untuk memastikan stabilitas pengembangan perbankan syariah secara keseluruhan. Pada saat ini telah berdiri sejumlah lembaga yang berperan sebagai institusi pendukung perbankan syariah di Indonesia. Diperlukan upaya agar institusi pendukung tersebut lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan perbankan syariah.
    Ada beberapa institusi dan fungsi yang perlu dikembangkan untuk melengkapi institusi pendukung yang ada, seperti:
    1. Auditor Syariah, yang memastikan pemenuhan pelaksanaan prinsip syariah oleh bank;
    2. Pasar Keuangan Syariah Internasional, yang merupakan sarana perdagangan instrumen- instrumen keuangan syariah dalam valuta asing yang bermanfaat untuk mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan;
    3. Forum Komunikasi Pengembangan Perbankan Syariah (FKPPS) yang mengkoordinasikan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perbankan syariah;
    4. Lembaga Penjamin Pembiayaan Syariah, yang memberikan jaminan kepada bank syariah yang mengalami kerugian akibat kelalaian atau kecurangan nasabah yang direkomendasikan oleh lembaga tersebut;
    5. Pusat Informasi Keuangan Syariah, yang berfungsi menghubungkan sektor riil dan sektor pembiayaan syariah dengan menyediakan informasi tentang pola pembiayaan yang tersedia dan perusahaan-perusahaan yang mungkin dibiayai;
    6. Special Purpose Company, yang melakukan sekuritisasi aset bagi bank syariah yang ingin meningkatkan likuiditasnya. Lembaga ini juga menyediakan kesempatan berinvestasi secara syariah kepada bank-bank lainnya dan kepada investor domestic maupun internasional.
    e. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal
    Meskipun secara sistem, perbankan syariah telah menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik, sistem perbankan syariah sementara ini masih memberikan tingkat return yang lebih rendah kepada nasabah dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh perbankan konvensional. Peningkatan efisiensi operasional yang berdampak pada perbaikan tingkat return kepada nasabah tentunya akan memacu para investor untuk bermitra dengan bank syariah yang mana selain mengharapkan jasa keuangan yang sesuai dengan syariah, juga tentunya mengharapkan tingkat return yang lebih baik.
    Hal ini tentunya perlu dicermati terutama dalam menghadapi era persaingan global dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan jasa sejenis.
    Keterbatasan banker syariah yang handal, yang menguasai operasional perbankan syariah serta teguh menjalankan prinsip syariah juga merupakan masalah yang mendasar dalam perbaikan kinerja bank syariah. Usaha peningkatan kualitas sumber daya insani akan juga mencakup peningkatan kemampuan manajerial dan operasional bank syariah.
    Selain melakukan efisiensi internal, pengembangan sistem perbankan syariah dapat pula menerapkan strategi ekspansi ‘economies of scale’ dan atau ‘economies of scope’. Penerapan strategi ‘economies of scale’ dilakukan secara horisontal dengan meningkatkan cakupan pasar melalui aliansi strategis dengan mitra usaha domestik maupun internasional. Penerapan strategi economies of scope dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan instrumen transaksi syariah (termasuk dengan memanfaatkan kemajuan dalam bidang teknologi informasi) sehingga lebih dapat meningkatkan fleksibilitas penerapan jasa keuangan syariah bagi masyarakat.
    f. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah perlu ditingkatkan
    Salah satu manfaat yang dapat dirasakan oleh sistem perekonomian dalam skala yang lebih luas adalah hadirnya konsep bagi hasil dalam transaksi ekonomi. Namun demikian, sampai saat ini porsi pembiayaan bagi hasil masih sangat rendah.
    Adapun penyebab rendahnya proporsi pembiayaan bagi hasil adalah:
    1. Risiko investasi relatif tinggi karena sulitnya memonitor kegiatan investasi;
    2. Masalah principal-agent, dimana agen (mudharib) tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (pemilik modal);
    3. Kompetensi SDI (Sumber Daya Insani) perbankan syariah yang masih rendah untuk melakukan investasi pola bagi hasil;
    4. Ketidaktersediaan informasi kinerja bisnis yang mendalam untuk setiap sector industri yang menjadi target investasi.
    Beberapa alternatif yang dapat dilakukan guna meningkatkan porsi skim pembiayaan bagi hasil antara lain:
    1. Identifikasi sumber-sumber dana yang tidak memiliki klaim seperti dana zakat, infaq dan sadaqah agar dapat disalurkan melalui lembaga keuangan yang berkompeten;
    2. Mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ‘agency problem’ dalam transaksi seperti tersedianya standardisasi kontrak, analisis atas indeksasi kinerja industri;
    3. Peningkatan kompetensi SDI untuk melakukan investasi dengan pola bagi hasil.
    g. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional
    Industri perbankan/keuangan syariah secara global telah mencapai volume operasi yang cukup signifikan. Tercatat lebih dari 170 lembaga keuangan telah didirikan dilebih 30 negara dengan total aset sebesar US$ 140 miliar pada tahun 1997. Pencapaian volume usaha secara global tersebut merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan melalui proses aliansi strategis dengan lembaga keuangan yang bertaraf internasional.
    Untuk mencapai hal tersebut, perbankan syariah nasional harus mampu beroperasi sesuai dengan norma/standar keuangan syariah internasional. Dengan pemenuhan pada standar keuangan syariah internasional, sistem perbankan syariah nasional juga mendapatkan peluang untuk berpartisipasi dalam Pasar Keuangan Syariah Internasional (IIFM) yang akan beroperasi pada tahun 2003. Selain itu perbankan syariah Indonesia juga dipersiapkan untuk dapat mengadopsi standar internasional operasi perbankan syariah
    ESENSI PROGRAM
    Untuk kepentingan pelayanan dan keamanan, bank harus mempunyai sisdur sistim operasi untuk menghasilkan produk dan jasa layanan tertentu. Sistim operasi antara lain meliputi formulir yang dipakai, urutan langkah transaksi yang harus dilalui, pejabat yang berwenang, unit organisasi terkait, pengamanan transaksi dan lain-lainnya. Sistem operasi ini dipengaruhi oleh teknologi, preferensi manajemen, peraturan atau undang-undang yang berlaku, efisiensi, dan lain-lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, faktor-faktor yang mempengaruhi sistim operasi dimaksud mengalami perubahan sehingga sistim operasi perbankan yang ada harus dirancang ulang agar sesuai dengan tuntutan zaman. Jasa konsultasi ini pada dasarnya membantu bank dalam merancang ulang sistim operasi jasa bank tertentu agar memenuhi standar atau tuntutan tertentu dan menuliskannya dalam buku pedoman perusahaan (manual). Penyusunan sisdur operasi perbankan juga bisa dilakukan untuk produk atau layanan baru yang belum ada Buku Pedomannya.
    MANFAAT
    Dengan penyegaran kembali/update buku pedoman operasi perbankan atau penyusunan sistim operasi perbankan yang baru (semula belum ada), diharapkan banknya mampu melayani nasabah sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman sehingga banknya mampu untuk terus bersaing. Sistim operasi perbankan yang tidak pernah disempurnakan atau direvisi mempunyai risiko menjadi lambat dan tidak aman dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.
    METODE
    Penyusunan atau revisi sisdur operasi perbankan pada dasarnya dilakukan dengan metode bertahap yaitu mengkaji sisdur operasi perbankan yang ada, membandingkan dengan best practice atau tuntutan perubahan dan akhirnya merevisi atau membuat sisdur operasi perbankan yang baru. Revisi buku pedoman biasanya diikuti dengan sosialisasi agar bisa dipahami isinya oleh segenap pejabat terkait.
    TIM KONSULTAN
    Terdiri dari in house consultant, principal consultant sesuai keahliannya dan para praktisi industri perbankan sesuai kebutuhan jenis sistem operasi perbankan yang diperlukan.
    DURASI
    Jasa konsultasi ini biasanya memerlukan waktu 3-5 bulan dan tergantung dari jenis produk sisdur operasi perbankan.
    Manfaat Teknologi Sistem Informasi Bagi Perbankan
    Dewasa ini teknologi semakin barkembang mengikuti zaman , dimana perkembanganya itu ditandai dengan sistem informatika yang digunakan oleh berbagai kalangan dalam melakukan usaha. Sistem informatika sangat berperan penting dalam melakukan suatu kegiatan yang ada kaitanya dengan teknologi, tanpa adanya sistem informatika kegiatan tersebut tidak akan cepat terlaksana atau terselesaikan sesuai dengan harapan, minsalnya: perbankan mempunyai kaitan yang erat dengan sistem informatika, dimana sistem informatika mempunyai peranan yang penting dalam dunia perbankan.
    Suatu perbankan tidak akan mampu melaksanakan kegiatan perbankan tanpa menggunakan sistem informatika dalam melakukan kegiatan oprasionalnya.
    Sistem informatika merupakan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan oprasional bank, perbankan dalam melakukan kegiatanya tidak akan jauh dari dunia teknologi dan mempunyai kaitan yang sangat erat, minsalnya: dalam membuat laporan keuangan, menghitung bagi hasil dsb.
    Dalam konteks perbankan, saat ini telah banyak nasabah, khususnya di kota-kota
    besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam transaksi pembayarannya, tetapi
    telah memanfaatkan layanan perbankan modern. Untuk menunjang keberhasilan
    operasional bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat
    diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada
    teknologi informasi online.
    Institusi perbankan dan keuangan telah dipengaruhi dengan kuat oleh pengembangan produk dalam teknologi informasi, bahkan mereka tidak dapat beroperasi lagi tanpa adanya teknologi informasi tersebut. Sektor ini memerlukan pengembangan produk dalam teknologi informasi untuk memberikan jasa-jasa mereka kepada pelanggan mereka. Nasabah kini menginginkan agar dapat dengan mudah membayar berbagai pembayaran tagihan rutin maupun melakukan berbagai transaksi dari belahan dunia manapun, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
    Sebagai contoh dahulu, untuk kliring atau tukar-menukar warkat di perbankan masih sangat manual. Mulai tahun 1990, otomatisasi menggunakan warkat sudah dilakukan dengan mesin. Kemudian masuk tahun 1996-1997, berubah menjadi kliring elektronik hingga kemudian Bank Indonesia (BI) berubah menerapkan RTGS (Real Time Gross Settlement). Selain itu, internet juga telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang berpotensi hampir tanpa batas untuk perbankan.
    Meski di Indonesia mengalami hambatan dengan rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan jumlah nasabah yang mengakses Internet. Tetapi, Internet Banking, seperti juga electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah. Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa. Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan.
    M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi. Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan. Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya, pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan. Fasilitas yang perlu disediakan; seperti call center, phone banking, SMS banking dan Internet banking. Dengan beragamnya fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa layanan bank sesuai selera masing-masing.

  14. JASA PERBANKAN SYARIAH
    (Artikel by maymunah)
    PENDAHULUAN
    Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.
    Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinimati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.
    Dalam konteks pengelolaan perekonomian makro, meluasnya penggunaan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah akan dapat merekatkan hubungan antara sektor keuangan dengan sektor riil serta menciptakan harmonisasi di antara kedua sektor tersebut. Semakin meluasnya penggunaan produk dan instrumen syariah disamping akan mendukung kegiatan keuangan dan bisnis masyarakat juga akan mengurangi transaksi-transaksi yang bersifat spekulatif, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan, yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian kestabilan harga jangka menengah-panjang.
    Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.

    Produk perbankan syariah
    Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
    === Jasa untuk peminjam dana ===
     Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
     Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan.
     Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah.
     Takaful (asuransi islam)

    === Jasa untuk penyimpan dana ===

     Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. [6]
     Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

    === Jasa untuk penyimpan dana ===
     Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah
     Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.
     Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
     Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan.
     Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah

    Contoh bank berprinsif syariah
    1. bank muamalat
     Produk dan layanan
    Giro Muamalat (Perorangan)
    Giro syariah dalam mata uang Rupiah dan US Dollar yang memudahkan semua jenis kebutuhan transaksi bisnis maupun transaksi keuangan personal Anda.
    Fitur Unggulan :
    1. Gratis biaya administrasi
    2. Gratis tarik tunai di semua ATM Muamalat, ATM BCA/ Prima, ATM Bersama
    3. Transfer gratis antar rekening Bank Muamalat di semua layanan (kecuali di ATM BCA/ Prima, ATM Bersama)
    Fitur Umum :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad wadiah (titipan)
    2. Tersedia dalam pilihan mata uang Rupiah dan US Dollar
    3. Saldo minimum : Rp 500.000/ US$ 500
    4. Biaya penutupan : Rp 50.000
    5. Biaya buku Cek dan Bilyet Giro : Rp 3.000/lembar
    Manfaat :
    1. Fasilitas Cek dan Bilyet Giro
    2. Fasilitas Kliring dan RTGS
    3. Fasilitas transaksi PhoneBanking 24 Jam
    4. Fasilitas Kartu SHAR-e yang berfungsi sebagai kartu ATM & debit
    5. Fasilitas pengiriman account statement per bulan
    6. Online di seluruh outlet Bank Muamalat
    7. Pilihan pembayaran zakat, infaq dan shodaqoh
    8. Aman dan terjamin
     Tabungan Muamalat
    Tabungan syariah dalam mata uang rupiah yang akan meringankan transaksi keuangan Anda, memberikan akses yang mudah, serta manfaat yang luas.
    Fitur Umum :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad mudharabah muthlaqah (bagi hasil)
    2. Biaya administrasi Rp 7.500 untuk saldo < Rp 2 juta
    3. Minimum setoran berikutnya : Rp 10.000
    Manfaat :
    1. Mendapatkan kartu Shar-E
    2. Fasilitas MobileBanking dan PC Banking
    3. Mendapatkan bagi hasil bulanan
    4. Online di seluruh outlet Bank Muamalat
    5. Pilihan pembayaran zakat, infaq dan shodaqoh otomatis
    6. Pembayaran rekening
    7. Pembelian pulsa selular elektronik
    8. Aman dan terjamin
     Deposito Mudharobah
    Deposito syariah dalam mata uang Rupiah dan US Dollar yang fleksibel dan memberikan hasil investasi yang optimal bagi Anda.
    Fitur :
    1. Berdasarkan prinsip syariah dengan akad mudharabah muthlaqah (bagi hasil)
    2. Bagi hasil yang optimal
    3. Pilihan jangka waktu fleksibel 1, 3, 6 dan 12 bulan
    4. Tersedia dalam pilihan mata uang Rupiah dan US Dollar
    5. Gratis biaya administrasi
    6. Bagi hasil dapat dikapitalisir (menambah saldo Deposito)
    7. Jangka waktu dapat diperpanjang otomatis (automatic roll over)
    8. Biaya administrasi pencairan sebelum jatuh tempo : Rp 30.000
    Manfaat :
    1. Fasilitas transaksi PhoneBanking 24 Jam
    2. Online di seluruh outlet Bank Muamalat
    3. Pilihan pembayaran zakat, infaq dan shodaqoh otomatis dari bagi hasil
    4. Aman dan terjamin

  15. Ahmad Syarifuddin. H
    (20090730017)
    Ekonomi dan Perbankan Syariah

    PRODUK DAN SISTEM OPERASIONAL DARI JASA LAYANAN PERBANKAN SYARIAH

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah

    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)

  16. ya pak,kmrn yang ngirim tgl 23 may 4:18 pm atas nama sri rahmawati (20090730080). terimakasih pak…

  17. Nama:susana
    NPM: 20090730004

    BSM Card
    BSM Card merupakan sarana untuk melakukan transaksi penarikan, pembayaran, dan pemindahbukuan dana pada ATM BSM, ATM Mandiri, jaringan ATM Prima-BCA dan ATM Bersama, serta ATM Bankcard. BSM Card juga berfungsi sebagai kartu Debit yang dapat digunakan untuk transaksi belanja di seluruh merchant yang menggunakan EDC Prima-BCA.
    &nbsp:
    Ragam Layanan:
    • Kemudahan tarik tunai di seluruh jaringan ATM BSM, ATM Mandiri, ATM Prima-BCA, ATM Bersama dan ATM Bankcard
    • Kemudahan berbelanja di lebih dari 20.000 merchant yang menggunakan EDC Prima-BCA
    • Pemindahbukuan antar rekening BSM
    • Transfer uang antar bank secara real time melalui jaringan ATM Bersama dan Prima-BCA
    • Pembayaran tagihan ponsel, Telkom, PLN dan IM2 di ATM BSM
    • Pembayaran zakat dan infaq di ATM BSM dan ATM Mandiri
    • Layanan informasi saldo dan penggantian PIN.
    Peruntukan: Perorangan
    Syarat:
    • Memiliki rekening Tabungan atau Giro di BSM
    • Mengisi formulir kartu ATM.
    Untuk proses yang lebih cepat nasabah dapat memperoleh Kartu ATM INSTANT.
    Meskipun ATM ini merupakan produk kerjasama dengan bank konvensional, nasabah tidak perlu cemas akan terkena pengaruh bunga (riba), karena PT Bank Syariah Mandiri telah mengatur kerjasama dengan PT Bank Mandiri untuk menyediakan dana yang mencukupi dan tidak mengambil bunga atau jasa giro dari penempatan cadangan dana di PT Bank Mandiri.
    PT Bank Syariah Mandiri memberikan fasilitas kemudahan dalam membantu nasabah mencari lokasi jaringan ATM yang terdekat. Sehingga nasabah dapat melihat lokasi jaringan ATM yang tersedia di seluruh Indonesia.
    Jasa layanan di Bank Muamalat:
    • Transfer
    • Kas Kilat
    • Letter Of Credit
    • Bank Garansi
    • Layanan 24 Jam:
    1. SMS Banking
    2. SalaMuamalat
    3. MuamalatMobile
    4. Internet Banking
    Jasa layanan di Bank Syariah Mandiri:
    1. Jasa Produk
    – BSM Card
    – Sentra Bayar BSM
    – BSM SMS Banking
    – BSM Mobile Banking GPRS
    – BSM Net Banking
    – Pembayaran melalui menu Pemindahbukuan di ATM (PPBA)
    – Jual Beli Valas BSM
    – Bank Garansi BSM
    – BSM Electronic Payroll
    – SKBDN BSM (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    – BSM Letter of Credit
    – BSM SUHC (Saudi Umrah & Haj Card)
    2. Jasa Operasional
    – Transfer Lintas Negara BSM Western Union
    – Kliring BSM
    – Inkaso BSM
    – BSM Intercity Clearing
    – BSM RTGS (Real Time Gross Settlement)
    – Transfer Dalam Kota (LLG)
    – Transfer Valas BSM
    – Pajak Online BSM
    – Pajak Import BSM
    – Referensi Bank BSM
    – BSM Standing Order
    3. Jasa Investasi
    – Reksadana
    Jasa layanan di Bank BNI Syariah:
    • Kiriman uang, berdasarkan prinsip wakalah.
    • Garansi Bank berdasarkan prinsip kafalah.
    • Inkaso, berdasarkan prinsip wakalah.

  18. Yurtika nury pertiwi
    20090730003
    ekonomi dan perbankan islam

    ARTIKEL JASA PERBANKAN SYARIAH

    PENDAHULUAN
    Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perabankan yang dikembangkan berdasarkan syariah Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut atau meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan untuk melakukan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram ( missal usaha perjudian) dimana hal ini tidak dapat dijamin dalam sistem perbankan konvensional.
    Adapun Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan operasinya dengan sistem hukum islam (syariah). Fungsinya sama dengan bank konvensional yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan jasa keuangan lainnya, tetapi yang membedakan adalah cara operasi, produk, kesepakatan, dan sistemnya.
    Berkembangnya bank-bank syariah di Indonesia dimulai sejak awal tahun 1990-an. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalah Indonesia. Berdiri tahun 1992, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukunagan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
    Meskipun bank syariah telah berdiri sejak awal tahun 1990-an, namun keberadaanya masih kurang diminati masyarakat pada umumnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan dari bank-bank syariah tersebut dan atau kurangnya sosialisasi dari produk dan jasa tersebut.Padahal dalam kaitanya dengan produk dan jasa, ada perbedaan yang menyolok antara prinsip-prinsip pada produk dan jasa bank syariah dengan prinsip dalam produk dan jasa bank konvensional. Makalah ini akan mencoba membahas mengenai produk dan jasa bank syariah.

    PRODUK-PRODUK JASA PERBANKAN SYARIAH

    Jasa Perbankan
    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :
    – Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.
    – Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).
    – Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring. Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri
    – Penggunaan ATM bersama dengan bank lain Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.
    – Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut

    PERBEDAAN PRODUK BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL
    Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.
    Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah, karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.
    Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar. Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.
    Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah.

    KESIMPULAN
    Salah satu kendala yang dihadapi dunia perbankan syariah adalah kurang dikenalnya produk-produk perbankan syariah oleh masyarakat. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang produk mapun jasa perbankan syariah sehinga masyarakat enggan untuk memanfaatkanya.
    Pada dasarnya prinsip dasar pada produk-produk perbankan syariah adalah terbagi kedalam prinsip simpanan yang biasa disebut dengan prinsip wadiah, prinsip bagi hasil (profit sharing) yang terbagi atas prinsip mudharabah dan murabahah. Dan prinsip murabahah.
    Produk perbankan syariah secara garis besar terdiri atas produk penghimpun dana, produk penyaluran dana dan jasa perbankan.
    Setidaknya ada tiga karakteristik produk perbankan syariah yang membedakanya dengan produk bank konvensional. Petama, adalah akadnya. Semua transaksi dalam perbankan syariah harus dilandasi dengan akad. Kedua, adalah pada imbalan yang diberiakan. Pada perbankan syariah menggunakan prinsip bagi hasil bukan bunga. Karakeristik ketiga adalah pada sasara kredit atau pembiayaan. Pada perbankan syariah pembiayaan harus pada kegiatan yang sesuai dengan syariat islam.

    Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan
    Kerangka pengembangan perbankan syariah tersebut tentunya tidak terlepas dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang sedang dalam penyusunan. Hal ini meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman bagi para stakeholder perbankan syariah.. Inisiatif-inisiatif yang diambil pada umumnya menekankan pada aspek peningkatan kepatuhan pada prinsip syariah, peningkatan kualitas ketentuan kehati-hatian, peningkatan efisiensi operasi dan daya saing, serta peningkatan kestabilan sistem perbankan.
    Untuk mewujudkan perbankan syariah sesuai semangat API, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode krisis ekonomi, perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat. Berkaitan dengan itu perbankan syariah diharapkan dapat berperan lebih besar dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia yang masih terus berlangsung. Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih berada dalam tahap awal pengembangan.
    Beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    1. Kerangka dan perangkat pengaturan perbankan syariah belum lengkap;
    2. Cakupan pasar masih terbatas;
    3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan
    syariah;
    4. Institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif;
    5. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal;
    6. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah masih perlu ditingkatkan;
    Adapun tantangan yang harus diselesaikan setidaknya adalah:
    a. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional.
    Guna mendukung kegiatan operasional yang sehat, perbankan syariah membutuhkan kerangka dan perangkat pengaturan yang sesuai dengan karakteristik operasionalnya.
    Di awal perkembangannya, kegiatan pengaturan dan pengawasan lembaga perbankan syariah masih menggunakan kerangka pengaturan dan pengawasan sistem perbankan konvensional, walaupun beberapa instrumen pengaturan telah mulai dikembangkan seperti perizinan bagi pendirian bank dan pembukaan kantor; instrumen pasar keuangan antar bank; perangkat penghubung dengan otoritas moneter (sertifikat wadiah Bank Indonesia dan giro wajib minimum); dan sistem pembayaran (UUS wajib memiliki rekening di Bank Indonesia). Kurang lengkapnya instrumen pengaturan dan pengawasan tersebut akan mengakibatkan perbankan syariah tidak dapat beroperasi secara optimal dan tidak sepenuhnya sesuai dengan karakteristiknya.
    Bank Indonesia selaku otoritas perbankan akan melakukan kajian, menyusun dan menyempurnakan instrumen pengaturan yang mencakup beberapa area utama, antara lain:
    1. Penciptaan instrumen-instrumen keuangan serta aturan yang diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi operasional;
    2. Penyusunan sistem peringatan dini (termasuk didalamnya CAMELs rating system) yang dapat menggambarkan risiko operasional untuk menjamin kesinambungan perbankan syariah yang berhati-hati serta konsep pelaporan yang transparan;
    3. Penyusunan rules of conduct bagi pelaku perbankan syariah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas corporate governance.
    Konsep pengaturan yang akan dikembangkan harus berorientasi pada upaya menjaga kestabilan sistem dan menjamin kepatuhan perbankan syariah terhadap prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu kajian-kajian konseptual tentang pengaturan perlu dilakukan pada tahap awal pengembangan.
    b. Cakupan pasar masih terbatas
    Pada saat ini, sistem perbankan syariah masih memiliki jaringan pelayanan yang masih terbatas. Sampai akhir tahun 2001, pelayanan perbankan syariah hanya tersedia di 51 cabang bank umum syariah dan unit usaha syariah serta 81 kantor BPRS, yang mewakili kurang dari 2% jumlah seluruh kantor bank yang ada di Indonesia. Keterbatasan cakupan operasional pada gilirannya akan menjadi kendala yang cukup signifikan bagi para pengguna jasa perbankan syariah dan mengurangi nilai kenyamanan penggunaan jasa perbankan.
    Beberapa tantangan yang telah teridentifikasi guna meningkatkan jaringan kantor dan pelayanan bank syariah adalah sebagai berikut:
    1. Mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk masuknya para pemain baru, terutama bank-bank konvensional yang sudah memiliki jaringan operasional yang luas atau mendorong aliansi strategis antara bank syariah dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya guna mencapai skala ekonomis operasional;
    2. Penyederhanaan proses administrasi bagi masuknya para pemain baru dapat dilakukan dengan tidak mengurangi prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional perbankan;
    3. Tersedianya informasi pasar/permintaan jasa perbankan syariah;
    4. Tersedianya sumber daya insani yang kompeten dan profesional dalam jumlah yang mencukupi oleh industri perbankan syariah.
    c. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan syariah
    Survei persepsi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa universitas di enam propinsi Indonesia (pada tahun 2000 – 2001), menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan akan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah dengan pengetahuan mengenai jenis-jenis produk serta operasional sistem perbankan syariah yang benar. Kesenjangan ini mengakibatkan rendahnya laju perpindahan permintaan dari yang bersifat potensial menjadi permintaan riil yang pada akhirnya akan menyebabkan kurang berhasilnya usaha untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat yang potensial sebagai dana investasi. Kesenjangan ini pada gilirannya juga akan mempersulit usaha pemasaran dan penjualan produk dan jasa bank syariah.
    Beberapa tantangan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para nasabah potensial adalah:
    1. Jumlah penduduk yang besar dan tersebar luas secara geografis dengan latar belakang yang beragam;
    2. Upaya untuk mendidik masyarakat membutuhkan dana dan sumber daya lainnya yang cukup besar;
    3. Dana promosi yang terbatas dari para stakeholder dalam industri perbankan syariah karena masih kecilnya skala operasional industri tersebut.
    Salah satu cara pemecahan untuk menjawab tantangan tersebut adalah melalui upaya edukasi kepada publik secara terencana dan terkoordinasi. Dalam upaya edukasi kepada masyarakat, Bank Indonesia dapat mempelajari faktor-faktor penentu keberhasilan beberapa kegiatan nasional seperti ‘Gerakan Tabungan Nasional’ dan ‘Keluarga Berencana’.
    d. Institusi Pendukung yang belum lengkap dan efektif
    Institusi pendukung yang lengkap, efektif, dan efisien berperan penting untuk memastikan stabilitas pengembangan perbankan syariah secara keseluruhan. Pada saat ini telah berdiri sejumlah lembaga yang berperan sebagai institusi pendukung perbankan syariah di Indonesia. Diperlukan upaya agar institusi pendukung tersebut lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan perbankan syariah.
    Ada beberapa institusi dan fungsi yang perlu dikembangkan untuk melengkapi institusi pendukung yang ada, seperti:
    1. Auditor Syariah, yang memastikan pemenuhan pelaksanaan prinsip syariah oleh bank;
    2. Pasar Keuangan Syariah Internasional, yang merupakan sarana perdagangan instrumen- instrumen keuangan syariah dalam valuta asing yang bermanfaat untuk mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan;
    3. Forum Komunikasi Pengembangan Perbankan Syariah (FKPPS) yang mengkoordinasikan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perbankan syariah;
    4. Lembaga Penjamin Pembiayaan Syariah, yang memberikan jaminan kepada bank syariah yang mengalami kerugian akibat kelalaian atau kecurangan nasabah yang direkomendasikan oleh lembaga tersebut;
    5. Pusat Informasi Keuangan Syariah, yang berfungsi menghubungkan sektor riil dan sektor pembiayaan syariah dengan menyediakan informasi tentang pola pembiayaan yang tersedia dan perusahaan-perusahaan yang mungkin dibiayai;
    6. Special Purpose Company, yang melakukan sekuritisasi aset bagi bank syariah yang ingin meningkatkan likuiditasnya. Lembaga ini juga menyediakan kesempatan berinvestasi secara syariah kepada bank-bank lainnya dan kepada investor domestic maupun internasional.
    e. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal
    Meskipun secara sistem, perbankan syariah telah menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik, sistem perbankan syariah sementara ini masih memberikan tingkat return yang lebih rendah kepada nasabah dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh perbankan konvensional. Peningkatan efisiensi operasional yang berdampak pada perbaikan tingkat return kepada nasabah tentunya akan memacu para investor untuk bermitra dengan bank syariah yang mana selain mengharapkan jasa keuangan yang sesuai dengan syariah, juga tentunya mengharapkan tingkat return yang lebih baik.
    Hal ini tentunya perlu dicermati terutama dalam menghadapi era persaingan global dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan jasa sejenis.
    Keterbatasan banker syariah yang handal, yang menguasai operasional perbankan syariah serta teguh menjalankan prinsip syariah juga merupakan masalah yang mendasar dalam perbaikan kinerja bank syariah. Usaha peningkatan kualitas sumber daya insani akan juga mencakup peningkatan kemampuan manajerial dan operasional bank syariah.
    Selain melakukan efisiensi internal, pengembangan sistem perbankan syariah dapat pula menerapkan strategi ekspansi ‘economies of scale’ dan atau ‘economies of scope’. Penerapan strategi ‘economies of scale’ dilakukan secara horisontal dengan meningkatkan cakupan pasar melalui aliansi strategis dengan mitra usaha domestik maupun internasional. Penerapan strategi economies of scope dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan instrumen transaksi syariah (termasuk dengan memanfaatkan kemajuan dalam bidang teknologi informasi) sehingga lebih dapat meningkatkan fleksibilitas penerapan jasa keuangan syariah bagi masyarakat.
    f. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah perlu ditingkatkan
    Salah satu manfaat yang dapat dirasakan oleh sistem perekonomian dalam skala yang lebih luas adalah hadirnya konsep bagi hasil dalam transaksi ekonomi. Namun demikian, sampai saat ini porsi pembiayaan bagi hasil masih sangat rendah.
    Adapun penyebab rendahnya proporsi pembiayaan bagi hasil adalah:
    1. Risiko investasi relatif tinggi karena sulitnya memonitor kegiatan investasi;
    2. Masalah principal-agent, dimana agen (mudharib) tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (pemilik modal);
    3. Kompetensi SDI (Sumber Daya Insani) perbankan syariah yang masih rendah untuk melakukan investasi pola bagi hasil;
    4. Ketidaktersediaan informasi kinerja bisnis yang mendalam untuk setiap sector industri yang menjadi target investasi.
    Beberapa alternatif yang dapat dilakukan guna meningkatkan porsi skim pembiayaan bagi hasil antara lain:
    1. Identifikasi sumber-sumber dana yang tidak memiliki klaim seperti dana zakat, infaq dan sadaqah agar dapat disalurkan melalui lembaga keuangan yang berkompeten;
    2. Mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ‘agency problem’ dalam transaksi seperti tersedianya standardisasi kontrak, analisis atas indeksasi kinerja industri;
    3. Peningkatan kompetensi SDI untuk melakukan investasi dengan pola bagi hasil.
    g. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional
    Industri perbankan/keuangan syariah secara global telah mencapai volume operasi yang cukup signifikan. Tercatat lebih dari 170 lembaga keuangan telah didirikan dilebih 30 negara dengan total aset sebesar US$ 140 miliar pada tahun 1997. Pencapaian volume usaha secara global tersebut merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan melalui proses aliansi strategis dengan lembaga keuangan yang bertaraf internasional.
    Untuk mencapai hal tersebut, perbankan syariah nasional harus mampu beroperasi sesuai dengan norma/standar keuangan syariah internasional. Dengan pemenuhan pada standar keuangan syariah internasional, sistem perbankan syariah nasional juga mendapatkan peluang untuk berpartisipasi dalam Pasar Keuangan Syariah Internasional (IIFM) yang akan beroperasi pada tahun 2003. Selain itu perbankan syariah Indonesia juga dipersiapkan untuk dapat mengadopsi standar internasional operasi perbankan syariah
    ESENSI PROGRAM
    Untuk kepentingan pelayanan dan keamanan, bank harus mempunyai sisdur sistim operasi untuk menghasilkan produk dan jasa layanan tertentu. Sistim operasi antara lain meliputi formulir yang dipakai, urutan langkah transaksi yang harus dilalui, pejabat yang berwenang, unit organisasi terkait, pengamanan transaksi dan lain-lainnya. Sistem operasi ini dipengaruhi oleh teknologi, preferensi manajemen, peraturan atau undang-undang yang berlaku, efisiensi, dan lain-lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, faktor-faktor yang mempengaruhi sistim operasi dimaksud mengalami perubahan sehingga sistim operasi perbankan yang ada harus dirancang ulang agar sesuai dengan tuntutan zaman. Jasa konsultasi ini pada dasarnya membantu bank dalam merancang ulang sistim operasi jasa bank tertentu agar memenuhi standar atau tuntutan tertentu dan menuliskannya dalam buku pedoman perusahaan (manual). Penyusunan sisdur operasi perbankan juga bisa dilakukan untuk produk atau layanan baru yang belum ada Buku Pedomannya.
    MANFAAT
    Dengan penyegaran kembali/update buku pedoman operasi perbankan atau penyusunan sistim operasi perbankan yang baru (semula belum ada), diharapkan banknya mampu melayani nasabah sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman sehingga banknya mampu untuk terus bersaing. Sistim operasi perbankan yang tidak pernah disempurnakan atau direvisi mempunyai risiko menjadi lambat dan tidak aman dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.
    METODE
    Penyusunan atau revisi sisdur operasi perbankan pada dasarnya dilakukan dengan metode bertahap yaitu mengkaji sisdur operasi perbankan yang ada, membandingkan dengan best practice atau tuntutan perubahan dan akhirnya merevisi atau membuat sisdur operasi perbankan yang baru. Revisi buku pedoman biasanya diikuti dengan sosialisasi agar bisa dipahami isinya oleh segenap pejabat terkait.
    TIM KONSULTAN
    Terdiri dari in house consultant, principal consultant sesuai keahliannya dan para praktisi industri perbankan sesuai kebutuhan jenis sistem operasi perbankan yang diperlukan.
    DURASI
    Jasa konsultasi ini biasanya memerlukan waktu 3-5 bulan dan tergantung dari jenis produk sisdur operasi perbankan.
    Manfaat Teknologi Sistem Informasi Bagi Perbankan
    Dewasa ini teknologi semakin barkembang mengikuti zaman , dimana perkembanganya itu ditandai dengan sistem informatika yang digunakan oleh berbagai kalangan dalam melakukan usaha. Sistem informatika sangat berperan penting dalam melakukan suatu kegiatan yang ada kaitanya dengan teknologi, tanpa adanya sistem informatika kegiatan tersebut tidak akan cepat terlaksana atau terselesaikan sesuai dengan harapan, minsalnya: perbankan mempunyai kaitan yang erat dengan sistem informatika, dimana sistem informatika mempunyai peranan yang penting dalam dunia perbankan.
    Suatu perbankan tidak akan mampu melaksanakan kegiatan perbankan tanpa menggunakan sistem informatika dalam melakukan kegiatan oprasionalnya.
    Sistem informatika merupakan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan oprasional bank, perbankan dalam melakukan kegiatanya tidak akan jauh dari dunia teknologi dan mempunyai kaitan yang sangat erat, minsalnya: dalam membuat laporan keuangan, menghitung bagi hasil dsb.
    Dalam konteks perbankan, saat ini telah banyak nasabah, khususnya di kota-kota
    besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam transaksi pembayarannya, tetapi
    telah memanfaatkan layanan perbankan modern. Untuk menunjang keberhasilan
    operasional bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat
    diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada
    teknologi informasi online.
    Institusi perbankan dan keuangan telah dipengaruhi dengan kuat oleh pengembangan produk dalam teknologi informasi, bahkan mereka tidak dapat beroperasi lagi tanpa adanya teknologi informasi tersebut. Sektor ini memerlukan pengembangan produk dalam teknologi informasi untuk memberikan jasa-jasa mereka kepada pelanggan mereka. Nasabah kini menginginkan agar dapat dengan mudah membayar berbagai pembayaran tagihan rutin maupun melakukan berbagai transaksi dari belahan dunia manapun, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
    Sebagai contoh dahulu, untuk kliring atau tukar-menukar warkat di perbankan masih sangat manual. Mulai tahun 1990, otomatisasi menggunakan warkat sudah dilakukan dengan mesin. Kemudian masuk tahun 1996-1997, berubah menjadi kliring elektronik hingga kemudian Bank Indonesia (BI) berubah menerapkan RTGS (Real Time Gross Settlement). Selain itu, internet juga telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang berpotensi hampir tanpa batas untuk perbankan.
    Meski di Indonesia mengalami hambatan dengan rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan jumlah nasabah yang mengakses Internet. Tetapi, Internet Banking, seperti juga electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah. Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa. Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan.
    M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi. Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan. Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya, pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan. Fasilitas yang perlu disediakan; seperti call center, phone banking, SMS banking dan Internet banking. Dengan beragamnya fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa layanan bank sesuai selera masing-masing.

  19. risang winasis
    20090730076
    (presentasi mahasiswa universitas indonesia program studi timur tengah dan islam)
    WAKALAH, KAFALAH DAN HIWALAH
    PENGERTIAN
    Wakalah secara etimologi berasal dari wazan wakala-yakilu-waklan yang berarti menyerahkan atau mewakilkan urusan sedangkan wakalah adalah pekerjaan wakil (Tim Kashiko, Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, 2000, hlm. 693)

    Wakalah adalah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu dimana perwakilan tersebut berlaku selama yang mewakilkan masih hidup (Dr. H. Hendi Suhendi, Msi, Fiqh Muamalah, Jakarta : Rajawali Press, hlm. 233.)

    LANDASAN SYARIAH
    DASAR HUKUM LAINNYA
    ”Berkatalah Yusuf, ” Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf : 55)
    “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Baqarah (2:283)
    ”Bahwasanya Rosululloh SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilinya untuk mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) dengan Maimunah binti al-Harits.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’)
    “Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW untuk menagih hutang kepada beliau dengan cara kasar, sehingga para sahabat berniat untuk “menanganinya”. Beliau bersabda, ‘Biarkan ia, sebab pemilik hak berhak untuk berbicara;’ lalu sabdanya, ‘Berikanlah (bayarkanlah) kepada orang ini unta umur setahun seperti untanya (yang dihutang itu)’. Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapatkannya kecuali yang lebih tua.’ Rasulullah kemudian bersabda: ‘Berikanlah kepada-nya. Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik di dalam membayar.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
    ”Sesungguhnya Rosululloh SAW mengutus Assa’ah untuk memungut zakat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    RUKUN DAN SYARAT
    Yang mewakili
    (Wakil)
    Cakap hukum
    Dapat menjalankan tugasnya
    amanah
    Fatwa No: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah
    Pertama : Ketentuan tentang Wakalah:

    Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).
    Wakalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak.
    APLIKASI DI LKS
    KAFALAH
    Pengertian
    Dalam pengertian bahasa kafalah berarti adh dhamman (jaminan), sedangkan menurut pengertian syara’ kafalah adalah proses penggabungan tanggungan kafiil menjadi tanggungan ashiil dalam tuntutan/permintaan dengan materi sama atau hutang, atau barang atau pekerjaan

    Menurut istilah,
    Mazhab Hanafi
    Menggabungkan dzimah dengan dzimah yang lain dalam penagihan, dengan jiwa, utang, atau zat benda.
    Menggabungkan dzimah kepada dzimah yang lain dalam pokok (asal) utang
    Mahzab Maliki
    “orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan pemberi beban serta bebannya sendiri yang disatukan, baik menanggung pekerjaan yang sesuai (sama) maupun pekerjaan yang berbeda”
    Menurut Mahzab Hambali
    “iltizam sesuatu yang diwajibkan kepada orang lain serta kekekalan benda tersebut yang dibebankan atau iltizam orang yang mempunyai hak menghadirkan dua harta (pemiliknya) kepada orang yang mempunyai hak”
    Mahzab Syafi’I, al-kafalah ialah
    “Akad yang menetapkan iltizam hak yang tetap pada tanggungan (beban) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya”.

    Kafalah adalah penjaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makful ‘anhu, ashil) atau mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin. Pihak penjamin bisa perorang maupun institusi tertentu.
    LANDASAN HUKUM SYARIAH KAFALAH
    Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran.”

    b. Hadist
    Hadis Nabi riwayat Bukhari: “Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab, ‘Tidak’. Maka, beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab. ‘Ya’. Rasulullah berkata, ‘Salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah’. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari dari Salamah bin Akwa’).

    Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”.
    Rukun dan Syarat

    Mahzab Hanafi, rukun Kafalah satu, yaitu ijab dan Kabul.
    Menurut para ulama yang lainnya
    Dhamin, kafil, atau zaim, yaitu orang yang menjamin dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan hartanya(mahjur) dan dilakukan dengan sekehendak sendiri
    Madmun lah, yaitu orang yang berpiutang, syaratnya ialah bahwa yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin. Madmun lah disebut juga makful lah, madmun lah disyaratkan dikenal oleh penjamin karena manusia tidak sama dalam hal tuntutan, hal ini dilakukan demi kemudahan dan kedisiplinan.
    Madmun ‘anhu atau makful ‘anhu adalah orang yang berutang
    Madmun bih atau makful bih adalah utang, disyaratkan pada makful bih dapat diketahui dan tetap keadaannya, baik sudah tetap maupun akan tetap.
    Lafadz, disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu dan tidak berarti sementara.

    FATWA DSN NO: 11/DSN-MUI/IV/2000

    Ketentuan Umum Kafalah:
    Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).
    Dalam akad kafalah, penjamin dapat menerima imbalan (fee) sepanjang tidak memberatkan.
    Kafalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak. 
    Kedua  : Rukun dan Syarat Kafalah    :
    Pihak Penjamin (Kafiil)
    Baligh (dewasa) dan berakal sehat.
    Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.
    Pihak Orang yang berhutang (Ashiil, Makfuul ‘anhu)
    Sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin
    Dikenal oleh penjamin.

    Pihak Orang yang Berpiutang (Makfuul Lahu)
    Diketahui identitasnya.
    Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa.
    Berakal sehat.
    Obyek Penjaminan (Makful Bihi)
    Merupakan tanggungan pihak/orang yang berhutang, baik berupa uang, benda, maupun pekerjaan.
    Bisa dilaksanakan oleh penjamin.
    Harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan.
    Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.
    Tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan).

    PEMBAGIAN KAFALAH
    Secara umum kafalah dibagi menjadi dua bagian yaitu
    Kafalah dengan jiwa dikenal dengan kafalah bi al-wajhi, yaitu adanya keharusan pada pihak penjamin (al-kafil, al-dhamin atau al-za’im) untuk menghadirkan orang yang ia tanggung kepada yang ia janjikan tanggungan (Makfullah).
    Kafalah dengan harta, yaitu kewajiban yang harus ditunaikan oleh dhamin atau kafil dengan pembayaran (pemenuhan) berupa harta.

    Kafalah bil Mal : jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang.
    Contohnya kasus hadits Nabi Saw riwayat Bukhari di mana Qatadah menjamin hutang seorang sahabat.
    Surat Jaminan (bank garansi) yang diberikan bank kpd nasabah untuk keperluan :
    a) pembayaran atas pembelian barang
    b) atau untuk keperluan pembayaran hutang kpd pihak ketiga /mitra kerja nasabah untuk mengerjakan suatu proyek
    c). atau pembayaran suatu jual beli dengan batas waktu yang telah diperjanjikan.

    Contoh kafalah bil mal : seorang nasabah (jamaah masjid) mendapat pembiayaan syariah dengan jaminan seorang tokoh.
    Walaupun bank secara fisik tidak memegang rahn (barang) apapun, tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan atau wan prestasi

    Bagian dari kafalah bil Mal
    Kafalah bit Taslim : jaminan yang diberikan dalam rangka menjamin penyerahan atas barang yang disewa pada saat berakhirnya masa sewa
    Contoh ; bank mengeluarkan surat jaminan untuk nasabahnya tentang pengembalian (penyerahan) barang sewa yang disewa nasabah kepada perusahaan leasing

    Kafalah Munjazah : Jaminan yang diberikan secara mutlak tanpa adanya pembatasan waktu tertentu.
    Contoh, “Aku menjamin hutang anda sekarang”
    Aku menjamin menanggulangi pendanaan proyek anda”
    Bank menjamin nasabahnya kepada pihak ketiga bahwa nasabahnya pasti melaksanakan kewajibannya dalam mengerjakan suatu proyek

    Kafalah Muqayyadah/muallaqah, yaitu kafalah yang dibatasi waktunya, sebulan, setahun, dsb.
    Contoh : Bank menjamin nasabahnya kepada pihak ketiga selama 3 bulan.
    Kafalah ini disebut juga Kafalah dengan Tawqit

    APLIKASI
    Perbankan Syariah
    Secara fiqih terdapat tiga macam kafalah yang dapat diimplementasikan dalam produk perbankan syariah yaitu:
    Kafalah bi nafs, yaitu jaminan dari diri peminjam (personal guarantee);
    Kafalah bil maal, yaitu jaminan pembayaran hutang atau pelunasan hutang. Aplikasinya dalam perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (advance payment) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    Kafalah muallaqah, yaitu jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun tertentu. Dalam perbankan modern hal ini dapat diterapkan untuk jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bonds) atau jaminan penawaran (bid bonds).
    Abdul Ghofur Anshori, hlm 151

    Aplikasi Kafalah di Bank Islam
    Dalam rangka menjalankan usahanya, seorang pengusaha (kontraktor) sering memerlukan penjaminan dari pihak lain melalui akad kafalah, yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua (kontraktor) atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu, ashil)
    Bahwa untuk memenuhi kebutuhan usaha tersebut, Bank syari’ah berkewajiban untuk menyediakan satu skema penjaminan (kafalah) yang berdasarkan prinsip-prinsip syar’iah;

    Bank Garansi
    Bank garansi adalah penjaminan pembayaran atas suatu kewajiban pembayaran dimana bank dapat mempersyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai jaminan. Atas dana tersebut bank dapat memberlakukannya dengan prinsip wadi’ah. Bank mendapatkan imbalan atas jasa yang diberikan.
    Penerbitan Bank Garansi (surat jaminan bank), yang terdiri dari jaminan tender, jaminan pelaksanaan, jaminan uang muka, dan jaminan pelaksanaan dengan setoran minimal sebesar 10% dari nilai jaminan yang diinginkan nasabah. Produk bank garansi sudah merupakan produk jasa yang ditawarkann dalam rangka untuk mendapatkan pendapatan (fee based income).

    Skema Kafalah pada Bank Garansi

    Overseas Transfer
    Produk overseas tansfer ini menggunakan akad kafalah, karena bank bertindak sebagai penjamin, sedangkan nasabah sebagai pihak yang dijamin. Overseas transfer yaitu layanan pengiriman uang secara same day value, cepat, aman melintas batas karena didukung oleh teknologi SWIFT. Hari ini valuta asing dikirim, hari itu juga sampai di negara tujuan (berlaku untuk AS, Kanada, dan Eropa Barat).

    Kartu Kredit
    Fatwa Dewan Syariah NO: 54/DSN-MUI/X/2006 Tentang SYARIAH CARD
    Penerbit Kartu adalah penjamin (kafil) bagi Pemegang Kartu terhadap Merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara Pemegang Kartu dengan Merchant, dan/atau penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank Penerbit Kartu. Atas pemberian Kafalah, penerbit kartu dapat menerima fee (ujrah kafalah)
    Kafalah pada kartu kredit
    Bank menjamin nasabah (pemegang kartu) untuk belanja tanpa uang cash kepada pihak ketiga (merchant)
    Karena penjaminan itu, maka bank selaku kafil dapat mengenakan ujrah (fee) kepada nasabah

    Asuransi Syariah
    Akad kafalah merupakan bentuk penjaminan atau pertanggungan yang biasa dijalankan oleh perusahaan asuransi. Dalam hal ini, pihak penanggung adalah perusahaan asuransi, sedangkan pihak tertanggung adalah nasabah asuransi. Pada praktek asuransi syariah, risiko yang ada pada pihak tertanggung disebar keseluruh tertanggung yang lain oleh perusahaan asuransi
    Pengertian Hawalah
    Secara etimologi, hawalah berarti pengalihan, pemindahan, perubahan warna kulit, memikul sesuatu di atas pundak
    Sedangkan secara terminologi
    Menurut Hanafiyah, yang dimaksud dengan hawalah adalah pemindahan kewajiban membayar hutang dari orang yang berhutang (al-muhil) kepada orang yang berhutang lainnya (al-muhal’alaih)

    Menurut Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, hawalah adalah pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak lain
    Jadi dapat disimpulkan bahwa hawalah adalah akad pengalihan hutang atau piutang dari pihak yang berhutang atau berpiutang kepada pihak lain yang wajib menanggung atau menerimanya.

    Konsep Dasar Hawalah
    Dasar Hukum Hawalah
    Hadist
    مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتَّبِعْ.
    Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah (HR. Bukhari).

    Ijma
    Para ulama sepakat (ijma) atas kebolehan akad hawalah

    Kaidah Fiqh
    اَلأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا.
    Artinya: Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
     
    اَلضَّرَرُ يُزَالُ
    Artinya: Bahaya (beban berat) harus dihilangkan
    Hukum Menerima Hawalah
    Menurut pengikut mazhab Hanbali, Ibnu Jarir, Abu Tsur dan Az-Zahiriyah, hukumnya wajib bagi muhal menerima hiwalah berdasarkan perintah pada hadits tersebut.
    Sedangkan menurut jumhur ulama perintah pada hadist tersebut untuk menerima hiwalah hukumnya sunnah, bukan wajib, sebab mungkin saja muhal’alaih sulit ekonomi atau sulit membayar hutang, maka dalam hal ini ia tidak wajib menerima hawalah, bahkan hukumnya bukan sunnah.

    Rukun Hawalah
    Menurut mazhab Hanafi, rukun hawalah hanya ijab (pernyataan melakukan hawalah) dari pihak pertama dan kabul (pernyataan menerima hawalah) dari pihak kedua dan ketiga

    Sedangkan menurut jumhur ulama yang terdiri dari mazhab Maliki, Hanbali, dan Syari’i, rukun hawalah ada enam, yaitu:
    Pihak pertama adalah pihak yang berhutang dan berpiutang (muhil)
    Pihak kedua adalah pihak yang berpiutang disebut sebagai (muhal)
    Pihak ketiga adalah pihak yang berhutang dan berkewajiban membayar hutang kepada muhil disebut sebagai (muhal‘alaih)
    Hutang muhil kepada muhal (muhal bih 1)
    Hutang muhal’alaih kepada muhil (muhal bih 2)
    Ijab qabul (sighat )

    Syarat Sahnya Hiwalah
    Syarat bagi pihak pertama (muhil)
    Cakap dalam melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal. Hawalah tidak sah jika dilakukan oleh anak-anak meskipun aia sudah mengerti (mumayyiz), ataupun dilakukan oleh orang yang gila.

    Ada pernyataan persetujuan (ridha).

    Syarat bagi pihak kedua (muhal)
    Cakap dalam melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal, sebagaimana pihak pertama (muhil)
    Mazhab Hanafi, sebagian besar mazhab Maliki dan Syafi’i mensyaratkan ada persetujuan pihak kedua (muhal) terhadap pihak pertama (muhil) yang melakukan hawalah.
    mazhab Hanbali tidak menetapkan persyaratan itu kepada pihak kedua (muhal) karena mereka berpendapat bahwa kalimat perintah pada hadis tersebut menunjukkan bahwa hawalah itu wajib, sehingga tidak diperlukan persetujuan dari pihak kedua (muhal) dan pihak ketiga (muhal ‘alaih).

    Syarat bagi pihak ketiga (muhal ‘alaih)
    Cakap dalam melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal, sebagaimana pihak pertama (muhil) dan pihak kedua (muhal)
    Mazhab Hanafi mensyaratkan adanya pernyataan persetujuan dari pihak ketiga (muhal ‘alaih). sedangkan mazhab Maliki, Hanbali, dan Syafi’i tidak mensyaratkan itu.

    Syarat yang diperlukan terhadap hutang yang dialihkan (muhal bih)
    Yang dialihkan itu adalah sesuatu yang sudah berbentuk hutang-piutang yang sudah pasti. Jika yang dialihkan itu belum merupakan hutang-piutang yang pasti, misalnya mengalihkan piutang yang timbul akibat jual beli yang masih berada dalam masa khiyar maka hawalah tidak sah.
    Apabila pengalihan hutang itu dalam bentuk hawalah muqayyadah, semua ulama fiqh sepakat bahwa baik hutang pihak pertama kepada pihak kedua (muhal bih 1) maupun hutang pihak ketiga terhadap pihak pertama (muhal bih 2), mestilah sama jumlah dan kualitasnya.
    Ulama dari mazhab Syafi’i menambahkan bahwa kedua hutang itu mesti sama pula waktu jatuh tempo pembayarannya
    Jenis Hawalah
    Hawalah haqq
    Hawalah haqq (pemindahan hak) terjadi apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menuntut uang atau dengan kata lain pemindahan piutang.

    Hawalah dayn
    Hawalah dayn (pemindahan hutang) terjadi jika yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang.

    Ditinjau dari sisi lain
    Hawalah muqayyadah
    Hawalah muqayyadah (pemindahan bersyarat) adalah pemindahan sebagai ganti dari pembayaran hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal).

    Hawalah mutlaqah
    Hawalah mutlaqah (pemindahan mutlak) adalah pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti pembayaran hutang pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal).

    Hawalah Muqayyadah
    Perubahan Konsep Hiwalah dari Fiqh Klasik ke Modern
    Akibat Hukum
    Jumhur ulama berpendapat bahwa kewajiban pihak pertama (muhil) untuk membayar hutang kepada pihak kedua (muhal) secara otomatis menjadi terlepas. Sedangkan menurut sebagian ulama mazhab Hanafi, antara lain Kamal ibn al-Hummam, kewajiban itu masih tetap ada selama pihak ketiga (muhal ‘alaih) belum melunasi hutangnya kepada pihak kedua (muhal), karena mereka memandang bahwa akad itu didasarkan atas prinsip saling percaya bukan prinsip pengalihan hak dan kewajiban.
    Akad hawalah menyebabkan lahirnya hak bagi pihak kedua (muhal) untuk menuntut pembayaran hutang kepadapihak ketiga (muhal ‘alaih).
    Mazhab Hanafi yang membenarkan terjadinya hawalah mutlaqah berpendapat, jika akad hawalah mutlaqah terjadi karena inisiatif pihak pertama (muhil), maka hak dan kewajiban antara pihak pertama (muhil) dan pihak ketiga (muhal) yang mereka tentukan ketika melakukan akad hutang-piutang sebelumya masih tetap berlaku, khususnya jika jumlah hutang piutang antara pihak tidak sama.

    Berakhir Akad Hawalah
    Salah satu pihak yang melakukan akan itu memfasakh (membatalkan) akad hawalah
    Pihak ketiga (muhal ‘alaih) melunasi hutang yang dialihkan itu pada pihak kedua (muhal).
    Apabila pihak kedua (muhal) wafat, sedangkan pihak ketiga (muhal ‘alaih) merupakan ahli waris yang mewarisi harta pihak kedua (muhal).
    Pihak kedua (muhal) menghibahkan atau menyedekahkan harta yang merupakan hutang dalam akad hawalah itu kepada pihak ketiga (muhal ‘alaih).
    Pihak kedua (muhal) membebaskan pihak ketiga (muhal ‘alaih) dari kewajibannya untuk membayar hutang yang dialihkan itu.

    Hak pihak kedua (muhal) menurut mazhab Hanafi, tidak dapat dipenuhi karena at-tawa yaitu pihak ketiga (muhal ‘alaih) mengalami muflis (bangkrut) atau wafat dalam keadaan muflis atau dalam keadaan tidak ada bukti otentik tentang akad hawalah, pihak ketiga (muhal ‘alaih) mengingkari itu.
    mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, selama akad hawalah sudah berlaku tetap, karena syarat yang ditetapkan sudah dipenuhi maka akad hawalah tidak dapat berakhir karena at-tawa.
    Fatwa DSN
    Fatwa DSN-MUI No. 12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah
    FATWA DSN-MUI No. 34/DSN-MUI/IX/2002 tentang Letter of Credit (L/C) Impor Syariah
    Fatwa DSN-MUI No. 58/DSN-MUI/V/2007 tentang Hawalah bil Ujrah

    Aplikasi di Bank Syariah
    Anjak Piutang/Factoring

    Hawalah pada L/C Impor Syariah

    Manfaat Hiwalah
    Tersedianya dana cepat dan segar bagi muhal, sehingga ia dapat memperlancarkan produksi/kegiatan bisnisnya

    Penyelesaian hutang piutang dapat berjalan lebih cepat dan simultan. Sehingga proses pembaran hutang piutang tidak lama tertunda, karena menunda-nunda pembayaran bagi yang mampu adalah kezaliman.

    Sebagai fee based income bagi perbankan syariah/LKS syariah

    Pelaksanaan suatu proyek dapat terlaksana (tidak harus lama tertunda) oleh kontraktor, disebabkan adanya produk hiwalah sehingga ia tak harus membayar supplier secara tunai.

    Importir tidak mengalami default (gagal bayar) pada eksportir sehingga memperlancar kegiatan ekspor impor

  20. NAMA : NOVI SULISTIYANI
    NIM : 20090730029
    SISTEM OPERASIONAL JASA LAYANAN PERBANKAN
    Jasa – Jasa Perbankan
    TRANSFER
    Transfer adalah suatu kegiatan jasa bank untuk memindahkan sejumlah dana
    tertentu sesuai dengan perintah si pemberi amanat yang ditujukan untuk keuntungan
    seseorang yang ditunjuk sebagai penerima transfer.
    Baik transfer uang keluar atau masuk akan mengakibatkan adanya hubungan antar
    cabang yang bersifat timbal balik, artinya bila satu cabang mendebet cabang lain
    mengkredit.
    1. TRANSFER KELUAR
    Salah satu jenis pengiriman uang yang dapat menyederhanakan lalu lintas
    pembayaran adalah dengan pengiriman uang keluar. Media untuk melakukan
    transfer ini adalah secara tertulis ataupun melalui kawat.
    Pembatalan Transfer keluar :
    Bila terjadi pembatalan transfer, haruslah diperhatikan bahwa pembatalan tersebut
    hanya dapat dilakukan bila transfer keluar belum dibayarkan kepada si penerima
    uang dan untuk itu bank pemberi amanat harus memberi perintah berupa “stop
    payment” kepada cabang pembayaran. Pembayaran pembatalan ini baru dapat
    dilakukan oleh bank pemberi amanat kepada nasabah pemberi amanat hanya
    apabila telah diterima berita konfirmasi dari bank pembayar bahwa memang
    transfer dimaksud belum dibayarkan.
    2. TRANSFER MASUK
    Transfer masuk, dimana bank menerima amanat dari salah satu cabang untuk
    membayar sejumlah uang kepada seseorang beneficiary. Dalam hal ini bank
    pembayar akan membukukan hasil transfer kepada rekening nasabah beneficiary
    bila ia memiliki rekening di bank pembayar.
    Transfer masuk tidak dikenakan lagi komisi karena si nasabah pemberi amanat
    telah dibebankan sejumlah komisi pada saat memberikan amanat transfer.
    Jasa – Jasa Perbankan
    1. Transfer
    2. Inkaso
    3. Bank garansi
    4. Letter of Credit
    5. Waliamanat
    6. Kliring
    Pembatalan Transfer Masuk :
    Jika terjadi pembatalan, pertama – tama yang harus dilakukan adalah memeriksa
    apakah hasil transfer telah dibayarkan kepada beneficiary. Bila ternyata belum,
    akan diblokir dan dibatalkan untuk kemudian dikembalikan kepada cabang
    pemberi amanat melalui pemindahbukuan.
    INKASO
    Inkaso merupakan kegiatan jasa Bank untuk melakukan amanat dari pihak ke tiga
    berupa penagihan sejumlah uang kepada seseorang atau badan tertentu di kota lain yang
    telah ditunjuk oleh si pemberi amanat.
    1. WARKAT INKASO
    a. Warkat inkaso tanpa lampiran
    Yaitu warkat – warkat inkaso yang tidak dilampirkan dengan dokumen –
    dokumen apapun seperti cek, bilyet giro, wesel dan surat berharga
    b. Warkat inkaso dengan lampiran
    Yaitu warkat – warkat inkaso yang dilampirkan dengan dokumen – dokumen
    lainnya seperti kwitansi, faktur, polis asuransi dan dokumen – dokumen
    penting.
    2. JENIS INKASO
    a. Inkaso Keluar
    Merupakan kegiatan untuk menagih suatu warkat yang telah diterbitkan oleh
    nasabah bank lain. Di sini bank menerima amanat dari nasabahnya sendiri
    untuk menagih warkat tersebut kepada seseorang nasabah bank lain di kota
    lain.
    b. Inkaso masuk
    Merupakan kegiatan yang masuk atas warkat yang telah diterbitkan oleh
    nasabah sendiri.
    Dalam kegiatan inkaso masuk, bank hanya memeriksa kecukupan dari
    nasabahnya yang telah menerbitkan warkat kepada pihak ke tiga. 4
    BANK GARANSI
    Bank garansi adalah salah satu jasa yang diberikan oleh bank berupa jaminan
    pembayaran sejumlah tertentu uang yang akan diberikan kepada pihak yang menerima
    jaminan, hanya apabila pihak yang dijamin melakukan cidera janji. Perjanjian bisa berupa
    perjanjian jual – beli, sewa, kontrak – mengontrak, pemborongan, dan lain – lain. Pihak
    yang dijamin biasanya adalah nasabah bank yang besangkutan, sedangkan jaminan
    diberikan kepada pihak lain yang mengadakan suatu perjanjian dengan nasabah
    Jenis dan Manfaat Bank Garansi
    Beberapa jenis bank garansi yang ada antara lain:
    1. Bank Garansi Pembelian
    Bank garansi diberikan kepada supplier/pabrik sebagai jaminan pembayaran atas
    pembelian barang oleh nasabah atau pihak yang dijamin oleh bank.
    2. Bank Garansi Pita Cukai Tembakau
    Bank garansi yang diberikan kantor bea cukai sebagai jaminan pembayaran pita
    cukai tembakau atas rokok yang dijual oleh pabrik rokok, dalam hal ini pihak
    yang dijamin adalah pabrik rokok.
    3. Bank Garansi Penangguhan Bea Masuk
    Bank garansi yang diberikan kepada kantor bea cukai sebagai jaminan
    pembayaran bea masuk atas barang yang dikeluarkan dari pelabuhan milik
    nasabah.
    4. Bank Garansi Tender (Bid Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi yang akan mengikuti tender atas suatu proyek,
    dalam hal ini pihak yang dijamin adalah kontraktor/leverensi tersebut. Salah satu
    persyaratan kontraktor/leverensi dapat mengikuti tender adalah menyerahkan
    bank garansi.
    5. Bank Garansi Pelaksanaan (Perfomance Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi guna menjamin pelaksanaan pekerjaan/proyek
    oleh kontraktor/leverensi, dalam hal ini pihak yang dijamin adalah
    kontraktor/leverensi.
    6. Bank Garansi Uang Muka (Advance Payment Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi atas uang muka yang diterima oleh
    kontraktor/leverensi, dalam hal ini pihak yang dijamin adalah
    kontraktor/leverensi.
    7. Bank Garansi Pemeliharaan (Retention Bond)
    Bank garansi yang diberikan pemilik proyek (bouwheer) untuk kepentingan
    kontraktor/leverensi guna menjamin pemeliharaan atas proyek yang telah
    diselesaikan oleh kontraktor/leverensi.
    Sedangkan manfaatnya antara lain:
    1. penerimaan berupa biaya administrasi (provisi/komosi) yang merupakan fee based
    income bagi bank
    2. pengendapan dana storjam yang merupakan dana murah bagi bank
    3. memberikan pelayanan kepada nasabahnya sehingga nasabah menjadi lebih loyal
    kepada bank
    LETTER of CREDIT
    Letter of Credit atau dalam bahasa Indonesia disebut Surat Kredit Berdokumen
    merupakan salah satu jasa yang ditawarkan bank dalam rangka pembelian barang, berupa
    penangguhan pembayaran pembelian oleh pembeli sejak LC dibuka sampai dengan
    jangka waktu tertentu sesuai perjanjian. Berdasarkan pengertian tersebut, tipe perjanjian
    yang dapat difasilitasi LC terbatas hanya pada perjanjian jual – beli, sedangkan fasilitas
    yang diberikan adalah berupa penangguhan pembayaran.
    Jenis dan Manfaat Letter of Credit
    Isi dari perjanjian LC mencakup banyak hal seperti jangka waktu, pembatalan, cara
    pembayaran dan lain – lain. Berdasarkan isi perjanjian tersebut, LC dapat dibedakan
    menjadi beberapa jenis:
    1. Ruang Lingkup Transaksi
    – LC Impor:adalah LC yang digunakan untuk mengadakan transaksi jual
    beli barang/jasa melewati batas – batas Negara.
    – LC Dalam Negeri atau Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri
    (SKBDN):adalah LC yang digunakan untuk mengadakan transaksi di
    dalam wilayah suatu Negara.
    2. Saat Penyelesaian
    – Sight LC:adalah LC yang penangguhan pembayarannya sampai dengan
    dokumen tiba.
    – Usance LC:adalah LC yang penangguhan pembayarannya sampai wesel
    yang diterbitkan jatuh tempo (tidak lebih lama dari 180 hari).
    3. Pembatalan
    – Revocable LC:adalah LC yang dapat dibatalkan atau diubah secara
    sepihak oleh issuing bank setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu
    kepada pihak yang berhak menerima pembayaran (beneficiary). LC jenis
    ini biasanya digunakan sebagai bekal awal sebelum negosiasi antara
    importir dan eksportir mencapai kesepakatan final. 7
    – Irrevocable LC:adalah LC yand tidak dapat dibatalkan atau diubah secara
    sepihak oleh issuing bank setiap saat tanpa persetujuan beneficiary.
    Apabila suatu LC tidak secara eksplisit menyatakan ‘revocable’ atau
    ‘irrevocable’, maka LC tersebut dianggap sebagai irrevocable LC.
    4. Pengalihan Hak
    – Transferable LC:adalah LC yang diberikan hak kepada beneficiary untuk
    mengalihkan sebagian atau seluruh hak penerimaan pembayaran kepada
    pihak lain. Pengalihan hak ini hanya dapat dilakukan satu kali.
    – Untransferable LC:adalah LC yang tidak memberikan hak kepada
    beneficiary untuk mengalihkan sebagian atau seluruh hak penerimaan
    pembayaran kepada pihak lain.
    5. Pihak advising bank
    – General/Negotiating/Non-Restricted LC:adalah LC yang tidak
    menyebutkan dengan bank yang akan menjadi advising bank.
    – Restricted/Straight LC:adalah LC yang menyebutkan dengan tegas bank
    yang menjadi advising bank.
    6. Cara Pembayaran kepada Beneficiary
    – Standby LC:adalah surat pernyataan dari pihak bank yang menyatakan
    bahwa apabila pihak yang dijamin (nasabah bank tersebut) cidera janji
    maka pihak bank akan menerbitkan Sight LC untuk kepentingan yang
    menerima jaminan yaitu beneficiary.
    – Red-Clause LC:adalah LC yang memperkenankan penarikan sejumlah
    tertentu uang muka oleh beneficiary. LC ini diterbitkan biasanya hanya
    apabila issuing bank benar – benar percaya pada reputasi beneficiary.
    – Clean LC:adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dapat
    dilakukan hanya atas dasar kwitansi/wesel/cek tanpa harus menyerahkan
    dokumen pengiriman barang.
    Manfaat yang dapat diharapkan oleh bank dengan memberikan fasilitas Letter of
    Credit kepada nasabahnya antara lain adalah:
    – Penerimaan biaya administrasi berupa provisi/komisi yang merupakan fee
    based income bagi bank.
    – Pengendapan dana setoran yang merupakan dana murah bagi bank.
    – Pemberian pelayanan kepada nasabahnya sehingga nasabah menjadi lebih
    loyal kepada bank.
    WALIAMANAT
    Waliamanat adalah pihak yang mewakili kepentingan Pemegang Efek bersifat
    uang. Bank Umum yang akan bertindak sebagai Wali Amanat wajib terlebih dahulu
    terdaftar di Bapepan untuk mendapatkan Surat Tanda Terdaftar sebagai Wali Amanat.
    Manfaat dari Wali Amanat adalah:
    1. Memenuhi salah satu persyaratan atas penerbitan obligasi.
    2. Meningkatkan kepercayaan investor untuk membeli obligasi yang diterbitkan.
    3. Menambah kepercayaan investor atas bonafiditas emiten.
    Persyaratan untuk menjadi Wali Amanat adalah:
    1. Bertempat kedudukan di Indonesia.
    2. Dalam dua tahun terakhir secara berturut – turut memperoleh laba/keuntungan.
    3. Laporan keuangan telah diperiksa akuntan publik/akuntan Negara untuk dua
    tahun berturut – turut dengan pernyataan pendapat wajar tanpa syarat untuk tahun
    terakhir.
    Berikut adalah beberapa tugas dari Wali Amanat:
    1. Menganalisi kemampuan dan kredibilitas emiten apakah secara operasional
    perusahaan (emiten) mempunyai kesanggupan menghasilkan dan membayar
    obligasi beserta bunganya.
    2. Menilai kekayaan emiten yang akan dijadikan jaminan Wali Amanat harus
    mengetahui dengan pasti apakah nilai kekayaan emiten yang menjadi jaminan
    setara atau memadai dibanding nilai obligasi yang diterbitkan.
    3. Melakukan pengawasan terhadap kekayaan emiten. Apabila harta yang menjadi
    jaminan tadi dialihkan pemanfaatan atau pemilikannya haruslah sepengetahuan
    Wali Amanat.
    KLIRING
    Salah satu fungsi bank yang sangat vital terutama dalam mrmbantu transaksi
    bisnis adalah penyediaan jasa – jasa yang disediakan bank umum antara lain:
    1. KLIRING
    Kliring adalah suatu cara penyelasaian utang – piutang antara bank – bank
    peserta kliring dalam bentuk warkat atau surat – surat berharga disuatu tempat
    tertentu.
    Warkat kliring antara lain: cek, bilyet, CD, Nota Debet dan Nota Kredit.
    Warkat harus dinyatakan dalam mata uang rupiah, bernilai nominal penuh, dan
    telah jatuh tempo.
    Kliring dibagi 2, yaitu:
    1. Kliring Manual
    2. Kliring Elektronik
    Bank Peserta Kliring
    Bank yang termasuk sebagai peserta kliring adalah bank umum yang berada
    dalam wilayah tertentu dan tidak dihentikan kepesertaannya dalam kliring oleh Bank
    Indonesia. Sebuah bank dapat dilarang untuk mengikuti kliring karena berbagai alas an.
    Jika salah satu peserta kliring karena suatu hal tidak dapat turut serta dalam kliring,
    peserta tersebut wajib mengajukan permohonan pada penyelenggara kliring sepuluh hari
    sebelumnya.
    Alas an pengunduran diri:
    – Kesulitan keuangan sehingga tidak dapat memenuhi syarat – syarat ikut
    kliring
    – Masalah dalam kepenggurusan
    Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu kantor bank umum agar dapat menjadi peserta
    kliring yaitu:
    1. suatu kantor bank umum diwajibkan ikut serta dalam kliring, setelah mendapat
    persetujuan Bank Indonesia.
    2. mempunyai izin usaha yang sah 11
    3. keadaan administrasi dan keuangan memungkinkan.
    4. simpanan masyarakat dalam bentuk giro dan kelonggaran tarik kredit yang
    diberikan oleh kantor tersebut telah mencapai sekurang – kurangnya 20% dari
    syarat modal disetor minimum bagi pendirian bank baru di wilayahnya.
    5. menyetor jaminan kliring sebesar 50% rata – rata kewajiban 20 hari terakhir
    dikurangi 40% rata – rata tagihan 20 hari terakhir.
    6. bank peserta menunjuk minimal orang wakil tetap pada lembaga kliring.
    Mekanisme Kliring
    Pertemuan kliring dilakukan dalam dua tahap yaitu:
    a. Kliring Penyerahan
    Kegiatan yang harus dilakukan:
    1. Warkat dicap yang memuat sebutan “kliring” dan dicantumkan nomor
    kode kelompok peserta.
    2. Persetujuan penyelenggara dan peserta lain.
    b. Kliring Retur
    1. Setelah warkat dikembalikan kemudian dikelompokkan menurut peserta
    dan dicatat dalam daftar kliring retur lengkap dengan nilai nominalnya.
    2. Penyelenggara selanjutnya menyusun neraca gabungan peserta.
    3. Mencari pinjaman dari bank lain atau call money.
    Kliring Elektronik
    adalah kliring lokal dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo
    kliring yang didasarkan pada data keuangan elektronik disertai penyampaian warkat
    (surat berharga.
    Tujuan diselenggarakannya elektronik ini adalah:
    1. meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran cepat, akurat,
    andal, aman, dan lancar.
    2. meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan keamanan pelaksanaan dan pengawasan
    proses.
    Mekanisme Kliring
    a. Peserta, terdiri dari:
    1. Peserta Langsung Aktif (PLA)
    2. Peserta Langsung Pasif (PLP)
    3. Peserta Tidak Langsung (PTL)
    b. Fasilitas bagi Peserta, meliputi:
    1. Informasi hasil kliring
    2. Laporan hasil proses kliring
    3. Rekaman data warkat yang diterima
    4. Salinan warkat dan permintaan ulang atas laporan hasil proses kliring
    5. Investigasi selisih
    6. Pengujian kualitas MICR code line
    c. Proses
    1. Siklus kliring nominal besar
    2. Siklus kliring ritel
    d. Settlement
    Dasar perhitungan dalam kliring elektronik di bawah Rp 100 juta adalah Data
    Keuangan Elektronik (DKE). Perhitungan hasil kliring akan tercemin dalam
    Bilyet saldo Kliring yang dapat bersaldo kredit (menang) atau debet (kalah). Hasil
    ini dibukukan langsung ke rekening giro tiap bank di Bank Indonesia tanpa
    melihat kecukupan dana (net settlement).

    e. Biaya
    Bank Indonesia mengenakan biaya kepada para peserta kliring.
    Sistem operasional bank syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.
    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23
    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    b.Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
    Kemitraan (Musyarakah)
    Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah kemitraan (musyarakah). Transaksi musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusi dan pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment), atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat di nilai dengan uang.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

  21. Nama: Lanik widyawati
    NIM: 20090730039

    SISTEM DAN OPERASIONAL BANK SYARIAH

    1. Fungsi Bank Syariah
    a. Manajer Investasi
    Yang mengelola investasi atas dana nasabah dengan menggunakan akad mudharabah atau dengan bertindak sebagai agen investasi.
    b. Investor
    Yang menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya dengan menggunakan alat investasi yang sesuai dengan prinsip syariah dan membagi hasil yang diperoleh sesuai nisbah yang disepakati antara pihak bank dan pemilik dan pemilik dana.
    c. Jasa Keuangan
    Dalam menjalankan fungsi ini, bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank non-syariah yaitu sebagai penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, misalnya memberikan jasa kliring, transfer dan lain-lain, sepanjang tidak bertentangn dengan prinsip syariah.
    d. Fungsi Sosial
    Yaitu pengembangan fungsi sosial berupa pengelolaan dana ZIS (zakat, infaq, shadaqah) serta pinjaman kebajikan (qardhul hasan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    2. Karakteristik Bank Syariah
    Bank syariah beroperasi atas dasar prinsip bagi hasil (profit sharing), hal ini merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank Islam secara keseluruhan.
    Bank syariah adalah bank yang berasaskan antara lain pada asas kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal serta melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah. Kegiatan bank syariah merupakan implementasi dari prinsip ekonomi Islam dengan karakteristik antara lain sebagai berikut :

    a. Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya,
    b. Tidak mengenal konsep nilai waktu dari uang (time value of money),
    c. Konsep uang sebagai alat tukar, bukan sebagai komoditas,
    d. Tidak diperkenankan melakukan kegiatan yang bersifat spekulatif,
    e. Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang,
    f. Tidak diperkenankan dua transaksi dalam satu akad.

    3. Transaksi Muamalah
    Transaksi adalah kejadian ekonomi atau keuangan yang melibatkan paling tidak dua pihak yang saling melakukan pertukaran, melibatkan diri dalam perserikatan usaha, pinjam meminjam, dan lain – lain atas dasar suka sama suka ataupun dasar suatu ketetapn hukum atau syariat yang berlaku.
    a. Penghimpunan dana
    Sebagaimana pada bank konvensional, penghimpunan dana di bank umum syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito sedangkan BPRS hanya melayani tabungan dan deposito namun demikian mekanisme operasional penghimpunan dana ini harus disesuaikan dengan prinsip syariah. Prinsip operasional syariah yang telah diterapkan secara luas dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip wadi’ah dan mudharabah.
    Prinsip Wadi’ah
    Al-wadi’ah merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lainnya baik individu maupun bdan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.
    Pada pelaksanaannya, wadi’ah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu wadi’ah yad al-amanah dan wadi’ah yad adh-dhamana.
    – Wadi’ah yad al-amanah
    Pihak yang pertama menerima titipan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak yang memberikan titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan.
    – Wadi’ah yad adh-dhamanah
    Pihak yang pertama menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan tanpa izin pemilik barang atau uang dan harus bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang titipan. Semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan barang atau uang tersebut menjadi hak penerima titpan, dalam hal ini bank sebagai penerima titipan dapat memberikan insenstif berupa bonus kepada si penitip.
    Prinsip Mudharabah
    Tujuan dari mudharabah adalah kerja sama antara pemilik dana (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) dalam hal ini bank. Jika terjadi kerugian maka bank bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
    Secara garis besar mudharabah dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut :
    – Mudharabah Muthalaqah
    Penerapan mudharabah muhlaqah dapat berupa tabungan dan deposito sehingga terdapt dua jenis penghimpunan dana yaitu : tabungan mudharabah dan deposito mudharabah. Berdasarkan prinsip ini tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana yang dihimpun.
    – Mudahrabah Muqayyadah
    Jenis ini merupakan simpanan khusus yang terikat, di mana pemilik dana (shahibul maal) memberikan batasan atas dana yang diinvestasikannya. Mudharib hanya bisa mengelola dana tersebut sesuai dengan batasan dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.

    b. Penyaluran dana
    Dalam penyaluran dana bank syariah harus berpedoman kepada prinsip kehati-hatian. Sehubungan dengan hal ini bank diwajibkan untuk meneliti secara seksama calon nasabah penerima dana berdasarkan azas pembiayaan yang sehat.
    Prinsip Jual Beli (Ba’i)
    Prinsip ini meliputi Murabahah, Salam, dan Istishna’
    – Bai’ Al-Murabahah
    Bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Barang diserahkan segera dan pembayaran dilakukan secara tangguh. Prinsip ini umumnya diterapkan dalam pembiayaan pengadaan barang investasi.
    – Bai’ As-Salam
    Adalah pembelian barang untuk penghantaran yang ditangguhkan dengan pembayaran di muka. Bank sebagai pembeli, dan nasabah sebagai penjual. Dalam transaksi ini ada kepastian tentang kualitas, harga dan waktu peyerahan. Prinsip ini biasanya diterapkan pada pembiayaan berjangka pendek untuk produksi agribisnis atau industri sejenis lainnya.
    – Bai’ Istishna’
    Prinsip ini menyerupai salam, namun pada prinsip ini pembayran dapat di muka, dicicil atau di belakang. Istishna’ umumnya diterapkan dalam pembiayaan manufaktur, industri kecil-menengah dan kontruksi.

    Prinsip Sewa (Ijarah)
    Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Prinsip ini dilandasi dengan adanya pemindahan manfaat, pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila pada jual beli objek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah objek transaksinya adalah jasa. Dalam dunia usaha dikenal dengan finance lease. Pada akhir masa sewa, bank dapat menjual barang yang disewakannya kepda nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal ijarah wa iqtina / ijarah muntahiyyah bittamlik (sewa yang diikuti dengan perpindahan kepemilikan). Harga sewa dan jual disepakati pada awal perjanjian. Objek sewa harus bermanfaat dan dibenarkan oleh syariah dan nilai dari manfaat dapat diperhitungkan atau diukur.

    Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)
    Prinsip bagi hasil atau syirkah meliputi musyarakah, mudharabah muthlaqah, dan mudharabah muqayyadah.
    – Musyarakah
    Adalah kerjasama dalam suatu uasaha oleh dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
    Dalam perbankan musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk mebiayai proyek tersebut. Modal disetor dapat berupa barang perdagangan, uang, property, dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang. Semua modal dicampur untuk dijadikan modal proyek dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek.
    – Mudharabah Muthlaqah
    Kerjasama di mana shahibul maal memberikan dana 100% kepada mudharib yang memiliki keahlian. Jumlah modal yang diserahkan kapada nasabah selaku pengelola modal harus diserahkan tunai, dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama.
    – mudharabah muqayyadah
    Pada dasarnya sama dengan mudharabah muthlaqah perbedaanya terletak pada adanya pembatasan modal sesuai dengan permintaan pemilik modal.

    c. Produk Jasa
    Akad pelengkap dikembangkan sebagai akad pelayanan jasa, akad ini dioperasionalkan denga pola sebagai berikut :

    – Al-Hiwalah (alih hutang piutang)
    Pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya.
    – Ar-Rahn (gadai)
    Menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis.
    – Al-Qardh (pinjaman kebaikan)
    Pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.
    – Al-Wakalah (penyerahan)
    Pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepda yang lain dalam hal-hal yang diwakilkan.
    – Al-Kafalah (jaminan)
    Jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung, dalam pengertian lain mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai peminjam.

  22. Nama : Iim indrawanti
    NIM: 20090730067

    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

    SISTEM OPERASIONAL JASA LAYANAN PERBANKAN SYARIAH PRODUK PENGHIMPUN DANA
    1. Wadiah / Titipan

    Menitip adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/ barangnya. Dengan demikian cara titipan melibatkan adanya orang yang menitipkan (nasabah), pihak yang dititipi (bank syariah), barang yang dititipkan (dana nasabah). Menitipkan sebenarnya bukan usaha perniagaan yang lazim, kecuali penerima titipan menetapkan keharusan membayar biaya penitipan atau administrasi bagi penitip. Maka Titipan bisa memenuhi syarat perniagaan yang lazim. Artinya bank harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan karena sudah dibayar biaya administrasinya. Rekening giro di bank syariah dikelola dengan sistem titipan sehingga biasa dikenal dengan Giro Wadiah, karena pada dasarnya rekening giro adalah dana masyarakat di bank untuk tujuan pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Artinya giro hanyalah merupakan dana titipan nasabah, bukan dana yang diinvestasikan. Namun dana nasabah pada giro bisa dimanfaatkan oleh bank selama masih mengendap, tetapi kapanpun nasabah ingin menariknya bank wajib membayarnya. Sebagai imbalan dari titipan yang dimanfaatkan oleh bank syariah, nasabah dapat menerima imbal jasa berupa bonus. Namun bonus ini tidak diperjanjikan di depan melainkan tergantung dari kebijakan bank yang dikaitkan dengan pendapatn bank. Rekening tabungan harian yang memberlakukan ketentuan dapat ditarik setiap saat juga dikelola dengan cara titipan, karena sifatnya mirip dengan giro hanya berbeda mekanisme penarikannya.
    Wadiah Yad Dhamanah
     Pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan.
     Pihak bank dalam hal ini mendapatkan bagi hasil dari penggunaan dana. Bank dapat memberikan insentif kepada penitip dalam bentuk Bonus.
    Aplikasi Perbankan : Giro Wadiah
    Ketentuan GIRO Wadiah
    1. Bersifat Simpanan
    2. Simpanan Bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan
    3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank

    2. Mudharabah
    adalah suatu bentuk perniagaan dimana pemilik modal (nasabah) menyetorkan modalnya kepada pengelola (bank) untuk diusahakan dengan keuntungan akan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sedangkan kerugian, jika ada akan ditanggung oleh si pemilik modal. Dengan demikian cara investasi melibatkan pemilik modal (nasabah), pengelola modal (bank), modal (dana) harus jelas berapa jumlahnya, jangka waktu pengelolaan modal, jenis pekerjaan atau proyek yang di biayai, porsi bagi hasil keuntungan. Deposito di bank syariah dikelola dengan cara investasi atau mudarobah, sehingga biasa dikenal dengan Deposito Mudharabah. Bank Syariah tidak membayar bunga deposito kepada deposan tetapi membayar bagi hasil keuntungan yang ditetapkan dengan nisbah. Beberapa jenis tabungan berjangka juga dikelola dengan cara mudharobah misalnya tabungan pendidikan dan tabungan hari tua, tabungan haji, tabungan berjangka ini biasa dikenal istilah Tabungan Pendidikan Mudharabah, Tabungan Haji. Tabungan-tabungan tersebut tidak dapat ditarik oleh pemilik dana sebelum jatuh tempo sehingga memenuhi syarat untuk diinvestasikan

    Mudharabah
    Suatu akad bersama atau perkongsian antara dua pihak yaitu :
     Pihak pertama sebagai penyedia modal/ dana untuk suatu usaha (disebut sebagai shahib al maal)
     Pihak kedua yang bertanggung jawab atas pengelolaan dana/ manajemen usaha (disebut sebagai mudharib)

    Tabungan Mudharabah
    1. Nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
    2. Bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan perinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak lain.
    3. Modal harus dinyatakan dengan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
    4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nasabah dan dituangkan dalam akad pembukuan rekening.
    5. Mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.

    SISTEM OPERASIONAL JASA LAYANAN PERBANKAN SYARIAH PRODUK PENYALURAN DANA

    Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli dengan marjin (Murabahah)
    Murabahah adalah transaksi jual-beli di mana bank bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan tertentu. Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Harga jual di cantumkan dalam akad jual berlakunya akad. Dalam perbankan, murabahah lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan. Dalam transaksi ini barang di serahkan segera setelah akad sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh.
    Contoh : pembiayaan pembelian kendaraan bermotor.
    Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli dengan pembayaran dilakukan dimuka (Salam)
    Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada, namun kuantitas, kualitas, harga. Dan waktu penyerahan barang harus di tentukan secara pasti. Bank membayar secara tunai kepada supplier dan barang diserahkan secara tangguh. Ketika barang telah diserahkan kepada bank, maka bank akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau kepada nasabah itu sendiri secara tunai atau secara cicilan.
    Contoh : pembiayaan untuk pembelian hasil pertanian.
    Pembiayaan berdasarkan prinsip jual beli dengan pesanan (Istishna)
    Produk Istishna menyerupai produk salam, namun dalam istishna pembayaran dapat dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (termin) pembayaran. Skim istishna dalam bank syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
    Pembiayaan berdasarkan Prinsip Sewa (Ijarah)
    Transaksi Ijarah adalah tansaksi dimana bank menyewakan suatu obyek sewa kepada nasabah dan atas manfaat yang diterima oleh nasabah atas penggunann obyek sewa yang disewa, bank dapat mengalihkan ongkos sewa. Pada akhir disewakannya kepada nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal ijarah muntahhiyah bittmlik (sewa yang diikuti dengan berpindahaan kepemilikan).
    Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.
    Contoh : obligasi syariah.
    Kemitraan (Musyarakah)
    Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah kemitraan (musyarakah). Transaksi musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusi dan pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment), atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat di nilai dengan uang.
    Contoh: pembiayaan KPR dimana porsi kepemilikan bank semakin lama semakin menurun sedangkan kepemilikan nasabah semakin menigkat (decreasing musyarakah/musyarakah mutanaqisah).
    Penyertaan Modal (Mudharabah)
    Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak dimana salah satu pihak mempercayakan sejumlah modal kepada pihak lain yang bertindak sebagai pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Dalam mudharabah tidak di persyaratkan adanya wakil pemilik modal (shahibul maal) dalam manajemen proyek
    Contoh: pembiayaan modal kerja perusahaan tekstil.
    Pinjaman Uang (Qardh)
    Qardh adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan antara lain untuk pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji diberikan pinjaman haji. Nasabah akan melunainya sebelum keberangkatannya ke haji.
    Atas jasa bank memberikan dana talangan tersebut bank dapat memperoleh fee (ujrah).
    Contoh lain penggunaan skema qardh dalam perbankan syariah adalah pemberian dana talangan/pinjaman uang kepada nasabah premium yang memiliki deposito di bank tersebut guna mengatasi kesulitan likuiditas nasabah tersebut. Pinjaman uang tersebut dijamin dengan deposit yang dimiliki nasabah. Atas jasa peminjaman dana bank memperoleh fee (ujrah) yang besarnya tidak tergantung pada jumlah dana yang di pinjamkan.
    Perwakilan (Wakalah)
    Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan (pekerjaan) dari nasabah kepada bank dan atas jasanya tersebut bank meminta imbalan tertentu.
    Contoh: pembukaan L/C dan transfer uang.
    Penjaminan (Kafalah)
    Produk di perbankan syariah yang menggunakan skema kafalah adalah produk bank garasi. Dalam kafalah, terdapat pengalihan tanggung jawab nasabah kepada bank dan atas jasanya bank berhak meminta imbalan.
    Contohnya: kafalah digunakan dalam produk kredit syariah.

  23. Rahmi Khoiril Gina
    20090730037

    Jenis produk perbankan
    Nov 27, 2010
    Adalah pelayanan Bank terhadap nasabah dengan tidak menggunakan modal tunai. Atas jasa yang diberikan, bank akan menerima imbalan (fee).
    Jenis Produk Bank bila dilihat dari fungsi pelayanan jasa (service) terdiri dari:
    a. Transfer (pengiriman uang)
    b. Inkaso (pencairan cek)
    c. Valas (penukaran mata uang asing)
    d. L/C (Lettter of Credit)
    e. Letter of Guarantee dll

    Bank syariah menggunakan akad dalam penetapan produknya. Akad yang dipakai sebagai dasar dalam jasa perbankan syariah:
    1. Wakalah (Perwakilan)
    Produk yang memakai akad ini: Transfer, Inkaso, Debit Card, L/C
    2. Kafalah (Penjaminan)
    Produk yang memakai akad ini: Bank Guarantee, L/C, Charge Card
    3. Hawalah (Pengalihan Piutang)
    Produk yang memakai akad ini: Bill Discounting, Post Dated Check (cek mundur), anjak piutang
    4. Sarf (Pertukaran mata uang)
    Produk yang memakai akad ini: Jual beli Valuta Asing Dalam perbankan syariah, jasa perbankan menggunakan dana/ fasilitas bank sendiri, oleh karena itu pendapatan yang diperoleh dari penjualan jasa ini harus disendirikan atau tidak ikut dibagikan kepada pemilik simpanan.

    Untuk mempermudah transaksi antarBank dan antara Bank dengan Bank Indonesia seperti perbankan konvensional, maka Bank syariah juga menggunakan produk Interbank.

    http://akimee.com/jenis-produk-perbankan-artikel-411.html

  24. Nama : wakhidah tri adityawati
    NIM : 20090730034

    Artikel berbagai produk dan sistem operasional jasa layanan perbankan

    Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Setelah deregulasi perbankan di Indonesia tanggal 1 Juni 1983 maka sistem perbankan di Indonesia diberi keluasaan dalam mengembangkan usahanya dengan mengemban misi pemerintah yaitu sebagai Agent of Development dalam mensukseskan pembangunan disegala bidang.
    Dewasa ini semakin ketatnya antar bank menggambarkan tidak mudahnya untuk melakukan usaha menghimpun dana dari masyarakat. Persaingan yang begitu ketat disektor perbankan baik itu antara bank milik pemerintah atau swasta nasional juga dengan bank asing, karena bank asing telah diberi kebebasan untuk mengembangkan operasinya di Indonesia.
    Akibat begitu ketatnya persaingan, maka bank-bank berlomba-lomba mempromosikan atau mengenalkan produk yang mereka tawarkan dengan berbagai macam kelebihan dan keunggulan dari produk perbankan tersebut. Salah satu bank yang ikut berlomba adalah Bank Negara Indonesia (BNI) ikut berlomba dan berusaha untuk memasarkan produknya agar dapat menjaring nasabah dan menjaring pengendapan dana sebanyak mungkin di Bank Negara Indonesia (BNI).
    Sebagai salah satu bisnis unit Bank BNI, Divisi Pengelolaan Bisnis Kartu atau Card Center juga mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan dengan tujuan ikut serta menjaring pengumpulan dana yang pada akhirnya mendukung persaingan Bank BNI di kancah perbankan nasional. Kartu kredit, dan Kartu Debit beserta segala bentuk fiturnya dimaksudkan sebagai pelayanan untuk memberikan kepuasan bagi Nasabah BNI. ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dan Phone Plus (sekarang Call Center BNI) juga merupakan bagian dari sarana yang memudahkan nasabah Bank BNI melakukan transaksi atas dana yang mereka percayakan kepada Bank BNI.
    Dengan adanya ATM yang berfungsi 24 jam, para nasabah pemegang kartu debit dan juga kartu kredit BNI bisa melakukan berbagai transaksi tanpa batasan jam kerja atau transaksi yang bersifat segera dan penting, begitu juga dengan layanan phone plus (Call Center) yang juga bekerja 24 jam, para nasabah yang sudah memanfaatkan sarana tersebut dapat melakukan berbagai transaksi hanya memerlukan sarana telepon, mereka tidak perlu mendatangi cabang-cabang Bank BNI, dengan demikian nasabah dimudahkan karena dapat menghemat waktu dan tenaga.
    Namun sampai sejauh ini penulis melihat pelayanan yang diberikan belum maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan oleh nasabah Bank BNI secara keseluruhan maupun nasabah pengguna beberapa fasilitas yang telah diuraikan sebelumnya. Disini diharapkan perusahaan cepat tanggap terhadap kelemahan pelayanan yang ada dan berusaha untuk memperbaikinya. Karena apabila kelemahan ini dibiarkan begitu saja, maka akan menimbulkan citra pelayanan yang jelek dan para nasabah tidak akan lagi mempergunakan layanan produk tersebut yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
    Layanan bank akan menjadikan ukuran kapabilitas usaha bank yang bersangkutan maka profesionalisme atau layanan yang sebaik-baiknya mutlak terjadi dan memang harus dilaksanakan. Maka menyadari akan semua itu, maka pelayanan akan berkorelerasi secara positif terhadap kepuasan nasabah amat sangat diperlukan yang pada akhirnya akan bermuara kepada keberhasilan menarik nasabah.
    Berdasarkan uraian yang telah digambarkan diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti pelaksanaan pelayanan Pelayanan di Bank BNI, Sehingga penulis ingin mencoba memberi judul skripsi ini : “Analisis Pelaksanaan Pelayanan Pada Pusat Penunjang Sistem Operasional BNI Card Centre Terhadap Kepuasan Nasabah Pada Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk”.

    Jasa layanan bank syariah

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah:

    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)

    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian).

    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: 22

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

  25. Inne Handayani
    20090730058
    Tugas SOBS
    PRODUK DAN PROSEDUR
    JASA LAYANAN PERBANKKAN SYARIAH
    Produk jasa perbankan lainnya yaitu layanan perbankan dimana bank syariah menerima imbalan atas jasa perbankan di luar fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi keuangan.
    1. Wakalah (Perwakilan)
    Wakalah atau perwakilan, berarti penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandat. Yakni bank diberikan mandat oleh nasabah untuk melaksanakan suatu perkara sesuai dengan amanah/permintaan nasabah. Secara teknis perbankan wakalah adalah akad pemberian wewenang/kuasa dari lembaga/seseorang (sebagai pemberi mandat) kepada pihak lain (sebagai wakil, dalam hal ini bank) untuk mewakili dirinya melaksanakan urusan dengan batas kewenangan dan dalam waktu tertentu. Segala hak dan kewajiban yang diemban wakil harus mengatasnamakan yang memberi kuasa. Bank dan nasabah yang dicantumkan dalam akad pemberian kuasa harus cakap hukum. Akad al-wakalah digunakan untuk jasa layanan:
    a. Pembukaan letter of credit (L/C).
    Apabila dana nasabah ternyata tidak cukup, maka penyelesaian L/C (settlement L/C) dapat dilakukan dengan pembiayaan murabahah, salam, ijarah, mudharabah, atau musyarakah. Kelalaian dalam menjalankan kuasa menjadi tanggung jawab bank, kecuali kegagalan karena force majeure menjadi tanggung jawab nasabah. Apabila bank yang ditunjuk lebih dari satu, maka masing-masing bank tidak boleh bertindak sendiri-sendiri tanpa musyawarah dengan bank yang lain, kecuali dengan seijin nasabah. Tugas, wewenang dan tanggung jawab bank harus jelas sesuaikehendak nasabah bank. Setiap tugas yang dilakukan harus mengatasnamakan nasabah dan harus dilaksanakan oleh bank. Atas pelaksanaan tugasnya tersebut, bank mendapat pengganti biaya berdasarkan kesepakatan bersama. Pemberian kuasa berakhir setelah tugas dilaksanakan dan disetujui bersama antara nasabah dengan bank. Produk L/C adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank syariah dimaksud sebagai bank pembuka untuk membayar kepada penerima atau order-nya atau menerima dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau untuk menegosiasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen. L/C hanya diterbitkan untuk transaksi pembelian barang di luar negeri (transaksi internasional). Valuta yang digunakan adalah valuta asing atau pun rupiah. L/C harus diterbitkan dalam bentuk irrevocable, yaitu tidak dapat diubah atau dibatalkan sepihak selama jangka waktu berlakunya L/C. Produk ini memberikaan manfaat berupa kemudahan kepada nasabah dalam memenuhi kebutuhan barang modalnya;
    kepastian dalam memperoleh barang yang dibutuhkan dari supplier di luar negeri; dan supplier yakin barang tersebut akan dibayar bank.
    Persyaratan bagi calon nasabah L/C import adalah sebagai berikut:
    • Memiliki rekening di bank syariah dimaksud;
    • Memiliki izin import
    • Mengajukan permohonan pembukaan L/C
    • Supplier (beneficiary) harus berkedudukan di luar negeri
    • Dibukakan line facility (pembiayaan dari bank) apabila
    dana jaminan nasabah tidak mengcover seluruh nilai
    L/C
    • Dikenakan biaya komisi, biaya SWIFT (Society for
    Worldwide Interbank Financial Telecommunication) dan
    handling document sesuai ketentuan bank syariah.
    b. SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    Yaitu domestik L/C. Produk ini membantu nasabah dalam transaksi jual beli di dalam negeri, biasanya antar pulau/kota. Melalui produk ini, penjual dan pembeli dilindungi dalam suatu kontrak. Karena banyak sekali transaksi jual-beli batal karena penjual menginginkan pembeli mengirimkan dananya terlebih dahulu. Atau sebaliknya, pembeli menginginkan barangnya dikirim terlebih dahulu. Dengan menggunakan produk ini, barang akan diterima oleh pembeli jika dana sudah diterima oleh pihak bank. Dana akan diterima oleh penjual jika pembeli sudah menerima barangnya. Dengan demikian, penjual melindungi dirinya dari penipuan pembayaran. Di lain pihak, pembeli melindungi dirinya dari penipuan pengiriman barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah diperjanjikan.
    Dalam perbankan prosedur transaksi SKBDN adalah janji
    tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant)
    yang mengikat bank syariah dimaksud sebagai bank
    pembuka untuk mebayar kepada penerima atau order-nya,
    atau menerima dan membayar wesel pada saat jatuh tempo
    yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain
    untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau untuk
    menegosiasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas
    penyerahan dokumen.
    SKBDN ini hanya diterbitkan untuk transaksi pembelian
    barang di dalam negeri. Valuta yang digunakan dalam
    rupiah dan dapat diterbitkan dalam valuta asing sepanjang
    SKBDN terkait dengan transaksi perdagangan internasional.
    Perpindahan barang dilakukan di dalam negeri kecuali SKBDN
    diterbitkan atas dasar master L/C untuk tujuan ekspor.
    Manfaat yang dapat diberikan dalam produk ini adalah
    memberikan kemudahan kepada nasabah dalam memenuhi
    kebutuhan barang modalnya, dan kepastian dalam
    memperoleh barang yang dibutuhkan dari supplier karena
    supplier yakin barang tersebut akan dibayar bank.
    Persyaratan bagi calon nasabah SKBDN adalah sebagai
    berikut:
    • Memiliki rekening di bank syariah dimaksud;
    • Nasabah dan supplier (beneficiary)
    • Mengajukan permohonan pembukaan L/C
    • Supplier (beneficiary) harus berkedudukan di luar negeri
    • Dibukakan line facility (pembiayaan dari bank) apabila
    dana jaminan nasabah tidak meng-cover seluruh nilai
    L/C
    • Dikenakan biaya komisi, biaya SWIFT dan handling
    document sesuai ketentuan bank syariah.
    Dengan dukungan teknologi SWIFT, nasabah dapat menikmati
    layanan L/C ekspor yang bebas dari overdue interest. Untuk
    layanan pembukaan L/C impor nasabah dimungkinkan
    mendapatkan pembiayaan Modal Kerja Impor atau dengan
    melakukan setoran jaminan 100%.
    C. Collection
    Yaitu layanan pengumpulan dokumen untuk kemudian
    melaksanakan penagihan (incoming transfer) maupun
    pengiriman uang (outgoing transfer) kepada correspondent
    bank atas transaksi yang dilakukan oleh nasabah dengan
    mitranya di luar negeri. Bank mendapatkan imbalan atas
    jasa tersebut.
    d. Kliring
    Yaitu penarikan atau pencairan warkat atau cek atau
    bilyet giro yang diterbitkan oleh bank lain, dimana lokasi
    bank tertariknya berada dalam satu wilayah kliring (Bank
    Indonesia). Layanan ini diperuntukkan bagi perorangan dan
    Badan Usaha / Badan Hukum.
    Karakteristik layanan ini adalah: hasil penagihan atau hasil
    kliring dikreditkan ke rekening nasabah atau ditransfer ke
    rekening nasabah di bank lain; dalam valuta rupiah; bank
    hanya sebagai penerima amanat dan mewakili (wakalah)
    nasabah, bila warkat tersebut ditolak bank tertarik, maka
    bank syariah tidak bertanggung jawab.
    Layanan ini memberikan manfaat: aman, nasabah dapat
    menerima pembayaran berupa warkat dari client-nya
    tanpa harus menggunakan uang cash; nasabah tidak perlu
    melakukan penagihan sendiri.
    Persyaratan: memiliki rekening di bank syariah dimaksud;
    mengisi slip setoran; dikenakan biaya kliring sesuai ketentuan
    bank syariah dimaksud.
    e. Intercity Clearing
    Yaitu jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah)
    yang diterbitkan oleh bank lain di luar wilayah kliring dengan
    cepat, sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan
    cek atau bilyet giro tersebut pada keesokan harinya. Layanan
    ini diperuntukkan bagi perorangan dan Badan Usaha/Badan
    Hukum.
    Karakteristik layanan ini: media penarikan berasal dari cek
    atau bilyet giro dari bank lain; dapat dilakukan di seluruh
    cabang bank syariah dimaksud; fasilitas ini hanya dapat
    dilaksanakan dengan bank yang telah memiliki jasa yang
    sama.
    Manfaat layanan ini adalah: menghindari terganggunya cash
    flow; waktu pencairan dana relatif singkat. Persyaratan:
    memiliki rekening di bank syariah dimaksud; mengisi slip
    setoran; dikenakan biaya intercity clearing sesuai ketentuan
    bank syariah dimaksud.
    f. Inkaso
    Yaitu penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya
    berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri. Layanan
    ini diperuntukkan bagi perorangan dan Badan Usaha/Badan
    Hukum.
    Karakteristik layanan ini: nasabah harus memiliki rekening
    di bank syariah dimaksud; mata uang rupiah atau valuta
    asing seperti US Dollar dan Singapore Dollar; hasil inkaso
    dikreditkan ke rekening nasabah atau ditransfer ke rekening
    nasabah di bank lain; bank hanya penerima amanat dan
    mewakili (wakalah) nasabah, dan tidak bertanggung jawaba
    bila terjadi kesalahan atau pun keterlambatan hasil inkaso.
    Manfaat yang diperoleh dari layanan ini: nasabah dapat
    menerima pembayaran warkat dari seluruh wilayah Indonesia
    dan dari negara tertentu sesuai ketentuan bank syariah
    dimaksud; nasabah tidak perlu melakukan penagihan
    sendiri.
    Persyaratan: memiliki rekening di bank syariah dimaksud;
    mengisi slip inkaso; biaya inkaso rupiah sekitar Rp 10.000
    plus biaya bank koresponden; biaya inkaso luar negeri
    mengacu pada tarif Devisa yang dianut dan ditetapkan oleh
    bank syariah dimaksud.
    g. RTGS (real time gross settlement)
    Yaitu jasa transfer secara elektronik dalam mata uang rupiah
    antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang
    berbeda secara real time. Layanan ini diperuntukkan bagi
    perorangan dan Badan Usaha/Badan Hukum.
    Karakteristik layanan ini adalah: dapat dilakukan di seluruh
    cabang bank syariah dimaksud; batas waktu transfer sesuai
    waktu yang ditentukan bank syariah dimaksud.
    Layanan ini memberikan manfaat: kemudahan bagi nasabah
    dalam melakukan transaksi bisnis khususnya dalam hal
    transaksi keuangan sehingga kredibilitas nasabah dapat
    terjamin; dana yang ditransfer nasabah secara efektif
    dalam hitungan menit dapat diterima di bank tujuan dengan
    aman dan mudah; tidak perlu membawa uang tunai untuk
    menyelesaikan transaksi bisnis
    Persyaratan: memiliki rekening di bank syariah dimaksud;
    mengisi slip transfer; dikenakan biaya RTGS sesuai ketentuan
    bank syariah.
    h. AFT (Automatic Fund Transfer)
    Yaitu layanan pendebitan/transfer ke rekening lain otomatis
    secara rutin setiap bulan dalam jumlah yang sama, seperti
    untuk pembayaran angsuran pembiayaan, asuransi, dan
    lain-lain.
    Layanan Kiriman Uang Domestik dan Luar Negeri
    i. Western Union,
    Adalah jasa pengiriman uang atau penerimaan uang secara
    cepat (real time on line) yang dilakukan lintas negara atau
    dalam satu negara (domestik). Manfaat produk ini adalah
    cepat, dalam hitungan detik dana sudah dapat diambil oleh
    penerima; dilayani oleh +/- 200.000 agen yang tersebar di
    +/- 200 negara; pengirim maupun penerima tidak harus
    memiliki rekening di bank atau tidak harus berdomisili tetap
    di negara pengirim atau di negara tujuan transfer; pengiriman uang ke beberapa negara tertentu wajib dilengkapi dengan
    pengaman yaitu test question.
    Beberapa ketentuan umum adalah sebagai berikut:
    • Dilayani oleh seluruh cabang bank syariah dimaksud
    • Tersedia baik bagi perorangan atau pun Badan Usaha
    pemegang rekening maupun bukan pemegang rekening
    di bank syariah dimaksud
    • Pengirim/penerima/kuasaBadanUsahawajib
    menyerahkan asli bukti identitas
    • Agen pembayar membayarkan transfer kepada penerima
    dalam mata uang lokal negara tujuan atau mata uang
    yang disepakati pada saat pengiriman
    • Pengirim dikenakan biaya pengiriman
    • Penerima kiriman uang di bank syariah penerima hanya
    dikenakan biaya meterai.
    j. Will Call
    Yaitu layanan pengiriman uang atau penerimaan kiriman
    uang dimana penerimanya adalah orang/ perorangan. Quick
    Pay, yaitu layanan pengiriman uang dimana penerimanya
    adalah Badan Usaha yang telah terdaftar sebagai client list
    di sistem Western Union.
    j. Will Call
    Yaitu layanan pengiriman uang atau penerimaan kiriman
    uang dimana penerimanya adalah orang/ perorangan. Quick
    Pay, yaitu layanan pengiriman uang dimana penerimanya
    adalah Badan Usaha yang telah terdaftar sebagai client list
    di sistem Western Union.
    Menyediakan layanan tambahan, yaitu: pengiriman berita
    (message); pengiriman sandi pengaman (test question)*,
    pengantaran uang ke alamat penerima (physical delivery)*,
    dan notifikasi pengiriman uang kepada penerima (phone
    notification)*.* Hanya dilayani untuk negara-negara
    tertentu.
    Persyaratan pengiriman dan penerimaan uang adalah
    sebagai berikut:
    a) Pengiriman uang
    • Mengisi dan menandatangani aplikasi pengiriman
    uang
    • Menyerahkan dana (valuta rupiah) dan asli bukti
    identitas yang masih berlaku
    • Memberitahukan data transfer kepada penerima yang
    meliputi nama pengirim, jumlah uang dikirim, negara
    asal transfer, dan nomor referensi pengiriman.
    b) Penerimaan uang
    • Mengisi dan menandatangani aplikasi penerimaan
    uang dan menyerahkan bukti identitas yang masih
    berlaku
    • Mengetahui data transfer yang meliputi nama penerima,
    nama pengirim, jumlah uang dikirim, negara asal
    transfer, dan nomor referensi pengiriman (diperlukan
    hanya untuk kondisi tertentu)
    • Nasabah menerima kiriman uang dalam mata uang
    rupiah
    k. Transfer Dalam Kota (LLG = Lalu Lintas Giral)
    Yaitu jasa pemindahan dana antar bank dalam satu wilayah
    kliring lokal. Mencakup incoming transfer maupun outgoing
    transfer. Layanan ini diperuntukkan bagi perorangan dan
    Badan Usaha/Badan Hukum.
    Karakeristik layanan ini: Dana berasal dari pembayaran tunai
    atau pendebitan rekening; pengiriman hanya dalam valuta
    rupiah; batas waktu transfer sesuai dengan jadual kliring
    yang ditentukan bank syariah dimaksud.
    Manfaat yang diperoleh dari layanan ini: pemindahan dana
    aman dan mudah; waktu pengiriman cepat; penerima lebih
    mempercayai pembayaran dengan LLG daripada warkat;
    pada saat transfer, dapat mengirim berita singkat.
    Persyaratan: diharapkan memiliki rekening di bank syariah
    dimaksud; mengisi slip transfer; biaya transfer sesuai
    ketentuan bank syariah dimaksud.
    l. Transfer Valuta Asing,Terdiri dari: transfer ke luar yaitu pengiriman valuta asing dari
    nasabah suatu bank syariah ke nasabah bank lain, baik dalam
    maupun luar negeri; dan transfer masuk yaitu pengiriman
    valuta asing dari nasabah bank lain baik dalam maupun
    luar negeri ke nasabah bank syariah di maksud. Layanan ini
    diperuntukkan bagi perorangan dan Badan Usaha/Badan Hukum
    Karakteristis layanan ini: dana transfer berasal dari
    pembayaran tunai atau pendebitan rekening dalam valuta
    rupiah atau pun valuta asing; batas waktu transfer sesuai
    ketentuan bank syariah dimaksud, biasanya paling lambat
    jam 14.00 waktu setempat.
    Layanan ini memberikan manfaat: pemindahan dana aman
    dan mudah; waktu pengiriman cepat dengan menggunakan
    SWIFT; pada saat transfer, dapat diikutsertakan berita singkat;
    tidak dapat diuangkan oleh pihak lain selain penerima kecuali menggunakan surat kuasa bermeterai cukup. Persyaratan: diharapkan memiliki rekening di bank syariah
    dimaksud; mengisi slip transfer; dikenakan biaya administrasi,
    telex/SWIFT, dan bank koresponden.
    m. Autodebit Payment Point
    Yaitu pendebitan otomatis rekening nasabah untuk
    pembayaran tagihan rutin seperti telepon, handphone,
    listrik, dan lain-lain. Pembayarannya bisa melalui ATM, mobile
    banking melalui SMS, atau phone banking.
    n. Pajak Online
    Yaitu layanan perbankan yang memberikan kemudahan
    kepada wajib pajak membayar kewajiban pajak (bukan
    dalam rangka pembayaran pajak impor) secara otomatis
    dengan mendebit rekening atau secara tunai. Layanan ini
    diperuntukkan bagi perorangan dan Badan Usaha/Badan
    Hukum.
    diharapkan memiliki rekening di bank syariah dimaksud Pajak Impor,
    Yaitu layanan perbankan yang memberikan kemudahan
    keada importir untuk membayar pajak barang dalam rangka
    impor secara on-line sebagai syarat untuk mengeluarkan
    barangnya dari gudang kantor bea dan cukai. Layanan ini
    dieruntukkan bagi imortir yang memiliki Angka Pengenal
    Impor (API) dari DEPERINDAG. Pembayaran dengan mata
    uang Rupiah, baik secara tunai, pemindahbukuan, atau
    pun transfer. Wajib Pajak mendapatkan bukti pembayaran
    pajak. Manfaat layanan ini adalah proses cepat, dan biaya
    relatif murah sekitar Rp 40.000 per transaksi. Persyaratan:
    diharapkan memiliki rekening di bank syariah dimaksud, mengisi dan menyerahkan SSP (Surat Setoran Pajak atau
    faktur pajak) dan SSPCP (Surat Setoran Pabean Cukai dan
    Pajak).
    o. Standing Order
    Yaitu fasilitas kemudahan yang disediakan bank syariah
    kepada nasabah yang dalam transaksi finansialnya harus
    melakukan pembayaran tagihan ke rekening bank lain
    setiap bulan secara periodik atau pun pemindahbukuan dari
    suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang.
    Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke
    bank hanya satu kali saja, tidak perlu setiap saat datang
    ke bank untuk melakukan pemindahbukuan. Layanan ini
    diperuntukkan bagi perorangan dan Badan Usaha/Badan
    Hukum.
    Produk ini khusus diberikan kepada nasabah yang dinilai
    baik oleh bank syariah dimaksud. Instruksi pemindah-bukuan
    dilaksanakan selama saldo nasabah mencukupi. Instruksi
    harus diberikan dalam bentuk surat instruksi atau surat
    kuasa bermeterai cukup. Manfaat produk ini yaitu kredibilitas
    nasabah dalam bertransaksi terjamin. Persyaratan: nasabah
    harus memiliki rekening di bank syariah dimaksud dan
    membuat surat standing order kepada bank.
    p. Standing Instruction
    Yaitu layanan pemindahbukuan ke rekening lain secara
    otomatis dan rutin setiap bulan dalam jumlah yang sama.
    Fasilitas ini menggunakan sistem AFT (automatic fund
    transfer).
    q. Electronic Payroll
    Merupakan layanan pembayaran gaji karyawan perusahaan
    dengan cara pemindahbukuan dari rekening giro perusahaan
    ke rekening tabungan karyawan dengan menggunakan media
    secara sistem. Teknologi yang didesain dapat menerima
    segala jenis sistem informasi teknologi yang digunakan
    perusahaan.
    Pembayaran hanya dilayani untuk mata uang Rupiah.
    Pembayaran gaji dapat dilakukan lebih dari satu kali setiap
    bulan untuk setiap karyawan. Layanan ini membantu
    perusahaan mengelola pembayarn gaji karyawannya dengan
    mudah dan aman. Perusahaan tidak lagi membayar gaji secara
    tunai. Karyawan akan memperoleh gajinya dengan aman
    dan tepat waktu. Persyaratan: perusahaan dan karyawan
    penerima gaji harus memiliki rekening di bank syariah,
    membuat permohonan fasilitas payroll, biaya administrasi
    dikenakan per transaksi sesuai ketentuan bank syariah,
    sebagai kisaran tarif Rp 1.000 per rekening penerima gaji.
    r. Referensi Bank
    Merupakan Surat Keterangan yang diterbitkan oleh bank
    syariah atas dasar permintaan dari nasabah untuk tujuan
    tertentu. Biasanya untuk memenuhi salah satu persyaratan
    bagi nasabah yang akan melakukan suatu pengajuan kepada
    pihak ketiga, seperti prasyarat mengikuti proyek tender, atau
    prasyarat mengajukan permohonan visa kepada kantor
    kedutaan negara tertentu untuk ijin tinggal atau sekolah
    di luar negeri, dll. Bank syariah hanya bisa memberikan
    Surat Referensi kepada nasabahnya. Surat Referensi dapat
    diterbitkan dalam bahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris.
    Surat Referensi tidak mengikat bank syariah dimaksud. Surat
    ini sebagai referensi bonafiditas nasabah atau setidaknya
    nasabah dikenal baik oleh bank syariah dimaksud. Dengan
    demikian pihak ketiga tidak perlu melakukan konfirmasi ke
    bank syariah dimaksud atau ragu-ragu dalam melakukan
    pembayaran (proyek) berupa warkat ke (rekening) nasabah
    di bank syariah tersebut. Layanan ini diperuntukkan bagi
    perorangan dan Badan Usaha/Badan Hukum. Persyaratan:
    nasabah membuat surat permohonan pembuatan referensi
    bank.
    2. Kafalah (Bank Garansi)
    Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung
    kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak
    kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain Kafalah
    berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin
    dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai
    penjamin (Q.S. Yusuf (12): 72)
    Secara teknis perbankan kafalah merupakan jasa penjaminan
    nasabah dimana bank bertindak sebagai penjamin (kafil)
    sedangkan nasabah sebagai pihak yang dijamin (makfullah).
    Prinsip syariah ini sebagai dasar layanan bank garansi, yaitu penjaminan pembayaran atas suatu kewajiban pembayaran Bank dapat mempersyaratkan nasabah untuk menempatkan
    sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai jaminan. Atas dana
    tersebut bank dapat memperlakukannya dengan prinsip
    wadiah. Dalam hal ini bank mendapatkan imbalan atas jasa
    yang diberikan.
    Penerbitan Bank Garansi (surat jaminan bank), yang terdiri
    dari jaminan tender, jaminan pelaksanaan, jaminan uang
    muka, dan jaminan pelaksanaan dengan setoran minimal
    sebesar 10% dari nilai jaminan yang diinginkan nasabahBank Garansi mencakup layanan full cover dimana nasabah
    meng-cover seluruh bank garansi; dan layanan fasilitas
    yang merupakan pembiayaan atau kredit secara tidak
    langsung. Untuk produk bank garansi dengan layanan full
    cover, wewenang putusan diberikan oleh pejabat pemutus
    pembiayaan di kantor cabang itu sendiri. Sedangkan pada
    bank garansi dengan layanan fasilitas, wewenang putusan
    harus dimintakan izin terlebih dahulu kepada pejabat
    pemutus pembiayaan tingkat wilayah atau atasan dari pejabat
    pemutus pembiayaan di kantor cabang dimaksud. Ada bank syariah yang menyediakan layanan Overseas
    Transfer, berdasarkan akad kafalah. Overseas transfer yaitu
    layanan pengiriman uang dalam USD atau pun Euro secara
    same day value, cepat, aman melintas batas karena didukung
    oleh teknologi SWIFT.
    Hari ini valuta asing dikirim, hari itu juga sampai di negara
    tujuan (berlaku untuk AS, Kanada, dan Eropa Barat).
    Disediakan 2 jenis layanan, yakni OUR dan BEN. Untuk OUR
    dana diterima penuh (full amount) oleh penerima di negara
    tujuan, sedangkan BEN dana yang diterima oleh penerima
    dipotong biaya oleh bank penerima.

    Prosedur mendapakan layanan ini adalah sebagai berikut:
    membuka rekening di suatu bank syariah dan mengisi aplikasi
    transfer dan diserahkan kepada teller serta membayar:
    komisi, biaya SWIFT, dan correspondent bank charges (untuk
    layanan jenis OUR).
    Produk Overseas Transfer ini menggunakan akad kafalah,
    karena bank bertindak sebagai penjamin sedangkan nasabah
    sebagai pihak yang dijamin.
    3. Sharf (Jual Beli Valuta Asing)
    Layanan jasa perbankan jual beli valuta asing sejalan
    dengan prinsip sharf. Jual beli mata uang yang tidak sejenis
    ini penyerahannya harus dilakukan pada waktu yang sama
    berdasarkan kurs jual atau kurs beli yang berlaku pada saat
    itu juga (transaksi spot). Jenis layanan berdasarkan transaksi
    spot adalah: today, tommorow, dan spot.
    Bank Syariah tidak melayani transaksi forward, swap,
    dan option yang dalam transaksinya diterapkan hedging
    sebagaimana telah dijelaskan di atas. Karena transaksi ini
    penyerahannya dilakukan pada masa yang akan datang dan
    mengandung unsur spekulasi.
    Transaksi penukaran mata uang terdiri dari mata uang Rupiah
    dengan mata uang asing, atau mata uang asing dengan
    mata uang asing lainnya. Dengan menggunakan kurs jual
    beli yang ditetapkan oleh bank. Pembayaran jual beli valuta
    asing dapat secara tunai atau debit dari rekening. Bank notes
    (lembar mata uang asing) yang diperjualbelikan harus tanpa
    cacat. Persyaratan: diharapkan nasabah memiliki rekening di
    bank syariah dimaksud, mengisi slip jual-beli valuta.
    4. Qardh (Pinjaman)
    Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat
    ditagih atau diminta kembali. Menurut teknis perbankan,
    qardh adalah pemberian pinjaman dari bank kepada nasabah
    yang dipergunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti dana
    talangan dengan kriteria tertentu dan bukan untuk pinjaman
    yang bersifat konsumtif.
    Pengembalian pinjaman ditentukan dalam jangka waktu
    tertentu (sesuai kesepakatan bersama) sebesar pinjaman
    tanpa ada tambahan keuntungan dan pembayarannya
    dilakukan secara angsuran atau sekaligus. (Q.S. Al Hadid
    (57): 11) Bank dapat meminta jaminan atas pinjaman ini
    kepada peminjam.
    Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya dalam empat hal,
    yaitu sebagai berikut:
    1. Pinjaman Talangan Haji, merupakan pinjaman yang
    diberikan bank kepada nasabah calon haji khusus untuk
    menutupi kekurangan dana memperoleh kursi/seat haji dan
    pada saat pelunasan BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah
    Haji). BPIH sebagai syarat penyetoran biaya perjalanan haji.
    Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatannya ke
    haji. Manfaat produk ini yaitu dapat terpenuhi kebutuhan dana
    yang mendadak, dengan proses layanan yang relatif cepat dan
    mudah. Pinjaman dalam mata uang rupiah dan jangka waktu
    pinjaman hingga 3 bulan. Dalam aplikasi perbankan, produk
    ini menggunakan landasan syariah qardh (pinjaman) wal
    ijarah (sewa-cicil). Qardh wal ijarah adalah akad pemberian
    pinjaman dari bank untuk nasabah yang disertai dengan
    penyerahan tugas agar bank menjaga barang jaminan yang
    diserahkan. Pembiayaan ini diperuntukkan bagi perorangan
    muslim. Sebagai persyaratan, seorang calon nasabah harus
    memiliki rekening tabungan haji di bank syariah tersebut,
    dan memiliki formulir SPPH (Surat Permohonan Pergi Haji)
    yang telah dilegalisir Kandepag setempat.
    2. Pinjaman tunai (cash advanced) dari produk kartu
    kredit syariah, dimana nasabah diberi keleluasaan untuk
    menarik uang tunai milik bank melalui ATM. Nasabah akan
    mengembalikannya sesuai waktu yang ditentukan.
    3. Pinjaman kepada pengusaha kecil, dimana menurut
    perhitungan bank akan memberatkan si pengusaha bila
    diberikan pembiayaan dengan skema jual beli, ijarah (sewa
    cicil), atau bagi hasil.
    Ada bank syariah yang menyediakan produk pembiayaan
    Program atau Pola Khusus. Yaitu pembiayaan modal kerja
    untuk program pemerintah dalam rangka pengembangan
    usaha kecil di lingkungan PD. Pasar Jaya. Sebagai persyaratan,
    calon nasabah memiliki: lokasi berdagang secara tetap, Surat
    Ijin Tempat Usaha (SITU), dan rekomendasi dari kepala PD.
    Pasar Jaya.
    Ada bank syariah yang menyediakan produk pembiayaan
    Program atau Pola Khusus. Yaitu pembiayaan modal kerja
    untuk program pemerintah dalam rangka pengembangan
    usaha kecil di lingkungan PD. Pasar Jaya. Sebagai persyaratan,
    calon nasabah memiliki: lokasi berdagang secara tetap, Surat
    Ijin Tempat Usaha (SITU), dan rekomendasi dari kepala PD.
    Pasar Jaya.
    4. Pinjaman kepada pengurus bank, dimana bank
    menyediakan fasilitas ini untuk memastikan terpenuhinya
    kebutuhan pengurus bank. Pengurus bank akan
    mengembalikannya secara cicilan melalui pemotongan
    gajinya.
    5. Rahn (Gadai)
    Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam
    sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Tujuan
    akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran
    kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.
    Secara sederhana rahn adalah jaminan hutang atau gadai.
    Biasanya akad yang digunakan adalah akad qardh wal ijarah,
    yaitu akad pemberian pinjaman dari bank untuk nasabah
    yang disertai dengan penyerahan tugas agar bank menjaga
    barang jaminan yang diserahkan.
    Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria, yaitu milik
    nasabah sendiri; memiliki nilai ekonomis sehingga bank
    memperoleh jaminan untuk dapat mengambil seluruh atau
    sebagian piutangnya; harus jelas ukuran, sifat, dan nilainya
    ditentukan berdasarkan nilai riil pasar; dapat dikuasai namun
    tidak boleh dimanfaatkan oleh bank.
    Masa pinjaman maksimal 2 sampai 3 bulan, dan dapat
    diperanjang. Bila pada saat jatuh tempo ditambah masa
    tenggang selama 7 hari nasabah tidak dapat melunasi
    pinjamannya, maka nasabah dapat melakukan perpanjangan
    sebelum melewati masa tenggang dengan membayar kembali
    biaya sewa penyimpanan emas. Nasabah mempunyai hak
    untuk menjual barang tersebut dengan seizin bank, atau
    bersama-sama bank mejual barang jaminan dan hasilnya
    digunakan untuk melunasi kewajibannya kepada bank.
    Atas izin bank, nasabah dapat menggunakan barang
    tertentu, misalnya kendaraan, yang digadaikan dengan tidak
    mengurangi nilai dan merusak barang yang digadaikan.
    Apabila barang yang digadaikan rusak atau cacat, maka
    nasabah harus bertanggung jawab. Apabila nasabah
    wanprestasi, bank dapat melakukan penjualan barang yang
    digadaikan atas perintah hakim.
    Apabila hasil penjualan melebihi kewajibannya, maka
    kelebihan tersebut menjadi milik nasabah. Apabila
    hasil penjualan tersebut lebih kecil dari kewajibannya,
    nasabah menutupi kekurangannya. Atas transaksi ini Bank
    mendapatkan imbalan.
    Secara administrasi syarat yang harus dipenuhi seorang
    calon nasabah rahn adalah sebagai berikut:
    • Memiliki bukti identitas yang jelas dan masih berlaku
    • Menyerahkan barang gadai
    • Mengisi dan menandatangani Surat Bukti Rahn,
    • Dana gadai dapat dipindahbukukan ke tabungan, giro,
    atau tunai, sebesar-besarnya antara 85% sampai 90% dari
    nilai taksiran untuk emas lantakan, atau 75% dari nilai
    emas perhiasan atau barang lainnya yang diserahkan.
    Minimal Rp 500.000 atau 10 gram emas.
    Tarif gadai mencakup:
    a) Biaya meterai
    b) Biaya administrasi bulanan
    c) Biaya penitipan atau jasa penyimpanan yang dihitung
    secara harian.
    Produk rahn dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dana
    jangka pendek dan keperluan yang mendesak. Misalnya
    menjelang tahun ajaran baru, hari raya, kebutuhan modal
    kerja jangka pendek dan kebutuhan lain yang sesuai
    syariah.

    6. Hiwalah (Alih Utang Piutang
    atau anjak piutang)
    Hiwalah adalah transaksi mengalihkan utang piutang. Dalam
    praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk
    membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat
    melanjutkan produksinya. Bank mendapat ganti biaya atas
    jasa pemindahan utang. Untuk mengantisipasi risiko kerugian
    yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas
    kemampuan pihak yang berhutang dan kebenaran transaksi
    antara yang memindahkan piutang dengan yang berhutang.
    Katakanlah seorang suplier bahan bangunan menjual
    barangnya kepada pemilik proyek yang akan dibayar dua
    bulan kemudian. Karena kebutuhan supplier akan likuiditas,
    maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya.
    Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.
    7. Ijarah (Sewa)
    Akad ijarah selain menjadi landasan syariah untuk produk
    pembiayaan, yaitu sewa cicil, juga menjadi prinsip dasar
    pada jasa perbankan lainnya, antara lain layanan penyewaan
    kotak simpanan atau SDB (safe deposit box). Bank mendapat
    imbalan sewa atas jasa tersebut.
    8. Al-wadiah (titipan)
    Akad al-wadiah selain menjadi landasan syariah produk
    tabungan, termasuk giro, juga menjadi prinsip dasar layan-
    an jasa tata laksana administrasi dokumen (custodian). Bank
    mendapat imbalan atas jasa tersebut.

    Secara rinci layanan jasa perbankan syariah yang
    menggunakan teknologi informasi dapat dijelaskan sebagai
    berikut:
    1. On Line Real Time (informasi mutasi/perubahan dana
    berlaku sama untuk semua jaringan pada waktu yang
    bersamaan).
    Seorang nasabah yang membuka rekening tabungan di
    suatu bank syariah kantor cabang tertentu dapat melakukan
    transaksi setor dan tarik uangnya di kantor cabang syariah
    tersebut (ataupun bank konvesionalnya) di kantor cabang
    lain atau di kota lain. Selain itu nasabah bank syariah dapat
    melakukan tarik uang tunai atau transaksi perbankan
    lainnya melalui ATM bank syariah dimaksud (ataupun ATM
    bank konvensionalnya) atau pun jaringan ATM tertentu yang
    terkoneksi dimana saja di kota lain.
    Dengan sistem on line real time maka setiap mutasi rekening,
    baik pengurangan ataupun penambahan saldo yang dilakukan
    di kantor cabang/ATM manapun akan sama. Begitu juga
    nasabah pembiayaan dapat melakukan angsuran pinjamannya
    melalui setoran tunai atau autodebet tabungannya di kantor
    cabang syariah (atau bank konvensionalnya) atau melalui
    ATM dimana saja di kota lain. Hal ini juga berlaku untuk
    transaksi perbankan yang dilakukan melalui phone banking,
    mobile banking (SMS), dan internet banking. Dengan kata
    lain, bank yang menyediakan fasilitas ATM, phone banking,
    e-banking (internet dan SMS banking), merchant debit dan
    merchant credit, maka bank tersebut sudah on line real time
    dalam layanan perbankannya.
    2. ATM (automatic teller machine)
    Mesin ATM ini berfungsi sebagai teller atau kasir bank
    selama 24 jam sehari dimana nasabah bank syariah dapat
    melakukan transaksi perbankan tanpa perlu pergi ke bank.
    Fasilitas ATM suatu bank syariah menyediakan fitur layanan
    perbankan yang berbeda-beda dengan ATM bank syariah
    lainnya.
    Namun secara umum nasabah dapat melakukan tarik uang
    tunai (dalam jumlah batas tertentu per hari), informasi
    saldo, penggantian PIN (personal identity number), transfer
    dana ke rekening lain pada bank yang sama atau bank lain;
    pembayaran tagihan telepon, listrik, air, pembayaran kartu
    kredit, internet, uang kuliah, angsuran asuransi, pembayaran
    tagihan ponsel pasca bayar, pembelian pulsa isi ulang ponsel
    pra-bayar, pembayaran zakat, dan transaksi lainnya Kartu ATM biasanya dapat diperoleh 3 hari setelah pembukaan
    rekening tabungan atau giro. (Kecuali Shar-e produk tabungan
    Bank Muamalat yang kartu ATM-nya dapat langsung diperoleh
    saat pembelian paket tabungan Shar-e) Bank syariah tertentu
    dapat menerbitkan kartu ATM nya dengan menampilkan pas Foto nasabah, mencetak timbul nama nasabah dan nomor
    kartu (embossed printed).
    Sedangkan kartu ATM instant dapat diperoleh nasabah
    langsung pada hari itu juga. Meskipun tidak tercetak foto,
    nama dan nomor kartu, namun kartu ATM instant tetap
    memiliki fungsi yang sama sebagaimana layaknya kartu
    ATM. Atas pembuatan kartu ATM, beberapa bank syariah
    membebankan biaya yang berkisar antara Rp 5.000 hingga
    Kartu ATM instant biasanya diberikan kepada nasabah
    sebagai pengganti atas kartu ATM yang hilang. Prosedur yang
    harus dilakukan bila seorang nasabah kehilangan kartu ATM
    adalah sebagai berikut:
    • Segera menelepon phone banking bank syariah yang
    bersangkutan guna melaporkan kehilangan kartu
    ATM dengan menyebutkan nama dan nomor rekening
    tabungan, lokasi kehilangan, dan data lainnya yang
    mengindikasikan bahwa pelapor/penelepon adalah
    benar pemilik rekening/pemilik kartu ATM. Pelaporan ini
    penting dilakukan agar kartu ATM tidak disalahgunakan
    oleh orang yang tidak bertanggung jawab
    • Mendatangi kantor bank syariah dimana nasabah
    melakukan pembukaan rekening tabungannya
    • Di kantor bank syariah, nasabah mengisi formulir laporan
    kehilangan kartu ATM dan menandatanganinya, dan
    melampirkan Surat Keterangan Hilang dari Kantor Polisi
    setempat
    • Membayar biaya administrasi pencetakan kartu ATM
    baru.
    Kartu ATM bank syariah selain dapat digunakan pada ATM bank
    syariah yang bersangkutan juga pada bank konvensionalnya
    ataupun ATM bank lain yang termasuk dalam jaringan:
    a. ATM Bersama, yaitu: ATM Bank Muamalat, ATM BNI, ATM
    BRI, ATM Bank Syariah Mandiri, ATM Mandiri, ATM Danamon,
    ATM Niaga, ATM Permata, ATM Bank Jabar, ATM Bank DKI,
    ATM BPD Riau, ATM Bank Bukopin, ATM IFI, ATM Bank Syariah
    Mega, ATM Bank Mega, ATM NISP, ATM BTPN, ATM Swadesi,
    ATM Bumiputera, ATM Mayapada, ATM Bank Commonwealth,
    ATM Standart Chartered, ATM ABN AMRO, ATM Argo, ATM
    Bank Artha Niaga Kencana, ATM Bank Artos Indonesia, ATM
    Bank Buana, ATM Bank Eksekutif, ATM Bank Ganesha, ATM
    Bank HS 1906, ATM Bank Ina Perdana, ATM Bank Lippo,
    ATM Bank Mayora, ATM Bank Mestika Dharma, ATM Bank
    Nagari, ATM Bank Nusantara Parahyangan, ATM Bank Panin,
    ATM BPD Aceh, ATM BPD Bali, ATM BPD Bengkulu, ATM
    BPD DIY, ATM BPD Jambi, ATM BPD Kalimantan Selatan,
    ATM BPD Kalimantan Tengah, ATM BPD Kalimantan Timur,
    ATM BPD Lampung, ATM BPD Maluku, ATM BPD NTB, ATM
    BPD NTT, ATM BPD Papua, ATM BPD Sulawesi Selatan, ATM
    BPD Sulawesi Tenggara, ATM BPD Sulawesi Utara, ATM BPD
    Sumatera Utara, ATM Bank Jatim.
    b. ATM ALTO yaitu ATM BII, ATM Bank Permata, ATM Bank
    Artha Graha, ATM Bank Buana, ATM Bank Bukopin, ATM Bank
    Danamon, ATM Bank Ekonomi, ATM Bank Eka Bumi Artha,
    ATM Bank Haga, ATM Bank Harda, ATM Bank Kesawana, ATM
    Bank Lippo, ATM Bank Nusantara Parahyangan, ATM Bank
    Panin, ATM PT. Inti Sentral Operasi.
    c. ATM Prima, yaitu: ATM ABN Amro, ATM Bank Buana Indonesia, ATM Bank Bukopin, ATM Bank Bumi Artha, ATM
    Bank Ekonomi, ATM Bank Eksekutif Internasional, ATM Bank
    Haga, ATM Bank Haga Kita, ATM Bank Jateng, ATM Bank
    Maspion, ATM Bank Mayapada, ATM Bank Mega, ATM Bank
    Muamalat, ATM Bank of Tokyo, ATM Bank Permata, ATM Bank
    Sumsel, ATM Bank Nusantara Parahyangan, ATM Bank BRI,
    ATM Bank Jasa Jakarta, ATM Bank NISP, ATM Bank UIB, ATM
    Bank Victoria, dan ATM Bank Kaltim.
    d. ATM Cirrus dan ATM Maestro yaitu jaringan ATM internasional,
    sehingga nasabah bank syariah dapat bertransaksi di luar
    negeri.
    e. ATM MEPS (Malaysian Electronic Payment System) yaitu
    jaringan internasional on line real time yang dapat tarik tunai
    Ringgit di lebih dari 2.000 ATM di Malaysia meliputi: MayBank,
    Hong Leong Bank, Affin Bank dan Southern Bank.
    f. ATM Bankcard yaitu ATM Malaysia yang berlogo stiker ATM
    Bersama.
    g. Kartu prabayar SUHC (Saudi Umrah & Haj Card) dapat tarik
    tunai mata uang SAR (Saudi Arabian Real) di 700 ATM dan
    counter Bank Al-Rajhi di seluruh Arab Saudi.
    3. Phone Banking
    Yaitu fasilitas layanan perbankan melalui telepon selama 24
    jam sehari tanpa harus pergi ke bank. Dengan menyebutkan
    nomor rekening dan menekan kode PIN. Kode PIN tidak boleh
    disebutkan/diberitahukan kepada operator phone banking,
    karena kode PIN ini sangat rahasia.

    Biasanya kode PIN terdiri atas 4 atau 6 digit. Hanya dengan
    beban pulsa telepon lokal, nasabah bank syariah dapat
    melakukan transaksi perbankan berupa informasi saldo,
    mengubah PIN (Personal Identity Number), pemindahbukuan
    antara rekening, pembayaran ZIS, histori transaksi, dll.
    4. e-banking
    Yang dimaksud dengan e-banking adalah layanan perbankan
    dengan menggunakan fasilitas mobile banking melalui SMS
    dan internet banking. Kedua fasilitas tersebut akan dijelaskan
    di bawah ini.
    a. Mobile Banking: SMS
    adalah layanan perbankan berbasis teknologi seluler yang
    bisa diakses melalui ponsel. Dengan fasilitas ini nasabah
    dapat bertransaksi perbankan melalui ponselnya dengan
    mengirimkan SMS (Short Message Service). Semua
    transaksi dilindungi dengan PIN (Personal Identity Number)
    pribadi. Untuk dapat menikmati fasilitas mobile banking
    melalui SMS nasabah bank syariah harus memenuhi
    syarat sebagai berikut:
    Syarat mendapatkan layanan mobile banking adalah sebagai
    berikut:
    • Memiliki rekening tabungan atau giro
    • Menggunakan kartu ponsel berbasis GSM (Global System
    for Mobile communication)
    • Menggunakan ponsel berfasilitas GPRS (General Packet
    Radio Services)
    • Mengisi formulir permohonan mobile banking
    • Mengubah PIN awal sebelum mulai bertransaksi
    • Memenuhi saldo minimal pada jumlah tertentu.
    Selanjutnya nasabah harus melakukan pendaftaran yang
    dapat dilakukan di seluruh kantor cabang secara gratis atau
    melalui ATM, atau menghubungi phone banking dengan
    mengikuti serangkaian tahapan/petunjuk yang dipandu
    secara jelas dan mudah dimengerti. Pendaftaran fasilitas
    mobile banking dapat juga di-download dari website dengan
    menggunakan kabel data, bluetooth, atau infra merah sesuai
    merk ponsel atau dengan menggunakan fasilitas GPRS.
    Pastikan ponsel telah tersedia fasilitas GPRS dan SIM card
    telah diaktifkan fasilitas GPRS-nya.
    Tahap-tahap pendaftaran biasanya dijelaskan dalam brosur
    yang diterbitkan oleh bank syariah yang memiliki fasilitas
    mobile banking dalam layanan produknya atau pada
    website. Mobile banking memberikan tampilan layar dan
    sistem pengoperasian menu drive. Tidak perlu menulis kata
    demi kata, cukup memilih menu yang disediakan sehingga
    terhindar dari kesalahan penulisan. Fasilitas ini disediakan
    baik bagi ponsel dengan sistem pra-bayar maupun pasca
    bayar, untuk semua provider GSM.
    Semua transaksi dilindungi PIN, setiap transaksi yang
    dilakukan dicatat dan dapat disimpan dalam message box
    ponsel nasabah maupun ponsel penerima.
    Tarif biaya sesuai biaya SMS yang diberlakukan oleh masing-
    masing provider GSM. Nasabah dibebankan biaya SMS kirim
    dan biaya SMS terima. Transaksi yang dapat dilakukan dengan
    fasilitas mobile banking adalah: informasi saldo, informasi
    3 (tiga) transaksi terakhir, mengganti PIN, info kurs mata
    uang valuta asing tertentu, bill payment (atau pembayaran
    payment point, seperti tagihan PLN, Telkom, dll), informasi lokasi ATM bank yang bersangkutan, informasi lokasi kantor
    cabang bank yang bersangkutan, transfer antar rekening
    bank yang bersangkutan dan bank induknya/konvensional,
    isi ulang pulsa beberapa provider GSM. Nasabah yang sudah terdaftar dalam layanan fasilitas mobile
    banking, harus lebih waspada antara lain segera menghapus
    SMS perintah dari ponselnya, atau segera menghubungi
    operator phone banking bank yang bersangkutan untuk
    memblokir layanan SMS banking bila kemudian kehilangan
    hand phone atau SIM (Subscriber Identity Module) card-nya.

    b. Internet Banking
    Yaitu layanan perbankan melalui internet yang dapat
    diakses di mana saja tanpa batas waktu dan negara.
    Dengan klik home page bank syariah tertentu, akan
    ditemukan fasilitas layanan transaksi perbankan seperti:
    transfer, cek saldo, pembayaran tagihan telepon, listrik,
    dll.
    5. Link Internasional
    Adalah jaringan perbankan internasional yang dimiliki
    bank syariah tertentu, untuk memudahkan nasabahnya
    bertransaksi di luar negeri. Adapun fasilitas ATM yang memiliki
    jaringan internasional adalah sebagai berikut:
    a. Kartu ATM Cirrus dan ATM Maestro nasabah bank syariah
    dapat melakukan tarik tunai mata uang di seluruh dunia,
    khususnya untuk nasabah yang sedang menunaikan ibadah
    haji dapat menarik uang Real (atau SAR – Saudi Arabia Real)
    ketika.
    b. Kartu ATM MEPS nasabah bank syariah dapat melakukan
    tarik tunai Ringgit di lebih dari 2000 ATM di Malaysia
    c. Kartu prabayar SUHC nasabah bank syariah dapat
    melakukan tarik tunai SAR di 700 ATM dan counter Bank Al-
    Rajhi di seluruh Arab Saudi, termasuk Jeddah, Mekkah dan
    Madinah. Kartu prabayar ini terdiri dari beberapa pecahan
    SAR.
    6. Autodebit Payment Point
    Payment point adalah layanan perbankan berupa pembayaran
    tagihan seperti PLN, Telkom, PDAM, Ponsel, asuransi, ZIS,
    uang kuliah, dll. Layanan autodebit payment point yaitu
    transaksi pembayaran payment point secara otomatis
    mendebit rekening tabungan melalui ATM, phone banking,
    mobile banking, atau pun internet banking.
    7.Merchant Debit dan Merchant Credit
    Layanan kedua fasilitas ini adalah fungsi lain dari kartu
    ATM, yaitu sebagai kartu belanja. Nasabah dapat membayar
    tagihan belanjanya di toko swalayan tanpa harus membawa
    uang tunai. Pada fasilitas merchant debit, nasabah membayar
    tagihan belanjanya dengan mendebit tabungannya secara
    otomatis. Sedangkan pada merchant credit, nasabah
    membayar tagihan belanjanya dengan menggunakan kartu
    kredit. Bertransaksi dengan menggunakan kedua fasilitas ini
    memiliki batasan/limit jumlah tertentu.
    8. Fasilitas Auto Save
    Yaitu fasilitas transfer antara rekening giro dan rekening
    tabungan secara otomatis
    Prosedur Layanan
    Secara garis besar, produk-produk layanan perbankan syariah
    dapat digambarkan sebagai berikut:
    Di dalam kantor pelayanan bank syariah, baik itu kantor pusat,
    kantor cabang utama atau pun kantor cabang pembantu,
    seorang investor atau nasabah tabungan, deposan, atau giran
    menemui petugas customer service (CS) atau unit pelayanan
    nasabah (UPN). Di sana calon nasabah memperoleh segala
    informasi yang mencakup produk tabungan, giro, maupun
    deposito, termasuk berbagai jenis fitur layanan yang tersedia
    dan persyaratan yang harus dipenuhi nasabah. Produk
    penghimpunan dana biasanya disediakan minimal dalam
    dua jenis mata uang, yaitu Rupiah dan USD. Ada beberapa
    bank yang menyediakan layanannya dalam mata uang Euro
    dan Dollar Singapura.
    Bagi calon nasabah yang akan mengajukan pembiayaan dapat
    menemui petugas marketing atau account officer. Di sana
    calon nasabah dapat mengemukakan tujuan pembiayaan,
    sehingga petugas dapat membimbing dan mengarahkan
    jenis pembiayaan apa yang cocok untuknya.
    Bila bank konvensional memiliki terms and conditions yang
    harus disepakati bersama sebagai salah satu prosedur
    sebelum menjual produknya, maka bank syariah memiliki
    akad. Prosedur yang berlaku secara umum, akad pembukaan
    rekening mencakup izin penyaluran dana dan persyaratan
    yang disepakati.
    Besarnya nisbah bagi hasil, tata cara penghitungan keuntungan
    dan risiko yang dapat ditimbulkan dari penyimpanan dana,
    serta persyaratan lain selama tidak bertentangan dengan
    prinsip syariah juga dinyatakan dalam akad. Nisbah bagi hasil,
    yaitu angka perbandingan (porsi) pembagian pendapatan
    atau hasil keuntungan usaha bagi masing-masing pihak
    yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Untuk
    bagi hasil produk tabungan, giro, atau deposito, nisbah bagi
    hasilnya disepakati antara nasabah investor dengan bank
    sebagai pengelola dana. Sedangkan untuk nisbah bagi hasil
    produk pembiayaan, disepakati antara pelaksana usaha atau
    nasabah pembiayaan dengan pihak bank.(pkes publishing)

  26. Nama: Marlina Mega Tarti
    Nim: 20090730035

    Jasa layanan bank syariah

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama

    Jenis wakalah:
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti :
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.

    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)

    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)
    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: 22

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

  27. Rahmi Khoiril Gina
    20090730037
    Produk dan Jasa Perbankan Syariah
    Zakaria-Ahmad
    23 Sept 2008

    Jasa Perbankan

    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :

    • Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.

    • Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).

    • Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring
    Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri

    • Penggunaan ATM bersama dengan bank lain

    Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.

    • Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut

    Perbedaan Produk Bank Syariah Dengan Bank Konvensional
    Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.

    Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah, karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.

    Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar. Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bankdisalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.

    Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah.

    http://suarakomunitas.net/?lang=id&rid=21&id=1044

  28. NAMA : FARIDATUS SHOLIHAH
    NIM :20090730032

    Tugas:
    Kirimkan melalui blog “gita.staff.umy.ac.id” artikel yang membahas berbagi produk dan sistem operasional dari jasa layanan perbankan syariah ( jangan salah produk penghimpunan dan produk penyaluran).

    Produk bank syariah
    Secara garis besar produk perbankan syariah terbagi atas produk penyaluran dana, penghimpunan dana dan produk jasa.
    Adapun penjelasan lebih rinci adalah sebagai berikut :
    1. Penghimpun Dana
    Penghimpun dana atau yang sering disebut dengan sumber dana pada bank syariah terdiri dari beberapa sumber antara lain, yaitu wadiah (modal), titipan, investasi dan investasi khusus.

    a. Wadiah, yaitu sejumlah titipan murni dari satu pihak kepada bank dan bank harus menjaganya akan penitip berhak mengambilnya kapanpun ia mau. Konsep wadiah yang dipakai dalam perbankan syariah adalah wadiah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Dalam konsep ini bank dapat mempergunakan dana yang dititipkan, akan tetapi bank bertanggungjawab penuh atas keutuhan dari dana yang dititipkan.

    b. Investasi, yang dimaksud disini adalah mudharabah mutlaqoh. Yaitu mudharabah yang tidak disertai pembatasan penggunaan dana dari shokhibul mal.

    c. Investasi khusus terbagi atas mudaharabah muqoyyadah on balance sheet dan mudharabah muqoyyadah of balance sheet.
    – Mudharabah muqoyyadah on balace sheet adalah aqad mudharabah yang disertai dengan pembatasan penggunaan dana dari shakhibul mal untuk investasi-investamdharabah si tertentu.
    – Mudharabah muqoyyadah of balance sheet adalah bank bertindak sebagai perantara (arranger) yan mempertemukan nasabah pemilik modal dengan nasabah yang akan menjadi mudharib.

    d. Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.
    2. Penyaluran Dana
    Penyaluran dana pada bank syariah dilakukan dengan berbagai cara yang masing-masing memiliki prinsip akad yang berbeda pula, antara lain :

    a. Ba’I (Jual Beli)
    Ada tiga jenis jual beli yang dijadikan dasar modal kerja dan investasi dalam perbankan syariah, Yaitu :
    – Ba’I Murabahah, yaitu transaksi jual beli dimana bank mendapat sejumlah keuntungan,sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.
    – Ba’I Salam, yaitu transaksi jual beli, dimana barangnya belum ada sehingga barang yang menjadi objek diserahkan secara tangguh.dalam hal ini bank menjadi pembeli dan nasabah menjadi penjual.
    – Ba’I Istisna, yaitu sama dengan salam hanya saja dalam pembayaranya bank membayar dengan beberapa kali pembyaran
    b. Ijarah (Sewa)
    Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).

    c. Syirkah
    Syirkah adalah produk pembiayaan bank syariah yang didasarkan pada prinsip bagi hasil. Syirkah ini terdiri atas :
    – Al-Musyarokah, merupakan bentuk umum dari usaha bagi hasil. Dalam kera sama ini para pihak secara bersama-sama memadukan sumber daya baik yang berwujud ataupun tidak berwujud untuk menjadi modal proyek kerja sama untuk dikelola bersama-sama pula.
    – Al-Mudharabah, merupakan bentuk spesifik dari musyarokah. Dalam mudharabah salah satu pihak berfungsi sebagai shokhibul mal (pemilik modal) dan pihak lain berpera sebagai mudharib (pengelola).
    d. Akad Pelengkap
    Untuk memudahkan pelaksanaan pembiayaan diperlukan akad pelengkap. Akad pelengkap ini ditujukan untuk mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Akad pelengkap terdiri atas :

    – Hiwalah, adalah transaksi pengalihan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan usahanya, sedangkan bank mendapatkan ganti biaya atas jasa.

    – Rahn, biasa dikenal dengan gadai. Tujuan dari akad ini adalah memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.

    – Qardh, adalah pinjaman uang. Piak bank memberikan sejumlah pinjaman uang kepada nasabah dengan pelunasan yang ditentukan.
    – Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.

    – Kafalah, adalah bank yang ditujukan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bankdapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank dapat juga menerima uang tersebut dengan prinsip wadiah, bank mendapatkan biaya pengganti atas jasa yang diberikan.

    3. Jasa Perbankan
    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :

    – Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.

    – Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).

    – Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring. Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri

    – Penggunaan ATM bersama dengan bank lain Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.
    – Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut.

    JASA LAYANAN BANK SYARIAH

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama.

    nb: maaf pak untuk oprasional jasa layanan nya belum dapat kami kirimkan pak

  29. Yulita Erlin Pristiani
    20090730031
    Ekonomi Perbankan Islam
    Produk dan Sistem Operasional Jasa Perbankan Syariah

    PENDAHULUAN
    Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Perkembangan perbankan di Asia, Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila ditelusuri, sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang membutuhkannya. Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
    Jasa bank sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Jasa perbankan pada umumnya terbagi atas dua tujuan. Pertama, sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah. Untuk ini, bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi. Tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu.
    Kedua, dengan menerima tabungan dari nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik, ekonomi suatu negara akan menngkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman.
    Jasa-jasa bank merupakan kegiatan perbankan yang dilakukan oleh suatu bank untuk memperlancar kegiatan menghimpun dana dan menyalurkan dana. Semakin lengkap jasa bank yang diberikan maka akan semakin baik dengan demikian akan menarik nasabah. Hal tersebut karena nasabah merasa nyaman melakukan kegiatan keuangan dari satu bank saja.
    Bank melaksanakan jasa ini tidak hanya untuk menarik perhatian nasabah semata-mata, namun juga untuk mencari keuntungan yang disebut dengan fee based.
    Keuntungan yang diperoleh dari jasa bank antara lain :
    1. biaya adminstrasi (adm kredit )
    2. biaya kirim (biaya transfer)
    3. biaya tagih (biaya kliring)
    4. biaya provisi dan komisi (jasa kredit/transfer)
    5. biaya sewa (sewa safe deposit box)
    6. biaya iuran (biaya kartu kredit)
    7. biaya lain-lain.

    Macam – macam Produk Layanan Jasa Perbankan Syariah

    Kiriman Uang (Transfer)
    Transfer merupakan jasa pengiriman uang lewat bank baik dalam kota, luar kota atau pun ke luar negeri. Sarana yang digunakan dalam jasa transfer ini tergantung kemauan nasabah, dan hal tersebut akan mempengaruhi kecepatan pengiriman dan besar kecilnya biaya pengiriman.

    Kliring (Clearing)
    Kriling merupakan jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Lembaga ini dibentuk dan dikoordinir oleh Bank Indonesia setiap hari kerja, dan peserta kliring merupakan bank yang sudah mendapat ijin dari BI.
    Tujuan dilaksanakan kliring oleh Bank Indonesia antara lain :
    1. Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral
    2. Agar perhitungan penyelesaian utang piutang dapat dilakukan dengan lebih mudah, aman dan efisien
    3. Salah satu pelayanan bank kepada nasabah
    Warkat-warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan di lembaga kliring adalah warkat-warkat yang berasal dari dalam kota, seperti :
    – cek
    – bilyet giro
    – wesel bank
    – Surat bukti penerimaaan transfer
    – Lalu lintas girat / nota kredit
    Proses penyelesaian warkat-warkat kliring di lembaga kliring (dilihat dari sisi bank)
    1. Kliring Keluar, membawa warkat kliring ke lembaga kliring (Nota debet/kredit keluar)
    2. Kliring Masuk, menerima warkat kliring dari lembaga kliringa (Nota debet/kredit masuk)
    3. Pengembalian Kliring, pengembalian warkaat yang tidak memenurhi syarat yang telah ditentukan.

    Mekanisme Kliring

    1. Tn. A bertansaksi dengan Tn B
    2. Tn. A memberikan Cek pada Tn B
    Tn. B sebagai nasabah Bank ‘XYZ’ melakukan setoran kliring di Bank ‘XYZ’
    1. Bank ‘XYZ’ mengirimkan Warkat (Nota Debet  ND Keluar) kepada Lembaga Kliring
    2. Lembaga Kliring akan meneruskan Warkat kepada Bank ‘ABC’ (Nota Debet  ND Masuk)
    3. Setelah proses pengecekan dan cek dinyatakan sah, maka di informasikan kepada Lembaga kliring untuk mendebet rekening Bank ‘ABC’ di BI dan di kredit ke rekening Bank ‘XYZ’
    4. Penyampaikan hasil kliring kepada Bank ‘XYZ’ dan pihak Bank akan mengkridit rekening Tn B.
    Setelah proses kliring berjalan, pada sore hari masing-masing bank akan membuat perhitungan kliring untuk mengetahui apakah bank tersebut menang atau kalah kliring.
    Bank yang menang kliring adalah bank yang jumlah warkat tagihan warkat kliring
    melebihi pembayaran warkat kliringnya.
    Bank yang kalah kliring justru sebaiknya, dimana pembayaran warkat kliring lebih besar dari warkat tagihan.

    Inkaso (Collection)
    Secara umum dapat dikatakan bahwa inkaso adalah proses kliring antar kota, baik dalam negeri maupun luar negeri. Biasanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan akan lebih lama.

    Safe Deposit Box
    Safe Deposit Box merupakan jasa bank yang diberikan kepada pada nasabah, yaitu berupa kotak untuk menyimpan dokumen-dokumen atau benda benda berharganya.

    Bank Card
    Bank card merupakan kartu plastik yang dikeluarkan bank dan diberikan kepada nasabahnya untuk dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran di berbagai tempat.
    Dalam system kerja bank card terlihat ada 3 pihak yang terlibat dalam prosesnya, yaitu:
    1. Bank sebagai penerbit dan pembayar
    2. Pedagang / merchant, sebagai tempat belanja
    3. Pemegang kartu / card holder, sebagai yang berhak melakukan transaksi.
    Keleluasaan dan kebebasan dalam menggunakan sangat dibatasi pada jenis kartu yang diterbitkan. Setiap jenis bank card memiliki keunggulan dan kekurangan.
    • Charge card, suatu system dimana pemegang kartu harus melunasi semua penagihan yang terjadi atas dirinya sekaligus pada sat jatuh tempo
    • Credit card, suatu system dimana pemegang kartu dapat melunasi penahian yang terjadi atas dirinya secar angsuran pada saat jatuh tempo
    • Debet card, pembayaran atas penagihan nasbaah melalui pendebetan atas rekening yang ada di bank dimana pada saat membuka kartu
    • Smart card, berfungsi sebagai rekening terpadu
    • Private label card, merupakan kartu yang diterbitkan oleh suatu badan usaha (bukan bank) dan penggunaan kartu hanya sebatas pada perusahaan yang mengeluarkan.

    Bank Note
    Bank note merupakan uang kartal asing yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh bank di luar negeri. Jual beli bank note merupakan transaksi antara valuta yang dapat diterima pembayarannya dan dapat diperjualbelikan dan diperdagangkan kembali sesuai dengan nilai tukarnya
    Pada transaksi jual beli bank akan mengelompokkan bank note lemah (ITL, FRF, MYR) dan bank note kuat (USD, SGD, AUD, DEM, JPY). Dalam transaksinya bank note, suatu bank akan menggunakan nilai kurs yang dikeluarkan oleh bank Indonesia.
    Beberapa istilah dalam transaksi bank note :

    Dalam transaksi jual beli bank note ada dua macam kurs, yaitu
    kurs beli (buying rate) dan kurs jual (selling rate).
    • Kurs jual adalah saat bank menjual atau nasabah membeli
    • Kurs beli adalah saat bank membeli atau nasabah menjua

    Traveller Cheque
    Travellers cheque dikenal dengan nama cek wisata atau cek perjalanan yang biasanya digunakan oleh nasabah yang bepergian.
    Cek Wisata ini biasanya diterbitkan dengan nominal tertentu
    Keuntungan :
    • Memberikan kemudahan berbelanja
    • Mengurangi resiko kehilangan uang
    • Memberikan rasa percaya diri
    • Dapat dijadikan cederamata atau hadiah untuk relasi biasanya tidak ada biaya apapun.

    Letter Of Credit (L/C)
    L/C adalah jasa bank yang diberikan kepada masyarakat (nasabah) untuk memperlancar arus barang dalam kegiatan ekspor-impor.
    LC merupakan suatu pernyataan dari bank atas permintaan nasabah (importir) untuk menyediakan dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga
    (eksportir).

    Bank Garansi
    Guarantee (garansi) artinya jaminan Bank Garansi adalah jaminan bank dalam penyelesaian suatu proyek jika pelaksana (kontraktor) ingkar/cedera janji.
    Dengan adanya BG pemilik proyek mendapat kepastian bahwa proyek akan berjalan sesuai dengan perjanjian.

    1. Terjadi perundingan rencana kerja proyek
    2. Kontraktor mengajukan Bank Garansi pada bank
    3. Bank memberikan Sertifikat BG
    4. Sertifikat diberikan pada pemilik proyek
    5. Pemilik Proyek memberikan proyek pada kontraktor
    6. Bila kontraktor cedera janji maka pemilik proyek dapat mencairkan sertifikat BG pada bank
    7. Bank penjamin akan membayar sertifikat BG pada pemilik proyek Bila pekerjaan diselesaikan oleh kontraktor maka sertifikat BG harus dikembalikan.

    Menerima Setoran-Setoran
    Jasa ini diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam melakukan setoran atau
    pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima bank antar lain :
    pembayaran listrik, telpon, pajak, uang kuliah, rekening air dan setoran ONH

    Melakukan Pembayaran
    Jasa ini termasuk jasa lain-lain yang juga disediakan oleh bank, diantaranya pembayaran gaji, pensiun, bonus dan hadiah.

    Kesimpulan
    Dalam dunia perbankan penawaran jasa merupakan suatu Profit Strategy untuk memikat lebih banyak pelanggan baru, mempertahankan pelanggan yang ada, menghindari berpindahnya pelanggan dan menciptakan keunggulan khusus.
    Persaingan antar bank di Indonesia memunculkan era baru perbankan. Era baru yang dimaksud adalah era yang dinamis dimana tingkat persaingan bisnis antar perusahaan semakin ketat baik di pasar domestik maupun pasar internasional, khususnya persaingan bisnis antar jasa layanan bank. Banyaknya bank menyebabkan persaingan dalam industri perbankan semakin ketat. Masing-masing bank berlomba menarik dana dari masyarakat, baik dengan tawaran hadiah maupun bunga yang tinggi. Dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan tersebut, maka bank-bank harus jeli dalam melihat peluang pasar serta keinginan dan kebutuhan dari nasabah. Bank yang ingin berkembang dan mendapatkan keunggulan kompetitif harus dapat memberikan jasa berkualitas dengan biaya yang lebih murah, dan pelayanan yang lebih baik dan dapat memuaskan kebutuhan nasabah sehingga timbul loyalitas.
    Daftar Pustaka
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan
    http://suherilbs.files.wordpress.com/2007/12/Jasa-perbankan.doc
    http://sinarharapan.com//prinsip-dasar-dunia-perbankan

  30. Nama : wakhidah tri adityawati
    NIM : 20090730034
    Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Perkembangan perbankan di Asia, Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila ditelusuri, sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dengan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang membutuhkannya. Jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
    Jasa bank sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Jasa perbankan pada umumnya terbagi atas dua tujuan. Pertama, sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah. Untuk ini, bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi. Tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu.
    Kedua, dengan menerima tabungan dari nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik, ekonomi suatu negara akan menngkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman.
    Jasa-jasa bank merupakan kegiatan perbankan yang dilakukan oleh suatu bank untuk memperlancar kegiatan menghimpun dana dan menyalurkan dana. Semakin lengkap jasa bank yang diberikan maka akan semakin baik dengan demikian akan menarik nasabah. Hal tersebut karena nasabah merasa nyaman melakukan kegiatan keuangan dari satu bank saja.
    Bank melaksanakan jasa ini tidak hanya untuk menarik perhatian nasabah semata-mata, namun juga untuk mencari keuntunagn yang disebut dengan fee based.
    Keuntungan yang diperoleh dari jasa bank antara lain :
    1. biaya adminstrasi (adm kredit )
    2. biaya kirim (biaya transfer)
    3. biaya tagih (biaya kliring)
    4. biaya provisi dan komisi (jasa kredit/transfer)
    5. biaya sewa (sewa safe deposit box)
    6. biaya iuran (biaya kartu kredit)
    7. biaya lain-lain.
    Macam-Macam Jasa Perbankan
    Kiriman Uang (Transfer)
    Transfer merupakan jasa pengiriman uang lewat bank baik dalam kota, luar kota atau pun ke luar negeri. Sarana yang digunakan dalam jasa transfer ini tergantung kemauan nasabah, dan hal tersebut akan mempengaruhi kecepatan pengiriman dan besar kecilnya biaya pengiriman.
    Kliring (Clearing)
    Kriling merupakan jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara saling
    menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Lembaga ini dibentuk dan dikoordinir oleh Bank Indonesia setiap hari kerja, dan peserta kliring merupakan bank yang sudah mendapat ijin dari BI.
    Tujuan dilaksanakan kliring oleh Bank Indonesia antara lain :
    1. Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral
    2. Agar perhitungan penyelesaian utang piutang dapat dilakukan dengan lebih mudah, aman dan efisien
    3. Salah satu pelayanan bank kepada nasabah
    Warkat-warkat yang dapat dikliringkan atau diselesaikan di lembaga kliring adalah warkat-warkat yang berasal dari dalam kota, seperti :
    – cek
    – bilyet giro
    – wesel bank
    – Surat bukti penerimaaan transfer
    – Lalu lintas girat / nota kredit
    Proses penyelesaian warkat-warkat kliring di lembaga kliring (dilihat dari sisi bank)
    1. Kliring Keluar, membawa warkat kliring ke lembaga kliring (Nota debet/kredit keluar)
    2. Kliring Masuk, menerima warkat kliring dari lembaga kliringa (Nota debet/kredit masuk)
    3. Pengembalian Kliring, pengembalian warkaat yang tidak memenurhi syarat yang telah ditentukan.
    Mekanisme Kliring

    1. Tn. A bertansaksi dengan Tn B
    2. Tn. A memberikan Cek pada Tn B
    Tn. B sebagai nasabah Bank ‘XYZ’ melakukan setoran kliring di Bank ‘XYZ’
    1. Bank ‘XYZ’ mengirimkan Warkat (Nota Debet  ND Keluar) kepada Lembaga Kliring
    2. Lembaga Kliring akan meneruskan Warkat kepada Bank ‘ABC’ (Nota Debet  ND Masuk)
    3. Setelah proses pengecekan dan cek dinyatakan sah, maka di informasikan kepada Lembaga kliring untuk mendebet rekening Bank ‘ABC’ di BI dan di kredit ke rekening Bank ‘XYZ’
    4. Penyampaikan hasil kliring kepada Bank ‘XYZ’ dan pihak Bank akan mengkridit rekening Tn B.
    Setelah proses kliring berjalan, pada sore hari masing-masing bank akan membuat perhitungan kliring untuk mengetahui apakah bank tersebut menang atau kalah kliring.
    Bank yang menang kliring adalah bank yang jumlah warkat tagihan warkat kliring
    melebihi pembayaran warkat kliringnya.
    Bank yang kalah kliring justru sebaiknya, dimana pembayaran warkat kliring lebih besar dari warkat tagihan.

    Inkaso (Collection)
    Secara umum dapat dikatakan bahwa inkaso adalah proses kliring antar kota, baik dalam negeri maupun luar negeri. Biasanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan akan lebih lama.
    Safe Deposit Box
    Safe Deposit Box merupakan jasa bank yang diberikan kepada pada nasabah, yaitu berupa kotak untuk menyimpan dokumen-dokumen atau benda benda berharganya.
    Bank Card
    Bank card merupakan kartu plastik yang dikeluarkan bank dan diberikan kepada
    nasabahnya untuk dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran di berbagai tempat.
    Dalam system kerja bank card terlihaaat ada 3 pihak yang terlibat dalam prosesnya, yaitu:
    1. Bank sebagai penerbit dan pembayar
    2. Pedagang / merchant, sebagai tempat belanja
    3. Pemegang kartu / card holder, sebagai yang berhak melakukan transaksi.
    Keleluasaan dan kebebasan dalam menggunakan sangat dibatasi pada jenis kartu yang diterbitkan. Setiap jenis bank card memiliki keunggulan dan kekurangan.
    • Charge card, suatu system dimana pemegang kartu harus melunasi semua penagihan yang terjadi atas dirinya sekaligus pada sat jatuh tempo
    • Credit card, suatu system dimana pemegang kartu dapat melunasi penahian yang terjadi atas dirinya secar angsuran pada saat jatuh tempo
    • Debet card, pembayaran atas penagihan nasbaah melalui pendebetan atas rekening yang ada di bank dimana pada saat membuka kartu
    • Smart card, berfungsi sebagai rekening terpadu
    • Private label card, merupakan kartu yang diterbitkan oleh suatu badan usaha (bukan bank) dan penggunaan kartu hanya sebatas pada perusahaan yang mengeluarkan.
    Bank Note
    Bank note merupakan uang kartal asing yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh bank di luar negeri. Jual beli bank note merupakan transaksi antara valuta yang dapat diterima
    pembayarannya dan dapat diperjualbelikan dan diperdagangkan kembali sesuai dengan
    nilai tukarnya
    Pada transaksi jual beli bank akan mengelompokkan bank note lemah (ITL, FRF, MYR) dan bank note kuat (USD, SGD, AUD, DEM, JPY). Dalam transaksinya bank note, suatu bank akan menggunakan nilai kurs yang dikeluarkan oleh bank Indonesia.
    Beberapa istilah dalam transaksi bank note :

    Dalam transaksi jual beli bank note ada dua macam kurs, yaitu
    kurs beli (buying rate)
    dan kurs jual (selling rate).
    • Kurs jual adalah saat bank menjual atau nasabah membeli
    • Kurs beli adalah saat bank membeli atau nasabah menjua
    Traveller Cheque
    Travellers cheque dikenal dengan nama cek wisata atau cek perjalanan yang biasanya digunakan oleh nasabah yang bepergian.
    Cek Wisata ini biasanya diterbitkan dengan nominal tertentu
    Keuntungan :
    • Memberikan kemudahan berbelanja
    • Mengurangi resiko kehilangan uang
    • Memberikan rasa percaya diri
    • Dapat dijadikan cederamata atau hadiah untuk relasi biasanya tidak ada biaya apapun
    Letter Of Credit (L/C)
    L/C adalah jasa bank yang diberikan kepada masyarakat (nasabah) untuk memperlancar arus barang dalam kegiatan ekspor-impor
    LC merupakan suatu pernyataan dari bank atas permintaan nasabah (importir) untuk menyediakan dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga
    (eksportir).

    Bank Garansi
    Guarantee (garansi) artinya jaminan Bank Garansi adalah jaminan bank dalam penyelesaian suatu proyek jika pelaksana (kontraktor) ingkar/cedera janji.
    Dengan adanya BG pemilik proyek mendapat kepastian bahwa proyek akan berjalan sesuai dengan perjanjian.

    1. Terjadi perundingan rencana kerja proyek
    2. Kontraktor mengajukan Bank Garansi pada bank
    3. Bank memberikan Sertifikat BG
    4. Sertifikat diberikan pada pemilik proyek
    5. Pemilik Proyek memberikan proyek pada kontraktor
    6. Bila kontraktor cedera janji maka pemilik proyek dapat mencairkan sertifikat BG pada bank
    7. Bank penjamin akan membayar sertifikat BG pada pemilik proyek Bila pekerjaan diselesaikan oleh kontraktor maka sertifikat BG harus dikembalikan
    Menerima Setoran-Setoran
    Jasa ini diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam melakukan setoran atau
    pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima bank antar lain :
    pembayaran listrik, telpon, pajak, uang kuliah, rekening air dan setoran ONH
    Melakukan Pembayaran
    Jasa ini termasuk jasa lain-lain yang juga disediakan oleh bank, diantaranya pembayaran gaji, pensiun, bonus dan hadiah.

    Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Setelah deregulasi perbankan di Indonesia tanggal 1 Juni 1983 maka sistem perbankan di Indonesia diberi keluasaan dalam mengembangkan usahanya dengan mengemban misi pemerintah yaitu sebagai Agent of Development dalam mensukseskan pembangunan disegala bidang.
    Dewasa ini semakin ketatnya antar bank menggambarkan tidak mudahnya untuk melakukan usaha menghimpun dana dari masyarakat. Persaingan yang begitu ketat disektor perbankan baik itu antara bank milik pemerintah atau swasta nasional juga dengan bank asing, karena bank asing telah diberi kebebasan untuk mengembangkan operasinya di Indonesia.
    Akibat begitu ketatnya persaingan, maka bank-bank berlomba-lomba mempromosikan atau mengenalkan produk yang mereka tawarkan dengan berbagai macam kelebihan dan keunggulan dari produk perbankan tersebut. Salah satu bank yang ikut berlomba adalah Bank Negara Indonesia (BNI) ikut berlomba dan berusaha untuk memasarkan produknya agar dapat menjaring nasabah dan menjaring pengendapan dana sebanyak mungkin di Bank Negara Indonesia (BNI).
    Sebagai salah satu bisnis unit Bank BNI, Divisi Pengelolaan Bisnis Kartu atau Card Center juga mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan dengan tujuan ikut serta menjaring pengumpulan dana yang pada akhirnya mendukung persaingan Bank BNI di kancah perbankan nasional. Kartu kredit, dan Kartu Debit beserta segala bentuk fiturnya dimaksudkan sebagai pelayanan untuk memberikan kepuasan bagi Nasabah BNI. ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dan Phone Plus (sekarang Call Center BNI) juga merupakan bagian dari sarana yang memudahkan nasabah Bank BNI melakukan transaksi atas dana yang mereka percayakan kepada Bank BNI.
    Dengan adanya ATM yang berfungsi 24 jam, para nasabah pemegang kartu debit dan juga kartu kredit BNI bisa melakukan berbagai transaksi tanpa batasan jam kerja atau transaksi yang bersifat segera dan penting, begitu juga dengan layanan phone plus (Call Center) yang juga bekerja 24 jam, para nasabah yang sudah memanfaatkan sarana tersebut dapat melakukan berbagai transaksi hanya memerlukan sarana telepon, mereka tidak perlu mendatangi cabang-cabang Bank BNI, dengan demikian nasabah dimudahkan karena dapat menghemat waktu dan tenaga.
    Namun sampai sejauh ini penulis melihat pelayanan yang diberikan belum maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan oleh nasabah Bank BNI secara keseluruhan maupun nasabah pengguna beberapa fasilitas yang telah diuraikan sebelumnya. Disini diharapkan perusahaan cepat tanggap terhadap kelemahan pelayanan yang ada dan berusaha untuk memperbaikinya. Karena apabila kelemahan ini dibiarkan begitu saja, maka akan menimbulkan citra pelayanan yang jelek dan para nasabah tidak akan lagi mempergunakan layanan produk tersebut yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
    Layanan bank akan menjadikan ukuran kapabilitas usaha bank yang bersangkutan maka profesionalisme atau layanan yang sebaik-baiknya mutlak terjadi dan memang harus dilaksanakan. Maka menyadari akan semua itu, maka pelayanan akan berkorelerasi secara positif terhadap kepuasan nasabah amat sangat diperlukan yang pada akhirnya akan bermuara kepada keberhasilan menarik nasabah.
    Berdasarkan uraian yang telah digambarkan diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti pelaksanaan pelayanan Pelayanan di Bank BNI, Sehingga penulis ingin mencoba memberi judul skripsi ini : “Analisis Pelaksanaan Pelayanan Pada Pusat Penunjang Sistem Operasional BNI Card Centre Terhadap Kepuasan Nasabah Pada Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk”.

  31. Nama: marlina mega tarti
    NIM : 20090730035
    Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.
    Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain [2]:
    • Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
    • Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.
    • Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
    • Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
    • Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
    Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
    Jasa untuk peminjam dana
    • Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
    • Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan.
    • Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah. [5]
    • Takaful (asuransi islam)
    Jasa untuk penyimpan dana
    • Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. [6]
    • Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.
    Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.
    Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain
    • Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
    • Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.
    • Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
    • Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
    • Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
    Prinsip perbankan syariah pada akhirnya akan membawa kemaslahatan bagi umat karena menjanjikan keseimbangan sistem ekonominya[1].
    Komentar: Hal ini sangat disayangkan karena kurangnya pengetahuan tentang prinsip tersebut sehingga masih banyak masyarakat yang kurang percaya dan kurang merasa mudah menggunakan fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam prinsip-prinsip Bank Syari’ah. Didalam perbankaqn syari’ah telah diatur berbagai macam transaksi yang tidak merugikan bagi kedua pihak. Karena jika sampai ada yang dirugikan dan dirugikan maka sudah melanggar ajaran Islam itu sendiri. Prinsip perbankan syari’ah itu sendiri bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
    Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
    Jasa untuk peminjam dana
    • Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
    • Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan
    • Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah. (asuransi islam)
    Jasa untuk penyimpan dana
    • Wadi’ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. Bank Muamalat Indonesia-Shahibul Maal.
    • Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

    Tantangan Pengelolaan Dana
    Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima tahun terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah Indonesia membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu, Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah, masih tertinggal jauh di belakang Malaysia.
    Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272 juta dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran ini hampir mencapai 12 persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset perbankan syariah periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank Indonesia memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan dimulai tahun ini.
    Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta hadirnya investor-investor baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan perbankan syariah, Adiwarman Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah antara lain akan ditandai penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah.
    Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap menyambut penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah investor dari negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi menjadi bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500 miliar dan Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global.
    Adanya perbankan syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)dengan tujuan mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk mengambil prinsip kehati-hatian. Apabila dilihat dari segi ekonomi dan nilai bisnis, ini merupakan terobosan besar karena penduduk Indonesia 80% beragama islam, tentunya ini bisnis yang sangat potensial. Meskipun sebagian orang islam berpendapat bahwa bunga bank itu bukan riba tetapi faedah, karena bunga yang diberikan atau diambil oleh bank berjumlah kecil jadi tidak akan saling dirugikan atau didzolimi, tetapi tetap saja bagi umat islam berdirinya bank-bank syariah adalah sebuah kemajuan besar.
    Tetapi sistem perbankan syariah di Indonesia masih belum sempurna atau masih ada kekurangannya yaitu masih berinduk pada Bank Indonesia, idealnya pemerintah Indonesia mendirikan lembaga keuangan khusus syariah yang setingkat Bank Indonesia yaitu Bank Indonesia Syariah.

  32. NAMA : NOVI SULISTIYANI
    NIM : 20090730029
    SISTEM OPERASIONAL JASA LAYANAN PERBANKAN
    TRANSFER
    Transfer adalah suatu kegiatan jasa bank untuk memindahkan sejumlah dana
    tertentu sesuai dengan perintah si pemberi amanat yang ditujukan untuk keuntungan
    seseorang yang ditunjuk sebagai penerima transfer.
    Baik transfer uang keluar atau masuk akan mengakibatkan adanya hubungan antar
    cabang yang bersifat timbal balik, artinya bila satu cabang mendebet cabang lain
    mengkredit.
    1. TRANSFER KELUAR
    Salah satu jenis pengiriman uang yang dapat menyederhanakan lalu lintas
    pembayaran adalah dengan pengiriman uang keluar. Media untuk melakukan
    transfer ini adalah secara tertulis ataupun melalui kawat.
    Pembatalan Transfer keluar :
    Bila terjadi pembatalan transfer, haruslah diperhatikan bahwa pembatalan tersebut
    hanya dapat dilakukan bila transfer keluar belum dibayarkan kepada si penerima
    uang dan untuk itu bank pemberi amanat harus memberi perintah berupa “stop
    payment” kepada cabang pembayaran. Pembayaran pembatalan ini baru dapat
    dilakukan oleh bank pemberi amanat kepada nasabah pemberi amanat hanya
    apabila telah diterima berita konfirmasi dari bank pembayar bahwa memang
    transfer dimaksud belum dibayarkan.
    2. TRANSFER MASUK
    Transfer masuk, dimana bank menerima amanat dari salah satu cabang untuk
    membayar sejumlah uang kepada seseorang beneficiary. Dalam hal ini bank
    pembayar akan membukukan hasil transfer kepada rekening nasabah beneficiary
    bila ia memiliki rekening di bank pembayar.
    Jasa – Jasa Perbankan
    1. Transfer
    2. Inkaso
    3. Bank garansi
    4. Letter of Credit
    5. Waliamanat
    6. Kliring
    INKASO
    Inkaso merupakan kegiatan jasa Bank untuk melakukan amanat dari pihak ke tiga
    berupa penagihan sejumlah uang kepada seseorang atau badan tertentu di kota lain yang
    telah ditunjuk oleh si pemberi amanat.
    1. WARKAT INKASO
    a. Warkat inkaso tanpa lampiran
    Yaitu warkat – warkat inkaso yang tidak dilampirkan dengan dokumen –
    dokumen apapun seperti cek, bilyet giro, wesel dan surat berharga
    b. Warkat inkaso dengan lampiran
    Yaitu warkat – warkat inkaso yang dilampirkan dengan dokumen – dokumen
    lainnya seperti kwitansi, faktur, polis asuransi dan dokumen – dokumen
    penting.
    2. JENIS INKASO
    a. Inkaso Keluar
    Merupakan kegiatan untuk menagih suatu warkat yang telah diterbitkan oleh
    nasabah bank lain. Di sini bank menerima amanat dari nasabahnya sendiri
    untuk menagih warkat tersebut kepada seseorang nasabah bank lain di kota
    lain.
    b. Inkaso masuk
    Merupakan kegiatan yang masuk atas warkat yang telah diterbitkan oleh
    nasabah sendiri.
    Dalam kegiatan inkaso masuk, bank hanya memeriksa kecukupan dari
    nasabahnya yang telah menerbitkan warkat kepada pihak ke tiga. 4
    BANK GARANSI
    Bank garansi adalah salah satu jasa yang diberikan oleh bank berupa jaminan
    pembayaran sejumlah tertentu uang yang akan diberikan kepada pihak yang menerima
    jaminan, hanya apabila pihak yang dijamin melakukan cidera janji. Perjanjian bisa berupa
    perjanjian jual – beli, sewa, kontrak – mengontrak, pemborongan, dan lain – lain. Pihak
    yang dijamin biasanya adalah nasabah bank yang besangkutan, sedangkan jaminan
    diberikan kepada pihak lain yang mengadakan suatu perjanjian dengan nasabah
    Jenis dan Manfaat Bank Garansi
    Beberapa jenis bank garansi yang ada antara lain:
    1. Bank Garansi Pembelian
    Bank garansi diberikan kepada supplier/pabrik sebagai jaminan pembayaran atas
    pembelian barang oleh nasabah atau pihak yang dijamin oleh bank.
    2. Bank Garansi Pita Cukai Tembakau
    Bank garansi yang diberikan kantor bea cukai sebagai jaminan pembayaran pita
    cukai tembakau atas rokok yang dijual oleh pabrik rokok, dalam hal ini pihak
    yang dijamin adalah pabrik rokok.
    3. Bank Garansi Penangguhan Bea Masuk
    Bank garansi yang diberikan kepada kantor bea cukai sebagai jaminan
    pembayaran bea masuk atas barang yang dikeluarkan dari pelabuhan milik
    nasabah.
    4. Bank Garansi Tender (Bid Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi yang akan mengikuti tender atas suatu proyek,
    dalam hal ini pihak yang dijamin adalah kontraktor/leverensi tersebut. Salah satu
    persyaratan kontraktor/leverensi dapat mengikuti tender adalah menyerahkan
    bank garansi.
    5. Bank Garansi Pelaksanaan (Perfomance Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi guna menjamin pelaksanaan pekerjaan/proyek
    oleh kontraktor/leverensi, dalam hal ini pihak yang dijamin adalah
    kontraktor/leverensi.
    6. Bank Garansi Uang Muka (Advance Payment Bond)
    Bank garansi yang diberikan kepada pemilik proyek (bouwheer) untuk
    kepentingan kontraktor/leverensi atas uang muka yang diterima oleh
    kontraktor/leverensi, dalam hal ini pihak yang dijamin adalah
    kontraktor/leverensi.
    7. Bank Garansi Pemeliharaan (Retention Bond)
    Bank garansi yang diberikan pemilik proyek (bouwheer) untuk kepentingan
    kontraktor/leverensi guna menjamin pemeliharaan atas proyek yang telah
    diselesaikan oleh kontraktor/leverensi.
    LETTER of CREDIT
    Letter of Credit atau dalam bahasa Indonesia disebut Surat Kredit Berdokumen
    merupakan salah satu jasa yang ditawarkan bank dalam rangka pembelian barang, berupa
    penangguhan pembayaran pembelian oleh pembeli sejak LC dibuka sampai dengan
    jangka waktu tertentu sesuai perjanjian. Berdasarkan pengertian tersebut, tipe perjanjian
    yang dapat difasilitasi LC terbatas hanya pada perjanjian jual – beli, sedangkan fasilitas
    yang diberikan adalah berupa penangguhan pembayaran.
    WALIAMANAT
    Waliamanat adalah pihak yang mewakili kepentingan Pemegang Efek bersifat
    uang. Bank Umum yang akan bertindak sebagai Wali Amanat wajib terlebih dahulu
    terdaftar di Bapepan untuk mendapatkan Surat Tanda Terdaftar sebagai Wali Amanat.
    Manfaat dari Wali Amanat adalah:
    1. Memenuhi salah satu persyaratan atas penerbitan obligasi.
    2. Meningkatkan kepercayaan investor untuk membeli obligasi yang diterbitkan.
    3. Menambah kepercayaan investor atas bonafiditas emiten.
    KLIRING
    Salah satu fungsi bank yang sangat vital terutama dalam mrmbantu transaksi
    bisnis adalah penyediaan jasa – jasa yang disediakan bank umum antara lain:
    1. KLIRING
    Kliring adalah suatu cara penyelasaian utang – piutang antara bank – bank
    peserta kliring dalam bentuk warkat atau surat – surat berharga disuatu tempat
    tertentu.
    Warkat kliring antara lain: cek, bilyet, CD, Nota Debet dan Nota Kredit.
    Warkat harus dinyatakan dalam mata uang rupiah, bernilai nominal penuh, dan
    telah jatuh tempo.
    Kliring dibagi 2, yaitu:
    1. Kliring Manual
    2. Kliring Elektronik
    Bank Peserta Kliring
    Bank yang termasuk sebagai peserta kliring adalah bank umum yang berada
    dalam wilayah tertentu dan tidak dihentikan kepesertaannya dalam kliring oleh Bank
    Indonesia. Sebuah bank dapat dilarang untuk mengikuti kliring karena berbagai alas an.
    Mekanisme Kliring
    Pertemuan kliring dilakukan dalam dua tahap yaitu:
    a. Kliring Penyerahan
    Kegiatan yang harus dilakukan:
    1. Warkat dicap yang memuat sebutan “kliring” dan dicantumkan nomor
    kode kelompok peserta.
    2. Persetujuan penyelenggara dan peserta lain.
    b. Kliring Retur
    1. Setelah warkat dikembalikan kemudian dikelompokkan menurut peserta
    dan dicatat dalam daftar kliring retur lengkap dengan nilai nominalnya.
    2. Penyelenggara selanjutnya menyusun neraca gabungan peserta.
    3. Mencari pinjaman dari bank lain atau call money.
    Kliring Elektronik
    adalah kliring lokal dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo
    kliring yang didasarkan pada data keuangan elektronik disertai penyampaian warkat
    (surat berharga.
    Tujuan diselenggarakannya elektronik ini adalah:
    1. meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran cepat, akurat,
    andal, aman, dan lancar.
    2. meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan keamanan pelaksanaan dan pengawasan
    c. Proses
    1. Siklus kliring nominal besar
    2. Siklus kliring ritel
    d. Settlement
    e. Biaya
    Bank Indonesia mengenakan biaya kepada para peserta kliring.
    Sistem operasional bank syariah
    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:

    1. Sistem Penghimpunan Dana
    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.
    Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal
    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.
    b. Titipan (Wadi’ah)
    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.
    c. Investasi (Mudharabah)
    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:
    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.
    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).
    b.Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.
    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.
    Kemitraan (Musyarakah)
    Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah kemitraan (musyarakah). Transaksi musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusi dan pihak yang bekerjasama dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment), atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat di nilai dengan uang.
    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

  33. Sistem operasional bank syariah
    artikel tentang sistem operasional perbankan sy…

    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: 22

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

    Nah, pokoknya gitu dech apa yang di omongin sama teller Rina, soalnya baru ditanya satu kalimat langsung dremimil mulutnya, dijelasin sampek detail banget. Karena aku cuman sebagai orang awam nasabah BNI, yah aku respon aku jawab, iya..iya…iya…ooo, gitu. Penjelasan tadi aku ketik semuanya liat di brosur BNI nya, karena brosurnya tulisannya kebanyakan mungkin cumin sedikit agak disingkat supaya pembaca blog kompasiana ini lebih jelas dan mudeng. Untuk lebih lanjutnya bisa datang aja di kantor Bank BNI diseluruh cabang Indonesia.

    Dari penjelasan yang panjang tadi aku pilih salah satu, yang anggap aku paling menguntungkan, kenapa? Karena sistemnya sangat berbeda sekali dengan Bank-Bank Konvesional lainya, yang selalu pakai biaya administrasi, maklum mahasiswa baru belum dapet gaji alias belum kerja jadi uang masih minta dari orang tua. Dan itu juga gak pasti, walaupun saldo tabunganku tidak diisi selama berbulan-bulan, ya gak bakalan habis kena charge administrasi itu. Alias gak ada potongan administrasi, juga gak dapat bunga. Dengan bahasa kasarnya cuman titip uang saja di bank.Mau di isi Rp.100.000,- di saldo tabungan akan tetap Rp.100.000,- mau diambil 1tahun kemudian tetap seratus ribu rupiah, tidak bakal berkurang. Anda percaya tidak? Kalau tidak percaya, Tanya aja sama teller Bank BNI di kota anda!!!

    Cukup sekian pengalaman pribadi saya, ngomong-ngomong nanti setelah baca artikel / blog ini tolong isi saran dan pendapatnya yah?? Semoga saya dapat menambah ilmu sekalian dari anda.

  34. NAMA : UMAR HAMDI HANAFI
    NIM : 20090730071

    SISTEM OPERASIONAL JASA LAYANAN PERBANKAN SYARIAH

    PERBANKAN SYARIAH

    Perbankan Syariah dapat diartikan sebagai suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.

    BEBERAPA PRINSIP/HUKUM YANG DIANUT OLEH SISTEM PERBANKAN SYARIAH ANTARA LAIN :

    1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

    2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.

    3. Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.

    4. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

    5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
    SEJARAH PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    Sebelum kembali mempelajari lebih detail tentang perbankan syariah, tak ada salah sejenak kita memutar mundur kembali jarum waktu. Sejenak melihat ke belakang, sedikit mempelajari langkah-langkah awal terlahirnya perbankan syariah.
    Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah ini dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance islam modern, yakni neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan ini sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Upaya awal penerapan system profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya pengelolaan dana jama’ah ahji secara non konvensional. Rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir.
    Setelah itu, pada sidang menteri-menteri luar negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi, Paskistan, pada Desember 1970, Mesir mengajukan proposal untuk mendirikan bank syariah. Proposal yang disebut sebagai studi tentang pendirian bank islam internasional untuk perdagangan dan pembangunan (international Islamic bank for trade and development) dan proposal pendirian federasi bank islam (Federation of Islamic Banks), dikaji para ahli dari delapan belas Negara Islam. Proposal tersebut pada intinya mengusulkan bahwa sistem keuangan berdasarkan bunga harus digantikan dengan suatu sistem kerja sama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.
    Perkembangan lembaga keuangan islam berlanjut pada sidang OKI lima tahun kemudian, di Jeddah pada tahun 1975. Sidang menteri keuangan Negara OKI tersebut menyetujui pendirian Bank Pembangunan Islami atau Islamic Development Bank dengan modal awal 2 miliar dinar Islam atau ekuivalen dengan 2 miliar SDR (Special Drawing Rights).

    Perbankan syariah di Indonesia, pertama kali dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia yang berdiri pada tahun 1991. Bank ini pada awal berdirinya diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta mendapat dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Pada saat krisis moneter yang terjadi pada akhir tahun 1990,bank ini mengalami kesulitan sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba.
    Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia (Persero).
    Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah berkembang 104 BPR Syariah.

    Prinsip kerja bank syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

    PRODUK BANK SYARIAH

    1. Al-wadi’ah (Simpanan/Depository)

    Al-Wadi’ah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.

     Penerima sim¬panan disebut yad al-amanah yang artinya tangan amanah. Si pe¬nyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan dan keru¬sakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kela¬laian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.

    Penggunaan uang titipan harus terlebih dulu meminta izin kepada si pemilik uang dan dengan catatan si pengguna uang menjamin akan mengembalikan uang ter¬sebut secara utuh. Dengan demikian prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi yad adh-dhamanah (tangan penanggung).

    Konsekuensi dari diterapkannya prinsip yad adh-dhamanah pihak bank akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun sebaliknya bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank.

    Sebagai imbalan kepada pemilik dana disamping jaminan keamanan uangnya juga akan memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau bonus untuk giro wadiah. Artinya bank tidak di-larang untuk memberikan jasa atas pemakaian uangnya berupa in¬sentif atau bonus, dengan catatan tanpa perjanjian terlebih dulu baik nominal maupun persentase dan ini murni merupakan kebijakan bank sebagai pengguna uang. Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya digunakan istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya diberikan kepada nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang telah ditetapkan.

    Dalam praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan (mudharib) biasanya bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40%:60% untuk simpanan tabungan dan nisbah 45%:55% untuk simpanan deposito.

    Contoh rekening giro Wadiah :

    Tn. Baris memiliki rekening giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat dengan saldo rata-rata pada bulan Mei 2002 adalah Rp 1.000.000,-. Bonus yang diberikan Bank Muamalat Sungailiat kepada nasabah adalah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp 500.000,-. Diasumsikan total dana giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat adalah Rp 500.000.000,-. Pendapatan Bank Muamalat Sungailiat dari penggunaan giro wadiah adalah Rp 20.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa bonus yang diterima oleh Tn. Baris pada akhir bulan Mei 2002.

    Jawab :

    Rp 1.000.000,-
    Bonus yang diterima = x Rp 20.000.000,- x 30 % Tn. Baris Rp 500.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 12.000,-¬

    Contoh Perhitungan Keuntungan Tabungan Mudharabah :

    Tn. Derani memiliki tabungan di Bank Syariah Pangkal Pinang. Pada bulan juni 2002 Saldo rata-rata tabungan Tn. Derani adalah sebesar Rp 10.000.000,-. Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Pangkal Pinang dengan deposan adalah 40%:60%. Saldo rata-rata tabungan per-bulan di seluruh Bank Syariah Pangkal Pinang adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan Bank Syariah Pangkal Pinang yang dibagihasilkan adalah Rp 40.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Derani pada bulan yang bersangkutan.

    Jawab :

    Rp 10.000.000,-¬
    Keuntungan = x Rp 40.000.000,- x 60 %
    Tn. Derani Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 24.000,¬-

    Contoh Perhitungan Keuntungan Deposito Mudharabah :

    Tn. Rahman Hakim memiliki deposito sebesar Rp 100.000.000, ¬untuk jangka waktu 1 bulan di Bank Syariah Belinyu. Bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Belinyu dengan nasabah adalah 45%:55%. Saldo rata-rata deposito per bulan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan yang dibagihasilkan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 500.000.000, -.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Rahman Hakim dari nisbah yang ditetapkan.

    Jawab:

    Rp 100.000.000,-
    Keuntungan = x Rp 500.000.000,- x 55% nasabah Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 2.750.000,¬-

    2. Pembiayaan Bagi Hasil (Profit-Sharing)

    a. Al-musyarakah

    Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau le¬bih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak membe¬rikan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

    AI-musyarakah dalam praktik perbankan diaplikasikan dalam hal pembiayaan proyek. Dalam hal ini nasabah yang dibiayai dengan bank sama-sama menyediakan dana untuk melaksanakan proyek tersebut. Keuntungan dari proyek dibagi sesuai dengan kesepakatan untuk bank setelah terlebih dulu mengembalikan dana yang dipakai nasabah. Al-musyarakah dapat pula dilakukan untuk kegiatan investasi seperti pada lembaga keuangan modal ventura.

    b. AI-mudharabah

    Pengertian AI-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.

    mudharabah muthlaqah merupakan kerja sama antara pihak pertama dan pihak lain yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi oleh waktu, spesifikasi usaha dan daerah bisnis.
    mudharabah muqayyadah merupakan kebalikan dari mudharabah muthlaqah di mana pihak lain dibatasi oleh waktu spesifikasi usaha dan daerah bisnis.

    Dalam dunia perbankan Al-mudharabah biasanya diaplikasikan pada produk pembiayaan atau pendanaan seperti, pembiayaan mo¬dal kerja. Dana untuk kegiatan mudharabah diambil dari simpanan tabungan berjangka seperti tabungan haji atau tabungan kurban. Dana juga dapat dilakukan dari deposito biasa dan deposito spesial yang dititipkan nasabah untuk usaha tertentu.

    c. Al-muzara’ah

    Pengertian AI-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan ka¬sus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen.

    d. Al-musaqah

    Pengertian AI-musaqah merupakan bagian dari al-muza’arah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pe¬meliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.

    3. Jual Beli (Sale and Purchase)

    a. Bai’al Murabahah

    Pengertian Bai’al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya.

    Sebagai con¬toh harga pokok barang “X” Rp 100.000,-. Keuntungan yang diharap¬kan adalah sebesar Rp 5.000,-, sehingga harga jualnya Rp 105.000,-. Kegiatan Bai’al-Murabahah ini baru dilakukan setelah ada kesepa¬katan dengan pembeli, baru kemudian dilakukan pemesanan. Dalam dunia perbankan kegiatan Bai’al-Murabahah pada pembiayaan pro¬duk barang-barang investasi baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Letter of credit atau lebih dikenal dengan nama L/C.

    Sebagai contoh Ny. Pariani memerlukan sebuah mobil senilai Rp 30.000.000,-. Jika Bank Syariah Tanjung Pandan yang membiayai pembelian mobil tersebut maka Bank Syariah Tanjung Pandan mengharapkan suatu keuntungan sebesar Rp 6. 000.000,- selama 3 tahun, maka harga yang ditetapkan kepada Ny. Pariani adalah Rp 36.000.000, Kemudian jika nasabah setuju maka nasabah dapat mencicil dengan angsuran Rp 1.000.000,-. per bulan (diperoleh dari Rp 36.000.000,- : 36 bulan) kepada Bank Syariah Tanjung Pandan.

    b. Bai’as-salam

    Bai’as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemu¬dian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

    Sebagai contoh seorang petani lada yang bernama Tn. Ivan Pratama hendak menanam lada dan membutuhkan dana sebesar Rp 200.000.000, untuk satu hektar. Bank Syariah Toboali menyetujui dan melakukan akad di mana Bank Syariah Toboali akan membeli hasil lada tersebut sebanyak 10 ton dengan harga Rp 200.000.000,-. Pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan lada sebanyak 10 ton. Kemudian Bank Syariah Toboali dapat menjual lada ter¬sebut dengan harga yang relatif lebih tinggi misalnya Rp 25.000,- per. kilo. Dengan demikian penghasilan bank adalah 10 ton x Rp 25.000, = Rp 250.000.000,-. Dari hasil tersebut Bank Syariah Toboali akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 50.000.000,-. setelah dikurangi modal yang diberikan oleh Bank Syariah Toboali yaitu Rp 250.000.000,¬ dikurangi Rp 200.000.000,-.

    c. Bai’Al istishna’

    Bai’ Al istishna’ merupakan bentuk khusus dari akad Bai’as¬salam, oleh karena itu ketentuan dalam Bai` Al istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan Bai’as-salam. Pengertian Bai’ Al istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen (pembuat ba¬rang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara angsuran per bulan atau di belakang.

    CV. Sungai Layang yang bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan sepatu memperoleh order untuk membuat sepatu anak sekolah SMU senilai Rp 60.000.000,- dan mengajukan permodalan kepada Bank Syariah Koba. Harga perpasang sepatu yang diajukan adalah Rp 85.000,- dan pembayarannya diangsur selama tiga bulan. Harga perpasang sepatu dipasaran sekitar Rp 90.000,-. Dalam hal ini Bank Syariah Koba tidak tahu berapa biaya pokok produksi. CV. Su¬ngai Layang hanya memberikan keuntungan Rp 5000,- persepasang sepatu atau keuntungan keseluruhan adalah Rp 3.529.412,- yang diperoleh dari hitungan:

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 5.000,- = Rp 3.529.412,-
    ¬Rp 85.000,-¬

    Bank Syariah Koba dapat menawar harga yang diajukan oleh CV. Sungai Layang dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat dijual kepada masyarakat dengan harga murah pula. Katakanlah misalnya Bank Syariah Koba menawar harga Rp 86.000,- per pasang, sehingga masih untung Rp 4.000,- per pasang dan keuntungan keseluruhan adalah :

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 4.000,- = Rp 2.790.697,¬-
    Rp 86.000,¬-

    4. Sewa (Operational Lease and Financial)

    a. Al-Ijarah (Leasing)

    Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas ba¬rang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.

    b. Ijarah Munahia Bit-tamlik (Financial Lease with Purchase Option)

    Sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan ini pula yang membedakan dengan ijarah biasa.

    5. Jasa (Fee-Based Service)

    (Amanat)

    Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakati oleh si pem¬beri mandat.

    b. Al-Kafalah (Garansi)

    Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung ke¬pada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat di¬lakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.

    c. Al-Hawalah

    Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang ber¬utang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak kepada lain pi-hak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan kegiatan anjak piutang atau factoring.

    d. Ar-Rahn

    Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.

    e. Al-Qord (Soft and Benevolent Loan)

    • Qord

    Menurut etimologi berarti pinjaman, sedangakn menurut terminologi berarti akad pinjaman dari bank kepada pihak tertentu yang wajib dikembalikan dalam jumlah yang sama sesuai dengan pinjaman.

    • Qordhul Hasan

    Qardhul hasan adalah pinjam-meminjam tanpa disertai bunga. Bila suatu saat si peminjam tidak dapat mengembalikannya, maka berikan kelonggaran waktu pembayaran baginya. Namun, jika si peminjam benar-benar tidak bisa mengembalikannya, maka si pemberi pinjaman harus menganggapnya sebagai sedekah.

  35. nama

    JASA LAYANAN BANK SYARIAH
    (FEE BASED INCOME BANK SYARIAH)

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah

    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Skema wakalah

    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.

    Bank Garansi
    Guarantee (garansi) artinya jaminan Bank Garansi adalah jaminan bank dalam penyelesaian suatu proyek jika pelaksana (kontraktor) ingkar/cedera janji.
    Dengan adanya BG pemilik proyek mendapat kepastian bahwa proyek akan berjalan sesuai dengan perjanjian.

    1. Terjadi perundingan rencana kerja proyek
    2. Kontraktor mengajukan Bank Garansi pada bank
    3. Bank memberikan Sertifikat BG
    4. Sertifikat diberikan pada pemilik proyek
    5. Pemilik Proyek memberikan proyek pada kontraktor
    6. Bila kontraktor cedera janji maka pemilik proyek dapat mencairkan sertifikat BG pada bank
    7. Bank penjamin akan membayar sertifikat BG pada pemilik proyek Bila pekerjaan diselesaikan oleh kontraktor maka sertifikat BG harus dikembalikan
    Menerima Setoran-Setoran
    Jasa ini diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam melakukan setoran atau
    pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima bank antar lain :
    pembayaran listrik, telpon, pajak, uang kuliah, rekening air dan setoran ONH
    Melakukan Pembayaran
    Jasa ini termasuk jasa lain-lain yang juga disediakan oleh bank, diantaranya pembayaran gaji, pensiun, bonus dan hadiah.

    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)

    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)
    Skema ijarah : 3. Sewa-Menyewa
    – Ijarah
    Produk dengan akad Ijarah dapat berupa barang bergerak atau dapat pula barang tidak bergerak. barang yang akad disewakan kepada nasabah bisa milik bank atau bank menyewa terlebih dahulu barang tersebut kemudian disewakan kembali kepada nasabah dengan harga sewa yang lebih tinggi dari harga bank menyewa.

    Gb. Skema Ijarah, Barang Milik Bank
    Gb. Skema Ijarah, Barang Bukan Milik Bank
    – Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)
    Produk dengan akad Ijarah Muntahiya Bitamlik kurang lebih sama dengan ijarah biasa hanya saja di akhir sewa barang menjadi milik Nasabah. tentu saja barang yang diserahkan adalah sudah menjadi milik Bank terlebih dahulu.

    Gb.Skema Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)

  36. RIRIE WIDYASANTI (20090730062)
    MELENGKAPI KIRIMAN I
    SISTEM OPERASIONAL BANK SYARIAH
    PRODUK DAN JASA BANK SYARIAH
    A. PENGHIMPUNAN DANA
    1. PRINSIP WADIAH
     GIRO
     TABUNGAN
    2. PRINSIP MUDHARABAH
     DEPOSITO
     TABUNGAN
    B. PENYALURAN DANA
    1. PRINSIP JUAL BELI
     MURABAHAH
     ISTISHNA
     SALAM
    2. PRINSIP BAGI HASIL
     MUDHARABAH
     MUSYARAKAH
    3. PRINSIP SEWA
     IJARAH
     IMBT

    C. JASA KEUANGAN
    1. PRINSIP WAKALAH
    2. PRINSIP KAFALAH
    3. PRINSIP HIWALAH
    4. PRINSIP RAHN
    5. PRINSIP QARDH
    6. PRINSIP SHARF
    7. PRINSIP IJARAH

    1. WAKALAH; Akad pemberian kuasa dari pemberi kuasa (muwakil) kepada penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan suatu tugas (taukil) atas nama pemberi kuasa.
    SKEMA WAKALAH
    NASABAH (MUWAKIL) kontrak + fee

    (TUGAS) TAUKIL  BANK (WAKIL)

    INVESTOR (MUWAKIL) kontrak + fee

    Nasabah atau Investor selaku pemberi kuasa (Muwakil) menggunakan jasa bank selaku penerima kuasa (wakil) untuk mewakilkan nasabah dalam melakukan suatu tugas (Taukil). Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank.
    APLIKASI WAKALAH DALAM PRODUK JASA KEUANGAN BANK SYARIAH
    a. TRANSFER
    NASABAH (MUWAKIL)  BANK (WAKIL)  NASABAH TUJUAN TRANSFER
    Pada proses transfer, Nasabah meminta bank untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening nasabah lain, baik secara tunai atau mendebet rekening tabungannya, kemudian bank akan menambahkan sejumlah uang yang ditransfer tersebut pada rekening nasabah yang dituju.

    b. LETTER OF CREDIT SYARIAH, yaitu janji tertulis bedasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegosiasikan wesel-wesel yang ditarik penerima atas peyerahan dokumen.

    c. KLIRING, yaitu jasa penagihan warkat bank di satu wilayah keliring atau di luar wilayh keliring dengan cepat sehingga nasabah segera menerima dana hasil tagihan warkat tersebut.

    d. INKASO, merupakan penagihan warkat bank lain di mana bank tertariknya berbeda wilayah kliring, kemudian hasil penagihan akandikreditkan ke rekening nasabah.

    2. KAFALAH; Akad pemberian jaminan (Makful Alaih) yang diberikan satu pihak kepada pihak lain dimana pemberi jaminan (Kafiil) bertanggung jawab atas pembayaran kembali suatu hutang yang menjadi hak penerima jaminan (Makful Lahu) untuk membayar kewajiban yang ditanggung (Makful ‘anhu ‘ashil).
    SKEMA KAFALAH
    BANK  PIHAK KETIGA  NASABAH
    (KAFIIL) (MAKFUL LAHU) (MAKFUL ‘ANHU ‘ASHIL)

    APLIKASI KAFALAH DALAM PRODUK JASA KEUANGAN BANK SYARIAH
    a. BANK GARANSI, yakni janji tertulis oleh bank kepada pihak ketiga di mana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dengan maksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya.

    3. HIWALAH; Akad perpindahan piutang nasabah (Muhil) kepada bank (Muhal ‘alaih) dari nasabah lain (Muhal).
    SKEMA HIWALAH

    BANK (MUHAL ‘ALAIH)

    2. INVOICE 3. BAYAR 4. TAGIH 5. BAYAR

    SUPLIER (MUHIL) NASABAH (MUHAL)
    1. SUPLAI BARANG

    Suplier meminta bank untuk membayar terlebih dahulu piutang yang timbul dari jual beli. Pada saat piutang jatuh tempo, nasabah akan membayar ke bank. Atas jasa hiwalah ini, bank memperoleh imbalan sebagai jasa pemindahan.
    APLIKASI HIWALAH DALAM PRODUK JASA KEUANGAN BANK SYARIAH
    a. FACTORING ATAU ANJAK PIUTANG, di mana para nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank, kemudian bank membayar piutang tersebut dan bank akan menagihnya dari pihak ketiga itu.

    b. POST-DATED CHECK, di mana bank bertindak sebagai juru tagih, tanpa membayar dulu piutang tersebut.

    c. BILL DISCOUNTING. Secara prinsipil, bill discounting serupa dengan hiwalah. Hanya saja dalam Bill Discounting, nasabah harus membayar fee, sedangkan pembahasan fee tidak didapati dalam kontrak hiwalah.

    4. RAHN; Akad penyerahan barang / harta (marhun) dari nasabah (rahin) kepada bank (murtahin) sebagai jaminan sebagian atau seluruh hutang.
    SKEMA RAHN
    PEMBIAYAAN (MARHUN BIH)
    2. PERMOHONAN PEMBIAYAAN
    1 c

    3. AKAD PEMBIAYAAN
    BANK (MURTAHIN) NASABAH (RAHIN)

    4. UTANG + MARK UP 1 a

    1 b. TITIPAN / GADAI PEMBIAYAAN
    JAMINAN (MARHUN)
    APLIKASI RAHN DALAM PRODUK JASA KEUANGAN BANK SYARIAH
    a. Rahn dipakai sebagai produk pelengkap, artinya akad tambahan (Jaminan/Collateral) terhadap produk lain, seperti dalam pembiayaan.
    b. Rahn sama halnya dengan pegadaian, di mana nasabah dipungut biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan serta penaksiran atas suatu barang yang digadaikan atau dijaminkan.

    5. QARDH; Penyediaan dana atau tagihan antara bank syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam melakukan pembayaran sekaligus atau secara cicilan dalam jangka waktu tertentu.

    SKEMA QARDH
    NASABAH PERJANJIAN BANK
    QARDH
    TENAGA KERJA MODAL 100%

    PROYEK USAHA

    100% MODAL KEMBALI

    KEUNTUNGAN
    APLIKASI RAHN DALAM PRODUK JASA KEUANGAN BANK SYARIAH
    a. Dana Talangan Haji
    b. Kartu Kredit Syariah
    c. Produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau membantu sector social (al-Qhardu al-Hasan).

    6. SHARF; Transaksi pertukaran mata uang (money changer).
    Aplikasi dalam perbankan: Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke Valas.

    7. IJARAH; Hak untuk memanfaatkan barang dan jasa dengan imbalan tertentu.
    Aplikasi dalam perbankan: Kotak Simpanan (safe deposit box) dan Jasa Tata Laksana Administrasi Dokumen (custodian).

  37. Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: 22

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

    Nah, pokoknya gitu dech apa yang di omongin sama teller Rina, soalnya baru ditanya satu kalimat langsung dremimil mulutnya, dijelasin sampek detail banget. Karena aku cuman sebagai orang awam nasabah BNI, yah aku respon aku jawab, iya..iya…iya…ooo, gitu. Penjelasan tadi aku ketik semuanya liat di brosur BNI nya, karena brosurnya tulisannya kebanyakan mungkin cumin sedikit agak disingkat supaya pembaca blog kompasiana ini lebih jelas dan mudeng. Untuk lebih lanjutnya bisa datang aja di kantor Bank BNI diseluruh cabang Indonesia.

    Dari penjelasan yang panjang tadi aku pilih salah satu, yang anggap aku paling menguntungkan, kenapa? Karena sistemnya sangat berbeda sekali dengan Bank-Bank Konvesional lainya, yang selalu pakai biaya administrasi, maklum mahasiswa baru belum dapet gaji alias belum kerja jadi uang masih minta dari orang tua. Dan itu juga gak pasti, walaupun saldo tabunganku tidak diisi selama berbulan-bulan, ya gak bakalan habis kena charge administrasi itu. Alias gak ada potongan administrasi, juga gak dapat bunga. Dengan bahasa kasarnya cuman titip uang saja di bank.Mau di isi Rp.100.000,- di saldo tabungan akan tetap Rp.100.000,- mau diambil 1tahun kemudian tetap seratus ribu rupiah, tidak bakal berkurang. Anda percaya tidak? Kalau tidak percaya, Tanya aja sama teller Bank BNI di kota anda!!!

  38. Nama : Selvy widia
    Nim : 20090730068
    Jurusan : Ekonomi perbankan islam

    Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perabankan yang dikembangkan berdasarkan syariah Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut atau meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan untuk melakukan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram ( missal usaha perjudian) dimana hal ini tidak dapat dijamin dalam sistem perbankan konvensional.
    Adapun Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan operasinya dengan sistem hukum islam (syariah). Fungsinya sama dengan bank konvensional yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan jasa keuangan lainnya, tetapi yang membedakan adalah cara operasi, produk, kesepakatan, dan sistemnya.
    Berkembangnya bank-bank syariah di Indonesia dimulai sejak awal tahun 1990-an. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalah Indonesia. Berdiri tahun 1992, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta dukunagan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
    Meskipun bank syariah telah berdiri sejak awal tahun 1990-an, namun keberadaanya masih kurang diminati masyarakat pada umumnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan dari bank-bank syariah tersebut dan atau kurangnya sosialisasi dari produk dan jasa tersebut.Padahal dalam kaitanya dengan produk dan jasa, ada perbedaan yang menyolok antara prinsip-prinsip pada produk dan jasa bank syariah dengan prinsip dalam produk dan jasa bank konvensional. Makalah ini akan mencoba membahas mengenai produk dan jasa bank syariah.

    Prinsip Dasar Perbankan Syariah

    Ada prinsip-prinsip dalam bank syariah yang membedakanya dengan bank konvensional, antara lain :

    1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-wadi’ah)

    Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya. Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal dengan produk giro. Sebagai konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain. Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif atau bonus dapat diberikan dan hal ini menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Hal ini dilakukan dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung dan sekaligus sebagai indikator kesehatan bank.

    2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)

    Pada dasarnya prinsip ini terbagi atas :

    a) Al-Mudharabah

    Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak,di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Pola transaksi mudharabah, biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana, al-mudharabah diterapkan pada: tabungan dan deposito. Sedangkan pada sisi pembiayaan, al-mudharabah, diterapkan untuk: pembiayaan modal kerja.

    b) Al-Musyarakah

    Dalam sistem ini terjadi kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Para pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi modal. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dalam sistem ini, terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana pembiayaan. Secara konkret, bila Anda memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal, Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Inti dari pola ini adalah, bank syariah dan Anda secara bersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk menjalankan usaha. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaan dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Dalam bank konvensional, pembiayaan seperti ini mirip dengan kredit modal kerja.

    3. Prinsip Al-Murabahah

    Dalam skim ini, terjadi jual beli suatu barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak. Penjual dalam hal ini harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. Misalkan Anda membutuhkan kredit untuk pembelian mobil. Dalam bank konvensional Anda akan dikenakan bunga dan Anda diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu. Di sektor perbankan, suku bunga yang berlaku mungkin saja berubah. Dalam sistem bank syariah, tentu saja produk seperti ini juga tersedia. Namun bentuknya bukan kredit, melainkan menggunakan prinsip jual-beli, yang diistilahkan dengan Murabahah. Dalam hal ini, bank syariah akan membeli mobil yang Anda inginkan terlebih dahulu, kemudian menjualnya lagi kepada Anda. Tapi, karena bank syariah menalanginya dulu, maka pada saat menjual kepada Anda, harganya sedikit lebih mahal, sebagai bentuk keuntungan buat bank syariah. Karena bentuk keuntungan bank syariah sudah disepakati di depan, maka nilai cicilan yang harus Anda bayarkan relative lebih tetap.

    Produk-Produk Perbankan Syariah

    Secara garis besar produk perbankan syariah terbagi atas produk penyaluran dana, penghimpunan dana dan produk jasa. Adapun penjelasan lebih rinci adalah sebagai berikut :

    1. Penghimpun Dana

    Penghimpun dana atau yang sering disebut dengan sumber dana pada bank syariah terdiri dari beberapa sumber antara lain, yaitu wadiah (modal), titipan, investasi dan investasi khusus.

    • Wadiah, yaitu sejumlah titipan murni dari satu pihak kepada bank dan bank harus menjaganya akan penitip berhak mengambilnya kapanpun ia mau. Konsep wadiah yang dipakai dalam perbankan syariah adalah wadiah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Dalam konsep ini bank dapat mempergunakan dana yang dititipkan, akan tetapi bank bertanggungjawab penuh atas keutuhan dari dana yang dititipkan.

    • Investasi, yang dimagsud disini adalah mudharabah mutlaqoh. Yaitu mudharabah yang tidak disertai pembatasan penggunaan dana dari shokhibul mal.

    • Investasi khusus terbagi atas mudaharabah muqoyyadah on balance sheet dan mudharabah muqoyyadah of balance sheet.

    – Mudharabah muqoyyadah on balace sheet adalah aqad mudharabah yang disertai dengan pembatasan penggunaan dana dari shakhibul mal untuk investasi-investamdharabah si tertentu.

    – Mudharabah muqoyyadah of balance sheet adalah bank bertindak sebagai perantara (arranger) yan mempertemukan nasabah pemilik modal dengan nasabah yang akan menjadi mudharib.

    • Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.

    2. Penyaluran Dana

    Penyaluran dana pada bank syariah dilakukan dengan berbagai cara yang masing-masing memiliki prinsip akad yang berbeda pula, antara lain :

    a. Ba’I (Jual Beli)

    Ada tiga jenis jual beli yang dijadikan dasar modal kerja dan investasi dalam perbankan syariah, Yaitu :

    • Ba’I Murabahah, yaitu transaksi jual beli dimana bank mendapat sejumlah keuntungan,sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.

    • Ba’I Salam, yaitu transaksi jual beli, dimana barangnya belum ada sehingga barang yang menjadi objek diserahkan secara tangguh.dalam hal ini bank menjadi pembeli dan nasabah menjadi penjual.

    • Ba’I Istisna, yaitu sama dengan salam hanya saja dalam pembayaranya bank membayar dengan beberapa kali pembyaran

    b. Ijarah (Sewa)

    Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).

    c. Syirkah

    Syirkah adalah produk pembiayaan bank syariah yang didasarkan pada prinsip bagi hasil. Syirkah ini terdiri atas :

    • Al-Musyarokah, merupakan bentuk umum dari usaha bagi hasil. Dalam kera sama ini para pihak secara bersama-sama memadukan sumber daya baik yang berwujud ataupun tidak berwujud untuk menjadi modal proyek kerja sama untuk dikelola bersama-sama pula.

    • Al-Mudharabah, merupakan bentuk spesifik dari musyarokah. Dalam mudharabah salah satu pihak berfungsi sebagai shokhibul mal (pemilik modal) dan pihak lain berpera sebagai mudharib (pengelola).

    d. Akad Pelengkap

    Untuk memudahkan pelaksanaan pembiayaan diperlukan akad pelengkap. Akad pelengkap ini ditujukan untuk mengganti biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan akad ini. Akad pelengkap terdiri atas :

    • Hiwalah, adalah transaksi pengalihan utang piutang. Dalam praktek perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan usahanya, sedangkan bank mendapatkan ganti biaya atas jasa.

    • Rahn, biasa dikenal dengan gadai. Tujuan dari akad ini adalah memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.

    • Qardh, adalah pinjaman uang. Piak bank memberikan sejumlah pinjaman uang kepada nasabah dengan pelunasan yang ditentukan.

    • Wakalah, adalah pelimpahan kekuasaan oleh seorang sebagai pihak pertama kepada bank sebagai pihak kedua dalam melakukan pekerjaan jasa tertentu. Contohnya transfer uang, inkaso, dll.

    • Kafalah, adalah bank yang ditujukan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bankdapat mensyaratkan nasabah untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank dapat juga menerima uang tersebut dengan prinsip wadiah, bank mendapatkan biaya pengganti atas jasa yang diberikan.

    3. Jasa Perbankan

    Bank syariah dapat meklaukan pelayanan jasa perbankan kepada para nasabahnya dengn mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut natara lain berupa :

    • Sharf (Jual beli valuta asing), islam membolehkan jual beli valuta asing baik pada matauang yag sejenis mauoun yang tidak sejenis tetapi dengan ketentuan jual beli tersebut dilakukan dalam waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual beli valta asing ini.

    • Ijarah (sewa), sebagaimana telah dielaskan seperi diatas bahwa Secara prinsip ijarah ini sama dengan jual beli, hanya saja yang menjadi objek adalah manfaatnya. Pada akhir masa sewanya dapat saja diperjanjian bahwa barang yang diambil manfaatnya salam mas sewa akan dijual belikan antara bank dan nasabahyang menyewa (Ijarah muntahhiyah bittamlik/sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan).

    • Pengiriman uang (Transfer) antar bank dan kliring

    Jasa transfer dan kliring sudah biasa diindustri perbankan. Jasa ini mempermudah transaksi yang dilakukan oleh pengguna (nasabah maupun bukan dengan bank lain. Atas jasa ini, bank mengenakan biaya tertentu sesuai ketentuan pihak bank sendiri

    • Penggunaan ATM bersama dengan bank lain

    Penggunaan ATM bersama dengan bank lain akan memudahkan baik nasabah bank tersebut maupun nasabah bank lain dalam melakukan transaksi-transaksi keuangan. Imbalan yang diterima bank biasanya berupa biaya pertransaksi.

    • Pembayaran dan pembelian beberapa produk via bank. Ketersedian layanan yang memudahkan nasabah dalam berbagai kegiatan merupakan salah satu daya tarik bank. Saat ini, banyak bank yang telah bekerja sama dengan pihak lain dalam memberikan kemudahan pembayaran dan pembelian produk-produk tertentu, seperti pembayaran telepon, pajak, listrik, biaya sekolah, pembelian voucher telepon pra bayar, premi asuransi dan angsuran pinjaman / hutang. Dari transaksi ini, bank memperoleh keuntungan berupa tambahan likuiditas semu dan fee tertentu sesuai kesepakatan bank dengan pihak lain tersebut

    Perbedaan Produk Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

    Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis, menabung di bank syariah dengan yang berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Hal ini karena, baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi bila diamati lebih dalam terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya.

    Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah, semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. Dengan demikian, semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan, namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah, misalnya wadi’ah, karena dalam produk giro, tabungan maupun deposito, menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor.

    Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Bila spread-nya positif, di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung, maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Sebaliknya juga benar. Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing, artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua, untuk bank dan untuk nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka.

    Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis, tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. Sedangkan di bank syariah, penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar, yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti, perjudian, minuman yang diharamkan, pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah.

    Kesimpulan
    Salah satu kendala yang dihadapi dunia perbankan syariah adalah kurang dikenalnya produk-produk perbankan syariah oleh masyarakat. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang produk mapun jasa perbankan syariah sehinga masyarakat enggan untuk memanfaatkanya.

    Pada dasarnya prinsip dasar pada produk-produk perbankan syariah adalah terbagi kedalam prinsip simpanan yang biasa disebut dengan prinsip wadiah, prinsip bagi hasil (profit sharing) yang terbagi atas prinsip mudharabah dan murabahah. Dan prinsip murabahah.

    Produk perbankan syariah secara garis besar terdiri atas produk penghimpun dana, produk penyaluran dana dan jasa perbankan.

    Setidaknya ada tiga karakteristik produk perbankan syariah yang membedakanya dengan produk bank konvensional. Petama, adalah akadnya. Semua transaksi dalam perbankan syariah harus dilandasi dengan akad. Kedua, adalah pada imbalan yang diberiakan. Pada perbankan syariah menggunakan prinsip bagi hasil bukan bunga. Karakeristik ketiga adalah pada sasara kredit atau pembiayaan. Pada perbankan syariah pembiayaan harus pada kegiatan yang sesuai dengan syariat islam.

    Daftar Pustaka

    Heri Sudarsono, 2005, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Deskriptip dan Ilustratip), Yogyakarta, Penerbit Ekonisia

    http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan_syariah

    http://suherilbs.files.wordpress.com/2007/12/dampak-pengembangan-sukuk-terhadap-perkembangan-perbankan-syariah-di-indonesia.doc

    http://Blogdetik.com/produk-syariah/sannicommunity/March 28, 2008

    http://hukumonline.com//Perbankan&keuangan-bank-syariah, oleh mahawisnu alam/ 22 april 2008

    http://sinarharapan.com//prinsip-dasar-perbankan-syariah

  39. Tugas SOBS
    Oleh Ichwan Muttaqin 20090730027

    Oprasional Bank Syariah.

    Berdirinya bank Islam/perbankan syari’ah diawali dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam modern: neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan ini adalah sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.
    Hingga awal ke-20, bank Islam hanya merupakan obsesi dan diskusi teoritis para akademisi baik dari bidang hukum (fikih) maupun bidang ekonomi. Kesadaran bahwa bank Islam adalah solusi masalah ekonomi untuk mencapai kesejahteraan sosial telah muncul, namun upaya nyata yang memungkinkan implementasi praktis gagasan tersebut nyaris tenggelam dalam sistem ekonomi dunia yang menggunakan bunga riba.
    Dalam tulisan ini akan dibahas secara garis besar mengenai perbankan Islam terutama di Indonesia, meliputi sejarah, serta konsep-konsep dasar operasional bank syari’ah.

    Sejarah dan Perkembangan Bank Islam

    Beroperasinya Mit Ghamr Local Saving Bank di Mesir pada tahun 1963 merupakan tonggak sejarah perkembangkan sistem perbankan Islam. Mit Ghamr menyediakan pelayanan dasar perbankan seperti simpanan, pinjaman, penyertaan modal, investasi langsung dan pelayanan sosial. Pada tahun 1967 pengoperasian Mit Ghamr diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir disebabkan adanya kekacauan politik. Walaupun Mit Ghamr sudah berhenti beroperasi sebelum mencapai kematangan dan menyentuh semua profesi bisnis, keberadaannya telah memberikan pertanda bagi masyarakat muslim bahwa prinsip-prinsip Islam sangat applicable dalam dunia bisnis modern.
    Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya Islamic Develoment Bank (IDB), yang berdiri atas prakarsa dari sidang menteri luar negeri Negara-negara OKI di Pakistan (1970), Libiya (1973), dan Jeddah (1975). Dalam sidang tersebut diusulkan penghapusan sistem keuangan berdasarkan bunga dan menggantinya dengan sistem bagi hasil. Berdirinya IDB telah memotivasi banyak negeri Islam untuk mendirikan untuk mendirikan lembaga keuangan syari’ah. Pada akhir priode 1970-an dan awal periode 1980-an bank-bank syari’ah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, dan Turki.
    Dari berbagai laporan tentang bank Islam, ternyata bahwa operasi perbankan Islam dikendalikan oleh tiga prinsip dasar, yaitu (a) dihapuskannya bunga dalam segala bentuk transaksi, (b) dilakukannya segala bisnis yang sah, berdasarkan hukum serta perdagangan komersial dan perusahaan industri, dan (c) memberikan pelayanan sosial yang tercermin dalam penggunaan dana-dana zakat untuk kesejahteraan fakir miskin.[1]
    Berkembangnya bank-bank syari’ah di Negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an telah banyak diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi Islam, akan tetapi prakarsa untuk mendirikan bank Islam baru dimulai pada tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan lokakarya tentang bunga bank dan perbankan menghasilkan terbentuknya sebuah tim perbankan yang bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi. Pada tahun 1991 berdiri PT. BMI (Bank Muamalat Indonesia).
    Pada awal pendirian BMI keberadaan bank syari’ah belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional, disebabkan landasan hukum operasional bank yang menggunakan sistem syari’ah ini hanya dikategorikan sebagai bank dengan sistem bagi hasil, dan tidak terdapat rincian landasan hukum syari’ah serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan.
    Pada era reformasi perkembangan perbankan syari’ah ditandai dengan disetujuinya Undang-undang No.10 tahun 1998, yang mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplemen-tasikan oleh bank syari’ah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank konvensional untuk membuka cabang syari’ah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syari’ah.

    Perbedaan Bank Syari’ah Dengan Bank Konvensional

    Dalam beberapa hal, bank syari’ah dan bank konvensional memiliki persamaan terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pem-biayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan lain-lain. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya yaitu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja.
    1. Akad dan aspek legalitas
    Dalam bank syari’ah, akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi dan ukhrawi, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sehingga pelanggaran kesepakatan dapat diminimalisir. Selain itu akad dalam perbankan syari’ah baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun keten-tuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad, baik rukun maupun syaratnya.
    2. Lembaga penyelesaian sengketa
    Dalam perbankan syari’ah, apabila terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabah, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di pengadilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai dengan tatacara dan hukum materi syari’ah. Hukum yang mengatur ini disebut BAMUI yang didirikan bersama antara MUI dan Kejaksaan Agung.
    3. Stuktur organisasi
    Dalam stuktur organisasi bank syari’ah memiliki kesamaan dengan bank konvensional, seperti komisaris maupun direksi. Tetapi unsur yang dapat membedakan antara bank syari’ah dan konvensional adalah adanya pengawas syari’ah (DPS) yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produk agar sesuai dengan garis-garis syari’ah dan DPS biasanya diletakkan pada posisi setingkat dewan komisaris pada setiap bank.
    Banyaknya DPS pada bank perlu disyukuri, akan tetapi perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya fatwa yang berbeda di masing-masing DPS, maka MUI sebagai payung dari lembaga organisasi keislaman di Indonesia perlu membentuk dewan syari’ah secara nasional yang membawahi lembaga-lembaga keuangan termasuk di dalamnya bank-bank syari’ah. Lembaga ini biasa disebut Dewan Syari’ah Nasional (DSN), yang berfungsi mengawasi produk-produk keuangan syari’ah agar sesuai dengan syariat Islam (meneliti dan memberi fatwa bagi produk yang dikembangkan). DSN juga bertugas memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai DSN pada satu lembaga keuangan. Selain itu DSN juga dapat memberikan teguran dan mengusulkan kepada otoritas yang berwenang untuk memberikan sanksi kepada bank yang melakukan dan mengembangkan tidak sesuai syari’ah.
    4. Bisnis dan usaha yang dibiayai
    Dalam bank syari’ah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan harus sesuai dengan syari’ah. Karena itu, bank syari’ah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung dalam hal-hal yang diharamkan.
    5. Lingkungan kerja dan corporate culture
    Dalam bank syari’ah haruslah memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syar’ah. Dalam hal etika misalnya sifat amanah, shiddiq harus melandasi setiap karyawan, sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Begitu pula karyawan bank harus skillful dan profesional (fathanah) dan mampu melakukan tugas secara teamwork dimana informasi merata di semua fungsional organisasi (tabligh) begitu pula dalam hal reward dan punishment diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syari’ah.

    Konsep dan Operasional Bank syari’ah

    1. Sumber Dana Bank Syari’ah
    Bank sebagai suatu lembaga keuangan yang salah satu fungsinya adalah menghimpun dana masyarakat, harus memiliki suatu sumber penghimpunan dana sebelum disalurkan ke masyarakat kembali. Dalam bank syari’ah, sumber dana berasal dari modal inti (core capital) dan dana pihak ketiga[2], yang terdiri dari dana titipan (wadi’ah) dan kuasi ekuitas (mudarabah account).
    Modal inti adalah modal yang berasal dari para pemilik bank, yang terdiri dari modal yang disetor oleh para pemegang saham, cadangan dan laba ditahan. Modal yang disetor hanya akan ada apabila pemilik menyertakan dananya pada bank melalui pembelian saham, dan untuk penambahan dana berikutnya dapat dilakukan oleh bank dengan mengeluarkan dan menjual tambahan saham baru. Cadangan adalah sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan untuk menutup timbulnya risiko kerugian di kemudian hari. Sedangkan laba ditahan adalah sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui RUPS) diputuskan untuk ditanam kembali dalam bank.[3] Modal inti inilah yang berfungsi sebagai penyangga dan penyerap kegagalan atau kerugian bank dan melindungi kepen-tingan para pemegang rekening titipan (wadi’ah) atau pinjaman (qard).
    Sebagaimana halnya dengan bank konvensional, bank syari’ah juga mempunyai peran sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan-satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit). Melalui bank, kelebihan dana-dana tersebut akan disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Dana pihak ketiga tersebut terdiri dari :
    a. Titipan/wadi’ah, yaitu dana titipan masyarakat yang dikelola oleh bank.
    b. Investasi/mudarabah, adalah dana masyarakat yang diinvestasikan.

    2. Aqad-akad Bank Syari’ah

    Bank syari’ah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dan menanggung risiko usaha dan berbagi hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) yang menyimpan uangnya di lembaga, lembaga selaku pengelola dana (mudarib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola usaha. Pengelolaan dana tersebut didasarkan pada aqad-aqad yang disesuaikan dengan kaidah muamalat. Dari segi ada atau tidaknya kompensasi, fiqh muamalat membagi aqad menjadi dua bagian, yaitu aqad tabarru’ dan aqad tijaroh.[4]
    Aqad tabarru’, yaitu segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Aqad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter part-nya untuk sekedar menutup biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan aqad tabarru’ tersebut. Tetapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari aqad tabarru’ itu. Contoh aqad tabarru’ adalah:
    – Qard, pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali.
    – Wadi’ah mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu.
    – Wakalah, aqad pemberian kuasa (muwakkil) kepada penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan suatu tugas (taukil) atas nama pemberi kuasa.
    – Kafalah, jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafl) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung.
    – Rahn, menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara?sebagai jaminan hutang, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil atau ia bisa mengambil sebagian manfaat barang itu.
    – Dhaman, menggabungkan dua beban (tanggungan) untuk membayar hutang, menggadaikan barang atau menghadirkan orang pada tempat yang telah ditentukan.
    – Hiwalah, aqad yang mengharuskan pemindahan hutang dari yang ber-tanggung jawab kepada penanggung jawab yang lain.
    Berbeda dengan aqad tabarru’, maka aqad tijaroh (compensational contract) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit transaction. Aqad-aqad ini dilakukan dengan tujuan mencari keuntungan, karena itu bersifat komersil. Contoh aqad tijaroh antara lain:
    – Murabahah, adalah jual-beli barang dengan harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.
    – Salam, pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sementara pem-bayaran dilakukan di muka.
    – Istisna?/SPAN>, kontrak penjualan antara mustashni?/I> (pembeli akhir) dan shani?/I> (supplier). Pembelian dengan pesanan.
    – Ijaroh, aqad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pembayar-an upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/ milkiyyah) atas barang itu sendiri.
    – Musyarakah, aqad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
    – Muzara’ah, adalah bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian setahun.
    – Musaqah, adalah bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian tahunan.
    – Mukhabarah, adalah muzara’ah tetapi bibitnya berasal dari pemilik tanah.

    3. Prinsip-prinsip Operasional

    Secara umum, setiap bank Islam dalam menjalankan usahanya minimal mempunyai lima prinsip operasional, yaitu[5]:
    a. Prinsip simpanan giro, merupakan fasilitas yang diberikan oleh bank untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang kelebihan dana untuk menyimpan danaya dalam bentuk al wadiah, yang diberikan untuk tujuan keamanan dan pemindahbukuan, bukan untuk tujuan investasi guna mendapatkan keuntungan seperti halnya tabungan atau deposito.
    b. Prinsip bagi hasil, meliputi tatacara pembagian hasil usaha antara pemilik dana (shahibul mal) dan pengelola dana (mudarib). Pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara bank dengan penyimpan dana maupun antara bank dengan nasabah penerima dana. Prinsip ini dapat digunakan sebagai dasar untuk produksi pendanaan (tabungan dan deposito) maupun pembiayaan.
    c. Prinsip jual-beli dan mark-up, merupakan pembiayaan bank yang diperhitungkan secara lump-sum dalam bentuk nominal di atas nilai kredit yang diterima nasabah penerima kredit dari bank. Biaya bank tersebut ditetapkan sesuai dengan kesepakatan antara bank dengan nasabah.
    d. Prinsip sewa, terdiri dari dua macam, yaitu sewa murni (operating lease/ijaroh) dan sewa beli (financial lease/bai’ al ta’jir).
    e. Prinsip jasa (fee), meliputi seluruh kekayaan non-pembiayaan yang diberikan bank, seperti kliring, inkaso, transfer dan sebagainya.

    4. Produk Bank Syari’ah

    Pada sistem operasi bank syari’ah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pem-bagian keuntungan sesuai kesepakatan.[6]
    Pembiayaan dalam perbankan syari’ah tidak bersifat menjual uang yang mengandalkan pendapatan bunga atas pokok pinjaman yang diinvestasikan, tapi dari pembagian laba yang diperoleh pengusaha. Pendekatan bank syari’ah mirip dengan investment banking, dimana secara garis besar produk mudarabah (trust financing) dan musyarakah (partnership financing), sedangkan yang bersifat investasi diimplementasikan dalam bentuk murabahah (jual-beli)[7].
    Pola konsumsi dan pola simpanan yang diajarkan oleh Islam memungkin-kan umat Islam mempunyai kelebihan pendapatan yang harus diproduktifkan dalam bentuk investasi, maka bank Islam menawarkan tabungan investasi yang disebut simpanan mudarabah (simpanan bagi hasil atas usaha bank). Untuk dapat membagihasilkan usaha bank kepada penyimpan mudarabah, maka bank syari’ah menawarkan jasa-jasa perbankan kepada masyarakat dalam bentuk[8]:
    1. Pembiayaan untuk berbagai kegiatan investasi atas dasar bagi hasil yang terdiri dari (a) pembiayaan investasi bagi hasil al mudarabah dan (b) pembiayaan investasi bagi hasil al musyarakah. Dari pembiayaan investasi tersebut bank akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil usaha.
    2. Pembiayaan untuk berbagai kegiatan perdagangan yang terdiri dari (a) pembiayaan perdagangan al-mudarabah dan (b) pembiayaan perdagangan al-baiu bithaman ajil. Dari pembiayan perdagangan tersebut bank akan memperoleh pendapatan berupa mark-up atau margin keuntungan.
    3. Pembiayan pengadaan barang untuk disewakan atau untuk disewabelikan dalam bentuk (a) sewa guna usaha atau disebut al-ijarah (b) sewa beli atau disebut baiu takjiri. Di Indonesia, al ijaroh dan al baiu takjiri tidak dapat dilakukan oleh bank. Namun demikian penyewaan fasilitas tempat penyim-panan harta dapat dikategorikan sebagai al-ijaroh. Dari kegiatan usaha al-ijaroh, bank akan memperoleh pendapatan berupa sewa.
    4. Pemberian pinjaman tunai untuk kebajikan (al-qardhul hasan) tanpa dikenakan biaya apapun kecuali biaya administrasi berupa segala biaya yang diperlukan untuk sahnya perjanjian hutang, seperti bea materai, bea akte notaris, bea studi kelayakan, dan sebagainya. Dari pemberian pinjaman al-qardhul hasan, bank akan menerima kembali biaya-biaya administrasi.
    5. Fasilitas-fasilitas perbankan umumnya yang tidak bertentangan dengan syari’ah seperti penitipan dana dalam rekening lancar (current account), dalam bentuk giro wadi’ah yang diberi bonus dan jasa lainnya untuk mem-peroleh balas jasa (fee) seperti: pemberian jaminan (al-kafalah), pengalihan tagihan (al-hiwalah), pelayanan khusus (al-jualah), pembukaan L/C (al-wakalah), dan lain-lain. Dari pemakaian fasilitas-fasilitas tersebut bank akan memperoleh pendapatan berupa fee.
    Dalam bentuk praktik di lapangan, di samping menyedikan modal yang dibutuhkan masyarakat kecil untuk membeli barang-barang modal (alat kerja), modal kerja operasional dan faktor lain yang dibutuhkan untuk membangun satu unit bisnis kecil. Bank syari’ah idealnya juga harus memberikan pendampingan manajerial, seperti aspek pemasaran keuangan dan produksi bahkan sampai mem-fasilitasi jaringan pemasaran (tata niaga) yang lebih efisien yang menguntungkan usaha kecil dan menengah. Dengan demikian, bank syari’ah menjadi partner usaha dalam lingkup yang lebih luas dan terintegrasi.
    Konsep ideal perbankan yang sesuai dengan syari’ah Islam seperti yang diuraikan di atas pada praktiknya belum diselenggarakan secara ideal pula oleh bank-bank Islam di Indonesia. Menurut Zainul Arifin, beberapa praktik perbankan syari’ah yang masih jauh dari konsep ideal bank syari’ah adalah sebagai berikut[9]:
    1. Terlalu memusatkan pada mekanisme murabahah dan mengabaikan mekanisme pembiayaan sah lainnya.
    2. Menerapkan tingkat bunga untuk margin keuntungan tetap dalam mekanisme murabahah.
    3. Mengabaikan aspek-aspek sosial dalam pembiayaan.
    4. Kurang memberi respons tambah pada kebutuhan-kebutuhan pembiayaan pemerintah.
    5. Kegagalan bank-bank Islam dalam menjalin kerjasama antara di mereka.

    Kesimpulan

    Sistem keuangan atau yang lebih khusus lagi adalah aturan yang menyangkut aspek keuangan dalam sistem perbankan di negara-negara sedang berkembang telah menjadi instrumen penting dalam melancarkan kegiatan pem-bangunan. Keberadaannya dalam berbagai aspek usaha masyarakat luas telah memberikan pertanda bahwa prinsip-prinsip Islam sangat applicable dalam dunia bisnis modern. Namun demikian, implementasi perbankan syari’ah terkadang masih mengalami kendala, baik dari lembaga itu sendiri, maupun dari pemerintah masyarakat. Untuk itu diperlukan kesungguhan dari berbagai pihak untuk memperbaiki kekurangan yang ada menuju sistem perbankan syari’ah yang rahmatan lil alamin.

  40. NAMA : UMAR HAMDI HANAFI
    NPM : 20090730071
    EKONOMI & PERBANKAN ISLAM
    Sistem Operasional Jasa Layanan

    PERBANKAN SYARIAH

    Perbankan Syariah dapat diartikan sebagai suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.

    BEBERAPA PRINSIP/HUKUM YANG DIANUT OLEH SISTEM PERBANKAN SYARIAH ANTARA LAIN :

    1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

    2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.

    3. Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.

    4. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

    5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
    SEJARAH PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    Sebelum kembali mempelajari lebih detail tentang perbankan syariah, tak ada salah sejenak kita memutar mundur kembali jarum waktu. Sejenak melihat ke belakang, sedikit mempelajari langkah-langkah awal terlahirnya perbankan syariah.
    Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah ini dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance islam modern, yakni neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan ini sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Upaya awal penerapan system profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya pengelolaan dana jama’ah ahji secara non konvensional. Rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir.
    Setelah itu, pada sidang menteri-menteri luar negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi, Paskistan, pada Desember 1970, Mesir mengajukan proposal untuk mendirikan bank syariah. Proposal yang disebut sebagai studi tentang pendirian bank islam internasional untuk perdagangan dan pembangunan (international Islamic bank for trade and development) dan proposal pendirian federasi bank islam (Federation of Islamic Banks), dikaji para ahli dari delapan belas Negara Islam. Proposal tersebut pada intinya mengusulkan bahwa sistem keuangan berdasarkan bunga harus digantikan dengan suatu sistem kerja sama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.
    Perkembangan lembaga keuangan islam berlanjut pada sidang OKI lima tahun kemudian, di Jeddah pada tahun 1975. Sidang menteri keuangan Negara OKI tersebut menyetujui pendirian Bank Pembangunan Islami atau Islamic Development Bank dengan modal awal 2 miliar dinar Islam atau ekuivalen dengan 2 miliar SDR (Special Drawing Rights).

    Perbankan syariah di Indonesia, pertama kali dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia yang berdiri pada tahun 1991. Bank ini pada awal berdirinya diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta mendapat dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Pada saat krisis moneter yang terjadi pada akhir tahun 1990,bank ini mengalami kesulitan sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba.
    Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia (Persero).
    Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah berkembang 104 BPR Syariah.

    Prinsip kerja bank syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

    PRODUK BANK SYARIAH

    1. Al-wadi’ah (Simpanan/Depository)

    Al-Wadi’ah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.

     Penerima sim¬panan disebut yad al-amanah yang artinya tangan amanah. Si pe¬nyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan dan keru¬sakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kela¬laian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.

    Penggunaan uang titipan harus terlebih dulu meminta izin kepada si pemilik uang dan dengan catatan si pengguna uang menjamin akan mengembalikan uang ter¬sebut secara utuh. Dengan demikian prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi yad adh-dhamanah (tangan penanggung).

    Konsekuensi dari diterapkannya prinsip yad adh-dhamanah pihak bank akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun sebaliknya bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank.

    Sebagai imbalan kepada pemilik dana disamping jaminan keamanan uangnya juga akan memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau bonus untuk giro wadiah. Artinya bank tidak di-larang untuk memberikan jasa atas pemakaian uangnya berupa in¬sentif atau bonus, dengan catatan tanpa perjanjian terlebih dulu baik nominal maupun persentase dan ini murni merupakan kebijakan bank sebagai pengguna uang. Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya digunakan istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya diberikan kepada nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang telah ditetapkan.

    Dalam praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan (mudharib) biasanya bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40%:60% untuk simpanan tabungan dan nisbah 45%:55% untuk simpanan deposito.

    Contoh rekening giro Wadiah :

    Tn. Baris memiliki rekening giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat dengan saldo rata-rata pada bulan Mei 2002 adalah Rp 1.000.000,-. Bonus yang diberikan Bank Muamalat Sungailiat kepada nasabah adalah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp 500.000,-. Diasumsikan total dana giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat adalah Rp 500.000.000,-. Pendapatan Bank Muamalat Sungailiat dari penggunaan giro wadiah adalah Rp 20.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa bonus yang diterima oleh Tn. Baris pada akhir bulan Mei 2002.

    Jawab :

    Rp 1.000.000,-
    Bonus yang diterima = x Rp 20.000.000,- x 30 % Tn. Baris Rp 500.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 12.000,-¬

    Contoh Perhitungan Keuntungan Tabungan Mudharabah :

    Tn. Derani memiliki tabungan di Bank Syariah Pangkal Pinang. Pada bulan juni 2002 Saldo rata-rata tabungan Tn. Derani adalah sebesar Rp 10.000.000,-. Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Pangkal Pinang dengan deposan adalah 40%:60%. Saldo rata-rata tabungan per-bulan di seluruh Bank Syariah Pangkal Pinang adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan Bank Syariah Pangkal Pinang yang dibagihasilkan adalah Rp 40.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Derani pada bulan yang bersangkutan.

    Jawab :

    Rp 10.000.000,-¬
    Keuntungan = x Rp 40.000.000,- x 60 %
    Tn. Derani Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 24.000,¬-

    Contoh Perhitungan Keuntungan Deposito Mudharabah :

    Tn. Rahman Hakim memiliki deposito sebesar Rp 100.000.000, ¬untuk jangka waktu 1 bulan di Bank Syariah Belinyu. Bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Belinyu dengan nasabah adalah 45%:55%. Saldo rata-rata deposito per bulan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan yang dibagihasilkan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 500.000.000, -.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Rahman Hakim dari nisbah yang ditetapkan.

    Jawab:

    Rp 100.000.000,-
    Keuntungan = x Rp 500.000.000,- x 55% nasabah Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 2.750.000,¬-

    2. Pembiayaan Bagi Hasil (Profit-Sharing)

    a. Al-musyarakah

    Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau le¬bih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak membe¬rikan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

    AI-musyarakah dalam praktik perbankan diaplikasikan dalam hal pembiayaan proyek. Dalam hal ini nasabah yang dibiayai dengan bank sama-sama menyediakan dana untuk melaksanakan proyek tersebut. Keuntungan dari proyek dibagi sesuai dengan kesepakatan untuk bank setelah terlebih dulu mengembalikan dana yang dipakai nasabah. Al-musyarakah dapat pula dilakukan untuk kegiatan investasi seperti pada lembaga keuangan modal ventura.

    b. AI-mudharabah

    Pengertian AI-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.

    mudharabah muthlaqah merupakan kerja sama antara pihak pertama dan pihak lain yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi oleh waktu, spesifikasi usaha dan daerah bisnis.
    mudharabah muqayyadah merupakan kebalikan dari mudharabah muthlaqah di mana pihak lain dibatasi oleh waktu spesifikasi usaha dan daerah bisnis.

    Dalam dunia perbankan Al-mudharabah biasanya diaplikasikan pada produk pembiayaan atau pendanaan seperti, pembiayaan mo¬dal kerja. Dana untuk kegiatan mudharabah diambil dari simpanan tabungan berjangka seperti tabungan haji atau tabungan kurban. Dana juga dapat dilakukan dari deposito biasa dan deposito spesial yang dititipkan nasabah untuk usaha tertentu.

    c. Al-muzara’ah

    Pengertian AI-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan ka¬sus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen.

    d. Al-musaqah

    Pengertian AI-musaqah merupakan bagian dari al-muza’arah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pe¬meliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.

    3. Jual Beli (Sale and Purchase)

    a. Bai’al Murabahah

    Pengertian Bai’al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya.

    Sebagai con¬toh harga pokok barang “X” Rp 100.000,-. Keuntungan yang diharap¬kan adalah sebesar Rp 5.000,-, sehingga harga jualnya Rp 105.000,-. Kegiatan Bai’al-Murabahah ini baru dilakukan setelah ada kesepa¬katan dengan pembeli, baru kemudian dilakukan pemesanan. Dalam dunia perbankan kegiatan Bai’al-Murabahah pada pembiayaan pro¬duk barang-barang investasi baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Letter of credit atau lebih dikenal dengan nama L/C.

    Sebagai contoh Ny. Pariani memerlukan sebuah mobil senilai Rp 30.000.000,-. Jika Bank Syariah Tanjung Pandan yang membiayai pembelian mobil tersebut maka Bank Syariah Tanjung Pandan mengharapkan suatu keuntungan sebesar Rp 6. 000.000,- selama 3 tahun, maka harga yang ditetapkan kepada Ny. Pariani adalah Rp 36.000.000, Kemudian jika nasabah setuju maka nasabah dapat mencicil dengan angsuran Rp 1.000.000,-. per bulan (diperoleh dari Rp 36.000.000,- : 36 bulan) kepada Bank Syariah Tanjung Pandan.

    b. Bai’as-salam

    Bai’as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemu¬dian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

    Sebagai contoh seorang petani lada yang bernama Tn. Ivan Pratama hendak menanam lada dan membutuhkan dana sebesar Rp 200.000.000, untuk satu hektar. Bank Syariah Toboali menyetujui dan melakukan akad di mana Bank Syariah Toboali akan membeli hasil lada tersebut sebanyak 10 ton dengan harga Rp 200.000.000,-. Pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan lada sebanyak 10 ton. Kemudian Bank Syariah Toboali dapat menjual lada ter¬sebut dengan harga yang relatif lebih tinggi misalnya Rp 25.000,- per. kilo. Dengan demikian penghasilan bank adalah 10 ton x Rp 25.000, = Rp 250.000.000,-. Dari hasil tersebut Bank Syariah Toboali akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 50.000.000,-. setelah dikurangi modal yang diberikan oleh Bank Syariah Toboali yaitu Rp 250.000.000,¬ dikurangi Rp 200.000.000,-.

    c. Bai’Al istishna’

    Bai’ Al istishna’ merupakan bentuk khusus dari akad Bai’as¬salam, oleh karena itu ketentuan dalam Bai` Al istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan Bai’as-salam. Pengertian Bai’ Al istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen (pembuat ba¬rang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara angsuran per bulan atau di belakang.

    CV. Sungai Layang yang bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan sepatu memperoleh order untuk membuat sepatu anak sekolah SMU senilai Rp 60.000.000,- dan mengajukan permodalan kepada Bank Syariah Koba. Harga perpasang sepatu yang diajukan adalah Rp 85.000,- dan pembayarannya diangsur selama tiga bulan. Harga perpasang sepatu dipasaran sekitar Rp 90.000,-. Dalam hal ini Bank Syariah Koba tidak tahu berapa biaya pokok produksi. CV. Su¬ngai Layang hanya memberikan keuntungan Rp 5000,- persepasang sepatu atau keuntungan keseluruhan adalah Rp 3.529.412,- yang diperoleh dari hitungan:

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 5.000,- = Rp 3.529.412,-
    ¬Rp 85.000,-¬

    Bank Syariah Koba dapat menawar harga yang diajukan oleh CV. Sungai Layang dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat dijual kepada masyarakat dengan harga murah pula. Katakanlah misalnya Bank Syariah Koba menawar harga Rp 86.000,- per pasang, sehingga masih untung Rp 4.000,- per pasang dan keuntungan keseluruhan adalah :

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 4.000,- = Rp 2.790.697,¬-
    Rp 86.000,¬-

    4. Sewa (Operational Lease and Financial)

    a. Al-Ijarah (Leasing)

    Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas ba¬rang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.

    b. Ijarah Munahia Bit-tamlik (Financial Lease with Purchase Option)

    Sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan ini pula yang membedakan dengan ijarah biasa.

    5. Jasa (Fee-Based Service)

    (Amanat)

    Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakati oleh si pem¬beri mandat.

    b. Al-Kafalah (Garansi)

    Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung ke¬pada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat di¬lakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.

    c. Al-Hawalah

    Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang ber¬utang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak kepada lain pi-hak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan kegiatan anjak piutang atau factoring.

    d. Ar-Rahn

    Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.

    e. Al-Qord (Soft and Benevolent Loan)

    • Qord

    Menurut etimologi berarti pinjaman, sedangakn menurut terminologi berarti akad pinjaman dari bank kepada pihak tertentu yang wajib dikembalikan dalam jumlah yang sama sesuai dengan pinjaman.

    • Qordhul Hasan

    Qardhul hasan adalah pinjam-meminjam tanpa disertai bunga. Bila suatu saat si peminjam tidak dapat mengembalikannya, maka berikan kelonggaran waktu pembayaran baginya. Namun, jika si peminjam benar-benar tidak bisa mengembalikannya, maka si pemberi pinjaman harus menganggapnya sebagai sedekah.

  41. NAMA : UMAR HAMDI HANAFI
    NPM : 20090730071
    EKONOMI & PERBANKAN ISLAM
    Sistem Operasional Jasa Layanan

    PERBANKAN SYARIAH

    Perbankan Syariah dapat diartikan sebagai suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram (misal: usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram, usaha media yang tidak islami dll), dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.

    BEBERAPA PRINSIP/HUKUM YANG DIANUT OLEH SISTEM PERBANKAN SYARIAH ANTARA LAIN :

    1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

    2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.

    3. Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.

    4. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

    5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
    SEJARAH PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
    Sebelum kembali mempelajari lebih detail tentang perbankan syariah, tak ada salah sejenak kita memutar mundur kembali jarum waktu. Sejenak melihat ke belakang, sedikit mempelajari langkah-langkah awal terlahirnya perbankan syariah.
    Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah ini dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance islam modern, yakni neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan ini sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Upaya awal penerapan system profit and loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya pengelolaan dana jama’ah ahji secara non konvensional. Rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir.
    Setelah itu, pada sidang menteri-menteri luar negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam di Karachi, Paskistan, pada Desember 1970, Mesir mengajukan proposal untuk mendirikan bank syariah. Proposal yang disebut sebagai studi tentang pendirian bank islam internasional untuk perdagangan dan pembangunan (international Islamic bank for trade and development) dan proposal pendirian federasi bank islam (Federation of Islamic Banks), dikaji para ahli dari delapan belas Negara Islam. Proposal tersebut pada intinya mengusulkan bahwa sistem keuangan berdasarkan bunga harus digantikan dengan suatu sistem kerja sama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.
    Perkembangan lembaga keuangan islam berlanjut pada sidang OKI lima tahun kemudian, di Jeddah pada tahun 1975. Sidang menteri keuangan Negara OKI tersebut menyetujui pendirian Bank Pembangunan Islami atau Islamic Development Bank dengan modal awal 2 miliar dinar Islam atau ekuivalen dengan 2 miliar SDR (Special Drawing Rights).

    Perbankan syariah di Indonesia, pertama kali dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia yang berdiri pada tahun 1991. Bank ini pada awal berdirinya diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta mendapat dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Pada saat krisis moneter yang terjadi pada akhir tahun 1990,bank ini mengalami kesulitan sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba.
    Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia (Persero).
    Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Perkreditan Rakyat, saat ini telah berkembang 104 BPR Syariah.

    Prinsip kerja bank syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.

    PRODUK BANK SYARIAH

    1. Al-wadi’ah (Simpanan/Depository)

    Al-Wadi’ah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.

     Penerima sim¬panan disebut yad al-amanah yang artinya tangan amanah. Si pe¬nyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan dan keru¬sakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kela¬laian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.

    Penggunaan uang titipan harus terlebih dulu meminta izin kepada si pemilik uang dan dengan catatan si pengguna uang menjamin akan mengembalikan uang ter¬sebut secara utuh. Dengan demikian prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi yad adh-dhamanah (tangan penanggung).

    Konsekuensi dari diterapkannya prinsip yad adh-dhamanah pihak bank akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun sebaliknya bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank.

    Sebagai imbalan kepada pemilik dana disamping jaminan keamanan uangnya juga akan memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau bonus untuk giro wadiah. Artinya bank tidak di-larang untuk memberikan jasa atas pemakaian uangnya berupa in¬sentif atau bonus, dengan catatan tanpa perjanjian terlebih dulu baik nominal maupun persentase dan ini murni merupakan kebijakan bank sebagai pengguna uang. Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya digunakan istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya diberikan kepada nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang telah ditetapkan.

    Dalam praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan (mudharib) biasanya bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40%:60% untuk simpanan tabungan dan nisbah 45%:55% untuk simpanan deposito.

    Contoh rekening giro Wadiah :

    Tn. Baris memiliki rekening giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat dengan saldo rata-rata pada bulan Mei 2002 adalah Rp 1.000.000,-. Bonus yang diberikan Bank Muamalat Sungailiat kepada nasabah adalah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp 500.000,-. Diasumsikan total dana giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat adalah Rp 500.000.000,-. Pendapatan Bank Muamalat Sungailiat dari penggunaan giro wadiah adalah Rp 20.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa bonus yang diterima oleh Tn. Baris pada akhir bulan Mei 2002.

    Jawab :

    Rp 1.000.000,-
    Bonus yang diterima = x Rp 20.000.000,- x 30 % Tn. Baris Rp 500.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 12.000,-¬

    Contoh Perhitungan Keuntungan Tabungan Mudharabah :

    Tn. Derani memiliki tabungan di Bank Syariah Pangkal Pinang. Pada bulan juni 2002 Saldo rata-rata tabungan Tn. Derani adalah sebesar Rp 10.000.000,-. Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Pangkal Pinang dengan deposan adalah 40%:60%. Saldo rata-rata tabungan per-bulan di seluruh Bank Syariah Pangkal Pinang adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan Bank Syariah Pangkal Pinang yang dibagihasilkan adalah Rp 40.000.000,-.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Derani pada bulan yang bersangkutan.

    Jawab :

    Rp 10.000.000,-¬
    Keuntungan = x Rp 40.000.000,- x 60 %
    Tn. Derani Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 24.000,¬-

    Contoh Perhitungan Keuntungan Deposito Mudharabah :

    Tn. Rahman Hakim memiliki deposito sebesar Rp 100.000.000, ¬untuk jangka waktu 1 bulan di Bank Syariah Belinyu. Bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Belinyu dengan nasabah adalah 45%:55%. Saldo rata-rata deposito per bulan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan yang dibagihasilkan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 500.000.000, -.

    Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Rahman Hakim dari nisbah yang ditetapkan.

    Jawab:

    Rp 100.000.000,-
    Keuntungan = x Rp 500.000.000,- x 55% nasabah Rp 10.000.000.000,- (sebelum dipotong pajak)

    = Rp 2.750.000,¬-

    2. Pembiayaan Bagi Hasil (Profit-Sharing)

    a. Al-musyarakah

    Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau le¬bih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak membe¬rikan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

    AI-musyarakah dalam praktik perbankan diaplikasikan dalam hal pembiayaan proyek. Dalam hal ini nasabah yang dibiayai dengan bank sama-sama menyediakan dana untuk melaksanakan proyek tersebut. Keuntungan dari proyek dibagi sesuai dengan kesepakatan untuk bank setelah terlebih dulu mengembalikan dana yang dipakai nasabah. Al-musyarakah dapat pula dilakukan untuk kegiatan investasi seperti pada lembaga keuangan modal ventura.

    b. AI-mudharabah

    Pengertian AI-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.

    mudharabah muthlaqah merupakan kerja sama antara pihak pertama dan pihak lain yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi oleh waktu, spesifikasi usaha dan daerah bisnis.
    mudharabah muqayyadah merupakan kebalikan dari mudharabah muthlaqah di mana pihak lain dibatasi oleh waktu spesifikasi usaha dan daerah bisnis.

    Dalam dunia perbankan Al-mudharabah biasanya diaplikasikan pada produk pembiayaan atau pendanaan seperti, pembiayaan mo¬dal kerja. Dana untuk kegiatan mudharabah diambil dari simpanan tabungan berjangka seperti tabungan haji atau tabungan kurban. Dana juga dapat dilakukan dari deposito biasa dan deposito spesial yang dititipkan nasabah untuk usaha tertentu.

    c. Al-muzara’ah

    Pengertian AI-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan ka¬sus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen.

    d. Al-musaqah

    Pengertian AI-musaqah merupakan bagian dari al-muza’arah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pe¬meliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.

    3. Jual Beli (Sale and Purchase)

    a. Bai’al Murabahah

    Pengertian Bai’al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya.

    Sebagai con¬toh harga pokok barang “X” Rp 100.000,-. Keuntungan yang diharap¬kan adalah sebesar Rp 5.000,-, sehingga harga jualnya Rp 105.000,-. Kegiatan Bai’al-Murabahah ini baru dilakukan setelah ada kesepa¬katan dengan pembeli, baru kemudian dilakukan pemesanan. Dalam dunia perbankan kegiatan Bai’al-Murabahah pada pembiayaan pro¬duk barang-barang investasi baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Letter of credit atau lebih dikenal dengan nama L/C.

    Sebagai contoh Ny. Pariani memerlukan sebuah mobil senilai Rp 30.000.000,-. Jika Bank Syariah Tanjung Pandan yang membiayai pembelian mobil tersebut maka Bank Syariah Tanjung Pandan mengharapkan suatu keuntungan sebesar Rp 6. 000.000,- selama 3 tahun, maka harga yang ditetapkan kepada Ny. Pariani adalah Rp 36.000.000, Kemudian jika nasabah setuju maka nasabah dapat mencicil dengan angsuran Rp 1.000.000,-. per bulan (diperoleh dari Rp 36.000.000,- : 36 bulan) kepada Bank Syariah Tanjung Pandan.

    b. Bai’as-salam

    Bai’as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemu¬dian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

    Sebagai contoh seorang petani lada yang bernama Tn. Ivan Pratama hendak menanam lada dan membutuhkan dana sebesar Rp 200.000.000, untuk satu hektar. Bank Syariah Toboali menyetujui dan melakukan akad di mana Bank Syariah Toboali akan membeli hasil lada tersebut sebanyak 10 ton dengan harga Rp 200.000.000,-. Pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan lada sebanyak 10 ton. Kemudian Bank Syariah Toboali dapat menjual lada ter¬sebut dengan harga yang relatif lebih tinggi misalnya Rp 25.000,- per. kilo. Dengan demikian penghasilan bank adalah 10 ton x Rp 25.000, = Rp 250.000.000,-. Dari hasil tersebut Bank Syariah Toboali akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 50.000.000,-. setelah dikurangi modal yang diberikan oleh Bank Syariah Toboali yaitu Rp 250.000.000,¬ dikurangi Rp 200.000.000,-.

    c. Bai’Al istishna’

    Bai’ Al istishna’ merupakan bentuk khusus dari akad Bai’as¬salam, oleh karena itu ketentuan dalam Bai` Al istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan Bai’as-salam. Pengertian Bai’ Al istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen (pembuat ba¬rang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara angsuran per bulan atau di belakang.

    CV. Sungai Layang yang bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan sepatu memperoleh order untuk membuat sepatu anak sekolah SMU senilai Rp 60.000.000,- dan mengajukan permodalan kepada Bank Syariah Koba. Harga perpasang sepatu yang diajukan adalah Rp 85.000,- dan pembayarannya diangsur selama tiga bulan. Harga perpasang sepatu dipasaran sekitar Rp 90.000,-. Dalam hal ini Bank Syariah Koba tidak tahu berapa biaya pokok produksi. CV. Su¬ngai Layang hanya memberikan keuntungan Rp 5000,- persepasang sepatu atau keuntungan keseluruhan adalah Rp 3.529.412,- yang diperoleh dari hitungan:

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 5.000,- = Rp 3.529.412,-
    ¬Rp 85.000,-¬

    Bank Syariah Koba dapat menawar harga yang diajukan oleh CV. Sungai Layang dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat dijual kepada masyarakat dengan harga murah pula. Katakanlah misalnya Bank Syariah Koba menawar harga Rp 86.000,- per pasang, sehingga masih untung Rp 4.000,- per pasang dan keuntungan keseluruhan adalah :

    Rp 60.000.000,¬-
    x Rp 4.000,- = Rp 2.790.697,¬-
    Rp 86.000,¬-

    4. Sewa (Operational Lease and Financial)

    a. Al-Ijarah (Leasing)

    Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas ba¬rang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.

    b. Ijarah Munahia Bit-tamlik (Financial Lease with Purchase Option)

    Sejenis perpaduan antara kontrak jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan ini pula yang membedakan dengan ijarah biasa.

    5. Jasa (Fee-Based Service)

    (Amanat)

    Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakati oleh si pem¬beri mandat.

    b. Al-Kafalah (Garansi)

    Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung ke¬pada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat di¬lakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.

    c. Al-Hawalah

    Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang ber¬utang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak kepada lain pi-hak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan kegiatan anjak piutang atau factoring.

    d. Ar-Rahn

    Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.

    e. Al-Qord (Soft and Benevolent Loan)

    • Qord

    Menurut etimologi berarti pinjaman, sedangakn menurut terminologi berarti akad pinjaman dari bank kepada pihak tertentu yang wajib dikembalikan dalam jumlah yang sama sesuai dengan pinjaman.

    • Qordhul Hasan

    Qardhul hasan adalah pinjam-meminjam tanpa disertai bunga. Bila suatu saat si peminjam tidak dapat mengembalikannya, maka berikan kelonggaran waktu pembayaran baginya. Namun, jika si peminjam benar-benar tidak bisa mengembalikannya, maka si pemberi pinjaman harus menganggapnya sebagai sedekah.

  42. Nama: ICHWAN MUTTAQIN P
    No Mhs : 20090730027

    Tugas SOBS

    1. Produk Menghimpun Dana
    a. Tabungan Umat
    Merupakan Investasi tabungan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat diseluruh cabang ATM Bank syariah sesuai dengan ketentuan yang berlaku segmen yang dituju adalah semua kalangan tanpa dibatasi usia. Dengan kartu ATM , nasabah juga dapat melakukan penarikannya diseluruh mesin ATM Bank , ATM BCA dan ATM bersama serta kemudahan bertransaksi merchant-merchant debit BCA. Nasabah memperoleh bagi hasil yang berasal dari pendapatan Bank atas dana Arafah.
    b. Tabungan Arafah
    Merupakan tabungan yang dimaksudkan untuk mewujudkan niat nasabah untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan kemampuan keuangan dan waktu pelaksanaan yang diinginkan. Dengan fasilitas asuransi jiwa, insya Allah pelaksanaan ibadah haji tetap terjamin. Tabungan arafah juga menjamin nasabah untuk mendapatkan kepastian keberangkatan dengan jumlah dana 20 juta kerena Bank Muamalat On line dengan siskokat. Tabungan haji Arafah memberikan lahir keamanan, lahir batin karena dan yang disimpan akan dikelolah secarah syariah.

    2. Produk Penyaluran Dana
    a. Murabahah
    Merupakan akad jual beli barang antara nasabah dan Bank dengan menyatakan harga perolehan / harga beli dan keuntungan (margin) yang disepakati kedua belah pihak. Bank membiayai (membelikan) kebutuhan nasabah, yang kemudian dijual kepada nasabah dengan harga pokok ditambah keuntungan yang diketahui dan disepakti bersama, nasabah melakukan pembayaran dengan mengansur selama jangka waktu tertentu.
    b. Mudharabah
    Akad kerjasama antara bank sebagai pemilik dana dengan nasabah sebagai pelaksana usaha untuk mengelolah usaha yang produktif dan halal, dengan hasil keuntungan yang dibagi berdasarkan nisbah yang disepakati diawal akad.
    c. Mudharabah Muqayyadah
    Perjanjian kerjasama antara nasabah dengan bank, dimana nasabah hanya boleh menggunakan modal yang diberikan untuk melaksanakan proyek yang telah ditentukan. Pembagian hasil keuntungan dari proyek dilakukan sesuai nisbah yang disepakati bersama.
    d. Musyarakah
    Kerjasama antara bank dengan nasabah, dimana masing-masing pihak menyertakan modal dalam jumlah tertentu sesuai kesepakatan. Proyek ini boleh dikelolah oleh salah satu pemberi dana atau pihak lainnya, pemilik boleh melakukan investasi dalam manajemen proyek pembagian keuntungan dilakukan sesuai kesepakatan bersama, sedangkan kerugian ditanggung berdasarkan besarnya modal yang diberikan.
    e. Istishna
    Akad jual beli berdasarkan pesanan antara nasabah dan Bank, dengan spesifikasi tertentu seperti jenis, tipe/model, kwalitas dan jumlah yang disyaratkan nasabah. Bank memesan kepada produsen setelah barang jadi, Bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga yang telah disepakati sebelumnya.
    3. Jasa Layanan
    a. ATM
    b. Phone Banking dan Call Center
    c. Kafalah (Bank garansi syariah)
    d. Wakalah
    e. Pembayaran Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS)
    f. Layanan Pajak Online

  43. JASA LAYANAN BANK SYARIAH
    (FEE BASED INCOME BANK SYARIAH)

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah

    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)

    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)

  44. Nama: rani eka andatu
    Nim :20070730029

    Produk jasa bank syariah

    A.Wakalah
    • Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tannpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Penerapan dalam perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    B.Kafalah
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    penerapan dalam perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    C.Jualah
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    D.Sharf
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Penerapan Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen

    Perbedaan peoduk dan jasa yang ditawarkan oleh bank syariah dan konvensional
    Pada umumnya produk dan jasa yang dtawarkan oleh bank-bank syariah meliputi produk dana (tabungan mudarabah, giro wadiah, dan deposito mudhabarah), produk pembiayaan (murabahah angsuran, murabahah sekaligus, ijarah bai ut takjiri, dan musyarakah). Dan produk jasa (kiriman uang wakalah, inkaso wakalah, dan garansi bank wakalah). Sedangkan pada bank-bank konvesional produk jasa yang ditawarkan yaitu berupa tabungan, menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang efisien dalam kegiiatan ekonomi, menyediakan fasilitas untuk perdagangan internasonal, memberikan pelayanan penyimpanan untuk barang-barang berharga, dan menawarkan jasa-jasa keuangan lain, misalnya kartu kredit, cek perjalanan (traveler check), ATM, transfer dana dan sebagainya.

  45. Nama: rani eka andatu
    Nim :20070730029

    Produk jasa bank syariah

    A.Wakalah
    • Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tannpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah

    Penerapan dalam perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    B.Kafalah
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    penerapan dalam perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    C.Jualah
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    D.Sharf
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Penerapan dalam Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen

    Perbedaan peoduk dan jasa yang ditawarkan oleh bank syariah dan konvensional
    Pada umumnya produk dan jasa yang dtawarkan oleh bank-bank syariah meliputi produk dana (tabungan mudarabah, giro wadiah, dan deposito mudhabarah), produk pembiayaan (murabahah angsuran, murabahah sekaligus, ijarah bai ut takjiri, dan musyarakah). Dan produk jasa (kiriman uang wakalah, inkaso wakalah, dan garansi bank wakalah). Sedangkan pada bank-bank konvesional produk jasa yang ditawarkan yaitu berupa tabungan, menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang efisien dalam kegiiatan ekonomi, menyediakan fasilitas untuk perdagangan internasonal, memberikan pelayanan penyimpanan untuk barang-barang berharga, dan menawarkan jasa-jasa keuangan lain, misalnya kartu kredit, cek perjalanan (traveler check), ATM, transfer dana dan sebagainya.

  46. Nama : Fauziah Rahma Dewi
    NIM : 20090730041
    Tugas SOBS
    Jasa Pelayanan Bank Muamalat Indonesia

    Bank Muamalat memiliki pengalaman dan keahlian dalam bidang pembiayaan perdagangan secara syariah baik lokal maupun international. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai mitra yang amanah serta mengerti kebutuhan layanan bisnis perdagangan nasabah.
    Bank Muamalat memiliki layanan jasa dan pembiayaan syariah yang inovative untuk mendukung kelancaran bisnis perdagangan Nasabah, baik untuk transaksi perdagangan lokal maupun international dan untuk transaksi L/C maupun non L/C.
    Layanan produk Muamalat Trade Finance :
    1. Produk Ekspor
    2. Produk Impor
    3. Produk Ekspor – Impor Non LC Financing
    4. Produk SKBDN
    5. Produk Bank Garansi
    6. Produk Letter of Credit
    7. Produk Stanby LC

    1. Bank Garansi

    (atau disingkat BG ) adalah Jaminan Pembayaran yang diberikan oleh Bank atas permintaan Nasabahnya, kepada pihak penerima jaminan dalam hal Nasabah yang dijamin tidak memenuhi kewajibannya kepada pihak penerima jaminan.
    BG merupakan fasilitas non dana ( Non Funded Facility ) yang diberikan Bank berdasarkan akad Kafalah bil Ujrah. Bank akan menerbitkan BG sejumlah nilai tertentu yang dipersyaratkan oleh pihak penerima jaminan yang merupakan klien/mitra bisnis/ counter part dari Nasabah Bank untuk kepentingan transaksi / proyek tertentu yang akan dijalankan oleh Nasabah Bank.
    Penggunaan dan macam Bank Garansi
    • Diberikan kepada pemborong atau kontraktor untuk mengerjakan proyek
    • Diberikan untuk menjamin pembayaran (dapat berupa Standby L/C )

    Sedangkan Bank Garansi yang umum digunakan dalam rangka proyek, untuk mendukung usaha konstruksi, adalah:
    1. Bid Bond / Tender Bond atau jaminan saat mengikuti tender
    2. Advance Payment Bond atau jaminan uang muka
    3. Performance Bond atau jaminan pelaksanaan selama masa konstruksi

    2. Eksport
    Layanan yang diberikan :
    1. Advising L/C dan perubahannya.
    2. Transfer L/C.
    3. Konfirmasi L/C.
    4. Negosiasi Wesel Ekspor.
    5. Collection dokumen L/C.
    6. Collection dokumen non L/C.
    Manfaat :
    1. Melalui jaringan koresponden Bank Muamalat yang luas, Nasabah dapat menerima L/C dari bank manapun di seluruh dunia.
    2. Layanan advisory dan konsultasi dalam mempersiapkan dokumen ekspor.
    3. Untuk negosiasi wesel ekspor Bank Muamalat dapat memberikan layanan secara cepat dan tepat, sepanjang persyaratan telah terpenuhi.

    Persyaratan :
    1. Eksportir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Menyerahkan surat permohonan pengambil-alihan wesel ekspor.
    3. Menyerahkan asli dokumen ekspor.
    4. Telah dilakukan risk asessment terhadap transaksi yang akan dilakukan.

    3. Import
    Layanan yang diberikan :
    1. Issuing L/C.
    2. Amendment L/C.
    3. Realisasi L/C berupa penerimaan dan pemeriksaan dokumen serta penyelesaian pembayaran.
    4. Inward Collection dokumen Impor non L/C.

    Manfaat :
    1. L/C yang diterbitkan oleh Bank Muamalat dapat diterima oleh bank manapun diseluruh dunia.
    2. Didukung oleh tenaga ahli dan berpengalaman dalam pemeriksaan dokumen impor.
    3. Konsultasi dan advisory seputar impor.
    4. Fasilitas Refinancing L/C dengan biaya dan pricing yang kompetitif.
    5. Layanan cepat dan akurat.
    Persyaratan :
    1. Importir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Mempunyai Angka Pengenal Impor.
    3. Mengisi aplikasi permohonan pembukaan atau perubahan L/C.
    4. Menyerahkan Marginal Deposit sesuai dengan ketentuan.

    4. SKBDN ( Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    Bank Muamalat menyediakan layanan untuk transaksi SKBDN atau lazim dikenal dengan nama L/C dalam negeri.
    Produk dan layanan SKBDN mempunyai karakteristik yang sama dengan produk dan layanan pada transaksi ekspor impor. Persyaratan dan ketentuan untuk SKBDN merujuk pada syarat dan ketentuan transaksi ekspor impor.

    5. Letter of Credit
    Secara sederhana merupakan Pengambilalihan tanggung jawab pembayaran oleh pihak lain (dalam hal ini diambil alih oleh Bank) atas dasar permintaan pihak yang dijamin (Applicant/Pembeli/Nasabah Bank) untuk melakukan pembayaran kepada pihak penerima jaminan (Beneficiary/Penjual) berdasarkan syarat dan kondisi yang ditentukan dan disepakati.
    Sebagaimana BG, LC juga merupakan fasilitas non dana, dimana Bank dalam hal ini bertindak sebagai wakil dari Pembeli – menggunakan akad Wakalah bil Ujrah – untuk pengurusan dokumen, sementara untuk pembayaran penyelesaian transaksinya dapat menggunakan dana Nasabah sendiri maupun menggunakan fasilitas pembiayaan dari Bank dengan akad seperti yang telah di uraikan sebelumnya (Piutang Murabahah, Piutang Istishna, Mudharabah atau Musyarakah).

    6. Standby L/C
    Jenis-jenis Standby L/C :
    1. Performance Standby L/C.
    2. Advance Payment Standby .
    3. Bid Bond Standby.
    4. Financial Standby.
    5. Commercial Standby.

  47. Nama : Fauziah Rahma Dewi
    NIM : 20090730041
    Tugas SOBS
    Jasa Pelayanan Bank Muamalat Indonesia

    Bank Muamalat memiliki pengalaman dan keahlian dalam bidang pembiayaan perdagangan secara syariah baik lokal maupun international. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai mitra yang amanah serta mengerti kebutuhan layanan bisnis perdagangan nasabah.
    Bank Muamalat memiliki layanan jasa dan pembiayaan syariah yang inovative untuk mendukung kelancaran bisnis perdagangan Nasabah, baik untuk transaksi perdagangan lokal maupun international dan untuk transaksi L/C maupun non L/C.
    Layanan produk Muamalat Trade Finance :
    1. Produk Ekspor
    2. Produk Impor
    3. Produk Ekspor – Impor Non LC Financing
    4. Produk SKBDN
    5. Produk Bank Garansi
    6. Produk Letter of Credit
    7. Produk Stanby LC

    1. Bank Garansi

    (atau disingkat BG ) adalah Jaminan Pembayaran yang diberikan oleh Bank atas permintaan Nasabahnya, kepada pihak penerima jaminan dalam hal Nasabah yang dijamin tidak memenuhi kewajibannya kepada pihak penerima jaminan.
    BG merupakan fasilitas non dana ( Non Funded Facility ) yang diberikan Bank berdasarkan akad Kafalah bil Ujrah. Bank akan menerbitkan BG sejumlah nilai tertentu yang dipersyaratkan oleh pihak penerima jaminan yang merupakan klien/mitra bisnis/ counter part dari Nasabah Bank untuk kepentingan transaksi / proyek tertentu yang akan dijalankan oleh Nasabah Bank.
    Penggunaan dan macam Bank Garansi
    • Diberikan kepada pemborong atau kontraktor untuk mengerjakan proyek
    • Diberikan untuk menjamin pembayaran (dapat berupa Standby L/C )

    Sedangkan Bank Garansi yang umum digunakan dalam rangka proyek, untuk mendukung usaha konstruksi, adalah:
    1. Bid Bond / Tender Bond atau jaminan saat mengikuti tender
    2. Advance Payment Bond atau jaminan uang muka
    3. Performance Bond atau jaminan pelaksanaan selama masa konstruksi

    2. Eksport
    Layanan yang diberikan :
    1. Advising L/C dan perubahannya.
    2. Transfer L/C.
    3. Konfirmasi L/C.
    4. Negosiasi Wesel Ekspor.
    5. Collection dokumen L/C.
    6. Collection dokumen non L/C.
    Manfaat :
    1. Melalui jaringan koresponden Bank Muamalat yang luas, Nasabah dapat menerima L/C dari bank manapun di seluruh dunia.
    2. Layanan advisory dan konsultasi dalam mempersiapkan dokumen ekspor.
    3. Untuk negosiasi wesel ekspor Bank Muamalat dapat memberikan layanan secara cepat dan tepat, sepanjang persyaratan telah terpenuhi.

    Persyaratan :
    1. Eksportir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Menyerahkan surat permohonan pengambil-alihan wesel ekspor.
    3. Menyerahkan asli dokumen ekspor.
    4. Telah dilakukan risk asessment terhadap transaksi yang akan dilakukan.

    3. Import
    Layanan yang diberikan :
    1. Issuing L/C.
    2. Amendment L/C.
    3. Realisasi L/C berupa penerimaan dan pemeriksaan dokumen serta penyelesaian pembayaran.
    4. Inward Collection dokumen Impor non L/C.

    Manfaat :
    1. L/C yang diterbitkan oleh Bank Muamalat dapat diterima oleh bank manapun diseluruh dunia.
    2. Didukung oleh tenaga ahli dan berpengalaman dalam pemeriksaan dokumen impor.
    3. Konsultasi dan advisory seputar impor.
    4. Fasilitas Refinancing L/C dengan biaya dan pricing yang kompetitif.
    5. Layanan cepat dan akurat.
    Persyaratan :
    1. Importir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Mempunyai Angka Pengenal Impor.
    3. Mengisi aplikasi permohonan pembukaan atau perubahan L/C.
    4. Menyerahkan Marginal Deposit sesuai dengan ketentuan.

    4. SKBDN ( Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    Bank Muamalat menyediakan layanan untuk transaksi SKBDN atau lazim dikenal dengan nama L/C dalam negeri.
    Produk dan layanan SKBDN mempunyai karakteristik yang sama dengan produk dan layanan pada transaksi ekspor impor. Persyaratan dan ketentuan untuk SKBDN merujuk pada syarat dan ketentuan transaksi ekspor impor.

    5. Letter of Credit
    Secara sederhana merupakan Pengambilalihan tanggung jawab pembayaran oleh pihak lain (dalam hal ini diambil alih oleh Bank) atas dasar permintaan pihak yang dijamin (Applicant/Pembeli/Nasabah Bank) untuk melakukan pembayaran kepada pihak penerima jaminan (Beneficiary/Penjual) berdasarkan syarat dan kondisi yang ditentukan dan disepakati.
    Sebagaimana BG, LC juga merupakan fasilitas non dana, dimana Bank dalam hal ini bertindak sebagai wakil dari Pembeli – menggunakan akad Wakalah bil Ujrah – untuk pengurusan dokumen, sementara untuk pembayaran penyelesaian transaksinya dapat menggunakan dana Nasabah sendiri maupun menggunakan fasilitas pembiayaan dari Bank dengan akad seperti yang telah di uraikan sebelumnya (Piutang Murabahah, Piutang Istishna, Mudharabah atau Musyarakah).

    6. Standby L/C
    Jenis-jenis Standby L/C :
    1. Performance Standby L/C.
    2. Advance Payment Standby .
    3. Bid Bond Standby.
    4. Financial Standby.
    5. Commercial Standby.

    http://www.muamalatbank.com/index.php/home/produk/

  48. Nama : Patona
    NIM : 20090730057
    Jasa Pelayanan Bank Muamalat Indonesia

    Bank Muamalat memiliki pengalaman dan keahlian dalam bidang pembiayaan perdagangan secara syariah baik lokal maupun international. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai mitra yang amanah serta mengerti kebutuhan layanan bisnis perdagangan nasabah.
    International Banking
    1.Muamalat Remittance iB
    • Remittance BMI – MayBank
    • Remittance BMI – BMMB
    • Remittance BMI – NCB
    • Tabungan Nusantara

    1.Muamalat Remittance iB
    Adalah layanan pengiriman atau penerimaan uang valas dari atau kepada pihak ketiga kepada atau dari pemilik rekening Bank Muamalat Indonesia baik tunai maupun non tunai dalam denominasi valuta asing.
    Benefit :
    1. Lengkap.
    Layanan Muamalat Remittance iB menyediakan berbagai skema pengiriman uang yang dapat diandalkan dengan harga yang bersahabat.
    2. Handal.
    Layanan Muamalat Remittance iB didukung oleh SDM dan Teknologi Pendukung yang handal.
    3. Nyaman.
    Melalui dukungan cabang dan jaringan kantor Bank Muamalat Indonesia, nasabah penerima kiriman uang melalui Layanan Muamalat Remittance iB dapat dengan leluasa menerima uang kirimannya.
    4. Mudah.
    Kemudahan transaksi anda selalu menjadi perhatian kami.

    Fitur :
    Incoming Remittance : Outgoing Remittance :

    Segmen
    Semua nasabah Bank Segmen
    Semua nasabah Bank

    Jenis Nasabah
    Perorangan maupun Institusional Jenis Nasabah
    Perorangan maupun Institusional

    Biaya :
    1. Provisi
    USD 0

    2. Komunikasi
    USD 0
    3. Korespondensi
    USD 0
    4. Administrasi Bank
    USD 5

    5. Denda
    USD 0

    Counter Pengambilan Uang :
    Bank dan semua jaringan Bank

    Jenis mata uang asal yang dapat dilayani :
    1. USD
    2. EUR
    3. SGD
    4. Aus Dollar
    5. JPY
    6. SAR
    7. MYR Biaya :
    1. Provisi
    – Sumber dana : valas yang distransfer : 0.125% (min. USD 15 max. USD 150)
    – Sumber dana : Rupiah/Beda valas : free
    2. Komunikasi
    Rp. 100.000,-
    3. Korespondensi
    USD 0
    4. Kiriman
    Pay in full amount /Our :
    – USD : USD 25
    – Non USD : USD 30
    5. Denda
    USD 0

    Counter Pengambilan Uang :
    Bank dan semua jaringan Bank

    Jenis mata uang asal yang dapat dilayani :
    1. USD
    2. EUR
    3. SGD
    4. Aus Dollar
    5. JPY
    6. SAR
    7. MYR

    A.Remittance BMI – MayBank ( Bank Muamalat Indonesia – MayBank )

    Adalah kiriman uang bagi TKI di Malaysia ke Indonesia melalui seluruh counter MayBank dan penerima kiriman dapat mengambil dana secara cash di seluruh cabang Bank Muamalat Indonesia.

    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter MayBank di Malaysia (394 cabang) dan dapat menerima uang kiriman dalam bentuk cash di seluruh cabang BMI dengan menunjukkan identitas diri dan nomor referensi.
    2. Aman, dana kiriman anda akan dikirimkan secara aman dan real time.
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMI MayBank didukung oleh SDM, Teknologi Pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. Via Counter MayBank :
    1. RM 1, untuk layanan kiriman/setor ke Rekening sendiri di Bank Muamalat Indonesia (pengirim dan penerima adalah ia sendiri dan nasabah BMI).
    2. RM 5, untuk layanan kiriman kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.

    2. Via MayBank Money Express/MME :
    1. RM 10 *), untuk layanan kiriman menggunakan MME, kepada penerima lain dan diterima dalam bentuk cash.
    *) ada bulan-bulan gratis biaya kiriman, sesuai dengan program kerjasama antara BMI dan Maybank.
    B.Kas KILAT : BMI – BMMB ( Bank Muamalat Indonesia – Bank Muamalat Malaysia Berhad )
    Adalah kiriman uang bagi TKI di Malaysia ke Indonesia melalui seluruh counter Bank Muamalat Malaysia Berhad kepada Nasabah Bank Muamalat Indonesia.

    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter BMMB di Malaysia (55 cabang) dan penerima dapat menerima uang kiriman diseluruh cabang BMI.
    2. Aman, dana kiriman anda akan dikirimkan secara aman dan real time.
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMMB didukung oleh SDM dan Teknologi Pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. RM 1, untuk layanan kiriman/setor ke rekening sendiri di Bank Muamalat Indonesia (pengirim dan penerima adalah ia sendiri dan nasabah BMI).
    2. RM 5, untuk layanan kiriman kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.
    3. RM 10 *), untuk layanan kiriman menggunakan mesin EDC, baik kepada rekening sendiri atau kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.

    *) dalam proses konfirmasi dengan BMMB

    3. Remittance BMI – NCB ( Bank Muamalat Indonesia – National Commercial Bank )
    Adalah kiriman uang bagi TKI di Arab Saudi ke Indonesia melalui seluruh counter PayQuick maupun fasilitas ATM National Commercial Bank kepada Nasabah Bank Muamalat Indonesia maupun Bank lain.
    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter PayQuick dan fasilitas ATM National Commercial Bank.
    2. Aman, fitur layanan remittance kami melayani anda walaupun anda belum menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia, melalui fasilitas layanan Shar-e pick up *).
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMI NCB didukung oleh SDM, Teknologi dan infrastruktur pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. SAR 20, untuk semua jenis layanan kiriman baik kepada penerima di Bank Muamalat Indonesia ataupun Bank lain.
    *) Shar-e pick up adalah layanan kiriman uang khusus bagi mereka yang belum memiliki nomor rekening Bank Muamalat.

    4.Tabungan Nusantara
    Adalah tabungan syariah yang dikelola dengan akad berbagi hasil dengan tambahan keuntungan kemudahan layanan remittance, sehingga selain menabung anda juga mudah melakukan transaksi Remittance.
    Benefit :
    1. Bebas Biaya Administrasi.
    Tabungan Nusantara merupakan tabungan yang bebas biaya administrasi (untuk saldo rata-rata tertentu) karena khusus diperuntukkan bagi nasabah perorangan dengan tujuan menabung selama bekerja di Malaysia.
    2. Murah.
    Gratis biaya penarikan tunai dicounter Bank di Indonesia. Nasabah juga diringankan oleh nominal pembukaan dan saldo minimum yang rendah.
    3. Sederhana.
    Tabungan Nusantara menyediakan ragam fasilitas dan ketentuan yang sangat cocok bagi nasabah yang membutuhkan layanan dan transaksi sederhana, seperti setoran, penarikan, transfer/remittance dengan tujuan penerimaan di Indonesia.
    4. Nyaman.
    Fasilitas tarik tunai di jaringan ATM yang luas baik di Indonesia dan Malaysia.
    5. Menguntungkan.
    Adanya bagi hasil dan bebas biaya administrasi memungkinkan dana yang mengendap dapat terus bertambah secara halal.
    6. Tanpa Pajak.
    Tidak kena pajak atas pendapatan bagi hasil yang diterima nasabah.

    Biaya :
    1. Akad Mudharabah
    2. Biaya paket : RM 10
    3. Setoran awal : Rp. 20.000,-
    4. Minimal setoran berikutnya : Rp. 10.000,-
    5. Saldo minimum : Rp. 20.000,-
    6. Nisbah bagi hasil : 10% (nasabah) : 90% (bank)
    7. Biaya-biaya :
    Administrasi
    – Saldo rata-rata harian = Rp. 1.000.000,- = Rp. 0,-
    Penggantian kartu = RM 8
    Penarikan via counter
    – Malaysia : Gratis
    – Indonesia : Rp. 2.000,-
    Penarikan via non counter dan cek saldo
    – ATM Muamalat : Gratis
    – ATM BCA/Prima : Sesuai tarif penyedia layanan
    – ATM Bankad (Malaysia) : Sesuai tarif penyedia layanan
    Penutupan : Gratis

    Bank Muamalat memiliki layanan jasa dan pembiayaan syariah yang inovative untuk mendukung kelancaran bisnis perdagangan Nasabah, baik untuk transaksi perdagangan lokal maupun international dan untuk transaksi L/C maupun non L/C.
    Layanan produk Muamalat Trade Finance :
    1. Produk Ekspor
    2. Produk Impor
    3. Produk Ekspor – Impor Non LC Financing
    4. Produk SKBDN
    5. Produk Bank Garansi
    6. Produk Letter of Credit
    7. Produk Stanby LC

    1. Bank Garansi

    (atau disingkat BG ) adalah Jaminan Pembayaran yang diberikan oleh Bank atas permintaan Nasabahnya, kepada pihak penerima jaminan dalam hal Nasabah yang dijamin tidak memenuhi kewajibannya kepada pihak penerima jaminan.
    BG merupakan fasilitas non dana ( Non Funded Facility ) yang diberikan Bank berdasarkan akad Kafalah bil Ujrah. Bank akan menerbitkan BG sejumlah nilai tertentu yang dipersyaratkan oleh pihak penerima jaminan yang merupakan klien/mitra bisnis/ counter part dari Nasabah Bank untuk kepentingan transaksi / proyek tertentu yang akan dijalankan oleh Nasabah Bank.
    Penggunaan dan macam Bank Garansi
    • Diberikan kepada pemborong atau kontraktor untuk mengerjakan proyek
    • Diberikan untuk menjamin pembayaran (dapat berupa Standby L/C )

    Sedangkan Bank Garansi yang umum digunakan dalam rangka proyek, untuk mendukung usaha konstruksi, adalah:
    1. Bid Bond / Tender Bond atau jaminan saat mengikuti tender
    2. Advance Payment Bond atau jaminan uang muka
    3. Performance Bond atau jaminan pelaksanaan selama masa konstruksi

    2. Eksport
    Layanan yang diberikan :
    1. Advising L/C dan perubahannya.
    2. Transfer L/C.
    3. Konfirmasi L/C.
    4. Negosiasi Wesel Ekspor.
    5. Collection dokumen L/C.
    6. Collection dokumen non L/C.
    Manfaat :
    1. Melalui jaringan koresponden Bank Muamalat yang luas, Nasabah dapat menerima L/C dari bank manapun di seluruh dunia.
    2. Layanan advisory dan konsultasi dalam mempersiapkan dokumen ekspor.
    3. Untuk negosiasi wesel ekspor Bank Muamalat dapat memberikan layanan secara cepat dan tepat, sepanjang persyaratan telah terpenuhi.

    Persyaratan :
    1. Eksportir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Menyerahkan surat permohonan pengambil-alihan wesel ekspor.
    3. Menyerahkan asli dokumen ekspor.
    4. Telah dilakukan risk asessment terhadap transaksi yang akan dilakukan.

    3. Import
    Layanan yang diberikan :
    1. Issuing L/C.
    2. Amendment L/C.
    3. Realisasi L/C berupa penerimaan dan pemeriksaan dokumen serta penyelesaian pembayaran.
    4. Inward Collection dokumen Impor non L/C.

    Manfaat :
    1. L/C yang diterbitkan oleh Bank Muamalat dapat diterima oleh bank manapun diseluruh dunia.
    2. Didukung oleh tenaga ahli dan berpengalaman dalam pemeriksaan dokumen impor.
    3. Konsultasi dan advisory seputar impor.
    4. Fasilitas Refinancing L/C dengan biaya dan pricing yang kompetitif.
    5. Layanan cepat dan akurat.
    Persyaratan :
    1. Importir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Mempunyai Angka Pengenal Impor.
    3. Mengisi aplikasi permohonan pembukaan atau perubahan L/C.
    4. Menyerahkan Marginal Deposit sesuai dengan ketentuan.

    4. SKBDN ( Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    Bank Muamalat menyediakan layanan untuk transaksi SKBDN atau lazim dikenal dengan nama L/C dalam negeri.
    Produk dan layanan SKBDN mempunyai karakteristik yang sama dengan produk dan layanan pada transaksi ekspor impor. Persyaratan dan ketentuan untuk SKBDN merujuk pada syarat dan ketentuan transaksi ekspor impor.

    5. Letter of Credit
    Secara sederhana merupakan Pengambilalihan tanggung jawab pembayaran oleh pihak lain (dalam hal ini diambil alih oleh Bank) atas dasar permintaan pihak yang dijamin (Applicant/Pembeli/Nasabah Bank) untuk melakukan pembayaran kepada pihak penerima jaminan (Beneficiary/Penjual) berdasarkan syarat dan kondisi yang ditentukan dan disepakati.
    Sebagaimana BG, LC juga merupakan fasilitas non dana, dimana Bank dalam hal ini bertindak sebagai wakil dari Pembeli – menggunakan akad Wakalah bil Ujrah – untuk pengurusan dokumen, sementara untuk pembayaran penyelesaian transaksinya dapat menggunakan dana Nasabah sendiri maupun menggunakan fasilitas pembiayaan dari Bank dengan akad seperti yang telah di uraikan sebelumnya (Piutang Murabahah, Piutang Istishna, Mudharabah atau Musyarakah).

    6. Standby L/C
    Jenis-jenis Standby L/C :
    1. Performance Standby L/C.
    2. Advance Payment Standby .
    3. Bid Bond Standby.
    4. Financial Standby.
    5. Commercial Standby.

  49. Nama : Patona
    NIM : 20090730057
    Jasa Pelayanan Bank Muamalat Indonesia

    Bank Muamalat memiliki pengalaman dan keahlian dalam bidang pembiayaan perdagangan secara syariah baik lokal maupun international. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai mitra yang amanah serta mengerti kebutuhan layanan bisnis perdagangan nasabah.
    International Banking
    1.Muamalat Remittance iB
    • Remittance BMI – MayBank
    • Remittance BMI – BMMB
    • Remittance BMI – NCB
    • Tabungan Nusantara

    1.Muamalat Remittance iB
    Adalah layanan pengiriman atau penerimaan uang valas dari atau kepada pihak ketiga kepada atau dari pemilik rekening Bank Muamalat Indonesia baik tunai maupun non tunai dalam denominasi valuta asing.
    Benefit :
    1. Lengkap.
    Layanan Muamalat Remittance iB menyediakan berbagai skema pengiriman uang yang dapat diandalkan dengan harga yang bersahabat.
    2. Handal.
    Layanan Muamalat Remittance iB didukung oleh SDM dan Teknologi Pendukung yang handal.
    3. Nyaman.
    Melalui dukungan cabang dan jaringan kantor Bank Muamalat Indonesia, nasabah penerima kiriman uang melalui Layanan Muamalat Remittance iB dapat dengan leluasa menerima uang kirimannya.
    4. Mudah.
    Kemudahan transaksi anda selalu menjadi perhatian kami.

    Fitur :
    Incoming Remittance : Outgoing Remittance :

    Segmen
    Semua nasabah Bank Segmen
    Semua nasabah Bank

    Jenis Nasabah
    Perorangan maupun Institusional Jenis Nasabah
    Perorangan maupun Institusional

    Biaya :
    1. Provisi
    USD 0

    2. Komunikasi
    USD 0
    3. Korespondensi
    USD 0
    4. Administrasi Bank
    USD 5

    5. Denda
    USD 0

    Counter Pengambilan Uang :
    Bank dan semua jaringan Bank

    Jenis mata uang asal yang dapat dilayani :
    1. USD
    2. EUR
    3. SGD
    4. Aus Dollar
    5. JPY
    6. SAR
    7. MYR Biaya :
    1. Provisi
    – Sumber dana : valas yang distransfer : 0.125% (min. USD 15 max. USD 150)
    – Sumber dana : Rupiah/Beda valas : free
    2. Komunikasi
    Rp. 100.000,-
    3. Korespondensi
    USD 0
    4. Kiriman
    Pay in full amount /Our :
    – USD : USD 25
    – Non USD : USD 30
    5. Denda
    USD 0

    Counter Pengambilan Uang :
    Bank dan semua jaringan Bank

    Jenis mata uang asal yang dapat dilayani :
    1. USD
    2. EUR
    3. SGD
    4. Aus Dollar
    5. JPY
    6. SAR
    7. MYR

    A.Remittance BMI – MayBank ( Bank Muamalat Indonesia – MayBank )

    Adalah kiriman uang bagi TKI di Malaysia ke Indonesia melalui seluruh counter MayBank dan penerima kiriman dapat mengambil dana secara cash di seluruh cabang Bank Muamalat Indonesia.

    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter MayBank di Malaysia (394 cabang) dan dapat menerima uang kiriman dalam bentuk cash di seluruh cabang BMI dengan menunjukkan identitas diri dan nomor referensi.
    2. Aman, dana kiriman anda akan dikirimkan secara aman dan real time.
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMI MayBank didukung oleh SDM, Teknologi Pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. Via Counter MayBank :
    1. RM 1, untuk layanan kiriman/setor ke Rekening sendiri di Bank Muamalat Indonesia (pengirim dan penerima adalah ia sendiri dan nasabah BMI).
    2. RM 5, untuk layanan kiriman kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.

    2. Via MayBank Money Express/MME :
    1. RM 10 *), untuk layanan kiriman menggunakan MME, kepada penerima lain dan diterima dalam bentuk cash.
    *) ada bulan-bulan gratis biaya kiriman, sesuai dengan program kerjasama antara BMI dan Maybank.
    B.Kas KILAT : BMI – BMMB ( Bank Muamalat Indonesia – Bank Muamalat Malaysia Berhad )
    Adalah kiriman uang bagi TKI di Malaysia ke Indonesia melalui seluruh counter Bank Muamalat Malaysia Berhad kepada Nasabah Bank Muamalat Indonesia.

    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter BMMB di Malaysia (55 cabang) dan penerima dapat menerima uang kiriman diseluruh cabang BMI.
    2. Aman, dana kiriman anda akan dikirimkan secara aman dan real time.
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMMB didukung oleh SDM dan Teknologi Pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. RM 1, untuk layanan kiriman/setor ke rekening sendiri di Bank Muamalat Indonesia (pengirim dan penerima adalah ia sendiri dan nasabah BMI).
    2. RM 5, untuk layanan kiriman kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.
    3. RM 10 *), untuk layanan kiriman menggunakan mesin EDC, baik kepada rekening sendiri atau kepada penerima lain yang merupakan nasabah BMI.

    *) dalam proses konfirmasi dengan BMMB

    3. Remittance BMI – NCB ( Bank Muamalat Indonesia – National Commercial Bank )
    Adalah kiriman uang bagi TKI di Arab Saudi ke Indonesia melalui seluruh counter PayQuick maupun fasilitas ATM National Commercial Bank kepada Nasabah Bank Muamalat Indonesia maupun Bank lain.
    Benefit :
    1. Nyaman, pengiriman uang dapat mengirimkan uangnya melalui seluruh counter PayQuick dan fasilitas ATM National Commercial Bank.
    2. Aman, fitur layanan remittance kami melayani anda walaupun anda belum menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia, melalui fasilitas layanan Shar-e pick up *).
    3. Handal, Layanan Kas KILAT-BMI NCB didukung oleh SDM, Teknologi dan infrastruktur pendukung yang handal
    4. Mudah, kemudahan proses transaksi baik bagi pengirim maupun penerima.

    Biaya :
    1. SAR 20, untuk semua jenis layanan kiriman baik kepada penerima di Bank Muamalat Indonesia ataupun Bank lain.
    *) Shar-e pick up adalah layanan kiriman uang khusus bagi mereka yang belum memiliki nomor rekening Bank Muamalat.

    4.Tabungan Nusantara
    Adalah tabungan syariah yang dikelola dengan akad berbagi hasil dengan tambahan keuntungan kemudahan layanan remittance, sehingga selain menabung anda juga mudah melakukan transaksi Remittance.
    Benefit :
    1. Bebas Biaya Administrasi.
    Tabungan Nusantara merupakan tabungan yang bebas biaya administrasi (untuk saldo rata-rata tertentu) karena khusus diperuntukkan bagi nasabah perorangan dengan tujuan menabung selama bekerja di Malaysia.
    2. Murah.
    Gratis biaya penarikan tunai dicounter Bank di Indonesia. Nasabah juga diringankan oleh nominal pembukaan dan saldo minimum yang rendah.
    3. Sederhana.
    Tabungan Nusantara menyediakan ragam fasilitas dan ketentuan yang sangat cocok bagi nasabah yang membutuhkan layanan dan transaksi sederhana, seperti setoran, penarikan, transfer/remittance dengan tujuan penerimaan di Indonesia.
    4. Nyaman.
    Fasilitas tarik tunai di jaringan ATM yang luas baik di Indonesia dan Malaysia.
    5. Menguntungkan.
    Adanya bagi hasil dan bebas biaya administrasi memungkinkan dana yang mengendap dapat terus bertambah secara halal.
    6. Tanpa Pajak.
    Tidak kena pajak atas pendapatan bagi hasil yang diterima nasabah.

    Biaya :
    1. Akad Mudharabah
    2. Biaya paket : RM 10
    3. Setoran awal : Rp. 20.000,-
    4. Minimal setoran berikutnya : Rp. 10.000,-
    5. Saldo minimum : Rp. 20.000,-
    6. Nisbah bagi hasil : 10% (nasabah) : 90% (bank)
    7. Biaya-biaya :
    Administrasi
    – Saldo rata-rata harian = Rp. 1.000.000,- = Rp. 0,-
    Penggantian kartu = RM 8
    Penarikan via counter
    – Malaysia : Gratis
    – Indonesia : Rp. 2.000,-
    Penarikan via non counter dan cek saldo
    – ATM Muamalat : Gratis
    – ATM BCA/Prima : Sesuai tarif penyedia layanan
    – ATM Bankad (Malaysia) : Sesuai tarif penyedia layanan
    Penutupan : Gratis

    Bank Muamalat memiliki layanan jasa dan pembiayaan syariah yang inovative untuk mendukung kelancaran bisnis perdagangan Nasabah, baik untuk transaksi perdagangan lokal maupun international dan untuk transaksi L/C maupun non L/C.
    Layanan produk Muamalat Trade Finance :
    1. Produk Ekspor
    2. Produk Impor
    3. Produk Ekspor – Impor Non LC Financing
    4. Produk SKBDN
    5. Produk Bank Garansi
    6. Produk Letter of Credit
    7. Produk Stanby LC

    1. Bank Garansi

    (atau disingkat BG ) adalah Jaminan Pembayaran yang diberikan oleh Bank atas permintaan Nasabahnya, kepada pihak penerima jaminan dalam hal Nasabah yang dijamin tidak memenuhi kewajibannya kepada pihak penerima jaminan.
    BG merupakan fasilitas non dana ( Non Funded Facility ) yang diberikan Bank berdasarkan akad Kafalah bil Ujrah. Bank akan menerbitkan BG sejumlah nilai tertentu yang dipersyaratkan oleh pihak penerima jaminan yang merupakan klien/mitra bisnis/ counter part dari Nasabah Bank untuk kepentingan transaksi / proyek tertentu yang akan dijalankan oleh Nasabah Bank.
    Penggunaan dan macam Bank Garansi
    • Diberikan kepada pemborong atau kontraktor untuk mengerjakan proyek
    • Diberikan untuk menjamin pembayaran (dapat berupa Standby L/C )

    Sedangkan Bank Garansi yang umum digunakan dalam rangka proyek, untuk mendukung usaha konstruksi, adalah:
    1. Bid Bond / Tender Bond atau jaminan saat mengikuti tender
    2. Advance Payment Bond atau jaminan uang muka
    3. Performance Bond atau jaminan pelaksanaan selama masa konstruksi

    2. Eksport
    Layanan yang diberikan :
    1. Advising L/C dan perubahannya.
    2. Transfer L/C.
    3. Konfirmasi L/C.
    4. Negosiasi Wesel Ekspor.
    5. Collection dokumen L/C.
    6. Collection dokumen non L/C.
    Manfaat :
    1. Melalui jaringan koresponden Bank Muamalat yang luas, Nasabah dapat menerima L/C dari bank manapun di seluruh dunia.
    2. Layanan advisory dan konsultasi dalam mempersiapkan dokumen ekspor.
    3. Untuk negosiasi wesel ekspor Bank Muamalat dapat memberikan layanan secara cepat dan tepat, sepanjang persyaratan telah terpenuhi.

    Persyaratan :
    1. Eksportir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Menyerahkan surat permohonan pengambil-alihan wesel ekspor.
    3. Menyerahkan asli dokumen ekspor.
    4. Telah dilakukan risk asessment terhadap transaksi yang akan dilakukan.

    3. Import
    Layanan yang diberikan :
    1. Issuing L/C.
    2. Amendment L/C.
    3. Realisasi L/C berupa penerimaan dan pemeriksaan dokumen serta penyelesaian pembayaran.
    4. Inward Collection dokumen Impor non L/C.

    Manfaat :
    1. L/C yang diterbitkan oleh Bank Muamalat dapat diterima oleh bank manapun diseluruh dunia.
    2. Didukung oleh tenaga ahli dan berpengalaman dalam pemeriksaan dokumen impor.
    3. Konsultasi dan advisory seputar impor.
    4. Fasilitas Refinancing L/C dengan biaya dan pricing yang kompetitif.
    5. Layanan cepat dan akurat.
    Persyaratan :
    1. Importir adalah nasabah Bank Muamalat.
    2. Mempunyai Angka Pengenal Impor.
    3. Mengisi aplikasi permohonan pembukaan atau perubahan L/C.
    4. Menyerahkan Marginal Deposit sesuai dengan ketentuan.

    4. SKBDN ( Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri)
    Bank Muamalat menyediakan layanan untuk transaksi SKBDN atau lazim dikenal dengan nama L/C dalam negeri.
    Produk dan layanan SKBDN mempunyai karakteristik yang sama dengan produk dan layanan pada transaksi ekspor impor. Persyaratan dan ketentuan untuk SKBDN merujuk pada syarat dan ketentuan transaksi ekspor impor.

    5. Letter of Credit
    Secara sederhana merupakan Pengambilalihan tanggung jawab pembayaran oleh pihak lain (dalam hal ini diambil alih oleh Bank) atas dasar permintaan pihak yang dijamin (Applicant/Pembeli/Nasabah Bank) untuk melakukan pembayaran kepada pihak penerima jaminan (Beneficiary/Penjual) berdasarkan syarat dan kondisi yang ditentukan dan disepakati.
    Sebagaimana BG, LC juga merupakan fasilitas non dana, dimana Bank dalam hal ini bertindak sebagai wakil dari Pembeli – menggunakan akad Wakalah bil Ujrah – untuk pengurusan dokumen, sementara untuk pembayaran penyelesaian transaksinya dapat menggunakan dana Nasabah sendiri maupun menggunakan fasilitas pembiayaan dari Bank dengan akad seperti yang telah di uraikan sebelumnya (Piutang Murabahah, Piutang Istishna, Mudharabah atau Musyarakah).

    6. Standby L/C
    Jenis-jenis Standby L/C :
    1. Performance Standby L/C.
    2. Advance Payment Standby .
    3. Bid Bond Standby.
    4. Financial Standby.
    5. Commercial Standby.

    http://www.muamalatbank.com/index.php/home/produk

  50. Tugas ke-6 sistem operasional jasa layanan

    Sistem operasional bank syari’ah
    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:22

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank. 23

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. 24 b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan m8anfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

    Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/investing/2047567-sistem-operasional-bank-syariah/#ixzz1NclKo2ay

    Contoh produk jasa layanan perbankan syari’ah
     Kafalah
     Wakalah
     Dan sharf
    Wakalah
    adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama.
    Jenis wakalah:
    Wakalah al muthlaqah
    adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    Wakalah al muqayyadah
    penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    Wakalah al Ammah
    perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.

    SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah
    adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah:
    Kafalah bin nafs
    adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    Kafalah bil maal
    adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    Kafalah muallaqah
    adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
     Harus tunai
     Serah terima harus dalam majelis kontak
     Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama

    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    Ijarah
    adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian).

  51. Nama : qori fajrila
    NPM : 20090730061
    EKONOMI DAN PERBANKAN ISLAM

    JASA LAYANAN BANK SYARIAH
    (FEE BASED INCOME BANK SYARIAH)

    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah

    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Skema wakalah

    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)

    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.

    Bank Garansi
    Guarantee (garansi) artinya jaminan Bank Garansi adalah jaminan bank dalam penyelesaian suatu proyek jika pelaksana (kontraktor) ingkar/cedera janji.
    Dengan adanya BG pemilik proyek mendapat kepastian bahwa proyek akan berjalan sesuai dengan perjanjian.

    1. Terjadi perundingan rencana kerja proyek
    2. Kontraktor mengajukan Bank Garansi pada bank
    3. Bank memberikan Sertifikat BG
    4. Sertifikat diberikan pada pemilik proyek
    5. Pemilik Proyek memberikan proyek pada kontraktor
    6. Bila kontraktor cedera janji maka pemilik proyek dapat mencairkan sertifikat BG pada bank
    7. Bank penjamin akan membayar sertifikat BG pada pemilik proyek Bila pekerjaan diselesaikan oleh kontraktor maka sertifikat BG harus dikembalikan
    Menerima Setoran-Setoran
    Jasa ini diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam melakukan setoran atau
    pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima bank antar lain :
    pembayaran listrik, telpon, pajak, uang kuliah, rekening air dan setoran ONH
    Melakukan Pembayaran
    Jasa ini termasuk jasa lain-lain yang juga disediakan oleh bank, diantaranya pembayaran gaji, pensiun, bonus dan hadiah.

    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)

    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)
    Skema ijarah : 3. Sewa-Menyewa
    – Ijarah
    Produk dengan akad Ijarah dapat berupa barang bergerak atau dapat pula barang tidak bergerak. barang yang akad disewakan kepada nasabah bisa milik bank atau bank menyewa terlebih dahulu barang tersebut kemudian disewakan kembali kepada nasabah dengan harga sewa yang lebih tinggi dari harga bank menyewa.

    Gb. Skema Ijarah, Barang Milik Bank
    Gb. Skema Ijarah, Barang Bukan Milik Bank
    – Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)
    Produk dengan akad Ijarah Muntahiya Bitamlik kurang lebih sama dengan ijarah biasa hanya saja di akhir sewa barang menjadi milik Nasabah. tentu saja barang yang diserahkan adalah sudah menjadi milik Bank terlebih dahulu.

    Gb.Skema Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)

    NB : assalamualaikum pak gita,,ini tugas sudah saya kirim hari kamis kemaren sekitar jam 23.00,tapi setelah saya cek lagi tidak ada dan sekarang saya kirim ulang lagi,,semoga bapak maklum dan percaya.terima kasih…

  52. Produk-produk layanan jasa bank syariah
    1. Wakalah
    Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak, dimana pihak pertama mewakilkan suatu urusan kepada pihak kedua untuk bertindak atas nama pihak pertama
    Jenis wakalah
    • Wakalah al muthlaqah adalah mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan
    • Wakalah al muqayyadah penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu
    • Wakalah al Ammah perwakilan yang lebih luas lagi daripada almuqayyadah tetapi lebih sederhana dari pada al mutalaqah
    Skema wakalah
    Produk perbankan syariah adalah :
    B-Prayer adalah bentuk layanan dalam menerima tagihan pelanggan telefon, listrik seperti : Telkomsel, Telkom, PLN dsb.
    • SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) janji tertulis nasabah (applicant) yang mengikat bank sebagai bank pembuka untuk membayar kepeada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang diatrik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang ditarik oleh penerima atas penyerahan dokumen (khusus dalam negeri)
    • L/C Letter of Credit adalah janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis nasabah (applicant) yang mengikat Bank sebagai pembuka untuk membayar kepada penerima atau ordernya atau mengaksep dan membayar wesel pada saat jatuh tempo yang ditarik penerima, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima, atau menegoisasikan wesel-wesel yang diatrik oleh penerima atas penyerahan dokumen.
    • Setoran Kliring adalah penagihan warkat bank lain dimana lokasi bank tertariknya berada di dalam satu wilayah kliring
    • Inkaso penagihan warkat bank lain dimana bank tertariknya berbeda wilayah kliring atau berada di luar negeri, hasilnya penagihan akan dikreditkan ke rekening nasabah
    • Intercity Kliring adalah jasa penagihan warkat (cek/bilyet giro valuta rupiah) bank di luar wilayah kliring dengan cepat sehingga nasabah dapat menerima dana hasil tagihan cek atau bilyet giro tersebut pada keesekon harinya
    • RTGS (Real Time Gross Settlement) adalah jasa transfer uang valuta rupiah antar bank baik dalam satu kota maupun dalam kota yang berbeda secara real time. Hasil transfer efektif dalam hitungan menit
    • Western Union adalah jasa tranfer uang valuta asing antar negara yang dalam penerimaan atau pengirimannya harus mencantumkan suatu pesan pendek atau password kepada penerima atau si pengirim
    • Transfer dalam kota adalah jasa pemindahan dana antar bank dalam (satu wilayah kliring kota)
    • Transfer Valas keluar yaitu pengiriman valas dari nasabah bank X ke nasabah bank Y atau bank lain baik dalam maupun luar negeri
    • Transfer valas masuk yaitu pengiriman valas dari nasabah bank Y atau bank lain dalam maupun ke luar negeri ke nasabah bank X
    • Standing Order adalah fasilitas kemudahan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang dalam transaksi keuangannya harus memindahkan dana dari suatu rekening ke rekening lainnya secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya nasabah memberikan instruksi ke bank hanya satu kali saja
    • Pembayaran Pajak Impor fasiltas yang diberikan kepada nasabah atau importir untuk membayar pajak dalam rangka import secara on-line sebagai syarat mengeluarkan barangnya dari gudang kantor bea cukai.
    2. kafalah
    Kafalah adalah akad jaminan dari suatu pihak kepada pihak lain
    Jenis-jenis kafalah
    • Kafalah bin nafs adalah jaminan dari diri si penjamin (Personal Guarante)
    • Kafalah bil maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang dalam aplikasinya di perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka (Advance paymen bond) atau jaminan pembayaran (payment bond)
    • Kafalah muallaqah adalah jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurun waktu tertentu untuk dan untuk tujuan tertentu, dalam perbankan diterapkan jaminan pelaksanaan suatu proyek (performance bond) atau jaminan penawaran (bid bond)
    Produk perbankan syariah adalah :
    Bank Garansi adalah janji tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak ketiga dimana bank menyatakan sanggup memenuhi kewajiban-kewajiban kepada pihak ketiga dimaksud apabila pada suatu waktu tertentu yang telah ditetapkan pihak yang dijamin (nasabah) tidak memenuhi kewajibannya
    Jenis Bank Garansi
    • Bank Garansi keagenan adalah bukti asli surat permintaan bank garansi yang ditandatangani oleh pihak berwenang dari perusahaan (distributor) yang meminta adanya bank garansi, misal bank garansi untuk agen produk X
    • Bank Garansi untuk tender (Bid Bond) adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor yang mengikuti prosedur proyek atau pelelangan biasanya diberikan 1% – 3 % dari nilai proyek yang dibiayai yang bersifat non cash loan
    • Perfromance Bond adalah bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor tersebut telah memenangkan proyek dan sedang menjalankan proyek tersebut biasanya setoran tunai untuk di blokir atau ke setoran bank garansi sebesar 10 %-30 %, bisa juga di kover dengan jaminan fixed asset lainnya, dan juga bersifat non cash loan
    • Mantenance Bond adalah Bank garansi yang diberikan kepada kontraktor, dimana kontraktor teresebut telah menyelesaikan proyek, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan proyek sebagai jaminan apabila selama kurun waktu tertentu proyek tersebut tidak bermasalah, biasanya para bohweer menggunakan retention fee yakni uang diblokir sebesar 15 %-20 %, atau bisa juga meminta bank garansi mantenance bond
    • Advance payment Bond adalah Bank garansi jaminan uang muka, dimana kontraktor tersebut harus mengeluarkan uang muka sebagai bukti kesanggupan dan kecukupan modal dalam mengerjakan proyek sehingga kontraktor tidak hanya mengharapkan turunnya invoice atau pembayaran dari bohweer, biasanya diberikan 1 %- 5 % dari nilai proyek yang dibiayai.

    Jasa ini diutamakan untuk membantu nasabahnya dalam melakukan setoran atau
    pembayaran lewat bank. Setoran atau pembayaran yang biasa diterima bank antar lain :
    pembayaran listrik, telpon, pajak, uang kuliah, rekening air dan setoran ONH
    Melakukan Pembayaran
    Jasa ini termasuk jasa lain-lain yang juga disediakan oleh bank, diantaranya pembayaran gaji, pensiun, bonus dan hadiah.
    Jualah adalah akad dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini diterapkan oleh bank dalam menawarkan pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah
    Contoh Referensi Bank, dukungan Bank
    • Referensi Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas dasar permintaan nasabah biasanya referenis di berikan karena nasabah mempunyai rekening di bank tersebut
    • Dukungan Bank adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh Bank atas permintaan nasabah biasanya dukungan bersifat tidak mengikat dan memiliki persyaratan tertentu, seperti telah berhubungan dengan bank selama 6 bulan terakhir, dan telah dikenal oleh pihak bank
    Sharf adalah transaksi pertukaran emas dan perak, atau pertukaran valuta asing
    Syarat-syarat :
    • Harus tunai
    • Serah terima harus dalam majelis kontak
    • Bila pertukaran antara mata uang yang sama harus dalam jumlah/kuantitas yang sama
    Contoh Produk Bank Syariah
    Tukar Bank Note ke Rupiah atau Tukar Rupiah ke TT (Valas)
    3. ijaroh
    Ijarah adalah hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu
    Contoh : Kotak simpanan (safe deposit) dan jasa tata laksana administrasi dokumen (costudian)
    Skema ijarah : 3. Sewa-Menyewa
    – Ijarah
    Produk dengan akad Ijarah dapat berupa barang bergerak atau dapat pula barang tidak bergerak. barang yang akad disewakan kepada nasabah bisa milik bank atau bank menyewa terlebih dahulu barang tersebut kemudian disewakan kembali kepada nasabah dengan harga sewa yang lebih tinggi dari harga bank menyewa.
    Gb. Skema Ijarah, Barang Milik Bank
    Gb. Skema Ijarah, Barang Bukan Milik Bank
    – Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)
    Produk dengan akad Ijarah Muntahiya Bitamlik kurang lebih sama dengan ijarah biasa hanya saja di akhir sewa barang menjadi milik Nasabah. tentu saja barang yang diserahkan adalah sudah menjadi milik Bank terlebih dahulu.
    Gb.Skema Pembiayaan Ijarah Muntahiya Bitamlik (IMBT)
    Mhd ridwan
    20090730069

  53. PENDAHULUAN
    A.LATAR BELAKANG
    Letter of Credit yang biasa disingkat dengan (L/C) merupakan salah satu instrument pembayaran yang sangat penting dalam perdagangan international. Letter of Credit sangat vital dalam memberikan keyakinan kepada pembeli (buyer) maupun penjual (seller) dalam melakukan perdagangan international (export-import).
    Dengan tersedianya Letter of Credit :
    Penjual (Seller/Exporter) :
    Mendapat keyakinan akan ketersediaan pembayaran atas barang dan atau jasa yang diserahkan. Dengan telah dibukanya Letter of Credit oleh pihak buyer, seller tidak perlu khawatir mengenai adanya kemungkinan barang dan atau jasa yang diserahkan tidak (kurang)dibayar, sepanjang klausa (Term and Condition) yang tercantum di dalam L/C dipenuhi. Keyakinan tersebut diperoleh dengan adanya penegasan dari pihak bank pembuka L/C bahwa pihak pembeli (buyer) memiliki kemampuan yang cukup untuk membayar dan dalam hal ini bank pembuka L/C menjamin akan mendibit rekening pihak pembeli, jika pihak penjual menyerahkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.
    Bahkan di Indonesia, penguasaan terhadap sebuah Letter of Credit (L/C), bisa dijadikan dasar permohonan “Kredit Export (KE)” guna memperoleh dana lebih awal dari bank devisa, untuk dipergunakan sebagai modal kerja dalam memproduksi barang yang difasilitasi oleh Letter of Credit tersebut. Tentu saja pihak bank akan mengenakan bunga tertentu atas kredit tersebut, yang biasa disebut dengan bunga diskonto.

    Pembeli (Buyer/Importer) :
    Memperoleh keyakinan bahwa dia/mereka hanya akan membayar seller atas penyerahan barang dan atau jasa yang dipesannya sesuai dengan syarat yang telah disepakati sebelumnya yang akan dituangkan di dalam “Term and Condition” L/C yang akan dibuka. Dalam hal ini bank pembuka hanya akan mendebit rekening buyer, jika bank telah menerima dokumen yang dipersyaratkan.
    Bagi mereka yang berada di bagian accounting maupun keuangan, mengenal dan mengetahui dasar mekanisme kerja letter of credit adalah penting, sehingga dapat diestimasi : kapan dan bagaimana TRANSAKSI SALES (jika perusahaan bertindak selaku seller) atau PURCHASE (jika perusahaan bertindak sebagai buyer) akan berakibat terhadap POSISI KAS perusahaan. Jika rekan-rekan di accounting atau keuangan menguasai mekanisme “Letter of Credit”, maka itu merupakan nilai plus yang melengkapi keahlian dalam mengelola keuangan perusahaan (tinggal beberapa langkah menuju jenjang career yang lebih tinggi/financial controller).
    Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia export-import, “Letter of Credit” adalah sesuatu yang wajib untuk dikuasai. Bagaimana tidak, atas proses export-import yang menggunakan instrument Letter Of Credit, langkah demi langkahnya harus selalu stick on (berpatokan) pada butir-butir “Term and Condition” yang tercantum di dalam Letter of Credit. Mulai dari :
    Packing Instruction : dimension, unit weight, quantity/volume per pack, side/front pack marking, dll.
    Document Required : Export License, Commercial invoice, Certificate of Inspection, Fumigation Certificate, dll.
    Shipping Instruction : Nominated Forwarder, Port of Departure, Notify Party, Port of Destination, Consignee Name, dll.
    Penyimpangan (discrepancies) sangat kecil/sepele sekalipun terhadap instruksi (instruction) maupun permintaan (requirement) yang tercantum di dalam “Term and Condition” Otomatis mengakibatkan gagalnya realisasi pembayaran atas sebuah transaksi yang di fasilitasi dengan Letter of Credit. Dan ini adalah tanggung jawab bagian Export-Import.
    Dalam sebuah transaksi yang menggunakan Letter of Credit, yang menjadi penentu dasar realisasi pembayaran adalah Dokumen. Sedangkan kondisi barang/jasa yang diperjual-belikan maupun hal-hal lain yang menyangkut kesepakatan seller dengan buyer, adalah diluar tanggung jawab institusi keuangan (dalam hal ini bank), artinya : bank pembuka berhak mendebit rekening buyer dan wajib membayarkannya kepada seller melalui bank yang ditunjuk begitu dokumen diterima dalam keadaan lengkap dan sesuai dengan kondisi yang dipersayaratkan, terlepas apakah barang/jasa yang diserahkan dalam keadaan yang sesuai dengan kesepakatan antara buyer dengan seller atau tidak.

    B.RUMUSAN MASALAH
    1.Jenis-jenis letter of credit
    2.Pihak-pihak yang terlibat dalam letter of credit
    3.Alur proses transaksi letter of credit
    4.Karakteristik letter of credit

    PEMBAHASAN
    1.JENIS-JENIS LETTER OF CREDIT
    Ada 3 (tiga) macam Letter of Credit, yaitu :
    (a). Commercial Letter of Credit
    Commercial Letter of Credit merupakan instrument pembayaran utama, dimana proses pembayaran dilakukan oleh bank begitu dokumen diterima.

    (b). Standby Letter Of Credit
    Standby Letter of Credit merupakan instrument pembayaran kedua setelah instrument pembayaran yang lain (Telex Transfer, Cash on Delivery, dll). Artinya : Standby Letter Of Credit hanya akan dicairkan apabila buyer tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar dengan menggunakan instrument utamanya. Dengan kata lain Standaby L/C hanya merupakan instrument pembayaran cadangan. Standby Letter of Credit hanya merupakan alat yang menunjukkan kemampuan bayar buyer (pembeli) bukan L/C yang serta merta dapat dicairkan. Standby Letter of Credit dicairkan dengan cara menunjukkan draft instrument pembayaran yang utama dan menunjukkan bukti-bukti bahwa buyer tidak melaksanakan kewajibannya membayar.
    c). Back to Back Letter of Credit
    Adalah sebuah L/C yang dibuka untuk pihak seller, dimana L/C yang baru dibuka tersebut menunjuk L/C lain yang diterima dari pihak lain, yang artinya : “Term and Condition” L/C tersebut sepenuhnya bergantung pada L/C yang ditunjukknya. Dengan kalimat sederhana : L/C tersebut hanya akan bisa dicairkan apabila pihak pembuka telah mencairkan L/C yang ditunjuknya (L/C yang diterimnya dari pihak lain).
    Pada umumnya Standby Letter Of Credit jarang bisa diterima oleh pihak penjual (seller).
    seller akan lebih memilih Commercial Letter of Credit. Terlebih-lebih jenis Back to Back Letter of Credit. Sangat jarang bisa diterima. Terlalu berbahaya bagi seller.

    2.PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM LETTER OF CREDIT
    Berikut adalah elemen dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses sebuah Letter of Credit :

    Pembeli (Buyer)

    Adalah pihak pembeli yang berinisiatif untuk membuka sebuah Letter of Credit untuk transaksi pembelian yang dilakukannya dengan pihak seller.

    Draft of Purchase Order

    Adalah sebuah dokumen awal atau draft sebagai bukti atas pemesanan suatu barang dan atau jasa. Draft PO biasanya merupakan bukti pemesanan awal yang sudah 99% final hanya saja pembuat draft (buyer) belum sempat untuk mengubahnya ke dalam bentuk kontrak resmi. Jenis barang, jumlah/volume, spesifikasi barang, standar kwalitas, cara pengemasan (packaging) sudah tersedia lengkap dan telah ditandatangani oleh pihak pembeli maupun penjual.

    Purchase Order/Contract

    Adalah draft order yang telah dituangkan kedalam lembaran resmi entah itu Official Purchase Order maupun Purchase Contract.

    Letter of Credit’s Amount

    Menyebutkan Nilai Nominal yang boleh dicairkan atas Letter of Credit tersebut. Nilainya seharusnya sama dengan nilai purchase order / contract. Namun demikian terkadang juga disebutkan batas nilai minimum dan maksimum, yang mana L/C akan ditolak apabila nilai yang akan dicairkan (tercantum) dalam dokumen export lebih kecil (short shipment) atau lebih besar (over shipment) dari melewati batas minimum/maksimium yang disebutkan di dalam L/C.

    Issuing Bank

    Adalah pihak yang memfasilitasi Letter of Credit, biasanya bank devisa dimana rekening buyer berada. Issuing Bank lah yang menerbitkan Letter Of Credit.

    Advising Bank
    Adalah Bank yang menerima Letter of Credit sekaligus menyampaikannya kepada pihak penerima Letter of Credit (seller). Jika advising bank memiliki hubungan correspondent, maka selanjutnya Advising Bank akan menjadi pihak yang menjembatani (correspondent) peresentasi dokumen maupun pencairan dana antara Issuing Bank dengan pihak penerima pembayaran (seller).

    Correspondent/Confirming Bank

    Adalah Bank yang menghubungkan Issuink Bank dengan Advising Bank. Correspondent Bank/Confirming Bank dibutuhkan apabila Issuing Bank tidak memiliki hubungan correspondent dengan Advising Bank yang ditunjuk oleh pihak seller. Mengapa hubungan correspondent dibutuhkan ?, karena untuk lalulintas pembayaran, bank yang berhubungan harus memiliki catatan speciment pejabat bank-nya masing-masing. Jika antara Issuing Bank dengan Advising Bank tidak ad ahubungan correspondent, maka mustahil mekanisme proses sebuah L/C dapat dilaksanakan, untuk itulah diperlukan correspondent bank. Correspondent bank sudah pasti sebuah bank yang memiliki correspondent dengan advising bank.

    Beneficiary (seller)

    Adalah pihak yang akan berhak menerima pembayaran atas sebuah Letter of Credit, dalam hal ini adalah penjual (seller).

    Export Document

    Adalah satu (atau lebih) set document export, termasuk Bill of Lading (BL) atau Air Way Bill (AWB).

    Time Set
    Dalam sebuah L/C juga ditentukan mengenai batas-batas waktu tertentu atas sebuah
    proses dalam transaksi tersebut, yaitu :
    Latest Delivery Time
    adalah batas penyerahan akhir dari barang/jasa yang dipesan oleh buyer. Buyer menentukan kapan barang tersebut harus diserahkan. Apabila kondisi penyerahan adalah FOB, maka yang dijadikan patokan adalah tanggal Bill of Lading (B/L) atau Air Way Bill (Awb). Apabila kondisi penyerahan adalah C&F atau CIF maka yang dijadikan patokan adalah tanggal kapan barang di-realease oleh custom pelabuhan tujuan (port of destination).
    Latest Presentation Document Date
    adalah batas tanggal penerimaan akhir dokumen oleh pihak Issuing Bank. Issuing Bank menentukan batas akhir kapan dokumen export harus diterima oleh Issuing Bank.
    Certificate of Inspection
    Adalah sebuah dokumen yang berupa sertifikat, yang menyatakan barang/jasa telah diperiksa (inspected) secara seksama, dimana barang/jasa telah memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh pembeli (buyer) sehingga diberikan sertifikat. Certificate of Inspection biasanya dikeluarkan oleh institusi yang ditunjuk sebagai inspector (pemeriksa) oleh pihak pembeli (inspector).

    3.ALUR TRANSAKSI LETTER OF CREDIT
    Alur proses sebuah Letter of Credit dapat digambarkan sebagai berikut :

    Penjelasan :
    (1). Buyer berinsitif untuk memesan barang/jasa
    (2). Seller meminta buyer untuk membuka sebuah L/C, dengan memberitahukan “Term and Condition” yang bisa diterima serta nama advising bank yang ditunjuk.
    (3). Buyer meminta bank dimana rekeningnya berada (Issuing Bank) untuk membuka sebuah L/C dengan memberitahukan “Term and Condition” yang bisa diterima serta nama advising bank yang ditunjuk oleh seller.
    (4). Issuing Bank membuka sebuah L/C dan mengirimkannya kepada Advising Bank. (Sekaligus mengirimkan copy-nya kepada buyer, buyer mengirimkan copy tersebut kepada pihak seller sebagai konfirmasi bahwa L/C telah dibuka). Jika issuing Bank tidak mempunyai hubungan correspondent dengan Advising Bank, maka buyer akan mencari Bank Correspondent sebagai perantara.
    (5). Advising Bank menyampaikan L/C tersebut kepada beneficiary (seller).
    (6). Setelah barang/jasa yang dipesan siap untuk dikirimkan, beneficiary (seller) menyiapkan dokumen yang dipersyaratkan di dalam L/C (dokumen export). Jika dokumen telah siap, maka beneficiary akan menyerahkan dokumen tersebut kepada Advising Bank.
    (7). Advising Bank akan mempelajari isi dokumen, jika telah memenuhi syarat (sesuai dengan kondisi L/C) maka dokumen akan dikirimkan kepada Issuing Bank untuk meminta pembayaran, jika tidak maka dokumen akan ditolak dan dikembalikan kepada beneficiary serta memberitahukan penyimpangan yang telah terjadi.
    (8). Begitu dokumen diterima, Issuing Bank akan memeriksa kelengkapan dan kesesuaian dokumen yang diterima dengan term and condition di dalam L/C, Jika tidak sesuai maka pembayaran akan ditolak. Jika sesuai maka Issuing Bank akan membayar pihak beneficiary (seller) melalui Advising Bank, serta mengirimkan dokumen tersebut ke pihak buyer. Dengan dokumen asli yang diterima dari issuing bank, pihak buyer akan mengambil barang/jasa di custom, tanpa dokumen asli tersebut, pihak buyer tidak akan bisa mengambil barang/jasa tersebut.

    Letter of Credit Amendment
    Perhatikan butir (4) dari alur proses L/C di atas, begitu sebuah Letter of Credit dibuka, maka Issuing Bank akan mengirimkan L/C tersebut ke pihak Advising Bank, sekaligus mengirimkan copy L/C tersebut kepada pihak buyer. Selanjutnya buyer akan mengirimkan copy tersebut kepada pihak seller. Seller akan memeriksa isi “Term and Condition” dari L/C yang dibuka. Apabila seller menemukan kondisi atau persyaratan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan (tidak bisa dipenuhi), maka seller akan meminta pihak buyer untuk melakukan perubahan atas L/C tersebut. Perubahan L/C itulah yang disebut dengan Letter of Credit Amendment. Jika buyer setuju dengan perubahan (amendment) yang diminta oleh seller, maka buyer akan meminta pihak Issuing Bank untuk melakukan amendment. Issuing Bank mengirimkan amendment tersebut ke pihak Advising Bank. Advising Bank menyampaikan amendment tersebut kepada pihak seller (beneficiary) sekaligus minta konfirmasi bahwa amendment tersebut memang diminta oleh pihak seller.

    4.KARAKTERISTIK LETTER OF CREDIT
    Untuk mengetahui apakah sebuah Letter of Credit baik atau vuruk kondisinya, maka perlu terlebih dahulu mengetahui karakterikstik dari sebuah L/C. Berikut adalah karakterikstik-karakteristik dasar dari sebuah L/C :
    Transferable / Non Transferable
    Karakteristik ini adalah menunjukkan, apakah Letter of Credit tersebut boleh dipindah-tangankan atau tidak.
    Transferable, artinya : Bisa dipindah tangankan. Kondisi tranferrable biasanya disertai dengan kondisi lain yaitu adanya “Blank Endorsment”. Artinya : dengan blank endorsement, maka L/c tersebut dapat dipindahtangankan kepada pihak manapun sesuai dengan keinginan beneficiary. Jika dalam keadaan “endorsed” (ter-endor), maka L/C tersebut hanya boleh dicairkan oleh pihak yang mengendors saja.
    Non Transferable : lawan dari transferable. Pada umumnya seller tidak akan menerima non-transferrable L/C.

    Revocable/Irrevocable
    Revocable : artinya “Term and Condition” di dalam L/C yang telah diterbitkan dapat diubah sewaktu-waktu oleh Issuing Bank (atas permintaan Buyer) tanpa meminta persetujuan pihak Issuing Bank maupun Beneficiary (seller). Karakteristik L/C ini adalah tidak baik. Tidak satupun seller yang bersedia menerima L/C jenis revocable.
    Irrevocable : artinya “Term and Condition” di dalam L/C yang telah diterbitkan hanya boleh diubah atas kesepakatan beneficiary (seller) dengan buyer. Karakteristik ini adalah baik dan diminta oleh seller manapun.

    Availability
    Available at any bank : artinya L/C tersebut boleh dicairkan di bank manapun yang ditunjuk oleh pihak beneficiary. Kondisi ini sangat diharapkan oleh pihak seller, karena dengan kondisi ini Issuing Bank wajib mencari correspondent bank untuk berhubungan dengan Advising Bank yang di tunjuk oleh pihak seller. Dan atas biaya correspondent yang timbul, pihak Issuing Bank wajib menaggungnya dengan mendebit rekening buyer.
    Available only at Bank A : artinya seller harus menunjuk bank yang memiliki correspondent dengan Bank A untuk melakukan pencairan L/C. Dan Advising Bank wajib menanggung biaya correspondent yang timbul dengan mendebit rekening seller. Karakteristik L/C seperti ini biasanya tidak bisa diterima oleh pihak seller.

  54. Tugas Sistem Operasional Bank Syariah
    Produk dan Layanan Jasa Perbankan
    Internet Banking
    Dosen Pengampu : Gita Danupranata

    Oleh :
    Lastri Krismiyati 20090730036

    EKONOMI PERBANKAN ISLAM
    FAKULTAS AGAMA ISLAM
    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
    2011

    Pendahuluan
    Perbankan saat ini telah berkembang dengan pesat, begitu juga dengan layanan dan produk – produknya. Perbankan konvensional dan syariah sama – sama menawarkan berbagai kemudahan untuk para nasabahnya. Untuk pelayanannya, nasabah tidak perlu harus datang ke kantor, banyak fasilitas yang di tawarkan. Antara lain e Banking di BNI ATM, Mobile Banking, SMS Banking dan Internet Banking.

    Ada 5 keunggulan Bank Syariah yang belum diketahui oleh banyak orang:
    1. Fasilitas Selengkap Bank Konvensional
    Banyak orang yang berpikiran bahwa karena perbankan syariah masih baru, jenis transaksi yang dapat dilakukan hanya sedikit.
    Anggapan tersebut dulu mungkin bisa dimengerti, tapi sekarang sama sekali tidak benar. Bank Syariah saat ini sangat modern. Semua jenis transaksi mulai dari tabungan, deposito, kredit usaha, kredit rumah, kliring, dan sebagainya dapat dilakukan dengan nyaman.
    Mayoritas Bank Syariah terhubung dengan jaringan online ATM Bersama sehingga Anda dapat tarik tunai dan transfer realtime dari/ke bank lain dengan mudah. Beberapa Bank ada yang menggratiskan biaya untuk ini.
    Beberapa Bank Syariah yang memberikan layanan Internet Banking, SMS Banking, bahkan kartu kredit syariah sehingga lebih praktis.
    2. Manajemen Finansial yang Lebih Aman
    Tragedi finansial kredit subprime tahun 2007 nyaris tidak menggoyahkan investasi yang berbasis syariah.
    Di saat banyak bank investasi dan bank-bank besar bangkrut maupun membutuhkan kucuran dana, banyak Bank Syariah baru yang justru bermunculan atau buka cabang.
    Krisis ekonomi justru telah memuktikan bahwa manajemen finansial berbasis syariah jauh lebih aman dibandingkan ekonomi liberal yang dianut bank konvensional.
    3. Nasabah Berkontribusi Langsung Memperkuat Bank Syariah
    Bank konvensional menentukan sendiri suku bunga pinjaman maupun simpanan berdasarkan ketetapan Bank Indonesia. Ada kemungkinan meski kondisi bank kurang baik, tetap dapat “memberikan” bunga simpanan tinggi dan bunga kredit rendah. Hal ini dapat membahayakan bank tersebut.
    Bank Syariah memberikan nisbah (“bunga” simpanan) berdasarkan perkembangan finansial perusahaan.
    Secara tidak langsung Anda menjadi “pemegang saham” di Bank Syariah Anda.
    Setiap simpanan Anda akan memperkuat investasi bank. Setiap pinjaman Anda akan memperkuat keuntungan bank. Semakin usaha Anda berkembang, bank juga semakin berkembang karena kredit yang diberikan menggunakan skema bagi-hasil.
    Semakin maju bank, semakin banyak pula keuntungan bank yang dapat dibagikan sebagai nisbah kepada para nasabah.
    4. Membantu Orang yang Butuh Dizakati
    Bank Syariah mengeluarkan 2,5% dari keuntungan tahunannya untuk dizakatkan. (Anda sendiri tentunya masih harus berzakat bila Anda muslim.) Namun bank konvensional tidak mempunyai kewajiban berzakat.
    Dengan menggunakan layanan Bank Syariah, secara tidak langsung Anda turut berzakat dan membantu mereka yang membutuhkan.
    5. 100% Halal
    Kredit yang diberikan oleh bank syariah mempunyai persyaratan yang mewajibkan dana digunakan untuk aktivitas yang halal. Bisnis yang dibiayai bank syariah, juga tidak boleh berisiko mengandung kegiatan yang diharamkan oleh agama Islam.
    Hal ini sama sekali tidak membatasi nasabah bank syariah harus muslim, justru agama apa pun boleh, asal halal pemakaiannya. Meskipun nasabah tersebut muslim, tapi jika pemakaian dana atau usaha yang dijalankannya tidak halal, maka dia tidak diperkenankan untuk mengambil kredit di Bank Syariah.
    Apakah kita bisa menjamin bahwa seluruh aktivitas nasabah bank syariah pasti halal? Wallahu’alam. Insya Allah dengan niat baik dan usaha kita mendekati kebenaran, maka tujuan tersebut dapat tercapai.

    Pengertian Internet Banking
    Internet Banking pada dasarnya merupakan gabungan dua istilah dasar yaitu Internet dan Banking (bank). Interconnected Network (Internet) adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Sedangkan bank (banking) dalam Ensiklopedia Manajemen dijelaskan sebagai sebuah lembaga keuangan yang berusaha dalam bidang penerimaan kewajiban-kewajiban keuangan, sehingga dapat meluaskan pemberian kreditnya.
    Perkembangan teknologi internet menjadikan masyarakat semakin mudah dalam menjalankan aktifitas kehidupan, peluang itu kini dimanfaatkan oleh lembaga keuangan khususnya perbankan syariah dalam mengembangkan pelayanan jasa perbankan dengan sistem internet banking.
    Electronic Banking, atau e-banking bisa diartikan sebagai aktifitas perbankan di internet. Layanan ini memungkinkan nasabah sebuah bank dapat melakukan hampir semua jenis transaksi perbankan melalui sarana internet, khususnya via web. Mirip dengan penggunaan mesin ATM, lewat sarana internet seorang nasabah dapat melakukan pengecekan rekening, transfer dana antar rekening, hingga pembayaran tagihan-tagihan rutin bulanan (listrik, telepon, dsb.) melalui rekening banknya. Jelas banyak keuntungan yang akan bisa didapatkan oleh nasabah dengan memanfaatkan layanan ini, terutama bila dilihat dari waktu dan tenaga yang dapat dihemat karena transaksi e-banking jelas bebas antrian dan dapat dilakukan dari mana saja sepanjang nasabah dapat terhubung dengan jaringan internet.

    Manfaat Internet Banking
    Internet Banking merupakan layanan perbankan 24 jam. Dengan menggunakan komputer dan terkoneksi dengan jaringan internet, Anda sudah dapat melakukan berbagai transaksi perbankan dengan mudah, nyaman dan aman. Internet Banking tidak hanya memberikan kenyamanan namun juga kemudahan karena menu-menu pada internet banking dapat digunakan tanpa harus memiliki ketrampilan khusus, serta aman karena internet banking dilengkapi dengan sistem keamanan berlapis dan Anda akan dilengkapi dengan token (alat yang mengeluarkan angka-angka password yang selalu berganti setiap kali Anda melakukan transaksi keuangan).
    Layanan Internet Banking memiliki banyak fitur dan memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan untuk Anda.
    Kemudahan
    1. Melakukan berbagai transaksi non keuangan seperti : mengecek saldo rekening, melihat mutasi rekening dan mencetak rekening koran ataupun
    2. Melakukan berbagai transaksi keuangan seperti :
    • transfer antar rekening
    • transfer ke rekening di bank lain melalui fasilitas kliring dan BI-RTGS
    • pembayaran tagihan :
    • Telkom, Kartu Halo Telkomsel, XL, Indosat
    • Listrik (daerah tertentu : Kaltim, Sumbar, Jateng & DIY, Batam, Sulut, Sulteng & Gorontalo dan Kalbar)
    • pembelian Voucher Prabayar seperti : Telkomsel (Simpati & As), Indosat (Mentari, IM3 & StarOne), XL (bebas & jempol), ESIA dan Telkom Flexi
    • pembelian Tiket Airline yaitu : Garuda, Lion Air dan Mandala
    • pembayaran Uang Kuliah berbagai universitas/institut seperti : ITB, Trisakti, Unpad, UNS, Unibraw, USU, Unsri, UNJ, UPN Jogya dsb.
    • pembayaran tagihan Hasanah Card (kartu pembiayaan BNI Syariah).
    • pembayaran zakat, infaq & shadaqoh.
    Fungsi penggunaannya mirip dengan mesin ATM dimana sarananya saja yang berbeda, seorang nasabah dapat melakukan aktifitas pengecekan saldo rekening, transfer dana antar rekening atau antar bank, hingga pembayaran tagihan-tagihan rutin bulanan seperti: listrik, telepon, kartu kredit, dll. Dengan memanfaatkan e-banking banyak keuntungan yang akan diperoleh nasabah terutama apabila dilihat dari banyaknya waktu dan tenaga yang dapat dihemat karena e-banking jelas bebas antrian dan dapat dilakukan dari mana saja sepanjang nasabah memiliki sarana pendukung untuk melakukan layanan e-banking tersebut.
    Dengan adanya internet banking, memberikan keuntungan antara lain:
    1. Business expansion.
    Dahulu sebuah bank harus memiliki sebuah kantor cabang untuk beroperasi di tempat tertentu. Kemudian hal ini dipermudah dengan hanya meletakkan mesin ATM sehingga dia dapat hadir di tempat tersebut. Kemudian ada phone banking yang mulai menghilangkan batas fisik dimana nasabah dapat menggunakan telepon untuk melakukan aktivitas perbankannya. Sekarang ada internet banking yang lebih mempermudah lagi karena menghilangkan batas ruang dan waktu.
    2. Customer loyality.
    Khususnya nasabah yang sering bergerak (mobile), akan merasa lebih nyaman untuk melakukan aktivitas perbankannya tanpa harus membuka account di bank yang berbeda-beda di berbagai tempat. Dia dapat menggunakan satu bank saja.
    3. Revenue and cost improvement.
    Biaya untuk memberikan layanan perbankan melalui Internet Banking dapat lebih murah daripada membuka kantor cabang atau membuat mesin ATM.
    4. Competitive advantage.
    yang memiliki internet banking akan memiliki keuntungan dibandingkan dengan bank yang tidak memiliki internet banking. Dalam waktu dekat, orang tidak ingin membuka account di bank yang tidak memiliki fasilitas Internet Banking.
    5. New business model.
    Internet Banking memungkinan adanya bisnis model yang baru. Layanan perbankan baru dapat diluncurkan melalui web dengan cepat.

    Operasional Internet Banking
    Untuk dapat menggunakan layanan ini, seorang nasabah akan dibekali dengan login dan kode akses ke situs web dimana terdapat fasilitas e-banking milik bankbersangkutan. Selanjutnya, nasabah dapat melakukan login dan dapat melakukan aktifitas perbankan melalui situs web bank bersangkutan.
    Hambatan Internet Banking (E-BANKING)
    – Transaksi Internet Banking (e-banking) bukan hanya mempermudah tetapi dapat menimbulkan suatu resiko seperti strategi, operasional, dan reputasi serta adanya berbagai ancaman terhadap aliran data realible dan ancaman kerusakan / kegagalan terhadap sistem Internet Banking kemudian semakin kompleksnya teknologi yang menjadi dasar Internet Banking.
    – Kerusakan / kerugian / kehilangan yang diderita oleh bank / nasabah diakibatkan juga oleh petugas internal atau manajemen bank.
    – Internet Banking menjadi salah satu target dari para cybercrime yang memiliki kendala dalam hal pembuktian baik secara teknis maupun non-teknis.
    – Pemerintah bersama DPR (periode manapun) sampai saat ini masih terkesan sangat lambat dalam melakukan antisipasi terhadap maraknya kejahatan yang terjadi melalui kegiatan Internet Banking.
    – Kegiatan Internet Banking masih belum memiliki payung hukum yang akurat dan tegas yang disebabkan oleh masih stagnannya RUU Informasi dan Transaksi Elektronik.
    – Para pelaku usaha (perbankan) dan masyarakat pada umumnya masih kurang peduli terhadap proses penanganan kasus-kasus tindak Pidana Internet Banking.
    Ancaman keamanan
    Meskipun menawarkan kemudahan,tetap saja ada ancaman keamanan yang mengintai. Biasanya, ancaman ini ditujukan kepada pihak pengguna yang notabene lemah dari sisi kesadaran berteknologi. Beberapa ancaman yang sering muncul, antara lain Typo-site atau website forging merupakan teknik membuat situs yang memiliki domain San tampilan yang mirip dengan situs aslinya. Tujuannya, mendapatkan username dan password pengguna. Misalnya saja, situs dengan nama netbank.com. Kembaran situs ini biasanya memiliki nama-nama yang mirip, seperti net-bank.com, netbank.com, atau netibank.com.
    Key-logger adalah virus atau trojan yang tersembunyi dan bertugas merekam setiap input ketikan tombol user keyboard. Aplikasi ini tertanam di komputer tanpa diketahui pengguna dan bertugas mendapatkan username dan password akses pengguna ke suatu situs.Man in the middle attack, aktivitas seorang cracker (sebutan untuk hacker jahat) yang menyadap informasi dari pengguna. Informasi yang disadap bisa berupa password, username, dan pesan elektronik. Kejadian ini biasanya menimpa pengguna yang menggunakan komputer di lingkungan umum seperti warnet dan free hotspot.

    Beberapa tips agar aman bertransaksi menggunakan internet-banking.

    Selalu periksa kembali alamat situs layanan internet banking yang di ketikan di address bar. Pastikan bahwa alamat situs telah lengkap, tidak kurang, dan tidak lebih.Bila muncul peringatan sertifikasi situs saat mengakses internet banking, sebaiknya batalkan akses dan periksa ulang alamat situs. Biasanya, situs internet banking telah disertifikasi secara internasional sehingga tidak akan muncul peringatan sertifikasi.
    Disarankan untuk tidak mengakses situs internet banking di tempat-tempat publik dan kurang terpercaya, seperti di komputer warnet, komputer kantor, komputer teman, dan/ree hotspot. Lebih diutamakan menggunakan komputer pribadi.Tetap rahasiakan informasi apa pun dan kepada siapa pun terkait dengan akses internet banking yang dimiliki, termasuk username, password, dan PIN. UbahJah password dan PIN secara berkala.

    Jika menemui keganjilan apa pun, hentikan kegiatan dan jangan lagi memasukkan password atau informasi sensitif lainnya. Tanyakan kepada orang yang dipercaya atau costumer support bank bersangkutan.Meskipun tidak menjamin 100 persen aman, pasanglah antivirus dan firewall untuk menghindari key-logger.Hindari mengakses situs porno dan situs penyedia aplikasi game gratisan. Biasanya, virus dan trojan key-logger menumpang dalam situs ini.Untuk keamanan maksimal dan terhindar dari man in the middle attack serta virus dan trojan, gunakan komputer dengan sistem operasi yang aman dan bebas dari virus dan trojan, seperti Linux dan Macintosh.Selalu klik logout setelah selesai menggunakan internet banking.

    Peraturan Internet Banking
    Ketentuan mengenai internet banking adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Risiko Dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. Internet banking disini disebutkan dengan istilah electronic banking. Ketentuan pasal yang mengatur secara khusus tentang electronic banking dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007 tersebut adalah Pasal 22 dan Pasal 23.
    Pasal 22 :
    (1) Bank yang menyelenggarakan kegiatan Electronic Banking wajib memenuhi ketentuan Bank Indonesia yang berlaku.
    (2) Bank harus memberikan edukasi kepada nasabah mengenai produk Electronic Banking dan pengamanannya secara berkesinambungan.
    Pasal 23 :
    (1) Setiap rencana penerbitan produk Electronic Banking baru harus dimuat dalam Rencana Bisnis Bank.
    (2) Setiap rencana penerbitan produk Electronic Banking yang bersifat transaksional wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia paling lambat 2 (dua) bulan sebelum produk tersebut diterbitkan.
    (3) Pelaporan rencana produk Electronic Banking sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi produk Electronic Banking sepanjang terdapat ketentuan Bank Indonesia yang secara khusus mengatur persyaratan persetujuan produk tersebut.

  55. nama : maymunah
    nim : 20100730089

    Sistem Operasional Jasa Layanan Perbankan

    Kerangka pengembangan perbankan syariah tersebut tentunya tidak terlepas dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang sedang dalam penyusunan. Hal ini meletakkan posisi serta cara pandang Bank Indonesia dalam mengembangkan perbankan syariah di Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman bagi para stakeholder perbankan syariah.. Inisiatif-inisiatif yang diambil pada umumnya menekankan pada aspek peningkatan kepatuhan pada prinsip syariah, peningkatan kualitas ketentuan kehati-hatian, peningkatan efisiensi operasi dan daya saing, serta peningkatan kestabilan sistem perbankan.

    Untuk mewujudkan perbankan syariah sesuai semangat API, ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode krisis ekonomi, perbankan syariah memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat. Berkaitan dengan itu perbankan syariah diharapkan dapat berperan lebih besar dalam proses pemulihan perekonomian Indonesia yang masih terus berlangsung. Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih berada dalam tahap awal pengembangan.
    Beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    1. Kerangka dan perangkat pengaturan perbankan syariah belum lengkap;
    2. Cakupan pasar masih terbatas;
    3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan
    syariah;
    4. Institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif;
    5. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal;
    6. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah masih perlu ditingkatkan;

    Adapun tantangan yang harus diselesaikan setidaknya adalah:

    a. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional.
    Guna mendukung kegiatan operasional yang sehat, perbankan syariah membutuhkan kerangka dan perangkat pengaturan yang sesuai dengan karakteristik operasionalnya.

    Di awal perkembangannya, kegiatan pengaturan dan pengawasan lembaga perbankan syariah masih menggunakan kerangka pengaturan dan pengawasan sistem perbankan konvensional, walaupun beberapa instrumen pengaturan telah mulai dikembangkan seperti perizinan bagi pendirian bank dan pembukaan kantor; instrumen pasar keuangan antar bank; perangkat penghubung dengan otoritas moneter (sertifikat wadiah Bank Indonesia dan giro wajib minimum); dan sistem pembayaran (UUS wajib memiliki rekening di Bank Indonesia). Kurang lengkapnya instrumen pengaturan dan pengawasan tersebut akan mengakibatkan perbankan syariah tidak dapat beroperasi secara optimal dan tidak sepenuhnya sesuai dengan karakteristiknya.
    Bank Indonesia selaku otoritas perbankan akan melakukan kajian, menyusun dan menyempurnakan instrumen pengaturan yang mencakup beberapa area utama, antara lain:
    1. Penciptaan instrumen-instrumen keuangan serta aturan yang diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi operasional;
    2. Penyusunan sistem peringatan dini (termasuk didalamnya CAMELs rating system) yang dapat menggambarkan risiko operasional untuk menjamin kesinambungan perbankan syariah yang berhati-hati serta konsep pelaporan yang transparan;
    3. Penyusunan rules of conduct bagi pelaku perbankan syariah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas corporate governance.

    Konsep pengaturan yang akan dikembangkan harus berorientasi pada upaya menjaga kestabilan sistem dan menjamin kepatuhan perbankan syariah terhadap prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu kajian-kajian konseptual tentang pengaturan perlu dilakukan pada tahap awal pengembangan.

    b. Cakupan pasar masih terbatas

    Pada saat ini, sistem perbankan syariah masih memiliki jaringan pelayanan yang masih terbatas. Sampai akhir tahun 2001, pelayanan perbankan syariah hanya tersedia di 51 cabang bank umum syariah dan unit usaha syariah serta 81 kantor BPRS, yang mewakili kurang dari 2% jumlah seluruh kantor bank yang ada di Indonesia. Keterbatasan cakupan operasional pada gilirannya akan menjadi kendala yang cukup signifikan bagi para pengguna jasa perbankan syariah dan mengurangi nilai kenyamanan penggunaan jasa perbankan.
    Beberapa tantangan yang telah teridentifikasi guna meningkatkan jaringan kantor dan pelayanan bank syariah adalah sebagai berikut:
    1. Mendukung terciptanya iklim yang kondusif untuk masuknya para pemain baru, terutama bank-bank konvensional yang sudah memiliki jaringan operasional yang luas atau mendorong aliansi strategis antara bank syariah dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya guna mencapai skala ekonomis operasional;
    2. Penyederhanaan proses administrasi bagi masuknya para pemain baru dapat dilakukan dengan tidak mengurangi prinsip kehati-hatian dalam kegiatan operasional perbankan;
    3. Tersedianya informasi pasar/permintaan jasa perbankan syariah;
    4. Tersedianya sumber daya insani yang kompeten dan profesional dalam jumlah yang mencukupi oleh industri perbankan syariah.

    c. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai produk dan jasa perbankan syariah

    Survei persepsi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa universitas di enam propinsi Indonesia (pada tahun 2000 – 2001), menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan akan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah dengan pengetahuan mengenai jenis-jenis produk serta operasional sistem perbankan syariah yang benar. Kesenjangan ini mengakibatkan rendahnya laju perpindahan permintaan dari yang bersifat potensial menjadi permintaan riil yang pada akhirnya akan menyebabkan kurang berhasilnya usaha untuk memobilisasi sumber-sumber dana masyarakat yang potensial sebagai dana investasi. Kesenjangan ini pada gilirannya juga akan mempersulit usaha pemasaran dan penjualan produk dan jasa bank syariah.

    Beberapa tantangan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para nasabah potensial adalah:

    1. Jumlah penduduk yang besar dan tersebar luas secara geografis dengan latar belakang yang beragam;
    2. Upaya untuk mendidik masyarakat membutuhkan dana dan sumber daya lainnya yang cukup besar;
    3. Dana promosi yang terbatas dari para stakeholder dalam industri perbankan syariah karena masih kecilnya skala operasional industri tersebut.

    Salah satu cara pemecahan untuk menjawab tantangan tersebut adalah melalui upaya edukasi kepada publik secara terencana dan terkoordinasi. Dalam upaya edukasi kepada masyarakat, Bank Indonesia dapat mempelajari faktor-faktor penentu keberhasilan beberapa kegiatan nasional seperti ‘Gerakan Tabungan Nasional’ dan ‘Keluarga Berencana’.

    d. Institusi Pendukung yang belum lengkap dan efektif

    Institusi pendukung yang lengkap, efektif, dan efisien berperan penting untuk memastikan stabilitas pengembangan perbankan syariah secara keseluruhan. Pada saat ini telah berdiri sejumlah lembaga yang berperan sebagai institusi pendukung perbankan syariah di Indonesia. Diperlukan upaya agar institusi pendukung tersebut lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan perbankan syariah.
    Ada beberapa institusi dan fungsi yang perlu dikembangkan untuk melengkapi institusi pendukung yang ada, seperti:
    1. Auditor Syariah, yang memastikan pemenuhan pelaksanaan prinsip syariah oleh bank;
    2. Pasar Keuangan Syariah Internasional, yang merupakan sarana perdagangan instrumen- instrumen keuangan syariah dalam valuta asing yang bermanfaat untuk mengoptimalkan pengelolaan likuiditas perbankan;
    3. Forum Komunikasi Pengembangan Perbankan Syariah (FKPPS) yang mengkoordinasikan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perbankan syariah;
    4. Lembaga Penjamin Pembiayaan Syariah, yang memberikan jaminan kepada bank syariah yang mengalami kerugian akibat kelalaian atau kecurangan nasabah yang direkomendasikan oleh lembaga tersebut;
    5. Pusat Informasi Keuangan Syariah, yang berfungsi menghubungkan sektor riil dan sektor pembiayaan syariah dengan menyediakan informasi tentang pola pembiayaan yang tersedia dan perusahaan-perusahaan yang mungkin dibiayai;
    6. Special Purpose Company, yang melakukan sekuritisasi aset bagi bank syariah yang ingin meningkatkan likuiditasnya. Lembaga ini juga menyediakan kesempatan berinvestasi secara syariah kepada bank-bank lainnya dan kepada investor domestic maupun internasional.

    e. Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal

    Meskipun secara sistem, perbankan syariah telah menunjukkan kinerja keuangan yang lebih baik, sistem perbankan syariah sementara ini masih memberikan tingkat return yang lebih rendah kepada nasabah dibandingkan dengan yang dapat diberikan oleh perbankan konvensional. Peningkatan efisiensi operasional yang berdampak pada perbaikan tingkat return kepada nasabah tentunya akan memacu para investor untuk bermitra dengan bank syariah yang mana selain mengharapkan jasa keuangan yang sesuai dengan syariah, juga tentunya mengharapkan tingkat return yang lebih baik.

    Hal ini tentunya perlu dicermati terutama dalam menghadapi era persaingan global dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan jasa sejenis.

    Keterbatasan banker syariah yang handal, yang menguasai operasional perbankan syariah serta teguh menjalankan prinsip syariah juga merupakan masalah yang mendasar dalam perbaikan kinerja bank syariah. Usaha peningkatan kualitas sumber daya insani akan juga mencakup peningkatan kemampuan manajerial dan operasional bank syariah.

    Selain melakukan efisiensi internal, pengembangan sistem perbankan syariah dapat pula menerapkan strategi ekspansi ‘economies of scale’ dan atau ‘economies of scope’. Penerapan strategi ‘economies of scale’ dilakukan secara horisontal dengan meningkatkan cakupan pasar melalui aliansi strategis dengan mitra usaha domestik maupun internasional. Penerapan strategi economies of scope dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan instrumen transaksi syariah (termasuk dengan memanfaatkan kemajuan dalam bidang teknologi informasi) sehingga lebih dapat meningkatkan fleksibilitas penerapan jasa keuangan syariah bagi masyarakat.

    f. Porsi skema pembiayaan bagi hasil dalam transaksi bank syariah perlu ditingkatkan

    Salah satu manfaat yang dapat dirasakan oleh sistem perekonomian dalam skala yang lebih luas adalah hadirnya konsep bagi hasil dalam transaksi ekonomi. Namun demikian, sampai saat ini porsi pembiayaan bagi hasil masih sangat rendah.
    Adapun penyebab rendahnya proporsi pembiayaan bagi hasil adalah:
    1. Risiko investasi relatif tinggi karena sulitnya memonitor kegiatan investasi;
    2. Masalah principal-agent, dimana agen (mudharib) tidak selalu bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal (pemilik modal);
    3. Kompetensi SDI (Sumber Daya Insani) perbankan syariah yang masih rendah untuk melakukan investasi pola bagi hasil;
    4. Ketidaktersediaan informasi kinerja bisnis yang mendalam untuk setiap sector industri yang menjadi target investasi.

    Beberapa alternatif yang dapat dilakukan guna meningkatkan porsi skim pembiayaan bagi hasil antara lain:
    1. Identifikasi sumber-sumber dana yang tidak memiliki klaim seperti dana zakat, infaq dan sadaqah agar dapat disalurkan melalui lembaga keuangan yang berkompeten;
    2. Mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ‘agency problem’ dalam transaksi seperti tersedianya standardisasi kontrak, analisis atas indeksasi kinerja industri;
    3. Peningkatan kompetensi SDI untuk melakukan investasi dengan pola bagi hasil.

    g. Kemampuan untuk memenuhi standar keuangan syariah internasional

    Industri perbankan/keuangan syariah secara global telah mencapai volume operasi yang cukup signifikan. Tercatat lebih dari 170 lembaga keuangan telah didirikan dilebih 30 negara dengan total aset sebesar US$ 140 miliar pada tahun 1997. Pencapaian volume usaha secara global tersebut merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan melalui proses aliansi strategis dengan lembaga keuangan yang bertaraf internasional.

    Untuk mencapai hal tersebut, perbankan syariah nasional harus mampu beroperasi sesuai dengan norma/standar keuangan syariah internasional. Dengan pemenuhan pada standar keuangan syariah internasional, sistem perbankan syariah nasional juga mendapatkan peluang untuk berpartisipasi dalam Pasar Keuangan Syariah Internasional (IIFM) yang akan beroperasi pada tahun 2003. Selain itu perbankan syariah Indonesia juga dipersiapkan untuk dapat mengadopsi standar internasional operasi perbankan syariah

    ESENSI PROGRAM
    Untuk kepentingan pelayanan dan keamanan, bank harus mempunyai sisdur sistim operasi untuk menghasilkan produk dan jasa layanan tertentu. Sistim operasi antara lain meliputi formulir yang dipakai, urutan langkah transaksi yang harus dilalui, pejabat yang berwenang, unit organisasi terkait, pengamanan transaksi dan lain-lainnya. Sistem operasi ini dipengaruhi oleh teknologi, preferensi manajemen, peraturan atau undang-undang yang berlaku, efisiensi, dan lain-lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, faktor-faktor yang mempengaruhi sistim operasi dimaksud mengalami perubahan sehingga sistim operasi perbankan yang ada harus dirancang ulang agar sesuai dengan tuntutan zaman. Jasa konsultasi ini pada dasarnya membantu bank dalam merancang ulang sistim operasi jasa bank tertentu agar memenuhi standar atau tuntutan tertentu dan menuliskannya dalam buku pedoman perusahaan (manual). Penyusunan sisdur operasi perbankan juga bisa dilakukan untuk produk atau layanan baru yang belum ada Buku Pedomannya.

    MANFAAT
    Dengan penyegaran kembali/update buku pedoman operasi perbankan atau penyusunan sistim operasi perbankan yang baru (semula belum ada), diharapkan banknya mampu melayani nasabah sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman sehingga banknya mampu untuk terus bersaing. Sistim operasi perbankan yang tidak pernah disempurnakan atau direvisi mempunyai risiko menjadi lambat dan tidak aman dalam memberikan pelayanan kepada nasabahnya.
    METODE
    Penyusunan atau revisi sisdur operasi perbankan pada dasarnya dilakukan dengan metode bertahap yaitu mengkaji sisdur operasi perbankan yang ada, membandingkan dengan best practice atau tuntutan perubahan dan akhirnya merevisi atau membuat sisdur operasi perbankan yang baru. Revisi buku pedoman biasanya diikuti dengan sosialisasi agar bisa dipahami isinya oleh segenap pejabat terkait.
    TIM KONSULTAN
    Terdiri dari in house consultant, principal consultant sesuai keahliannya dan para praktisi industri perbankan sesuai kebutuhan jenis sistem operasi perbankan yang diperlukan.
    DURASI
    Jasa konsultasi ini biasanya memerlukan waktu 3-5 bulan dan tergantung dari jenis produk sisdur operasi perbankan.
    Manfaat Teknologi Sistem Informasi Bagi Perbankan

    Dewasa ini teknologi semakin barkembang mengikuti zaman , dimana perkembanganya itu ditandai dengan sistem informatika yang digunakan oleh berbagai kalangan dalam melakukan usaha. Sistem informatika sangat berperan penting dalam melakukan suatu kegiatan yang ada kaitanya dengan teknologi, tanpa adanya sistem informatika kegiatan tersebut tidak akan cepat terlaksana atau terselesaikan sesuai dengan harapan, minsalnya: perbankan mempunyai kaitan yang erat dengan sistem informatika, dimana sistem informatika mempunyai peranan yang penting dalam dunia perbankan.

    Suatu perbankan tidak akan mampu melaksanakan kegiatan perbankan tanpa menggunakan sistem informatika dalam melakukan kegiatan oprasionalnya.
    Sistem informatika merupakan teknologi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan oprasional bank, perbankan dalam melakukan kegiatanya tidak akan jauh dari dunia teknologi dan mempunyai kaitan yang sangat erat, minsalnya: dalam membuat laporan keuangan, menghitung bagi hasil dsb.

    Dalam konteks perbankan, saat ini telah banyak nasabah, khususnya di kota-kota
    besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam transaksi pembayarannya, tetapi
    telah memanfaatkan layanan perbankan modern. Untuk menunjang keberhasilan
    operasional bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat
    diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada
    teknologi informasi online.

    Institusi perbankan dan keuangan telah dipengaruhi dengan kuat oleh pengembangan produk dalam teknologi informasi, bahkan mereka tidak dapat beroperasi lagi tanpa adanya teknologi informasi tersebut. Sektor ini memerlukan pengembangan produk dalam teknologi informasi untuk memberikan jasa-jasa mereka kepada pelanggan mereka. Nasabah kini menginginkan agar dapat dengan mudah membayar berbagai pembayaran tagihan rutin maupun melakukan berbagai transaksi dari belahan dunia manapun, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

    Sebagai contoh dahulu, untuk kliring atau tukar-menukar warkat di perbankan masih sangat manual. Mulai tahun 1990, otomatisasi menggunakan warkat sudah dilakukan dengan mesin. Kemudian masuk tahun 1996-1997, berubah menjadi kliring elektronik hingga kemudian Bank Indonesia (BI) berubah menerapkan RTGS (Real Time Gross Settlement). Selain itu, internet juga telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang berpotensi hampir tanpa batas untuk perbankan.

    Meski di Indonesia mengalami hambatan dengan rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan jumlah nasabah yang mengakses Internet. Tetapi, Internet Banking, seperti juga electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah. Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa. Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan.
    M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi. Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan. Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya, pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan. Fasilitas yang perlu disediakan; seperti call center, phone banking, SMS banking dan Internet banking. Dengan beragamnya fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa layanan bank sesuai selera masing-masing.

    Sistem Operasional Bank Syariah

    Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi:

    1. Sistem Penghimpunan Dana

    Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro, tabungan dan deposito.

    Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri atas:

    a. Modal

    Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya.

    Mekanisme penyertaan modal pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank.

    b. Titipan (Wadi’ah)

    Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini ialah al-wadi’ah.

    Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    c. Investasi (Mudharabah)

    Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank seperti halnya pada bank konvensional.

    2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)

    Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model, yaitu:

    a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual beli.

    Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk pembiayaan murabahah, salam dan istishna’. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa (Ijarah).

    Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan maanfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.

    b.Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.

    Prinsip bagi hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.

  56. Terimakasih atas tulisannya yang sangat padat informasi.
    Kapan-kapan saya akan mampir lagi ke blog ini. Terus berkarya ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *